The Most/Recent Articles

Mahasiswa KKN Undip Petakan Peran Stakeholder dalam Pengembangan Briket Sekam dan Jerami Padi Desa Tunggul

Gambar 1. Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro bersama para petani sebagai peserta kegiatan Program Multidisiplin 1 berfoto bersama setelah mengikuti rangkaian pelaksanaan kegiatan pengembangan briket arang berbahan jerami dan sekam padi di Desa Tunggul

Latar Belakang

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dengan menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk menjawab permasalahan dan potensi yang terdapat di tingkat desa. Dalam pelaksanaan KKN di Desa Tunggul, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen, salah satu potensi yang menjadi perhatian adalah sektor pertanian yang menjadi salah satu mata pencaharian utama masyarakat. Aktivitas pertanian tersebut menghasilkan berbagai limbah organik, contohnya sekam dan jerami padi yang berasal dari proses penggilingan hasil panen. Sekam padi sebenarnya memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah sehingga tidak hanya menjadi limbah, tetapi juga dapat mendukung peningkatan ekonomi masyarakat.

Pemanfaatan limbah sekam dan jerami padi di Desa Tunggul masih belum maksimal. Sebagian besar sekam padi masih dibakar, sedangkan jerami lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Akibatnya dari kebiasaan tersebut, limbah yang dihasilkan belum memberikan nilai ekonomi yang optimal bagi masyarakat. Pembakaran limbah pertanian secara terbuka berpotensi menghasilkan emisi gas dan partikel yang dapat menurunkan kualitas udara di lingkungan sekitar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa limbah pertanian di Desa Tunggul masih memiliki peluang untuk dikelola secara lebih produktif dan berkelanjutan.

Salah satu alternatif yang dapat dikembangkan adalah pemanfaatan sekam dan jerami padi menjadi briket arang. Sekam padi dapat diolah melalui proses karbonisasi atau pirolisis dengan suplai oksigen yang terbatas untuk menghasilkan bahan bakar padat yang memiliki nilai guna. Pengembangan briket arang tidak hanya berkaitan dengan proses pengolahan limbah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar dapat berjalan secara berkelanjutan. Pemerintah Desa, kelompok tani, BUMDes, karang taruna, penyuluh pertanian, dan masyarakat memiliki peran yang berbeda dalam mendukung proses pengumpulan bahan baku, pengolahan, pemasaran, hingga pengembangan usaha.

Berangkat dari kondisi tersebut, salah satu kontribusi dalam Program Kerja Multidisiplin 1 adalah penyusunan dokumen hasil pemetaan stakeholder pengelolaan briket arang berbasis sekam dan jerami Padi di Desa Tunggul. Pemetaan stakeholder dilakukan untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang memiliki peran dan kepentingan dalam pengembangan briket arang sekaligus memberikan gambaran mengenai pembagian peran, tingkat pengaruh, serta bentuk hubungan antar-pemangku kepentingan.

Pemetaan Stakeholder Pengelolaan Briket Arang

Stakeholder mapping merupakan proses untuk mengetahui pihak-pihak yang memiliki keterkaitan secara langsung maupun tidak langsung dalam pengelolaan briket arang berbahan sekam padi di Desa Tunggul. Terdapat beberapa stakeholder yang memiliki peran dalam pengembangan usaha tersebut, yaitu Pemerintah Desa, Gabungan Kelompok Tani, BUMDes, Karang Taruna, Penyuluh Pertanian, dan masyarakat. Masing-masing stakeholder memiliki kepentingan dan bentuk kontribusi yang berbeda sesuai dengan kapasitasnya.

Pemerintah Desa memiliki kepentingan dalam mendukung pemberdayaan masyarakat dan berperan sebagai pihak yang melakukan koordinasi program. Kelompok tani memiliki peran penting sebagai penyedia sekam padi yang menjadi bahan baku utama briket. BUMDes memiliki potensi dalam mendukung aspek pemasaran dan pengembangan usaha, sementara karang taruna dapat membantu kegiatan operasional di lapangan. Terakhir, penyuluh pertanian berperan dalam memberikan pendampingan teknis, sedangkan masyarakat menjadi pihak yang dapat memanfaatkan sekaligus mengembangkan usaha berbasis potensi lokal tersebut.

Pemetaan kemudian dilanjutkan melalui analisis power-interest atau pengaruh-kepentingan untuk melihat tingkat pengaruh dan kepentingan masing-masing stakeholder. Pemerintah Desa memiliki tingkat pengaruh dan kepentingan yang tinggi sehingga ditempatkan sebagai mitra utama. Kelompok tani memiliki tingkat kepentingan tinggi dengan pengaruh yang lebih rendah dan ditempatkan sebagai pelaksana utama, sedangkan BUMDes menjadi mitra pemasaran. Karang Taruna berperan sebagai pendukung program, sementara penyuluh pertanian memiliki pengaruh tinggi dengan tingkat kepentingan yang lebih rendah sehingga berperan sebagai konsultan teknis.

Selain mengidentifikasi dan mengelompokkan stakeholder berdasarkan tingkat pengaruh dan kepentingannya, pemetaan juga menggambarkan hubungan antar-stakeholder dalam pengelolaan briket arang. Pemerintah Desa berkoordinasi dengan kelompok tani dalam pelaksanaan program dan dengan BUMDes dalam pengembangan usaha. Kelompok tani dapat berhubungan dengan karang taruna dalam penyediaan bahan baku, sementara BUMDes berhubungan dengan kelompok tani dalam aspek pembelian produk. Penyuluh pertanian juga memiliki hubungan pendampingan teknis dengan kelompok tani. Dengan adanya gambaran hubungan tersebut, proses pengelolaan briket dapat diarahkan melalui kerja sama yang lebih terstruktur antar-pihak.

Gambar 2. Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro menyerahkan luaran Multidisplin 1 berupa Dokumen pemetaan stakeholder kepada Kepala Desa Tunggul

Manfaat bagi Pemerintah Desa dan Masyarakat

Dokumen Hasil Pemetaan Stakeholder Pengelolaan Briket Arang Berbasis Sekam Padi di Desa Tunggul memberikan beberapa manfaat bagi Pemerintah Desa dan masyarakat, antara lain:

  • Memberikan gambaran mengenai pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan pengelolaan briket arang, baik yang memiliki peran langsung maupun tidak langsung.
  • Memperjelas pembagian peran dan tanggung jawab antara Pemerintah Desa, kelompok tani, BUMDes, karang taruna, penyuluh pertanian, dan masyarakat sehingga setiap pihak dapat mengetahui bentuk kontribusinya.
  • Membantu Pemerintah Desa dalam membangun koordinasi dengan stakeholder terkait dalam pengelolaan limbah sekam padi dan pengembangan usaha briket arang.

Ucapan Terima Kasih

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Desa Tunggul, para Kepala RT, Tim Penggerak PKK Desa Tunggul, Dosen Pembimbing Lapangan, serta seluruh masyarakat Desa Tunggul dan pihak pihak lainnya yang saya tidak bisa sebut satu per satu yang telah memberikan dukungan dan berpartisipasi dalam proses penyusunan Program Kerja Multidisiplin 1. Dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak menjadi bagian penting dalam terlaksananya kegiatan Pengembangan Briket Arang Berbahan Jerami dan Sekam Padi.





Penyusun

Arsyadhia Rafie Priyambodo

Program Studi

Ilmu Pemerintahan

Fakultas

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Lokasi Pengabdian

Desa Tunggul, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen

Periode KKN

KKN Reguler Tim II 2025/2026 (8 Juli – 18 Agustus 2026)


Editor: Keredaksian Digdaya

GOSIP KWT Karanganyar: Dorong Perempuan Desa Melek Digital dan Cakap Kelola Keuangan untuk Dukung SDGs

 


Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) Desa Karanganyar menggelar penyuluhan interaktif bertajuk “GOSIP: Gerakan Optimalisasi Sosmed, Inovasi, dan Proteksi Bersama Kelompok Wanita Tani Desa Karanganyar” pada Selasa (21/7/2026). Kegiatan tersebut disisipkan dalam rangkaian pertemuan rutin Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Karanganyar, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen.

Kegiatan GOSIP dikemas dalam bentuk talkshow yang berlangsung secara interaktif dan dekat dengan keseharian para anggota KWT. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman mengenai pemanfaatan media sosial untuk mendukung usaha, pengelolaan keuangan sederhana, pemanfaatan teknologi dalam kegiatan usaha, serta cara mengenali dan menghindari penipuan dalam transaksi digital. Talkshow menghadirkan Mamik Widiarti, Ketua KWT Desa Karanganyar sekaligus pemilik CV Mamigus Restu Bagus Sragen, sebagai narasumber. Pengalaman beliau dalam menjalankan usaha menjadi bagian penting dalam diskusi karena dapat dikaitkan secara langsung dengan kondisi dan pengalaman para pelaku usaha di lingkungan KWT.

Salah satu materi yang disampaikan adalah pengelolaan kas sederhana dengan konsep “Uang Dapur vs Uang Usaha” yang dibawakan oleh mahasiswa KKN dari Program Studi D4 Akuntansi Perpajakan. Materi ini mengajak anggota KWT membedakan uang untuk kebutuhan rumah tangga dan uang untuk menjalankan usaha. Peserta juga diajak membiasakan pencatatan sederhana atas pemasukan, pengeluaran, dan sisa uang usaha. Dengan pencatatan tersebut, pelaku usaha dapat lebih mudah mengetahui perkembangan usahanya dan menentukan penggunaan uang secara bijak.

Kegiatan berlangsung secara komunikatif dengan memberikan kesempatan kepada anggota KWT untuk menyampaikan pengalaman dan permasalahan yang dihadapi dalam menjalankan usaha. Melalui diskusi tersebut, materi yang diberikan dapat dikaitkan dengan kondisi nyata peserta sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan GOSIP, mahasiswa KKN berharap anggota KWT Desa Karanganyar semakin percaya diri dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usaha sekaligus memiliki kebiasaan mengelola keuangan yang lebih tertib. Pemanfaatan media sosial, pencatatan keuangan sederhana, serta kewaspadaan terhadap penipuan digital diharapkan dapat membantu usaha rumahan masyarakat berkembang secara lebih aman dan berkelanjutan.

Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 5 tentang Kesetaraan Gender melalui pemberdayaan perempuan dalam kegiatan ekonomi dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan kemampuan pengelolaan usaha dan keuangan. Selain itu, pemanfaatan teknologi secara bijak turut mendukung SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dalam mendorong masyarakat desa beradaptasi dengan perkembangan ekonomi digital.

Melalui langkah sederhana yang dimulai dari lingkungan KWT, kegiatan GOSIP diharapkan dapat mendorong perempuan Desa Karanganyar untuk semakin mandiri, adaptif, dan mampu mengembangkan potensi usaha secara aman di tengah perkembangan zaman.



Penulis: Luthfia Rahmatika
Editor: Keredaksian Digdaya

Mahasiswa KKN UNDIP Dorong Pengelolaan Sampah Lebih Terukur melalui Program SIGAP ASAP di Desa Karanganyar

 

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) melaksanakan program kerja SIGAP ASAP (Solusi Inovatif Gerakan Antisipasi Pencemaran Asap dari Pembakaran Sampah) di Desa Karanganyar. Program ini diwujudkan melalui pembuatan satu unit rocket stove sebagai salah satu upaya untuk mengurangi dampak dari pembakaran sampah secara terbuka.

Pembuatan rocket stove dilaksanakan pada 1 Agustus 2026 dan kemudian diresmikan oleh Kepala Desa Karanganyar pada 4 Agustus 2026. Selain menghasilkan alat, program ini juga dilengkapi dengan pendampingan kepada warga mengenai pencatatan sampah yang berhasil dikelola.

Dalam pendampingan tersebut, mahasiswa KKN mengajak warga untuk mulai mencatat jumlah sampah yang dikelola secara rutin. Pencatatan sederhana ini dilakukan agar warga dapat mengetahui seberapa banyak sampah yang berhasil ditangani dan melihat perkembangan pengelolaan sampah dari waktu ke waktu.

Mahasiswa KKN juga memberikan pemahaman mengenai manfaat pencatatan terhadap penghematan biaya bahan bakar. Dengan mengetahui jumlah sampah yang dapat dikelola, warga dapat memperkirakan kebutuhan bahan bakar yang digunakan serta melihat potensi penghematan yang dapat diperoleh.

Kegiatan ini diharapkan dapat membuat pengelolaan sampah tidak hanya dilakukan secara langsung, tetapi juga memiliki catatan yang jelas. Catatan tersebut dapat menjadi bahan bagi warga dan pemerintah desa untuk melihat kondisi pengelolaan sampah serta menentukan langkah yang lebih tepat ke depannya.

Melalui pengelolaan sampah yang lebih tertata dan pemanfaatan sumber daya secara lebih bijak, program SIGAP ASAP turut mendukung SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Upaya ini juga diharapkan dapat membantu menciptakan lingkungan Desa Karanganyar yang lebih bersih dan nyaman bagi masyarakat.

Program SIGAP ASAP menjadi salah satu bentuk upaya mahasiswa KKN Undip dalam memberikan solusi yang tidak hanya berfokus pada pembuatan alat, tetapi juga pada perubahan kebiasaan masyarakat. Melalui pencatatan sederhana, warga diajak untuk lebih memahami jumlah sampah yang mereka hasilkan, sampah yang berhasil dikelola, serta manfaat yang dapat diperoleh dari pengelolaan tersebut.

Dengan adanya rocket stove dan pendampingan pencatatan, mahasiswa KKN berharap masyarakat Desa Karanganyar dapat semakin sadar akan pentingnya mengelola sampah dengan baik. Program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih tertata, hemat, dan memperhatikan kebersihan lingkungan.




Penulis: Luthfia Rahmatika
Editor: Keredaksian Digdaya

Mahasiswa KKN Undip Ajak Anak Sekolah Dasar Gemar Menabung, Dukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas

 


Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) melaksanakan program “Gemar Menabung” sebagai upaya mengenalkan kebiasaan menabung kepada anak-anak sekolah dasar sejak dini. Kegiatan ini dikemas secara sederhana dan menyenangkan agar anak-anak dapat memahami pentingnya menyisihkan uang untuk kebutuhan di masa mendatang.

Program “Gemar Menabung” turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Melalui kegiatan edukasi sejak dini, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan di bidang akademik, tetapi juga mendapatkan pembelajaran mengenai kebiasaan mengelola uang yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pengertian menabung, manfaat menabung, serta pentingnya membiasakan diri menyisihkan uang sejak kecil. Materi disampaikan menggunakan bahasa sederhana dan disesuaikan dengan usia anak-anak sehingga mudah dipahami.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN mengajak anak-anak berdiskusi mengenai kebiasaan mereka dalam menggunakan uang sehari-hari. Anak-anak diberikan pemahaman bahwa menabung tidak harus dimulai dengan jumlah yang besar. Menyisihkan sebagian kecil uang secara rutin juga dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan menabung.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas menghias celengan bersama. Anak-anak diberikan kesempatan untuk menghias celengan sesuai dengan kreativitas masing-masing. Kegiatan ini membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan sekaligus memberikan gambaran nyata mengenai tempat untuk menyimpan uang yang telah mereka sisihkan.

Melalui kegiatan tersebut, anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai manfaat menabung, tetapi juga diajak untuk mulai menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Celengan yang telah mereka hias dapat digunakan sebagai tempat untuk menyimpan uang secara rutin.

Pembelajaran mengenai kebiasaan menabung sejak usia sekolah menjadi salah satu bentuk pendidikan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak diajak untuk memahami bahwa mengelola uang merupakan keterampilan yang dapat dipelajari secara bertahap, mulai dari hal sederhana seperti menyisihkan sebagian uang yang dimiliki.

Antusiasme anak-anak terlihat selama kegiatan berlangsung. Mereka aktif mengikuti penyampaian materi dan bersemangat ketika menghias celengan dengan berbagai kreasi masing-masing. Kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa KKN untuk berinteraksi secara langsung dengan anak-anak melalui pembelajaran yang ringan dan menyenangkan.

Melalui program “Gemar Menabung”, mahasiswa KKN Undip berharap anak-anak dapat memahami bahwa menabung merupakan kebiasaan baik yang dapat dimulai sejak usia dini. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memberikan pendidikan yang bermanfaat bagi anak-anak sekaligus mendukung pencapaian SDGs 4 melalui pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.




Penulis: Luthfia Rahmatika
Editor: Keredaksian Digdaya

Kolaborasi Lintas Jurusan, Mahasiswa KKN Undip Edukasi Warga Desa Jirapan Cegah Hipertensi dengan Produk Herbal Berbasis Bahan Pangan Lokal "JASENI"


Mahasiswa KKN Reguler Tim II UNDIP bersama peserta JASENI

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim II Universitas Diponegoro 2026 menggelar program kerja multidisiplin yang bertajuk "JASENI" di Desa Jirapan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, pada Selasa, 4 Agustus 2026. Program ini merupakan hasil kolaborasi mahasiswa dari dua bidang keilmuan berbeda, yakni Kesehatan Masyarakat dan Kimia, yang bersama-sama mengedukasi kader Posyandu setempat mengenai pencegahan hipertensi melalui produk herbal berbahan Jahe, Sereh, dan Jeruk Nipis (JASENI).

Pengangkatan isu hipertensi dalam program kerja ini bukan tanpa alasan. Hipertensi dikenal sebagai "silent killer" karena sering tidak menimbulkan gejala yang disadari penderitanya, sehingga banyak kasus baru terdeteksi setelah muncul komplikasi serius seperti stroke maupun penyakit jantung. Melihat juga banyak ditemukan saat pemeriksaan rutin di Posyandu, banyak masyarakat yang memiliki tekanan darah tinggi. Kondisi ini menjadikan hipertensi sebagai salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian khusus di tingkat masyarakat desa, terutama melalui peran kader Posyandu sebagai garda terdepan edukasi kesehatan. Sementara itu, pendekatan herbal berbahan pangan lokal dipilih karena bahan-bahannya mudah didapat, terjangkau, dan sudah akrab dengan keseharian warga, sehingga lebih mudah diterima dan dipraktikkan secara mandiri di rumah sebagai langkah pencegahan maupun pendamping pengobatan medis.

Kegiatan yang berlangsung di aula Balai Desa Jirapan diikuti oleh kader Posyandu Desa Jirapan. Dalam pelaksanaannya, materi disampaikan secara terbagi sesuai bidang keilmuan masing-masing. Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, Hanifah Salma Addinar, memaparkan materi seputar hipertensi secara menyeluruh, mulai dari penyebab, faktor risiko, hingga pengobatan baik secara medis dengan obat-obatan, maupun secara non-medis melalui pemanfaatan bahan herbal berbasis pangan lokal. Sementara itu, mahasiswa Kimia, Yaumi Fih Rakhmah, berperan mengedukasi proses pembuatan produk JASENI beserta penjelasan singkat proses kimiawi yang terjadi di dalamnya, sehingga bahan pangan lokal yang telah dijelaskan sebelumnya dapat dikemas menjadi produk herbal siap konsumsi.

Kolaborasi ini menghasilkan pendekatan edukasi yang lebih utuh di mana kader Posyandu tidak hanya memahami sisi kesehatan dari hipertensi, tetapi juga cara mengolah bahan pangan lokal menjadi produk herbal yang praktis dikonsumsi sehari-hari. Mahasiswa dari kedua bidang keilmuan turut menjelaskan secara langsung proses pembuatan JASENI, mulai dari merebus jahe dan sereh, hingga menambahkan perasan jeruk nipis sebagai sentuhan akhir. Peserta terlihat antusias mengikuti kegiatan tersebut, terlihat sangat aktif pada saat sesi tanya jawab seputar dosis, cara konsumsi, hingga batasan penggunaan herbal sebagai pendamping, bukan pengganti pengobatan medis.



Program kolaboratif ini merupakan bagian dari kontribusi mahasiswa KKN dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, dengan mendorong masyarakat desa untuk lebih peduli terhadap kesehatan melalui deteksi dini dan pencegahan berbasis bahan pangan lokal. Selain itu, program ini juga sejalan dengan SDGs ke-5 tentang Kesetaraan Gender, mengingat mayoritas kader Posyandu adalah perempuan yang berperan aktif sebagai agen perubahan kesehatan di tingkat desa.

Melalui program lintas disiplin JASENI ini, mahasiswa KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro berharap kader Posyandu Desa Jirapan dapat menjadi ujung tombak penyebaran informasi kesehatan sekaligus mampu memproduksi sendiri minuman herbal pencegah hipertensi yang murah, mudah didapat, dan telah didukung bukti penelitian ilmiah. 




Penulis: Hanifah Salma Addinar/Kesehatan Masyarakat/ Universitas Diponegoro

Editor: Keredaksian Digdaya

Mengibarkan Kreativitas dari Kertas Menjadi Koinobori: Sambut Hari Anak Nasional dengan Mengenalkan Budaya Jepang dengan Cara Kreatif kepada Anak-Anak SDN Jirapan 1


 Mahasiswi KKN UNDIP memberikan edukasi budaya Jepang kepada siswa SD Negeri 1 Jirapan melalui workshop pembuatan Koinobori (鯉のぼり) pada 31 Juli 2026.

Desa Jirapan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen - Masa liburan yang telah usai membuat anak-anak harus kembali memasuki lingkungan sekolah, setelah menikmati waktu liburan mereka bersama dengan keluarga dan beristirahat dari rutinitas Kegiatan Belajar Mengajar. Semangat baru yang mereka bawa untuk menyambut sekolah kembali membuat Hazna Olivia, Mahasiswa KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) 2026 Desa Jirapan dari Fakultas Ilmu Budaya jurusan Bahasa & Kebudayaan Jepang, turut menyambut momen tersebut dengan menghadirkan kegiatan yang menyenangkan sekaligus edukatif, yaitu Workshop Edukasi Budaya Jepang melalui Seni Kertas Koinobori bagi siswa-siswa SD Negeri 1 Jirapan pada Jumat (31/07/26). Kegiatan ini digagas untuk menyambut Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2026, sekaligus sebagai salah satu upaya untuk memberikan aktivitas kreatif kepada anak-anak dan memperkenalkan keberagaman budaya internasional. Mengambil inspirasi dari perayaan Kodomo no Hi (こどもの日) atau Hari Anak di Jepang, kegiatan ini mengajak anak-anak mengenal tradisi Jepang melalui cara yang dekat dengan dunia mereka, yaitu bermain sambil berkarya. 

Workshop yang menyasar siswa kelas 5 ini bertujuan untuk melatih motorik halus anak melalui aktivitas mewarnai dan berkreasi pada media kertas berpola ikan untuk membentuk Koinobori, hiasan berupa bendera ikan mas yang menjadi simbol harapan agar anak-anak dapat tumbuh sehat, kuat, dan sukses dalam budaya Jepang. Kegiatan digelar bertepatan dengan masa awal masuk sekolah usai libur panjang, sebagai upaya menumbuhkan kembali semangat belajar siswa. Kegiatan ini berangkat dari permasalahan mengenai minimnya aktivitas menyenangkan pasca liburan sekolah, yang kerap membuat siswa kurang antusias saat kembali masuk kelas. Selain itu, kegiatan sekolah yang bersifat kreatif sekaligus memperkenalkan budaya internasional secara interaktif dan aplikatif juga dinilai masih jarang dilakukan di tingkat sekolah dasar.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN Bahasa & Kebudayaan Jepang menggunakan metode storytelling sebagai pengantar sebelum mempraktikkan secara langsung. Siswa kemudian diarahkan untuk mempraktikkan pembuatan Koinobori secara mandiri dengan pendampingan. Suasana kegiatan pun berlangsung dengan antusias. Anak-anak bebas memilih warna, menghias, melipat, serta menyusun kertas & dekorasi sesuai kreativitas masing-masing. Aktivitas sederhana tersebut tidak hanya menghasilkan kerajinan Koinobori, tetapi juga memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk melatih koordinasi dan keterampilan motorik mereka. Kegiatan lalu ditutup dengan sesi apresiasi terhadap hasil karya masing-masing siswa.


Dari kegiatan ini, dihasilkan sejumlah luaran, di antaranya produk kerajinan Koinobori buatan tangan siswa yang dapat dibawa pulang atau dipajang di ruang kelas. Kegiatan ini menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengenal budaya dari negara lain secara lebih interaktif. Jika pembelajaran budaya hanya disampaikan melalui penjelasan, anak-anak mungkin akan lebih mudah merasa bosan. Namun, melalui kegiatan praktik secara langsung, mereka dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih menyenangkan sekaligus menghasilkan karya yang dapat dibawa pulang atau dipajang di kelas. Salah satu siswa kelas 5 bernama Adil menceritakan pengalaman serunya membuat koinobori bersama Kak Oliv. Ia mengaku merasa sangat senang karena bisa mengerjakan karya tersebut bersama teman-temannya. "Rasanya seru dan bahagia bisa mengerjakannya bareng-bareng sama teman," ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung penuh keceriaan ini menjadi salah satu momen berkesan bagi siswa SD Negeri 4 Jirapan dalam mengawali tahun ajaran baru. Selain melatih motorik halus melalui kerajinan tangan, workshop ini juga membuka wawasan anak-anak terhadap budaya asing yang sarat nilai positif, seperti semangat merayakan kebahagiaan dan mendoakan kesuksesan anak yang terkandung dalam tradisi Koinobori dan juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education (Pendidikan Bermutu) melalui penyelenggaraan pembelajaran yang interaktif, kreatif, dan menyenangkan bagi anak-anak. Pengenalan budaya Jepang melalui praktik membuat Koinobori turut mendukung Target 4.7, yaitu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai keberagaman budaya serta nilai-nilai sebagai bagian dari masyarakat global. 

Bagi Oliv selaku mahasiswa KKN, kegiatan ini turut menjadi wujud nyata kontribusi di bidang pendidikan dan kebudayaan selama masa pengabdian di Desa Jirapan. Melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan, workshop ini diharapkan tidak hanya meninggalkan kesan mendalam bagi siswa, tetapi juga menumbuhkan semangat belajar mereka usai libur panjang, sekaligus memperkaya pemahaman anak-anak akan keberagaman budaya dunia sejak usia dini.

Penulis: Hazna Olivia Arshanti

Mahasiswa Universitas Diponegoro, Program Studi Bahasa & Kebudayaan Jepang

Editor: Keredaksian Digdaya