The Most/Recent Articles

Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Mendakwahkan Smiling Islam: Dialog Kemanusiaan Islam Dan Barat

 



Judul Buku    : Mendakwahkan Smiling Islam: Dialog Kemanusiaan Islam Dan Barat

Pengarang      : Prof. H. Abdurrahman Mas'ud, Ph.D.

Penerbit          : Pustaka Compass

Tahun Terbit : Cetakan Pertama, April 2019

Jumlah Hlm   : xxiv + 340 Halaman

Peresensi        : Muhamad Syafiq Yunensa

 

Buku hasil karya Prof. Abdurahman Mas'ud ini merupakan autobiografi singkat tentang perjalanan hidup Prof Dur sendiri, mulai dari masanya menimba ilmu di pondok pesantren serta pemikiran atau kumpulan tulisan beliau tentang kehidupan barat maupun Islam. 

Dalam buku epic ini memberikan pemahaman, sebagaimana faktanya bahwa Islam adalah agama yang damai anti terhadap kekerasan, sangat jauh dari anggapan dunia barat yang sudah mengakar. Terkait prespektif mereka tentang Islam adalah agama kekerasan. Islam yang dikenal sebagai agama yang membawa kedamaian tentu memiliki tradisi Islam ramah. Penulis memperkenalkan Islam ramah lewat perjalanan intelektualannya.

Di selang kesibukan-nya sebagai mahasiswa dan peneliti. penulis sendiri gencar-gencarnya mengenalkan wajah Islam yang sebenarnya dan membuka pemahaman dunia luar tentang Islam sebagai agama kekerasan. Sebagaimana yang dilakukan oleh penulis sendiri dengan mengundang para koleganya yang ada di Amerika untuk makan malam di kediaman penulis, dengan menyuguhkan makanan khas Indonesia. 

Sehingga mereka mulai mengenal ciri khas Indonesia, sampai pada level ciri khas keislaman di Indonesia yang selama ini mereka mengenal Islam selalu menggunakan standar timur tengah yang kerap tampil dengan wajah garang dan kurang ramah, ternyata tidak sebagaimana anggapan mereka keliru setelah makan malam itu.

Selain itu penulis juga menggundang teman sesama mahasiswanya untuk makan malam, tujuan tersebut penulis lakukan dengan menjadi media strategis untuk menjelaskan beberapa hal yang sering mereka salahpahami seperti contohnya Islam dituduh tidak bisa memahami tetangga, Islam tidak bisa berkawan dengan yang lain, Islam sangat ekslusif dan sebagainnya. Berkat keuletan penulis dalam mengenalkan Islam ramah. Teman-teman penulis sudah sering menyebut Islam Indonesia sebagai Islam moderat. (Lihat halaman 52-53)

“Menyuguhkan ungkapan ngejaman dan meyakinkan tentang konsep atau ide hanya dilakukan oleh yang lazim mengejewantahkannya dalam tataran gagasan, inspirasi, pengalaman dan wawasan. Professor Aburrahman Mas’ud sebagai penulis, pemikir, birokrat, santri, akademik dan sekaligus universalis-humanis merupakan figur yang sangat layak membukukan resep beserta obsesi untuk melanjutkan langkah menuju pertengahan abad ke 21. Tulisan yang digarap berbasis studi agama, sosiologi, kesejarahan, dan kebijakan publik ini sangat diperlukan untuk dinikmati, disimak, dan dikaji lanjut oleh para peminat budaya keagamaan, santri, pengambil kebijakan publik dan bahkan pencita kuliner. Kedalaman memahami dan sekaligus mengagumi warisan tradisi, kecerdikan dan kesejukan moralitas santri dan sekaligus memformulasikan konsep kekinian global telah memantapkan akar teori dan konsep “memijak burni menggapai matahari.” Karya yang matang ini memang tidak bikin geger namun bikin mikir lebih dalam dan jauh ke depan. Dari sate sampai dengan dialog Barat dan Muslim sekali lagi mengungkap nalar jernih kita untuk membuatnya mewarnai kehidupan nyata. Itulah oleh-oleh mahal buku ini. Karenanya ia dapat menggugah inovasi menganyam kebijakan untuk menghunjamkan akar pemahaman dan pengamalan keagamaan yang humanis sekaligus berwawasan bumi lipat budaya.”

Buku “Mendakwahkan Smilling Islam” ini sangat dianjurkan untuk dibaca dan direnungkan berbagai kalangan, terutama mereka yang berusaha mencari referensi yang luas terkait keberislman dan bagaimana agama Islam yang sesungguhnya, yakni wajah yang humanis dan mementingkan aspek-aspek kehidupan yang damai.

Penulis sebagai santri yang juga menghadapi babak sejarah hidupnya dengan berbagai faktor sosio-historis yang sangat beragam,namun tetapi tidak mengurangi komitmen penulis pada agama yang dianutnya, serta mampu menjadikan penulis memahami dan menyandingkan wacana tradisionalitas dan modernitas. Komitmen terhadap keberlangsungan tradisi pesantren merupakan konsekuwensi logis yang dihadapi penulis untuk melanjutkan tradisi yang ditinggalkan oleh para leluhur. Walaupun penulis menyerap pemikiran-pemikiran baru secara rasional dan proposional namun penulis tetap berupaya obyektif dan open minded. Usaha-usaha penulis dalam mencoba bertaqlid secara proposional pada doktrin ajaran pesantren dan NU.

Oleh sebab itu dalam merespon Muhammadiyah, penulis tetap berusaha mengedepankan sikap moderat walaupun antara warga NU dan Muhammadiyah terdapat perbedaan prinsip dan pemahaman dalam menginterpretasikan Qur'an dan hadis.  Selain memaparkan tentang wajah Islam, penulis juga memaparkan bagaimana seharusnya Memperluas dialog cross cultural. Bahwa disetiap budaya tidak memahami budaya yang lain. (Lihat Halaman 62)

Dalam pidatonya penulis pada saat pengukuhan guru besar di IAIN Walisongo pada tahun 2004. Dalam pidato tersebut, penulis menyuarakan untuk mengadakan sebuah dialog sebagai pemersatu dan langkah toleransi antara umat beragama maupun budaya baik Islam maupun barat. Dengan langkah open mindet terhadap barat maupun Islam. Bahwa tidak memandang barat hanya sebatas fenomena Bush adalah suatu penyerderhanaan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, dan kalau hanya melihat Islam hanya dengan kata jihad dengan mendistorsikan subtansinya adalah satu kepicikan. Prof Dur memaparkan berbagai kasus yang terjadi di luar (timur tengah) maupun di Indonesia. Prof Dur juga mengutip ciri-ciri peradaban hedonistic dari Al-Farabi. Filsuf besar abad sepuluh ini mengingatkan masyarakat dunia agar menjauhi peradaban yang tidak ideal dengan ciri-ciri:

1.      Indispensable, peradaban yang lebih mementingkan pertahanan hidup, pencarian nafkah sebagai tujuan utama.

2.      Vile, peradaban yang dipenuhi dengan iklim penumpukan kekayaan, keserakahan matrialisme yang berlebihan.

3.      Base, peradaban yang penuh hiburan dan petualangan sensasional, dengan ornament nafsu syahwat.

4.      Timocratic, bertujuan pada popularitas dan kehormatan.

5.      Tyrannical, Penindasan dan penguasaan terhadap kelompok lain menjadi tujuan utama yang terus dilanggengkan.

6.      Semu demokratis yang tidak memiliki tujuan bersama dan berbuat sekehendak mereka.

 

Sebuah hal yang sangat menarik, sebagai orang yang hidup 8 tahun di AS, akan tetapi masih memiliki kritisisme atas patologi peradaban Barat. Prof Dur dalam pidato tersebut dengan tegas menyatakan bahwa peradaban tak ideal menurut sudut pandang al-Farabi ini telah mewabah ke dunia modern. Dari hal ini sangat terlihat jelas bahwa Prof Dur masih menjaga independensinya sehingga tidak terbaratkan meski cukup lama belajar di Barat. (Lihat Bagian Pengantar Penyunting)

Pada bagian kedua penulis menyuguhkan kepada pembaca tentang Islamic Studies and Pesantren. Pada pembahasan kedua  ini merupakan kumpulan tulisan penulis pada saat menempuh pendidikan S2 dan S3 di UCLA AS. Paper-paper didalamnya memuat berbagai bidang pembahasan, seperti pendidikan Islam, sosiologi, sejarah Islam, filsafat dan perbandingan Islam.

Karya-karya tulis penulis tersebut memaparkan tentang keadaan Islam yang ramah yang didakwahkan oleh Rasulullah, yang pada setiap permasalahan lebih memilih jalan damai. Selain paparan tersebut penulis juga menyuguhkan keadaan kontemporer yang berkontribusi terhadap kebangkitan Islam. Penulis juga menulis tentang madrasah Nizamiya, yang merupakan madrasah pertama yang dibangun oleh umat Islam dan menjadi madrasah sebagai model institusi pendidikan tradisional pada abad pertengahan Islam.

Dalam buku ini menjelaskan: Kemunduran peradaban Islam yang terjadi sejak abad 12- M ditandai oleh dikotomisasi ilmu agama dan non-agama. Ini terjadi, misalnya sejak pendirian Madrasah Nizam Al-Mulk yang mengkhususkan diri pada Fiqh sebagai ratu pengetahuan. Di satu sisi hal ini bagus karena memaksimalkan pendidikan agama, namun di sisi lain telah meminggirkan ilmu-ilmu non-agama dari Islam. Dikarenakan dikotomisasi sejak ilmu agama vs umum, akal vs wahyu, wahyu vs alam, serta dikotomi aliran dalam Islam, seperti Sunni vs Syi’ah, dan lain sebagainya. Hal ini yang menyebabkan umat Islam mengerdilkan kebesaraannya sendiri yang sempat terbangun agung selama 4 abad sejak awal kelarihan Islam.

Terlepas dari pembahasan Islam abad pertengahan penulis juga menyuguhkan kepada pembaca tentang pesantren yang ada di Indonesia terkhususnya pesantren yang ada di pulau jawa serta paham sufis yang berkembang di Jawa.

Pembahasan ke tiga yaitu tentang dialog Islam dan barat. Pada awal pembahasan penulis memaparkan tentang mainstrim dunia Islam sunni, serta mengambarkan sunni yang tidak fundamentalis dan tidak teroris. Ditandai dengan salahsatunya lebih mengutamakan konsep jama'ah, mayoritas dan supremasi sunnah, hingga dijuluki sebagai ahlu sunnah wal jama'ah.

Penulis memberikan definisi terorisme dengan merujuk pada literatur sosiologi barat. Bahwa teroris adalah salahsatu bentuk aksi bermotif politik yang menggabungkan unsur-unsur psikologi dan fisik yang dilakukan oleh individu-individu atau kelompok kecil dengan tujuan tuntutan terorisme terpenuhi. Senada juga yang dikutip oleh penulis dari pandangan intelektual muslim asal India bahwa terorisme merupakan fenomena politik dan sosial saja yang dibatasi oleh ruang dan waktu.

Salah pemahaman terhadap makna jihad yang berkembang di kalangan masyarakat garis keras khususnya yang ditujukan kepada "umat Islam" sehingga menimbulkan kekacauan dan menjadikan image Islam khususnya dimata dunia barat menjadi sah untuk dipandang sebagai agama jihad atau agama kekerasan. Namun pemahaman ajaran Islam yang dijalankan oleh kaum ekstrisme tersebut bertolak belakang dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Islam dalam ajaran dasarnya menawarkan kedamaian dari peperangan sebagaimana yang diajarkan oleh pemimpin sekaligus teladan  umat Islam sejati nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang dikutip oleh penulis tentang pendapat Royster bahwa nabi Muhammad telah mengajarkan kebenaran dengan ucapan dan mengamalkan kebenaran itu dalam kehidupannya. (Lihat Halaman 208).

Jika diteliti lebih cermat bahwa belum sebanding dengan warna Islam itu sendiri yang penuh dengan kedamaian. Artinya bahwa wajah Islam secara umum lebih dominan menampakkan panorama kedamaian dari pada kekerasan. Bahkan bisa diteorikan: jika suatu negara berpenduduk mayoritas muslim maka non muslim dinegara tersebut pasti aman, terlindungi hak-haknya dan dijamin kedamaian kehidupan sosio-religius mereka. (Lihat halaman 227). Jadi bisa diantisipasi bahwa dialog positif dalam bentuk apapun pasti akan membawa hikmah dan berkah pada dunia tersebut, sebagaimana yang dipaparkan penulis pada awal pembahasan.

Dialog kemanusian solusi atas injustice sistem global. Pada pembahasan ini penulis memberikan kritik terhadap Bush sebagai pembeli utama ide huntingtondengan berhipotesa bahwa perang peradaban di masa mendatang tidak bisa dihindarkan, konflik itu adalah hubungan dunia barat ( mayoritas kristen) dengan selainnya. Penulis menganggap bahwa Huntingtong telah melakukan overgeneralisasi. Bahkan para ilmuan AS-pun seperti Donald Emmerson memberikan kritik, bahwa Huntington tidak mengakui heteroginitas peradaban barat. 

Pada akhirnya, ada ide-ide besar dari Prof. H. Abd. Rahman Mas’ud. Ph.D tentang smiling Islam sangat menarik sekali untuk dikaji, yakni dialog antara Barat dan Islam, yang mana Islam mempunyai konsep dan nilai-nilai dasar yang bisa didialogkan sejak zaman Nabi sampai sekarang.

Garis Waktu, Teman Para Penikmat Masa Lalu

 


Identitas buku

 Judul buku     : Garis waktu

 Penulis            : Fiersa Besari

 Penerbit          : Mediakita

 Tahun terbit    : 2016

 ISBN              : 9789797945251

 Halaman         : 211

 

Sinopsis buku

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju,

akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju,

akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju,

akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertantu.

Maka, ikhlaskan saja kalau begitu.

Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.

 

Resensi Buku

Kalian tentunya kenal dengan Fiersa Besari, ia bukan hanya seorang penyanyi saja, tapi juga  pencipta lagu yang sangat digemari remaja jaman sekarang, ditambah ia senang menulis dan menghasilkan karya-karya hebat. Sudah ada beberapa buku yang diterbitkan, salah satunya adalah buku berjudul “Garis waktu”. Buku ini sangat cocok untuk para pembaca yang sedang merasakan jatuh hati, gelisah karena dia, atau bahkan kalian yang sedang berpatah hati.

Bung Fiersa sangat dikenal dengan tulisan-tulisannya yang diunggah dalam akun sosial medianya yang sangat mewakili perasaan para pembaca di zaman sekarang yang cenderung mem-bucin.

Dalam buku Garis waktu ini menceritakan peristiwa tentang Bung Fiersa dengan ‘dia’ dari mulai masa perkenalan,,kasmaran,,patah hati, hingga pengikhlasan. Buku ini juga dimuat dari tulisan-tulisan Bung Fiersa yang diunggah di sosmed yang akhirnya dijadikan kedalam naskah buku Garis waktu ini.

“Jatuh hati tidak bisa memilih. Tuhan yang memilihkan. Kita hanyalah korban. Kecewa adalah konsekuensinya, bahagia adalah bonusnya”

Makhluk pecicilan itu bernama hati. Sering sekali kita mempunyai hati yang banyak tingkah bukan? Dan seringkali juga hati dan pikiran kita sangat kontra. Hati menginginkan bergerak untuk mengejarnya namun pikiran lebih sering berpikir untuk apa mengejar yang tidak pasti jika nanti berujung hanya patah hati lagi dan lagi.

Bukan hanya tentang perasaan cinta saja, namun ada juga bagian yang di dalamnya tersirat pesan untuk menjadi diri sendiri

Tidak perlu takut. Tunjukan saja warna-warnimu yang sesungguhnya. Bahkan lukisan terbaik sedunia pun mempunyai pembenci dan pengkritik”

Kadang dari kita teralalu takut untuk dihina, takut untuk menjadi beda. Pada akhirnya kita hanya bisa mengikuti mereka yang ada tanpa menjadi diri kita sendiri.

Padahal menjadi beda itu tidak ada salahnya, kamu bisa menemukan sesuatu yang lebih dari orang-orang yang hanya pandai ikut-ikutan saja.

Katika orang lain melakukan sesuatu yang mereka sukai dan kamu melakukan sesuatu yang kamu sukai, mereka terikat dengan rutinitas dan kamu memilih kebebasan, orang lain tak perlu mengerti. Tak perlu menyeragamkan diri dengan mereka, jadi diri sendiri saja.

Hanya karena pendapatmu berbeda, bukan berarti pendapatmu salah.

Bung Fiersa amat lihai mengaduk-aduk perasaan pembaca lewat kalimat-kalimat yang diuntainya. Seolah ia begitu mengerti dan memahami pembaca. Kalimat-kalimat yang ditulisnya terasa hidup dan sangat mewakili seseorang yang, baik sedang jatuh cinta, galau, patah hati, tersakiti karena dikhianati, maupun mampu bangkit dari hal-hal pahit yang menimpanya.

Nah, untuk kita yang sedang ingin berwisata dengan masa lalu Garis waktu ini sangat cocok buat kalian, maka bagi yang masih terjebak dalam masa lalu kalian harus baca ini, karena kita akan menemukan kutipan-kutipan yang mungkin saja sama dengan apa yang sedang dirasakan dan itu akan membuat kita menjadi semangat dan bisa bangkit dari masa lalu kalian.

Kelebihan buku

Cover buku ini cukup menarik, covernya sangat elegan. Kumpulan cerita ini tidak terlalu banyak basa-sasi. Bagi anak zaman sekarang yang suka  mem-bucin atau bahkan sering merasakan patah hati, buku ini sangat rekomended untuk dibaca. Di setiap halamannya terdapat kata-kata manis yang bisa membuat kita bangkit dan menjadikan itu sebagai realita yang harus dinikmati.

Kelemahan buku

Tidak jarang terdapat beberapa bahasa yang sulit dipahami, karena menggunakan majas-majas tertentu, dan juga pembahasan yang tidak semua tentang kisah asmaranya. Buku ini berbeda dari yang lainnya, karena tidak ada dialog dalam buku ini semuanya berbentuk narasi, alurnya hanya maju, walaupun demikian tidak terlalu membuat kita merasa bosan ketika membacanya.

Resensi Buku Jadikan Dunia dalam Genggaman

 

 

Judul Buku      : Jadikan Dunia dalam Genggaman

Peresensi         : Yulia Mayasari

Penulis             : Rusli MS Syahputra

Penerbit           : PT Gramedia

Jumlah Hal      : 246

Dalam              : Khataman ke-6 SwaLiterasi

 

Buku berjudul Jadikan Dunia dalam Genggaman ini merupakan karya kedua dari penulis yang bernama Rusli MS Syahputera telah terbit. Sebagaimana yang disampaikannya pada kata pengatar buku ini. Penulis saat menulis buku ini sedang menjalani aktivitasnya sebagai seorang mahasiswa, aktivis, serta pebisnis muda, sehingga tecipta karya yang ia rangkai dalam setiap penggalan pembahasan sub bab buku ini. Isi dari buku, menggambarkan keadaan manusia saat ini, khususnya para pemuda. Penulis menuangkan keresahan, kekritisan, dan juga mengungkapkan masalah-masalah yang sering menyambang pada generasi muda saat ini, sehingga buku ini sangat relevan sebagai vitamin bagi otak untuk menyadarkan dan mengubah pemikiran negatif menjadi lebih positif.

Kisah-kisah yang di angkat juga berasal dari kehidupan pribadi penulis maupun hasil pengamatannya pada lingkungan sekiar, masyarakat, negara serta dunia. Bahkan, disertakan perbandingan dari perkembagan kehidupan orang-orang terdahulu dengan kehidupan masa kini. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa generasi yang tumbuh saat ini adalah generasi instan, baik khusunya pada saat menghadapai sesuatu persoalan atau tantangan. Mental malas gerak dan tidak mempunyai gairoh tujuan hidup yang jelas menjadikan aktivitas yang dijalaninya setiap hari adalah penuh dengan menunda-nunda, mengeluh dan cenderung berfoya-foya serta terjebak dengan hal nyaman yang sifatnya maya.

Bagian pertama pada isi buku ini dibuka dengan pembahasan tentang tugas manusia adalah berjuang, sehingga tidak heran apabila ketika para pembaca semakin jauh lembaran yang dibaca dapat terpicu semangat juangnya guna mewujdukan visi dimasa depan. Hal ini selaras dengan firman Allah dan dijadikan pembuka dalam pembahasan pertama tersebut, yaitu Q.S Ar-Rad:13/11 yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri”.

Maksud dari terjemah ayat di atas yaitu seseorang tidak akan berubah kehidupannya menjadi lebih baik setiap harinya tanpa ada suatu usaha untuk berbuat baik dari individunya sendiri.. Kesuksesan tidak didapatkan dengan bermalas-malas mengandalkan keajaiban Tuhan apalagi manusia. Hasil yang didapatkan akan selaras dengan ikhtiar dan do’a yang senantiasa dipanjatkan. Allah telah menghamparkan sumber nikmat yang begitu luas untuk dapat dikelola oleh manusia. Namun, yang sering terjadi adalah manusia mempertanyakan kepada Allah karena beranggapan bahwa nikmat tidak pernah turun kepadanya melainkan hanya kepada orang lain saja. Padahal sesungguhnya pena kehidupan itu telah dipegang oleh masing-masing individu, tergantung pada individunya akan menggunakan pena tersebut untuk menuliskan rangkaian cerita di dalamnya.

Lalu, pembahasan yang kedua dan bebererapa setelahnya menyambung dengan pembahasan pertama yakni tentang rencana hidup, terus berkarya, inovasi, waktu, kritik dan berproses. Pena yang telah dipegang oleh masing individu harusnya digunakan untuk menuliskan cita-cita, menciptakan berbagai macam karya yang bermanfaat dan menginspirasi. Terwujudnya cita-cita dan terciptanya berbagai macam karya tersebut tentunya diperlukan management waktu yang baik, berkenan untuk mendapakatkan vitamin kritik dari orang lain serta semangat berproses untuk mewujudkan cita-cita yang telah dituliskan.

Kemudian, bagian kedua membahas beberapa poin-poin diantaranya berteman dengan buku, keluar zona nyaman, ikhlas, memberi keteladanan dan beberapa pembahasan yang lainnya. Berbicara tentang buku tentu tidak asing lagi apalagi yang berkesempatan untuk menjalani pendidikan formal. Apabila membahasan tentang buku, maka akan identik dengan membaca. Sedangkan apabila kita melihat kondisi di zaman sekarang ini, dapat dikatakan genarasi muda bangsa Indonesia mengalami penurunan minat baca terhadap buku. Tawaran lain yang disuguhkan oleh media hari ini lebih digemari sehingga seolah-oleh buku tidak lagi dianggap keberadaannya. Padahal buku merupakan jendela dunia yang apabila kita membacanya maka akan memperoleh berbagai macam informasi dan manfaat sertab melatih kejataman ingatan.

Orang-orang tekenal di dunia saat ini adalah mereka yang menjadikan buku sebagai sahabatnya, maka tidak heran dari mereka lahir gagasan-gagasan yang canggih, unik, dan memahamkan serta dapat memecahkan sebuah permasalahan. Orang-orang tersebut diantaranya Albert Einstein, dan dari negara Indonesia seperti Ir. Soekarno, dan Moh. Hatta. Mereka adalah tokoh-tokoh yang tidak ada setiap hari di dalam kehidupannya tanpa membaca buku. Lalu dapat terjawab dengan sendirinya bukan, ketika para generasi muda bertanya mengapa para tokoh dapat pintar dan menjadi orang besar sdangkan dirinya tidak. Gerenasi saat ini cenderung terjebak pada zona nyaman, tidak mau mengambil resiko, dan enggan untuk menjadi peran untuk memberikan keteladanan bagi orang lain.

Setelah itu, bagian yang ketika membahas tentang pola pikir. Pembahasan pola pikir di dalam buku ini dijelaskan secara komprehensif dan memahamkan, muali dari mengbah pola pikir, perbesar wadahnya, bekerja cerdas, positif thinking, hingga melakukan deferensiasi diri. Penting rasanya untuk merawat pola berpikir agar senantiasa positif dalam menyikapi setiaphal. Apabila di dalam pikiran tertanam pola berpikir yang positif maka energi yang terlahir pun akan positif bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Move on dari masa laluyang negatif dan segera menuju dan membentuk lingkungan yang positif bagi diri sendiri, sehingga ketika telah terbentu pola berpikir yang baik dapat terjaga dan menunjang cita-cita yang telah dituliskan.

Selanjutnya setelah pola berpikir, pembahasan pada bagian keempat yaitu just or Allah. Adakalanya manusia lupa akan sang Maha Kuasa atas apapun yang telah menciptakan dirinya, sehingga dalam melaksanakan setiapkegiatan tidak melibatkan kekuatan Allah sedikitpun. Hal tersebut merupakan tindakan yang membodohi diri dan sangat merugikan, karena sesungguhnya tidak ada kekuatan penolog terbaik dalam mewujudkan setiap impian terjadi atas ridho Allah. Manusia terlalu sombong dengan menganganggap dirinya mampu dan berharap pada manusia yang belum tentu mendatangkan bantuan, justru terkadang datang mencela ketika kegagalanlah yang kita dapatkan. Allah adalah dzat yang Maha Kaya, Maha Pengasih dan juga Penyayang, maka manusia tugasnya tinggal berdo’a dan memasrahkan diri kepada Allah setelah melakukan ikhtiar yang optimal. Apabila telah demikian maka keputusan terbaik akan ditunjukkan dan diturunkan oleh Allah, yang sudah tentu dapat mendatangkan kebahagiaan bagi diri sendiri, masyarakat dan kebanggaan Allah terhadap hambanya.

Kebanggaan Allah terhadap hambanya ini disampaikan oleh penulis pada bagian terakhir dengan beberapa sub tema di dalamnya yaitu pantang menyerah, konsep sykur dan sabar, jujur, kemuliaan akhlaq sampai mencapai sukses bersama. Sukses bersama inilah yang menjadi tujuan dari setiap manusia di muka bumi ini sebagai hamba sang ilahi. Sebagaimana yang disampaikan oleh penulis bahwa  sukses sendiri itu biasa, namun sukses bersama-sama itulah yang luar biasa. Demikian disampaikan oleh penulis di dalam pembahasan terakhir tersebut.

Kelebihan dari buku ini yaitu setiap pembahasannya dijelaskan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Namun dari kesederhanaan itu tidak mengurangi esensi pesan yang hendak disampaikan oleh penulis dalam setiap bagian ceritanya. Lalu, penampilan cover juga menarik serta pemilan cover dengan simbol tanganyang menggegam bumi ini merupakan ilustrasi yang tepat menggambarkan isi dai buku ini.kemudian, setiap pembahasan dari setiap bagiannya juga dapat memberikan feedback baik berupa motivasi, pengetahuan, bahkan taparan akibat ulah sehari-hari yang telah dilakukan. Selain itu, penggunaaan jenis kertas yang berwarna kuning dan terbilang tebal menambah nilai plush sendiri karena menyejukkan mata sehingga menambah rasa ketagihan untuk segera menyelesaikan bacaan.

Sedangkan kekurangannya yaitu penggunaan kertas yang sedikit teal tersebt membuat buku ini terbilang cukup berat dan kurang simple apabila hendak di bawa kemana-kemana. Selain itu, bagian pembahasan ayat yang hanya disertakan maknanya saja dirasa kurang lengkap karena akan lebih bermanfaat apabila ayat-ayat Al-Qur’annya turut di sertakan dalam setiap pembahasan yang menggunakannya. Dengan demikian saran kedepannya agar aat maupun hadis yang digunakan sebagai rujukan dapat dituliskan secara rinci sehingga pembaca dapat memperoleh perspektif bahwa setiap apapun yang terjadi di muka bumi ini telah dijelaskan Allah melalui firmannya di dalam Al-Qur’an dan disampaikan Rasul di dalam as-Sunnah.

 

Waullohu’lam bisshowab.

 

 

Sosok Reviewer

Penulis review dari buku yang telah ia baca ini merupakan seorang peneliti Islamic Research Center Jawa Tengah. Ia sangat menyukai dunia tulis menulis khusunya karya ilmiah sejak dirinya menjadi pelajar berseragam putih abu-abu. Namun, selain tulisan ilmiah kini ia juga menekuni karya tulis populer sehingga dapat dijumpai tulisan-tulisannya dibeberapa tulisannya dapat dijumpai di laman baladena, monasmedia, darus.id jogyakartanews dan lainya. Lalu, penulis juga seorang aktivis di beberapa organisasi kampus dan kepemudaan sekaligus mahasantri di pondok pengkaderan Monash Institute Semarang. Kemudian, ia juga merupakan pelajar di sekolah miliarder yang mencetak para miliarder muda setiap tahunnya. Penulis merupakan seorag perempuan kelahiran OKU TIMUR, 1 Agustus 2001 silam. Kenalan lebih jauh dengan penulis dapat melalui IG: yulia_010801, FB: Yulia Mayasari, Gmail: yuliamayasari010801@gmail.com.