Dukung Pertanian Berkelanjutan, Mahasiswa KKN Teknik Sipil Undip Rancang Site Plan Produksi Pupuk Mikroba di Desa Dawungan.

 

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) terus menghadirkan kontribusi nyata bagi pengembangan masyarakat. Menindaklanjuti kesuksesan program "Branding dan Manajemen Usaha Pupuk Mikroba Berkelanjutan" di Desa Dawungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen pada hari Rabu, 12 Agustus 2026, mahasiswa dari Program Studi Teknik Sipil mengambil peran krusial melalui langkah konkret. Mereka merancang site plan (tata letak) fasilitas produksi pupuk mikroba khusus untuk komunitas Kelompok Tani Desa Dawungan.

Kehadiran program multidisiplin ini bukan tanpa alasan. Tim KKN Undip melihat bahwa selain strategi pemasaran dan branding yang kuat, kelancaran manajemen usaha pupuk mikroba sangat dipengaruhi oleh infrastruktur produksi yang sistematis. Pembuatan pupuk berskala industri rumahan oleh kelompok tani seringkali terkendala oleh tata letak ruang yang kurang beraturan, sehingga memperlambat alur kerja.

Menjawab tantangan tersebut, Fairuz Thoriq Hananto, mahasiswa Teknik Sipil Undip yang tergabung dalam tim ini, menghadirkan inovasi berupa perancangan denah, pemetaan alur produksi yang runtut, hingga pembuatan sketsa isometri 3D. Melalui visualisasi 3D ini, para petani dapat dengan mudah membayangkan dan menata ulang ruang produksi mereka agar alur pencampuran bahan, proses fermentasi, hingga pengemasan tidak saling tumpang tindih.

Terkait program kerjanya, Fairuz Thoriq menjelaskan bahwa pendekatan teknis sangat diperlukan untuk membangun industri rumahan yang efisien. Pembuatan denah, alur produksi, dan sketsa isometri 3D ini pada dasarnya adalah bentuk inovasi infrastruktur skala mikro. Dalam sudut pandang Teknik Sipil, perancangan tata letak yang matang itu sangat vital. Tujuannya adalah untuk memangkas waktu pengerjaan yang tidak perlu, sehingga efisiensi dan kapasitas produksi industri rumahan milik kelompok tani dapat meningkat tajam.

Langkah strategis perancangan ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pertama, mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Inovasi tata ruang dari mahasiswa Teknik Sipil ini menunjukkan bahwa perbaikan infrastruktur tidak melulu soal pembangunan fisik besar, melainkan juga optimalisasi alur kerja di tingkat mikro (UMKM) untuk mendorong industrialisasi yang lebih baik di desa.

Kedua, mendukung SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Mengoptimalkan alur produksi sejalan dengan tema manajemen pupuk yang "berkelanjutan". Mengoptimalkan alur produksi pupuk mikroba secara langsung mendukung praktik produksi yang lebih bersih. Dengan site plan yang terukur, risiko bahan baku tercecer atau kontaminasi silang bisa ditekan, sehingga mendukung praktik pertanian yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab.

Sinergi antara branding kemasan yang menarik dan manajemen tata letak produksi yang efisien ini diharapkan dapat menjadi fondasi bisnis yang kuat. Tim KKN Undip berharap, rancangan infrastruktur mikro ini tidak sekadar menjadi gambar di atas kertas, melainkan panduan nyata yang membawa industri pupuk mikroba Kelompok Tani Desa Dawungan semakin mandiri, profesional, dan berkelanjutan.



Editor: Keredaksian Digdaya

Sinergi Mahasiswa KKN Undip Bantu Pelaksanaan Layanan Posyandu di Desa Asemdoyong

Upaya memperkuat layanan kesehatan dasar serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tingkat desa dilakukan oleh Tim II KKN Reguler Universitas Diponegoro (Undip) Kelompok 10 bidang Saintek melalui program sosial kemasyarakatan (sosmas) berupa pendampingan kegiatan Posyandu terpadu di Desa Asemdoyong, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang. Kegiatan ini diselenggarakan secara kolaboratif bersama para kader Posyandu dan Penggerak PKK setempat dengan sasaran berbagai kelompok umur masyarakat, mulai dari bayi dan balita, remaja, ibu hamil, ibu menyusui, hingga kelompok lansia.

Pelaksanaan program melibatkan secara aktif tim mahasiswa lintas disiplin dari rumpun Sains dan Teknologi (Saintek). Kehadiran mahasiswa pada kegiatan kesehatan desa tersebut bertujuan memberikan dukungan teknis sekaligus membantu kelancaran alur pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa KKN Undip terlibat langsung dalam berbagai tahapan pelayanan Posyandu terpadu secara sistematis. Bayi dan balita memperoleh pendampingan dalam proses pemantauan tumbuh kembang melalui pengukuran tinggi badan dan berat badan guna mendukung pencatatan kondisi pertumbuhan secara akurat. Kelompok lansia menerima pelayanan melalui Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu) berupa pemeriksaan kesehatan rutin yang dilakukan bersama pihak Puskesmas terkait. Pemeriksaan tersebut meliputi pengecekan tekanan darah, kadar gula darah, serta kadar kolesterol untuk membantu memantau risiko penyakit tidak menular pada kelompok usia lanjut.

Kontribusi mahasiswa tidak hanya berfokus pada proses pelayanan kesehatan, tetapi juga mencakup perapian administrasi dan pengelolaan data Posyandu bersama para kader desa. Pendampingan administrasi dilakukan untuk memastikan data rekapitulasi kesehatan warga, mulai dari hasil penimbangan balita hingga pencatatan pemeriksaan lansia, tersusun secara rapi dan akurat. Data tersebut dapat dimanfaatkan sebagai basis informasi dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat Desa Asemdoyong yang lebih terorganisasi.

Pendampingan kegiatan Posyandu diharapkan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi kader kesehatan Desa Asemdoyong. Peningkatan kemampuan kader dalam menjalankan alur pelayanan dan administrasi menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pendampingan dapat diterapkan kembali dalam kegiatan Posyandu berikutnya.

Partisipasi aktif mahasiswa KKN Undip mendapat sambutan positif dari para kader Posyandu dan masyarakat Desa Asemdoyong. Sinergi antara mahasiswa, kader kesehatan, PKK, dan pihak Puskesmas menjadi bentuk kolaborasi dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat pesisir Desa Asemdoyong mengenai pentingnya pemantauan kesehatan secara rutin serta mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan Posyandu secara berkala.




Editor: Keredaksian Digdaya


KKN Reguler Tim II Undip Hadirkan Kolaborasi Lintas Disiplin untuk Perkuat Pendidikan dan Kepedulian Lingkungan di Desa Asemdoyong


Mahasiswa KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro (Undip) di Desa Asemdoyong, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, menghadirkan rangkaian program multidisiplin sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Tema “Kolaborasi Lintas Disiplin dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Pengelolaan Lingkungan Berbasis Masyarakat” menjadi dasar pelaksanaan program yang memadukan berbagai bidang keilmuan, mulai dari hukum, kimia, bahasa dan kebudayaan, kesehatan masyarakat, hingga teknik perkapalan. Kelima program dirancang berdasarkan potensi dan permasalahan yang ditemukan di Desa Asemdoyong. Permasalahan pendidikan, kesehatan anak, pengelolaan sampah, serta karakteristik Asemdoyong sebagai wilayah pesisir menjadi dasar mahasiswa dalam menyusun kegiatan yang edukatif dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan menjadi salah satu perhatian utama dalam rangkaian kegiatan tersebut. Desa Asemdoyong memiliki potensi untuk terhindar dari penumpukan sampah ilegal, tetapi masih ditemukan praktik pembuangan sampah di lokasi yang bukan merupakan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) resmi. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kualitas lingkungan, termasuk kawasan persawahan yang masih produktif. Peningkatan kesadaran masyarakat dilakukan melalui program “Pemasangan Banner Raperda Daerah tentang Larangan Pembuangan Sampah dan Hukumannya pada Titik-Titik Pembuangan Sampah Ilegal.” Banner memuat substansi regulasi desa dan kabupaten mengenai larangan membuang sampah sembarangan serta informasi mengenai konsekuensinya. Pemasangan dilakukan pada titik yang kerap digunakan sebagai lokasi pembuangan sampah ilegal sekaligus mengarahkan masyarakat untuk membuang sampah melalui TPS resmi Desa Asemdoyong.

Kondisi lingkungan pesisir juga menjadi perhatian dalam program “Pembuatan dan Pemasangan Papan Informasi Lingkungan sebagai Media Edukasi di Kawasan Pesisir Desa Asemdoyong.” Desa Asemdoyong memiliki kawasan pesisir dan aktivitas masyarakat yang bergantung pada kelestarian lingkungan pantai. Permasalahan sampah di kawasan pesisir serta keterbatasan media edukasi mengenai dampak sampah dan waktu penguraiannya masih menjadi kondisi yang perlu mendapat perhatian. Program tersebut diawali dengan observasi lingkungan dan penentuan lokasi strategis, kemudian dilanjutkan dengan koordinasi bersama pemerintah desa dan pihak terkait hingga proses pembuatan serta pemasangan papan informasi. Media tersebut memuat informasi mengenai waktu penguraian berbagai jenis sampah sekaligus ajakan menjaga kebersihan. Sasaran kegiatan meliputi masyarakat sekitar pesisir, pengunjung wisata, serta pelaku UMKM di kawasan tersebut.

Edukasi menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan program multidisiplin untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Desa Asemdoyong. Hasil koordinasi dengan pemerintah desa menunjukkan bahwa aspek pendidikan masih menjadi perhatian, terutama karena sebagian besar anak di Desa Asemdoyong menyelesaikan pendidikan hingga jenjang SMP. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa untuk menghadirkan kegiatan edukasi yang menarik, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik anak-anak sebagai upaya menumbuhkan minat belajar serta memperluas pengetahuan mereka. Program “Sosialisasi dan Edukasi terkait Bahasa dan Budaya Jepang melalui Cerita Rakyat ‘Urashima Taro’” menjadi salah satu bentuk kegiatan edukasi bagi anak-anak. Kegiatan menyasar anak-anak di sekitar posko KKN yang sebelumnya telah mengikuti kegiatan belajar bersama tim KKN. Penyampaian materi dikemas secara menyenangkan melalui video cerita rakyat Urashima Taro, pengenalan kosakata bahasa Jepang, poster alur cerita, kegiatan mewarnai kimono, serta menulis nama menggunakan huruf Jepang.

Pendekatan pembelajaran kontekstual juga diterapkan dalam program “Meningkatkan Pemahaman dan Minat Belajar Anak-Anak terhadap Ilmu Pengetahuan melalui Pembelajaran Hukum Archimedes yang Dikaitkan dengan Kapal dan Kehidupan Masyarakat Nelayan.” Karakteristik Desa Asemdoyong sebagai wilayah yang memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas pesisir dan perikanan menjadi dasar pemilihan materi tersebut. Kapal, perahu, laut, dan aktivitas penangkapan ikan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat sehingga konsep Hukum Archimedes dapat disampaikan melalui contoh yang dekat dengan lingkungan anak-anak. Pembelajaran dilakukan melalui pemaparan materi, tanya jawab, serta aktivitas kreativitas untuk anak-anak di sekitar posko KKN. Luaran kegiatan berupa poster yang memuat pembahasan Hukum Archimedes dan gambar untuk diwarnai disediakan sebagai media edukasi yang dapat digunakan kembali oleh anak-anak.

Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) diwujudkan melalui program “Pemasangan Kaca Cembung”. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai pentingnya keselamatan, khususnya pada area jalan yang memiliki keterbatasan jarak pandang dan rawan terjadinya kecelakaan. Edukasi diberikan dengan menjelaskan fungsi kaca cembung sebagai alat bantu untuk memperluas jangkauan pandang pengendara pada tikungan maupun persimpangan. Kegiatan dilakukan melalui pemasangan kaca cembung pada titik yang telah ditentukan berdasarkan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami pentingnya penerapan K3 serta meningkatkan kewaspadaan dan keselamatan dalam beraktivitas di lingkungan sekitar.

Kelima program tersebut memperlihatkan penerapan kolaborasi lintas disiplin dalam menjawab persoalan masyarakat secara lebih menyeluruh. Edukasi hukum dan ilmu kimia dalam lingkungan diarahkan untuk membangun kepedulian terhadap kebersihan, sedangkan pendekatan bahasa, kesehatan, dan sains digunakan untuk memperkaya pengalaman belajar anak-anak Desa Asemdoyong. Rangkaian kegiatan KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program, tetapi juga menghasilkan media edukasi dan pengetahuan yang dapat terus dimanfaatkan masyarakat. Kolaborasi lintas bidang diharapkan menjadi langkah kecil dalam mendukung terwujudnya Desa Asemdoyong yang semakin edukatif, sehat, peduli lingkungan, dan berkelanjutan.




Editor: Keredaksian Digdaya

Mahasiswa Teknik Sipil UNDIP Dorong Keselamatan UMKM, Inovasikan K3 dalam Workshop Kombucha di Desa Dawungan

 

Dalam upaya mendorong perekonomian mandiri melalui inovasi pangan, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro mengadakan Program Kerja Multidisiplin bertajuk "Workshop Pembuatan Teh Kombucha: Inovasi Pangan Fermentasi untuk Mewujudkan Masyarakat Sehat dan Ekonomi Desa yang Tangguh" di Desa Dawungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen pada Senin, 3 Agustus 2026. Di tengah antusiasme warga mempelajari cara pembuatan minuman fermentasi ini, ada satu aspek krusial yang dibawa oleh mahasiswa KKN agar produksi tetap aman dan berkelanjutan, yakni Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

Inovasi ini diinisiasi oleh Fairuz Thoriq Hananto, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UNDIP. Jika keilmuan K3 biasanya identik dengan proyek konstruksi berskala besar, Fairuz mengadaptasinya menjadi penyuluhan K3 sederhana yang dikhususkan untuk skala produksi dapur rumahan atau UMKM. Edukasi ini ditekankan pada pemahaman masyarakat mengenai risiko tersembunyi dalam proses fermentasi kombucha.

Sebagai bentuk uaran fisik yang berkelanjutan, program ini menghasilkan booklet panduan kelompok. Fairuz secara khusus menyusun materi, yaitu “Pentingnya Kesehatan dab Keselamatan Kerja Produksi Kombucha" serta "SOP Penyimpanan Toples Fermentasi". Sosialisasi ini mengajarkan warga cara memitigasi risiko kecelakaan kerja di dapur produksi, seperti bahaya pecahnya toples kaca akibat tumpukan tekanan gas fermentasi, risiko kontaminasi bakteri patogen, hingga potensi luka bakar saat merebus bahan baku.

Langkah preventif ini merupakan bentuk implementasi nyata dari Sustainable Development Goals (SDGs). Dari segi SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), edukasi K3 ini menjadi perisai utama untuk mencegah cedera fisik dan menjaga kesehatan warga secara menyeluruh. Banyak yang belum menyadari bahwa proses fermentasi menghasilkan gas karbon dioksida yang jika terperangkap di ruang kedap bisa menyebabkan ledakan pada toples kaca. Melalui SOP penyimpanan ini, kami ingin warga Desa Dawungan tidak hanya sukses berwirausaha kombucha, tetapi juga memiliki standar keselamatan yang terjamin sejak dari skala dapur.

Sementara itu, program ini juga secara langsung menjawab tantangan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), khususnya pada Target 8.8, karena berhasil menciptakan lingkungan kerja UMKM yang aman dan terlindungi bagi warga desa yang akan merintis usaha kombucha. Kegiatan ini pun disambut antusias oleh para peserta. “Ini ilmu baru bagi kami. Kombucha memang terasa agak asing, apalagi aromanya karena belum terbiasa. Namun karena khasiatnya, Teh Kombucha ini sangat baik untuk disebarluaskan kepada masyarakat,” ungkap salah satu Ibu kader Posyandu Desa Dawungan.

Melalui sinergi lintas disiplin ilmu ini, diharapkan Desa Dawungan tidak sekadar menjadi produsen teh kombucha yang unggul, tetapi juga menjadi percontohan desa yang sadar akan pentingnya iklim usaha rumahan yang aman, sehat, dan berdaya saing tinggi.





Editor: Keredaksian Digdaya

Mahasiswa KKN UNDIP Rancang Lapangan Ikonik Desa Dawungan, Dukung Pembangunan Infrastruktur dan Ruang Publik Berkelanjutan

Dalam upaya mengoptimalkan fungsi ruang publik dan estetika kawasan desa secara berkesinambungan, Fairuz Thoriq Hananto, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari program studi Teknik Sipil Universitas Diponegoro (UNDIP), merancang tata ruang terintegrasi. Perancangan ini ditujukan untuk pembuatan Lapangan Ikon Desa Dawungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen yang diinisiasi pada Jumat, 14 Agustus 2026. Perancangan strategis ini secara khusus bertujuan untuk menciptakan ruang interaksi bagi masyarakat yang tidak hanya aman, tetapi juga tangguh, dan memiliki standar teknis yang tinggi.

Program kerja individu yang bertajuk "Perancangan Lapangan Ikon Desa Dawungan" ini diawali dengan tahap survei topografi lokasi. Langkah awal ini sangat krusial untuk menentukan tata letak zonasi kawasan yang paling efektif dan efisien. Berdasarkan perolehan data lapangan tersebut, selanjutnya dilakukan tahapan perencanaan teknis yang sangat matang. Perencanaan ini mencakup proses pemilihan bahan bangunan yang kuat, memiliki ketahanan terhadap cuaca, serta dipastikan memenuhi standar keamanan atau ergonomi bagi para penggunanya.

Sebagai luaran utama dari program KKN ini, dihasilkan dokumen Gambar Kerja Detail atau yang lebih dikenal dengan Detail Engineering Design (DED) beserta sketsa 3D untuk lapangan desa tersebut. Pembuatan desain infrastruktur ini secara langsung mendukung pencapaian target global, yakni Sustainable Development Goals (SDGs).

Pertama, program ini mengimplementasikan SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan, khususnya pada Target 11.7. Dalam hal ini, rancangan lapangan diproyeksikan agar dapat menjadi ruang publik yang senantiasa aman, inklusif, dan mudah diakses sebagai pusat interaksi sosial seluruh lapisan masyarakat. Kedua, perancangan tata ruang ini juga selaras dengan nilai-nilai pada SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Gambar kerja detail dan sketsa 3D yang dibuat dengan menggunakan standar perancangan sipil yang baik menjadi sebuah tahap fundamental dalam merencanakan wujud infrastruktur desa yang tangguh dan terencana dengan baik.

Melalui perancangan DED dan visualisasi sketsa 3D ini, diproyeksikan bahwa rancangan lapangan tidak hanya sekadar optimal secara estetika sebagai ikon desa. Lebih dari itu, lapangan ini ditargetkan memiliki landasan teknis yang sangat kuat, fungsional, dan dijamin aman untuk digunakan oleh warga dalam jangka waktu yang panjang.

Dengan diserahkannya dokumen DED dan sketsa 3D tersebut kepada pihak desa, diharapkan desain Lapangan Ikon Desa Dawungan ini dapat segera direalisasikan pada tahap pengerjaan konstruksi selanjutnya. Ke depannya, kehadiran infrastruktur lapangan ini sangat diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup warga sekitar, sekaligus menjadi motor penggerak utama untuk berbagai ragam kegiatan sosial, olahraga, serta pemberdayaan masyarakat desa yang berkelanjutan.




Editor: Keredaksian Digdaya

KKN Undip Kembangkan Lampu IoT Tenaga Surya untuk Revitalisasi Sendang Kemantren

 

Penyerahan Kunci Box Panel Surya kepada Ketua Kelompok Tani Mijen Permai

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 52 Universitas Diponegoro (Undip) menghadirkan lampu jalan otomatis berbasis Internet of Things (IoT) dengan memanfaatkan tenaga panel surya di Sendang Kemantren, Kelurahan Mijen, Kota Semarang pada 14 Agustus 2026.

Program tersebut merupakan bagian dari program kerja “Revitalisasi Sendang” yang bertujuan mendukung proses penataan Sendang Kemantren sebagai kawasan yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata di masa mendatang.

Sendang Kemantren berada di kawasan hutan jati Mijen dan selama ini dirawat oleh Kelompok Tani setempat. Kawasan tersebut memiliki potensi lingkungan yang dapat dikembangkan, namun masih terdapat sejumlah keterbatasan infrastruktur, salah satunya belum tersedianya penerangan di sekitar sendang.

Kondisi lokasi yang berada di kawasan hutan juga membuat akses terhadap jaringan listrik tidak semudah di kawasan permukiman. Hal tersebut menjadi pertimbangan mahasiswa dalam mencari alternatif penerangan yang dapat menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar.

Sebagai mahasiswa Program Studi Informatika, tim KKN-T IDBU 52 kemudian mengembangkan solusi berbasis teknologi sesuai arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Setelah melakukan koordinasi dengan pihak setempat, kebutuhan penerangan di kawasan sendang menjadi salah satu kebutuhan yang dinilai penting untuk mendukung proses penataan kawasan.

Agus Chris, selaku Ketua Kelompok Tani Mijen, menyampaikan bahwa keberadaan penerangan dapat membantu mendukung aktivitas dan proses penataan kawasan Sendang Kemantren.

“Selama ini memang belum ada penerangan di sekitar sendang. Dengan adanya lampu ini, kami berharap kawasan bisa lebih nyaman dan memudahkan warga ketika ada kegiatan atau perawatan di sekitar sendang,” ujar Agus.

Berdasarkan kebutuhan tersebut, mahasiswa merancang sistem lampu jalan otomatis berbasis IoT dengan panel surya sebagai sumber energi. Sistem ini dirancang agar lampu dapat bekerja secara otomatis sesuai kondisi yang telah ditentukan tanpa bergantung sepenuhnya pada jaringan listrik konvensional.

Proses pengembangan dilakukan mulai dari menentukan komponen yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan, merakit rangkaian, hingga melakukan pengujian sistem. Rangkaian tersebut mengintegrasikan panel surya, komponen pengatur dan penyimpan energi, perangkat pengendali, serta lampu sebagai sumber penerangan.

Panel surya digunakan untuk menangkap energi matahari yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber daya sistem. Sementara itu, perangkat pengendali berfungsi mengatur kerja lampu sehingga sistem dapat beroperasi secara otomatis.

Mahasiswa juga melakukan pengujian untuk memastikan rangkaian dapat menerima dan menyimpan energi serta lampu dapat bekerja sesuai mekanisme yang telah dirancang. Proses ini menjadi bentuk penerapan ilmu Informatika untuk menjawab permasalahan nyata yang ditemukan di lingkungan masyarakat.

Ketua RW 07, Siyamto, menyampaikan bahwa penerapan lampu tenaga surya tersebut diharapkan dapat menjadi contoh yang dapat dikembangkan di kawasan sendang lainnya.

“Kami berharap lampu ini bisa menjadi percontohan. Kalau sudah terlihat manfaatnya, ke depannya bisa diduplikasi dan diterapkan di daerah sendang lainnya, sehingga kawasan-kawasan tersebut juga bisa lebih tertata dan memiliki penerangan,” ujar Siyamto.

Penggunaan panel surya dinilai sesuai dengan kondisi kawasan yang memiliki keterbatasan akses terhadap jaringan listrik. Selain menyediakan sumber energi alternatif, penerapan teknologi tersebut juga menjadi upaya memperkenalkan pemanfaatan energi terbarukan untuk kebutuhan fasilitas sederhana di lingkungan masyarakat.

Kehadiran lampu diharapkan dapat mendukung kenyamanan dan aksesibilitas masyarakat ketika beraktivitas di sekitar kawasan sendang, sekaligus membantu kegiatan perawatan dan penataan yang dilakukan oleh Kelompok Tani setempat.



Editor: Keredaksian Digdaya

Mahasiswa KKN Undip Kenalkan Metode Pengadukan Homogenitas Menggunakan Pola Angka 8 pada Pengaplikasian Pupuk Mikroba Nitrobactery

 

SRAGENMahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Universitas Diponegoro (Undip) memperkenalkan inovasi sederhana dalam metode pengadukan homogenitas menggunakan pola angka 8 dalam pengaplikasian pupuk mikroba Nitrobactery kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), kelompok tani serta dihadiri ketua PPL Desa Dawungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen. Rabu, 12 Agustus 2026.

Program edukasi tentang pengenalan metode pengadukan menggunakan pola angka 8 dilaksanakan berdasarkan hasil pengamatan mahasiswa terhadap kebiasaan pengadukan pupuk yang dilakukan oleh masyarakat. Gapoktan dan kelompok tani masih menggunakan pola pengadukan seperti arah jarum jam dengan kecepatan yang tidak terkontrol. Kondisi tersebut dapat menyebabkan bahan tidak tercampur secara merata, sehingga berpotensi menimbulkan pengendapan maupun konsentrasi bahan pada bagian tertentu.

Mahasiswa memperkenalkan metode pengadukan dengan pola menyerupai angka 8. Didalamnya berisi tentang metode pengaduk secara teratur dari satu sisi menuju sisi lainnya hingga membentuk pola angka 8. Kemudian kecepatan yang telah dirancang dengan kecepatan yang stabil agar campuran dapat bergerak secara lebih merata pada berbagai bagian wadah.

Mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Universitas Diponegoro (Undip) kemudian memberikan demonstrasi secara langsung kepada Gapoktan, kelompok tani serta Ketua PPL Desa Dawungan. Setelah dilakukan demonstrasi metode pengadukan pola angka 8, Gapoktan, kelompok tani serta ketua PPL Desa Dawungan sudah mulai memahami bahwa teknik dan pola pengadukan dapat memengaruhi keseragaman campuran pupuk mikroba.

Program inovasi ini merupakan sebuah upaya dalam menerapkan SDGs 2 (penghapusan kelaparan), SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), SDGs 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dan SDGs 15 (Ekosistem Daratan)

Kegiatan ini mendapatkan respons positif dari Gapoktan, beberapa kelompok tani serta Ketua PPL Desa Dawungan. Mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Undip berupaya memperkenalkan inovasi sederhana berupa Metode pengadukan pola angka 8 diharapkan yang dapat menjadi keterampilan praktis bagi Gapoktan, kelompok tani dan Ketua PPL Desa Dawungan dalam mempersiapkan pupuk mikroba Nitrobactery.




Penulis
Nama: Muhammad Yulio Alan Nasik
Universitas: Universitas Diponegoro
Program Studi: S-1 Peternakan

Editor: Keredaksian Digdaya

Mahasiswa KKN Undip Edukasi Pemanfaatan Limbah Kotoran Sapi Menjadi Pupuk Kandang

 

SRAGEN Mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Universitas Diponegoro (Undip) menghadirkan inovasi pemanfaatan limbah peternakan padat dari kotoran sapi kepada ibu-ibu Dasa Wisma (Dawis) 1 RT 01 di Desa Dawungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen. Minggu, 9 Agustus 2026.

Program pembuatan pupuk kandang berdasarkan Ibu-Ibu Dasa Wisma (Dawis) 1 RT 01 Desa Dawungan dalam meciptakan ketahanan pangan dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sehingga bahan yang digunakan merupakan bahan yang mudah dijumpai yaitu limbah kotoran sapi yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik. Limbah Padat Kotoran Sapi dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kandang sebagai media tanam.

Mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Undip menjelaskan karakteristik pupuk kandang yang telah matang. Pupuk yang baik ditandai dengan warna yang lebih gelap, tekstur yang remah, tidak terlalu basah, serta memiliki aroma yang menyerupai tanah. Sehingga ibu-ibu Dawis 1 RT 01 dapat menerapkan pupuk kandang pada tanaman di lingkungan Dawis maupun didepan rumah. Penerapan secara langsung ini dilakukan agar masyarakat dapat memahami cara pemanfaatan pupuk kandang sekaligus melihat potensinya dalam mendukung pemeliharaan tanaman di lingkungan rumah.

Program inovasi ini merupakan sebuah upaya dalam menerapkan SDGs 2 (penghapusan kelaparan), SDGs 5 (Kesetaraan Gender), SDGs 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) dan SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Kegiatan ini pun disambut antusias oleh para Ibu-Ibu Dawis 1 RT 01.

"Kegiatan Pemanfaatan Pupuk kandang limbah padat dari kotoran Sapi sebagai media tanam pada tanaman sayuran dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sangat terbantu. Pupuk Tanaman yang sering digunakan dengan harga 8.000/Kg sehingga inovasi yang diberikan sangat bermanfaat bagi ibu-ibu daerah sini," ungkap dari salah satu anggota Dawis 1 RT 01 Desa Dawungan.

Mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Undip berupaya mendorong masyarakat Desa Dawungan dalam melihat potensi limbah padat dari kotoran sapi sebagai sumber media tanam yang ramah lingkungan.




Penulis
Nama               : Muhammad Yulio Alan Nasik
Universitas      : Universitas Diponegoro
Program Studi : S-1 Peternakan

Editor: Keredaksian Digdaya

Mahasiswa KKN Undip Kenalkan Pemanfaatan Limbah SCOBY Sebagai Campuran Media Pakan dalam Budidaya Maggot BSF

 

SRAGEN Inovasi pemanfaatan limbah kembali dilakukan oleh mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Universitas Diponegoro (Undip) di Desa Dawungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen. Mahasiswa Peternakan KKN memanfaatkan limbah Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast (SCOBY) hasil fermentasi sebagai bahan campuran media pakan dalam budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Senin, 3 Agustus 2026.

Program Inovasi ini dilaksanakan sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mengolah kembali limbah organik agar memiliki nilai guna. Limbah SCOBY setelah proses fermentasi diarahkan untuk pemanfaatan bahan organik dalam budidaya maggot BSF.

Kegiatan workshop yang dihadiri lebih dari 20 kader Posyandu se-Desa Dawungan melalui demonstrasi potensi limbah SCOBY dan dosis pemberian sebagai media pakan budidaya maggot kepada masyarakat. Mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Universitas Diponegoro (Undip) menjelaskan bahwa SCOBY bekas fermentasi masih dapat dimanfaatkan dalam media budidaya maggot serta penyesuaian dosis pemberian.

Mahasiswa kemudian memberikan pengarahan mengenai pemberian SCOBY secara bertahap dengan mencampurkannya bersama limbah organik lainnya, seperti sisa sayuran dan buah. Penggunaan secara bertahap dilakukan untuk menjaga kondisi media agar tidak terlalu basah maupun terlalu asam sehingga tetap mendukung pertumbuhan maggot.

Program inovasi ini merupakan sebuah upaya dalam menerapkan SDGs 2 (penghapusan kelaparan), SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), SDGs 8 (Pekerjaan Layak), SDGs 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur) dan SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Kegiatan ini pun disambut antusias oleh para peserta.

"Pemanfaatan limbah SCOBY dapat memiliki nilai guna dalam penerapan budidaya maggot. Maggot dapat dijual dengan harga yang tinggi setelah dilakukan penjemuran dibawah sinar matahari, apalagi maggot bisa dijadikan pakan burung dan pakan ikan," ungkap dari Istri Kabayan 1 Desa Dawungan.

Mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Universitas Diponegoro (Undip)  berupaya membangun pola pemanfaatan limbah yang lebih berkelanjutan di Desa Dawungan dengan membentuk Inovasi sederhana dan ramah lingkungan.



Penulis
Nama              : Muhammad Yulio Alan Nasik
Universitas      : Universitas Diponegoro
Prodi               : S-1 Peternakan

Editor: Keredaksian Digdaya

Belajar Konsep 5S Jepang Sambil Bermain, Mahasiswa KKNT IDBU-52 Tanamkan Peduli Lingkungan Sejak Dini

Murid TK Among Tresno mengerjakan worksheet konsep 5S dengan arahan mahasiswa KKNT IDBU-52 dalam kegiatan pembelajaran karakter peduli lingkungan di Kelurahan Mijen, Kota Semarang. (Foto: Dok KKNT) 

SEMARANG Membentuk kebiasaan hidup bersih dan teratur dapat dimulai sejak usia dini. Hal tersebut dilakukan mahasiswa KKNT IDBU-52 Universitas Diponegoro melalui program “Adaptasi Konsep 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke) sebagai Media Pembelajaran Karakter Peduli Lingkungan” di TK Among Tresno, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Kamis (30/7/2026).

Kegiatan tersebut diikuti siswa TK A dan TK B. Program ini dilaksanakan dengan melihat potensi anak usia dini sebagai agen perubahan dalam membentuk kebiasaan hidup bersih dan peduli lingkungan. Pembiasaan tersebut juga diharapkan dapat mendukung implementasi Program Kampung Iklim (ProKlim).

Di sisi lain, pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, dan membiasakan perilaku hidup bersih masih perlu ditingkatkan. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKNT IDBU-52 untuk mengenalkan konsep 5S melalui pendekatan yang lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan anak.

Konsep 5S yang berasal dari Jepang terdiri atas Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke. Dalam kegiatan ini, konsep tersebut diadaptasi menjadi 5R agar lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh anak-anak. Seiri diadaptasi menjadi Ringkas dengan kegiatan memilah barang, Seiton menjadi Rapi dengan menata barang, Seiso menjadi Resik dengan membersihkan, Seiketsu menjadi Rawat dengan menjaga kebersihan, serta Shitsuke menjadi Rajin dengan membiasakan perilaku tersebut.

Kegiatan diawali dengan doa bersama dan pengenalan topik pembelajaran. Mahasiswa kemudian memperkenalkan konsep 5S yang diadaptasi dengan pendekatan 5R sebelum mengajak siswa melakukan praktik secara langsung.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian siswa adalah pencarian flashcard yang telah disebar di halaman TK. Anak-anak diminta mencari kartu tersebut kemudian membawanya kembali ke kelas untuk mengenali dan mengelompokkan jenis sampah yang terdapat pada kartu.

Suasana menjadi semakin meriah ketika anak-anak saling menunjukkan hasil pencarian mereka. Beberapa siswa dengan antusias menyebutkan jumlah flashcard yang berhasil ditemukan, seperti “Aku dapat delapan!” dan “Aku dapat sembilan!”. Aktivitas tersebut membuat proses belajar mengenai pemilahan sampah terasa seperti permainan.

Setelah pencarian flashcard, siswa melanjutkan kegiatan melalui worksheet yang berisi aktivitas berdasarkan konsep 5R. Lembar kerja tersebut membantu anak mengenal kebiasaan memilah, menata, membersihkan, merawat kebersihan, dan membiasakan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.

Penggunaan istilah Jepang juga menjadi pengalaman baru bagi siswa. Saat diminta mengucapkan kembali Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke, beberapa anak tampak kesulitan karena istilah tersebut masih terdengar asing. Meski demikian, mereka tetap antusias mencoba mengucapkannya bersama-sama.

Sebagai bentuk apresiasi, mahasiswa memberikan stempel kepada siswa yang telah menyelesaikan worksheet. Pemberian apresiasi tersebut menjadi dorongan bagi anak-anak untuk menyelesaikan kegiatan sekaligus membuat proses pembelajaran terasa lebih menyenangkan.

Pembiasaan tersebut juga berkaitan dengan kondisi keseharian anak-anak di lingkungan sekolah. Beberapa anak masih membawa makanan atau jajanan sendiri dan terkadang lupa membuang sampah setelah makan. Kebiasaan makan sambil berjalan juga dapat membuat sisa makanan tercecer. Melalui pendekatan 5R, anak-anak diajak membangun kebiasaan sederhana untuk lebih memperhatikan kebersihan, kerapian, dan lingkungan sekitar.

Guru TK Among Tresno, Ibu Sulasih, memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, pembelajaran mengenai kebersihan dan kebiasaan baik perlu dikenalkan sejak usia dini agar anak terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Menurut saya, kegiatan ini sangat baik untuk anak-anak karena mereka bisa belajar menjaga kebersihan dan kerapian sejak dini. Dengan kegiatan yang dilakukan sambil bermain, anak-anak juga lebih mudah memahami dan mengikuti pembelajaran. Harapannya, kebiasaan baik ini tidak hanya dilakukan saat kegiatan berlangsung, tetapi juga dapat diterapkan dalam keseharian mereka,” ujar Ibu Sulasih saat evaluasi kegiatan.

Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya mengenal konsep 5S melalui pendekatan 5R, tetapi juga mampu menerapkannya melalui kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah, menempatkan barang pada tempatnya, menjaga kebersihan, serta membangun kedisiplinan.

Mahasiswa KKNT IDBU-52 berharap pembiasaan tersebut dapat membuat anak-anak lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Kesadaran yang ditanamkan sejak dini diharapkan dapat terus terbawa hingga dewasa, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang mampu menjaga kebersihan dan keberlanjutan lingkungan.



Reporter: Dinar Sekar Arum
Fotografer: Novia Putri Yustiana
Kontak Media/Humas Kelompok: @kknt52_mijen
Editor: Keredaksian Digdaya

Waspada Jerat Pinjol Ilegal, Mahasiswa KKN Undip Ajak Warga Desa Sribit Lebih Melek Finansial

Desa Sribit, Kabupaten Sragen — Maraknya penawaran pinjaman online ilegal yang menyasar masyarakat pedesaan menjadi keresahan tersendiri belakangan ini. Modusnya pun beragam, mulai dari iming-iming pencairan dana cepat, syarat yang terkesan mudah, hingga bunga yang awalnya tidak terlihat mencekik. Menanggapi hal tersebut, mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro yang bertugas di Desa Sribit menginisiasi program edukasi berjudul “Penyuluhan Pinjaman Online Ilegal” pada Minggu, 19 Juli 2026, bertempat di salah satu rumah warga.

Kegiatan ini digagas oleh Rona Tama Septiana, mahasiswa Fakultas Hukum, sebagai bagian dari proker sosial kemasyarakatan yang menyasar isu perlindungan ekonomi warga. Antusiasme masyarakat terlihat cukup tinggi, terbukti dari kehadiran sekitar 30 orang peserta yang terdiri dari ibu-ibu Dawis dan PKK, serta warga umum Desa Sribit.

Ketika Pinjol Ilegal Mengintai Warga Desa

Dalam paparannya, Rona menjelaskan bahwa pinjaman online ilegal kerap menyasar masyarakat yang belum familiar dengan literasi digital dan finansial, salah satunya warga di wilayah pedesaan. Ia memaparkan ciri-ciri umum pinjol ilegal, mulai dari tidak terdaftar atau tidak diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), proses pencairan yang terlalu mudah tanpa verifikasi memadai, hingga akses aplikasi yang meminta izin berlebihan terhadap data pribadi di ponsel pengguna.

Sebagai pembanding, Rona turut menjelaskan karakteristik pinjaman online resmi yang telah terdaftar dan diawasi OJK sesuai POJK No. 10/POJK.05/2022, sehingga warga memiliki acuan jelas untuk membedakan mana platform yang aman dan mana yang berisiko.

Bukan Sekadar soal Uang, Tapi Juga soal Hukum

Yang menarik, materi yang disampaikan tidak berhenti pada aspek finansial semata. Rona turut mengulas sisi hukum dari praktik pinjol ilegal, termasuk risiko penyalahgunaan data pribadi yang bertentangan dengan UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi dan UU No. 19 Tahun 2016 tentang ITE, serta praktik penagihan intimidatif yang kerap dialami korban.

Tak lupa, ia juga mengingatkan warga akan hak-hak mereka sebagai konsumen berdasarkan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Penjelasan ini penting agar warga tidak hanya waspada, tetapi juga paham bahwa mereka memiliki dasar hukum yang kuat untuk melindungi diri apabila suatu saat berhadapan dengan praktik keuangan yang merugikan.

Langkah Konkret Jika Sudah Terlanjur Terjerat

Selain langkah pencegahan, penyuluhan ini juga membekali warga dengan langkah-langkah praktis yang bisa ditempuh apabila terlanjur terjerat pinjol ilegal, mulai dari cara melapor ke pihak berwenang hingga saluran pengaduan resmi yang dapat diakses masyarakat. Materi ini disambut antusias, terlihat dari beberapa ibu-ibu yang aktif bertanya dan berbagi pengalaman seputar tawaran pinjaman mencurigakan yang pernah mereka terima melalui SMS maupun aplikasi pesan instan.

Harapan untuk Desa Sribit yang Lebih Waspada

Melalui program ini, diharapkan pemahaman dan kewaspadaan warga Desa Sribit terhadap tawaran pinjaman online ilegal semakin meningkat. Lebih dari itu, program ini juga diharapkan menumbuhkan kebiasaan baru di tengah masyarakat, yakni selalu memeriksa legalitas platform pinjaman melalui OJK sebelum bertransaksi.

Dengan bertambahnya pengetahuan warga mengenai saluran pengaduan resmi, harapannya angka warga Desa Sribit yang menjadi korban jeratan pinjaman online ilegal dapat semakin ditekan ke depannya. Program sederhana ini menjadi bukti nyata bahwa edukasi hukum dan finansial yang membumi, disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, mampu menjadi bekal penting bagi masyarakat desa dalam menghadapi tantangan ekonomi digital saat ini.




(Penulis: Tim KKN Desa Sribit — Kabupaten Sragen, Jawa Tengah)

Editor: Keredaksian Digdaya

Dukung SDG 4, Mahasiswa KKN Tim II UNDIP Tingkatkan Kesadaran Akses Pendidikan di Kalangan Masyarakat dan Pelajar di desa Gringing


Sragen - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) menyelenggarakan program sosialisasi bertajuk "Peningkatan Kesadaran Masyarakat dan Anak Usia Sekolah terhadap Penguatan Aksesibilitas Pendidikan" di Desa Gringing kecamatan Sambungmacan Kabupaten Sragen. Kegiatan strategis ini diinisiasi oleh mahasiswa sebagai respons nyata terhadap masih ditemukannya hambatan pemahaman terkait pentingnya keberlanjutan pendidikan dasar hingga menengah di wilayah setempat. Mengusung nilai-nilai utama Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu menjamin pendidikan berkualitas yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat untuk semua, aksi pengabdian ini menyasar dua kelompok target utama sekaligus, yakni para orang tua murid dan anak-anak usia sekolah agar tercipta pemahaman yang komprehensif dari dua sisi.
 
Langkah ini diambil mengingat pentingnya peran pendidikan dalam memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat pedesaan. Dalam pelaksanaannya, tim mahasiswa KKN memaparkan materi utama yang menyoroti berbagai aspek aksesibilitas pendidikan, mulai dari ketersediaan fasilitas belajar, pemanfaatan bantuan pendidikan dari pemerintah, hingga pentingnya kesetaraan hak belajar bagi setiap anak tanpa terkecuali. Orang tua diberikan pemahaman mendalam mengenai bahaya dari tingginya angka putus sekolah dan dampak jangka panjangnya terhadap masa depan generasi muda di Desa Gringing. Aris Umbarwanto selaku mahasiswa pelaksanaan program tidak hanya berfokus pada edukasi normatif, tetapi juga secara aktif mendata berbagai kendala teknis yang kerap dialami oleh masyarakat dan anak, sembari membagikan panduan praktis mengenai prosedur pengurusan beasiswa dan bantuan sosial pendidikan dan akses pendidikan non formal.

Sementara itu, pendekatan yang digunakan untuk anak-anak usia sekolah dikemas dengan gaya yang menyenangkan dan edukatif agar pesan dapat terserap secara optimal. Melalui sesi permainan interaktif, pementasan cerita motivasi,  anak-anak diajak untuk mengenali potensi diri serta memupuk cita-cita mereka setinggi mungkin sejak dini. Mahasiswa KKN Tim II UNDIP menekankan bahwa keterbatasan bukanlah hambatan mutlak yang harus menghentikan langkah mereka untuk terus mengenyam ilmu di bangku sekolah. Antusiasme peserta tampak dari interaksi aktif dalam diskusi, di mana anak-anak dengan penuh semangat menceritakan impian mereka.
 
Sosialisasi ini dapat membangkitkan komitmen bersama dalam mengawal masa depan pendidikan anak-anak lokal. Kehadiran program pengabdian sosial masyarakat ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan menjadi pemantik perubahan pola pikir masyarakat yang lebih terbuka terhadap pentingnya investasi ilmu pengetahuan. Dengan menguatnya kesadaran kolektif dari tingkat keluarga hingga desa, target SDG 4 dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif, adil, dan merata dapat terwujud secara nyata dari desa. Ke depan, semangat keberlanjutan ini diharapkan terus terjaga demi melahirkan generasi muda Desa Gringing yang berdaya saing, berpendidikan tinggi, dan siap membangun daerahnya kelak
 




Oleh:
KKN TIM II UNDIP
Nama: Aris Umbarwanto
Universitas Diponegoro
S1 Administrasi Publik K. Rembang
Editor: Keredaksian Digdaya

Wujudkan SDGs 17, KKN TIM II Universitas Diponegoro 2026 Dorong Kemitraan Strategis BUMDes Peternakan Telur Ayam dan UMKM di Desa Gringing, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen

 


GRINGING, SRAGEN — Dalam upaya memperkuat ekosistem perekonomian desa yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, Mahasiswa Tim II KKN Universitas Diponegoro (UNDIP) Tahun 2026 menginisiasi skema kemitraan strategis berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) Point 17. Langkah nyata ini diwujudkan dengan menghubungkan Badan Usaha Milik Desa dan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal di Desa Gringing, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen.

Inisiatif strategis ini dilatarbelakangi oleh temuan mendalam di lapangan mengenai masih dominannya pola kerjasama informal (verbal agreement) dalam tata kelola unit usaha peternakan telur milik BUMDes Desa Gringing, hal ini disampaikan oleh Bapak Marso selaku pengelola operasional BUMDes Peternakan Telur Gringing Jaya. Kerangka kerjasama yang hanya mengandalkan kesepakatan lisan tanpa payung hukum formal tersebut dalam praktiknya memicu berbagai persoalan krusial. Kondisi tersebut kerap berdampak pada fluktuasi penyerapan pasokan komoditas di tingkat pasar, tingginya ketidakpastian harga jual, hingga munculnya ketimpangan arus kas (cash flow) yang mengganggu stabilitas keuangan BUMDes maupun keberlangsungan operasional para pelaku UMKM lokal.

Guna mengatasi tantangan struktural dan operasional tersebut, Tim II KKN UNDIP mengambil peran aktif sebagai fasilitator untuk merancang bentuk kolaborasi yang terstruktur, transparan, dan profesional. Intervensi kebijakan ini diwujudkan melalui dua langkah konkret, yaitu penyusunan draft Perjanjian Kerjasama (PKS) tertulis antara BUMDes dan pelaku usaha, serta mendorong penerbitan Peraturan Desa (Perdes) tentang Tata Kelola Rantai Pasok Pangan Desa. Langkah formulasi regulasi ini dirancang secara terukur untuk menjamin kepastian kuota penyerapan hasil produksi, menciptakan stabilitas harga yang transparan dan berkeadilan (fair price), serta memastikan keberlanjutan pasokan pangan desa secara mandiri dan berkesinambungan.

Melalui sinergi lintas sektor yang melibatkan Pemerintah Desa, BUMDes, UMKM, dan unsur akademisi, Desa Gringing tidak hanya berhasil mentransformasi kemitraan tradisional menjadi ekosistem bisnis profesional berkekuatan hukum. Lebih dari itu, kolaborasi ini secara nyata merealisasikan prinsip utama SDGs Point 17 dalam membangun kemitraan yang inklusif dan kokoh demi menciptakan pertumbuhan ekonomi desa yang mandiri, berdaya saing tinggi, serta berkelanjutan.


 
Melalui program kerja Tim II KKN UNDIP 2026 menghasilkan luaran berupa Policy Brief bertajuk "Pemberdayaan Ekonomi Desa Berbasis Partisipatif: Inisiasi Kemitraan Strategis BUMDes dan UMKM” Dokumen Rekomendasi kebijakan ini merangkum analisis tata kelola, pilar regulasi Perdes, hingga panduan implementasi Perjanjian Kerjasama (PKS) secara sistematis. Policy Brief ini diserahkan langsung kepada Pemerintah Desa Gringing sebagai rekomendasi strategis dan acuan pengambilan keputusan. Kehadiran dokumen ini diharapkan menjadi pendorong utama keberlanjutan program, sehingga skema kemitraan inklusif berbasis SDGs 17 dapat terus direplikasi dan menjaga kemandirian ekonomi desa secara jangka panjang.

Lebih lanjut Inisiasi ini mendapat respon positif dari Kepala Desa Gringing Bapak Gatot Yunianto, S.T. beliau menyampaikan bahwasanya dengan adanya rekomendasi kebijakan ini dapat membantu pemerintah desa dalam mengelola sekaligus memaksimalkan potensi ekonomi yang dimiliki oleh BUMDes yang baru berjalan selama berkisar satu tahun.
 
 




Disusun oleh:
KKN TIM II Universitas Diponegoro 2026
Nama: Aris Umbarwanto
Universitas Diponegoro
S1 Administrasi Publik K. Rembang
Editor: Keredaksian Digdaya

Berbagi Ilmu, Menumbuhkan Semangat: Mahasiswa KKN Undip Dampingi Anak Jirapan Belajar Matematika

 


Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro mendampingi anak-anak sekolah dasar belajar matematika di Posko KKN Desa Jirapan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, dalam kegiatan sosial kemasyarakatan pada Selasa (11/8/2026).

Sragen, 11 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro melaksanakan kegiatan sosial kemasyarakatan berupa pendampingan belajar matematika bagi anak-anak sekolah dasar (SD) di Desa Jirapan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Posko KKN Desa Jirapan dalam dua kali pertemuan, yaitu pada Sabtu (8/8/2026) dan Selasa (11/8/2026).

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Cindy Lucky Syaharany, mahasiswa Fakultas Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro dari Program Studi Akuntansi Perpajakan, sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap pendidikan anak-anak di Desa Jirapan sekaligus penerapan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak SD Desa Jirapan diberikan pendampingan belajar matematika dengan materi yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan mereka. Kegiatan dilakukan secara interaktif melalui penjelasan materi, latihan soal, serta pendampingan secara langsung agar anak-anak dapat lebih mudah memahami konsep matematika yang dipelajari.

Pemilihan matematika sebagai materi pembelajaran juga memiliki keterkaitan dengan bidang yang dipelajari oleh Cindy, yaitu Akuntansi Perpajakan. Matematika menjadi salah satu dasar penting dalam bidang akuntansi karena berkaitan dengan kemampuan berhitung, mengolah angka, memahami perhitungan, serta berpikir secara sistematis dan logis. Oleh karena itu, kemampuan numerasi yang ditanamkan sejak jenjang sekolah dasar dapat menjadi bekal bagi anak-anak dalam menghadapi berbagai kebutuhan akademik maupun kehidupan sehari-hari.

Selain membantu anak-anak memahami materi matematika, kegiatan ini juga bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan. Anak-anak diberikan kesempatan untuk bertanya dan menyelesaikan soal secara mandiri dengan tetap mendapatkan pendampingan ketika mengalami kesulitan.

Kegiatan pendampingan belajar ini merupakan salah satu bentuk program sosial kemasyarakatan yang tidak hanya berfokus pada penerapan ilmu sesuai bidang studi, tetapi juga memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat. Melalui kegiatan sederhana tersebut, mahasiswa berupaya ikut mendukung peningkatan kemampuan belajar dan numerasi anak-anak di Desa Jirapan.

Program ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4, yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Pendampingan belajar bagi anak-anak diharapkan dapat mendukung terciptanya kesempatan belajar yang lebih baik serta membantu meningkatkan kemampuan dasar yang penting bagi perkembangan pendidikan mereka.

“Melalui kegiatan belajar bersama ini, saya berharap anak-anak Desa Jirapan dapat lebih memahami matematika dan tidak menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi saya untuk berbagi ilmu dan pengalaman yang saya miliki,” ujar Cindy Lucky Syaharany.

Kegiatan pendampingan belajar matematika di Posko KKN Desa Jirapan diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang positif bagi anak-anak sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa KKN Universitas Diponegoro dalam mendukung pendidikan di lingkungan masyarakat.




Penulis: Cindy Lucky Syaharany
Fakultas: Sekolah Vokasi, Universitas Diponegoro
Program Studi: Akuntansi Perpajakan
Lokasi: Posko KKN Desa Jirapan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen
Tanggal Kegiatan: 8 Agustus 2026 dan 11 Agustus 2026
SDGs: Tujuan 4 – Pendidikan Berkualitas (Quality Education)
Editor: Keredaksian Digdaya