The Most/Recent Articles

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Judol Bikin Miskin

 


Di suatu desa, ada seorang laki-laki bernama Joko. Ia adalah seorang bos muda yang sangat kaya. Ia memiliki tanah berhektar-hektar dan banyak sekali hewan peliharaan. Joko adalah orang yang baik kepada semua orang, suka bersedekah, dan gemar bersosialisasi. Walaupun sangat kaya, ia tidak memiliki handphone.


Sampai suatu hari, ia melihat teman-temannya bermain slot atau judi online.

“Wah, kelihatannya seru. Kamu lagi main apa, ya?” tanya Joko dengan penasaran.

“Slot, itu seru, lho,” jawab temannya sambil memperlihatkan permainannya.

“Seru dari mananya?” tanya Joko yang masih penasaran.

“Kalau beruntung, bisa dapat puluhan juta.”

“Ah, masa?” Joko tampak tidak percaya.

“Iya, kamu memang kaya, tapi ketinggalan zaman,” goda temannya.


Joko pun jadi tertarik. Ia akhirnya membeli handphone untuk mencoba bermain slot. Dua minggu pertama, ia mendapatkan jackpot terus-menerus. Karena itulah ia ketagihan, sampai-sampai menghabiskan uang puluhan juta untuk bermain slot, mengira uangnya akan kembali berkali-kali lipat. Padahal, itu hanya membuatnya jatuh miskin.


Satu tahun berlalu, kini ia malah semakin ketagihan. Hewan peliharaan dan tanah berhektar-hektar miliknya habis semua untuk bermain slot, sampai ia tidak punya apa-apa lagi. Sudah puluhan kali orang tuanya menasihatinya, namun karena ketagihan, ia sulit untuk berhenti.

“Nak, jangan main slot lagi. Itu hanya akan membuatmu miskin,” tegur sang ibu dengan penuh kasih.

“Uhhh, apa, Bu? Judi tidak akan membuatku miskin. Nanti kalau aku dapat jackpot, kita akan punya uang lebih banyak dari kemarin,” jawab Joko dengan emosi.

“Ayolah, Nak. Sudah berapa puluh juta yang kau keluarkan untuk bermain slot, sampai-sampai kau jual semua tanah dan hewan peliharaan kita? Sadarlah, Nak, sadarlah!”

“Apa-apaan! Dasar cerewet,” timpal Joko sambil memalingkan pandangan.


Segala macam barang ia jual, bahkan sampai berani meminjam uang ke bank dan menjaminkan sertifikat rumahnya, dengan harapan bisa untung dan hidupnya kembali seperti semula.

“Kau pinjam uang ke bank dan menjaminkan sertifikat rumah kita?” tanya ibunya dengan cemas.

“Kalau gitu kenapa tidak? Kalau aku dapat jackpot, aku akan kembalikan semuanya padamu,” jawab Joko dengan sombong.

“Joko, nanti kita tidur di mana, Nak?” tanya ibunya lagi, dengan suara gemetar.

“Berisik!”


Dan yang terjadi sekarang, ia dikejar-kejar debt collector dan hidupnya sangat sengsara. Dari yang dulunya baik, suka menolong, dan gemar bersedekah, kini malah sebaliknya. Ia pun bunuh diri karena tidak tahan dengan hidupnya. Ia tidak menyangka kalau utang-utangnya harus ditanggung oleh orang tuanya, dan ia juga harus mempertanggungjawabkannya di akhirat.


Ibunya menjadi sangat kasihan. Sekarang ia menjadi gelandangan yang biasa mengamen di pinggir jalan dan selalu menangis setiap malam, sambil mengadukan permasalahannya kepada Allah SWT.


Hingga suatu ketika, ada seorang pemuda kaya raya yang merasa kasihan kepada sang ibu. Ia membantu melunasi utang-utang ibu tersebut dan mempekerjakannya di rumahnya. Ia pun menganggap sang ibu seperti ibunya sendiri.


Pesan Moral:

Dari cerita ini, kita dapat mengambil hikmah bahwa judi tidak akan menambah hartamu, tetapi justru membuatmu sengsara. Ingatlah, tidak ada seorang pun yang menjadi kaya secara instan tanpa usaha dan kerja keras, kecuali atas kehendak Sang Pencipta, Allah SWT.


Oleh karena itu, saya mengajak teman-teman untuk berhenti bermain judi online karena itu tidak akan membuatmu kaya, melainkan membuatmu miskin.


Pesan moral dari cerita ini adalah:


1. Jangan pernah bermain judol.

2. ⁠Bertemanlah dengan teman yang mengajakmu kepada kebenaran.

3. ⁠Jika kamu dalam kesulitan, pergilah ke masjid dan curhatlah kepada Allah.

4. ⁠Manfaatkan ponselmu sebaik-baiknya.


Tentang Penulis

Muhamad Labib adalah seorang santri di PonPes Al-Fadilah Meteseh, sekaligus siswa kelas X MA Taqwal Ilah Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. 

Bakti Seorang Santri



Pagi itu, aku bersiap untuk berangkat ke pondok. Langit tampak begitu cerah, seakan menyambut langkah baruku. Aku merasa sangat bersemangat karena sejak dulu memang ingin mondok. Sebelum berangkat, aku berpamitan kepada orang tuaku dan saudara-saudaraku, sekaligus meminta doa agar ilmu yang kudapat di pondok kelak bisa bermanfaat.

"Yah, meskipun ini pondok mahasiswa," batinku, "tapi aku tetap semangat." Bagiku, berbeda belum tentu buruk. Justru ada banyak kelebihan mondok bersama mahasiswa, salah satunya adalah mendapat gambaran tentang kehidupan di masa depan dan belajar menjadi lebih dewasa.

Sesampainya di pondok, ibuku langsung bertemu dengan Abah (Kiai) dan Umi (Bu Nyai). Mereka berbincang mengenai administrasi serta peraturan-peraturan pondok.

Setelah urusan administrasi selesai, aku diantar ke kamar dan lemari tempatku menyimpan barang. Lurah pondok sendiri yang mengantarku. Begitu sampai, aku duduk terdiam di kasur, masih bingung harus melakukan apa—yah, mungkin ini hal yang wajar bagi santri baru.

Tak lama kemudian, lurah pondok mengajakku mengobrol.

"Namamu siapa?" tanyanya.

"Labib, Mas," jawabku. "Kalau Mas sendiri namanya siapa?"

"Aku Faqih," katanya sambil tersenyum.

Kami pun mulai berbincang tentang banyak hal. Ternyata, kami sama-sama berasal dari Brebes—hanya saja beda kecamatan.

Malamnya, aku mulai mengaji bersama Abah dan bertemu dengan santri-santri lainnya. Saat sedang duduk, tiba-tiba ada seorang santri yang bertanya, "Kamu betah di sini?

"Insya Allah betah," jawabku sambil tersenyum.

Santri itu lalu memperkenalkan dirinya. "Aku Tamam, panggil aja Mas Tamam," katanya.

"Oh iya, Mas," sahutku.

"Kalau kamu namanya siapa?" tanyanya lagi.

"Aku Labib, Mas," jawabku.

"Oh, semoga betah ya di sini," katanya ramah.

Setelah itu, Mas Tamam mulai memperkenalkan beberapa santri lain. "Ini yang di sampingku namanya Mas Azis, terus yang di sampingnya Mas Azis itu Mas Fatur. Udah, kamu hafalin segitu dulu aja, nanti lama-lama juga kenal sendiri," katanya sambil tertawa kecil.

"Oh iya, Mas," jawabku.

"Semoga betah, ya."

"Iya, Mas. Makasih."

Setelah mengaji, ternyata ada acara pernikahan—alumni pondok sekaligus santri pertama Abah yang menikah. Kebetulan dia berasal dari Brebes, tapi karena mungkin terlalu jauh untuk pulang, pernikahannya diadakan di pondok. Makanya, setelah ngaji, kami semua ikut ro’an (bersih-bersih pondok). Aku ikut membantu, mulai dari mencabuti rumput hingga membersihkan halaman.

Saat sedang bersih-bersih, aku memperhatikan para mahasantri. Ternyata mereka seru juga—tidak seperti bayanganku sebelumnya. Kupikir mahasiswa itu orangnya serius dan ambisius, tapi ternyata mereka justru asyik dan menyenangkan.

Keesokan harinya, aku bangun lalu salat Subuh. Setelah itu, seperti biasa, aku mengaji. Acara pernikahan akan dimulai sekitar pukul tujuh pagi. Maka, setelah selesai mengaji, aku segera mandi dan bersiap. Aku ikut mengantar pengantin pria ke rumah istrinya untuk prosesi ijab kabul.

Saat berada di acara pernikahan, aku sedikit bingung. Adat istiadat di desaku ternyata berbeda dengan yang ada di Semarang. Aku hanya mengikuti apa yang dilakukan orang-orang di sekitarku, meskipun sedikit malu karena aku satu-satunya yang masih kecil di antara mereka.

Seminggu kemudian, temanku akhirnya berangkat ke pondok juga. Aku jadi tidak sendirian lagi. Tapi sebenarnya, sebelumnya pun aku tidak benar-benar sendiri. Ada seorang anak yang tinggal di sekitar pondok dan sering datang ke sini. Dia masih kelas 9 dan bersekolah di SMP 33 Semarang—bisa dibilang dia adik kelasku.

Setelah temanku tiba, jumlah siswa di pondok pun bertambah menjadi tiga orang.

Beberapa bulan kemudian, saat aku sedang mengaji bersama Abah, beliau berkata bahwa akan ada atlet renang dari Kota Semarang yang akan mondok di sini. Dia juga siswa kelas 7. Aku merasa senang dan tidak sabar untuk bertemu dengannya, karena, yah, dia seorang atlet kota Semarang—aku ingin tahu seperti apa dia.

Beberapa minggu kemudian, kabar buruk datang kepadaku. Ibuku sakit, dan sakitnya cukup parah. Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku terus menangis karena katanya ada pendarahan di kepala ibuku hingga membuatnya tidak bisa bicara. Aku berbicara dengan Mbakku, mengatakan bahwa aku ingin pulang dan bertemu dengan Ibu. Aku juga menyampaikan hal yang sama kepada Abah dan Umi. Malam itu terasa begitu lama.

Akhirnya, Abah mengizinkanku pulang. Aku berangkat naik kereta. Sepanjang perjalanan dari pondok ke stasiun, aku terus menangis. Sebelum berangkat mondok, aku adalah anak mamah—karena aku memang dekat dengan ibuku.

Saat naik kereta, aku melihat pemandangan yang indah. Namun, apalah arti pemandangan indah jika ibuku sedang sakit?

Sesampainya di Stasiun Brebes, aku langsung menuju rumah sakit. Kebetulan, rumah sakit itu tidak jauh dari stasiun, jadi aku bisa langsung ke sana. Namun, saat tiba di rumah sakit, aku dan Mbakku merasa bingung karena kami tidak memiliki kuota internet untuk mencari informasi.

Setelah beberapa kali berkeliling, akhirnya kami bertemu dengan petugas yang mencatat data pasien. Mbakku bertanya, lalu diberi tahu bahwa ruangan Ibu berada di lantai tiga, bagian belakang. Saat berjalan menuju ruangan itu, aku bertemu dengan Mbakku yang anak kedua. Dia memberitahu bahwa kondisi Ibu sangat parah.

Sejak di kereta hingga tiba di rumah sakit, aku hanya diam. Aku tidak bisa berkata-kata dan berusaha menahan air mataku. Setelah sampai di ruangan, aku masih mencoba tetap kuat. Namun, ketika melihat Ibu terbaring lemah, tidak bisa bicara tetapi masih sadar, aku langsung memeluknya dan menangis.

"Bu, ini Mbib, Bu," kataku.

Ibu tersenyum, seolah ingin bicara tetapi tidak bisa. Selang beberapa saat, Ibu dipindahkan ke ruangan lain. Ruangan itu penuh dengan pasien yang menderita penyakit parah, bahkan ada beberapa yang meninggal.

Sepanjang malam, aku berjaga menemani ibuku, bergantian dengan Mbak-mbakku yang lain. Alhamdulillah, kondisi Ibu semakin hari semakin membaik. Banyak orang yang datang menjenguk dan mendoakan kesembuhannya. Mungkin karena beliau dikenal sebagai sosok yang suka bersilaturahmi, murah hati, dan gemar bercanda.

Namun, di balik sifatnya yang humoris, Ibu juga sangat tegas, terutama dalam hal agama. Baginya, salat, marhabanan, dan mengaji adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan. "Kamu boleh pergi ke mana saja, tapi jangan lupa salat," itulah pesan yang selalu Ibu tekankan kepadaku dan Mbak-mbaku.

Beberapa hari berlalu, dan alhamdulillah, Ibu akhirnya diperbolehkan pulang. Aku sangat senang karena keesokan paginya, Ibu sudah bisa kembali ke rumah.

Keesokan paginya, aku dan Mbak-mbaku mulai mengemas barang-barang dan memeriksa kembali untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.

Sesampainya di rumah, aku melihat setiap sudut yang penuh dengan kenangan bersama Ibu. Aku tidak menyangka, dulu aku begitu ingin cepat-cepat mondok, tapi sekarang justru rindu masa-masa saat masih di MTs.

Aku di rumah selama tiga hari, lalu berangkat lagi ke Semarang. Sebelum pergi, aku mencium tangan kedua orang tuaku dan meminta doa mereka agar aku bisa menjadi anak yang sukses dan membanggakan mereka.

Aku tidak bisa menahan air mata saat berpamitan. "Jaga kesehatan ya, Bu. Mbib berangkat dulu," kataku.

"Iya, kamu yang baik ya di sana," jawab Ibu lembut.

"Iya, Bu," sahutku, lalu berangkat dengan hati yang berat.

Kata-kata dari Ibu yang paling aku ingat adalah ketika beliau berkata, "Nak, kalau kamu sudah berangkat ke Semarang, bersikaplah jujur. Kalau kamu salah, jujurlah. Kalau sedang tes, jujurlah. Tidak apa-apa nilaimu jelek, yang penting kamu sudah jujur. Menurut Ibu, kejujuran jauh lebih berharga daripada piagam peringkat satu tapi didapat dengan cara tidak jujur. Ingat, dalam Al-Qur'an sudah dijelaskan tentang pentingnya kejujuran."

QS. Al-Ahzab ayat 35, yang menjelaskan bahwa orang-orang muslim yang jujur akan mendapatkan pahala besar.

Dan larangan tentang berbuat tidak jujur atau dusta yang telah di terangkan Dalam Al-Qur'an surat Al-Munafiqun ayat 1, Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang yang berdusta termasuk orang munafik. Berbohong akan membawa kerugian bagi pelakunya. Bahkan bukan hanya mendapatkan balasan dirobek mulutnya ketika di alam kubur, siksa bagi orang yang berbohong akan lebih pedih.

"Seperti itulah santri, jauh dari orang tua."

Namun, justru dengan cara inilah ia berbakti kepada mereka—dengan menuntut ilmu, agar kelak ketika orang tuanya sudah tiada, dialah yang akan terus mendoakan mereka. Seperti dalam sabda Nabi Muhammad SAW:

"Apabila seorang anak meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang shalih." (HR. Muslim)


"SETIAP ORANG ADA CARANYA MASING-MASING UNTUK BERBAKTI KEPADA ORANG TUANYA DAN BAKTINYA SEORANG SANTRI ADALAH KETIKA DIA MENGAJI DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH DAN MENDAPAT KAN ILMU YANG BERMANFAAT DUNIA DAN AKHIRAT"

~Muhamad Labib

Meteseh, 2 Maret 2025


Tentang Penulis

Muhamad Labib adalah seorang santri di PonPes Al-Fadilah Meteseh, sekaligus siswa kelas X MA Taqwal Ilah Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. 

Pertemuan


Terik matahari menghangatkan perut bumi. Suara burung gereja menggema di atas atap. Sekawanan ayam mengorek-ngorek tanah lembab guna mencari cacing untuk disantap. Sedangkan Dani masih terperangkap di sarang kasur. “Dan, Dani ayok bangun sudah siang loh” Aminah membangunkan Dani dari balik pintu. “Katanya mau beli seragam sekolah. Lusa sudah masuk hari pertama sekolah nak. Ayok segera bangun!” Aminah menggedor-gedor pintu agar anak bontot kesayangannya segera bangun.

Asap kendaraan terus merongrong di padatnya kota B. Banyak kendaraan roda empat parkir secara sembarangan yang membuat suasana kian mencekik. Dani dan ibunya hanya bersikap acuh karena yang terfokus dalam pikirannya hanya ingin cepat—cepat membeli seragam sekolah di salah satu toko swalayan. Setelah mendapatkan seragam yang diidamkan, Dani dan ibunya langsung pulang ke rumah.

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Dani sangat bergembira akhirnya bisa memakai baju putih abu-abu. Bagi Dani ini merupakan kemerdekaan bagi jiwa yang telah lama merintih. Dani ingin merasakan cinta kasih oleh seorang gadis yang telah lama aku dambakan. Karena Dani dibolehkan berpacaran oleh ibunya kalau sudah berseragam putih abu-abu.

***

Gadis dambaanku. Zulfa

Kuncir kuda kesukaannya

Lesung pipi. Bibir tipis. Senyum manis

Bila engkau bersuara daun-daun tertunduk tersipu malu

Burung-burung berhenti mengepakkan sayapnya

Suara desir angin menyempurnakan melodimu

Langkah minimalis menyertakan keanggunanmu

Gubrak... suara meja mengagetkan Dani yang sedang asyik melamun. “Yang duduk di bangku pojok dan tidak mendengarkan kakak siapa namanya?” ujar kakak tingkat yang sejak tadi memantik siswa baru di depan kelas. “Da... da… Dani, kak” jawab Dani dengan gugup. “Oke, Dani. Dani sudah kenal sama teman disampingnya?” kakak panitia bertanya dengan nada sinis. “Belum kak. Ini saya baru mau kenalan” Dengan berkata tegas Dani meminta berkenalan kepada teman di samping duduknya “Saya Dani, kalau boleh tau namamu siapa?”. Belum selesai berkenalan, kakak kelas langsung menyamber omongan Dani. “lho lho, siapa yang nyuruh untuk berkenalan. Sini-sini kamu maju kedepan. Kakak ada hadiah buat kamu Dani. Syaratnya kamu harus mau mengikuti apa kata kakak”. Dengan polosnya Dani maju kedepan. Cengar-cengir. Garuk-garuk kepala. Suasana di dalam ruang kelas tanpa disuruh langsung rame dengan suara cekikikan.

Dani mendapat hukuman disuruh merayu salah satu siswi baru. Seketika Dani melirik gadis yang telah lama di dambakannya. Gemetarlah seluruh tubuhnya, lemas terasa, ingin keluar nyawanya, takut, campur aduk perasaanya, bingung. Moment seperti ini tidak pernah Dani dapatkan. Seperti mendapatkan durian runtuh saja. Wajar Dani mendambakan gadis pujaannya sejak duduk dibangku kelas 2 SMP. Dani disuruh menjemputnya langsung kemudian dibawa ke depan kelas. Dengan langkah gemetar Dani menghampiri Zulfa. Dani meminta Zulfa untuk membantu melaksanakan tugas dari kakak panitia. Zulfa merupakan teman kelasnya Dani waktu SMP. Namun, ia tidak begitu akrab.

“Sudah mendapatkan wanita pujaannya?” kakak kelas mencupui Dani. Dani hanya tersenyum kecut.

“okee, sekarang coba buktikan bahwa Dani benar-benar jantan” tambahnya lagi. Hati dan pikiran Dani bertengkar dengan hebat. Dani bingung harus mengatakan apa, takut kalau gadis pujaannya tidak suka dengan rayuan gombalnya. Dani menghela nafas dan memberanikan diri.

“Tau nggak persamaannya Zulfa dengan puisi?” Dani mulai menggombal dengan malu-malu.

“Nggak tau Dan. Apa coba?” jawab Zulfa dengan sedikit tersenyum. Dani melanjutkan gombalannya

“Puisi tersusun dari bahasa yang indah. Dan kamu zul adalah keindahan itu”. Pecah seisi kelas, saling teriak-teriak dan ada yang memukul teman disampingnya. Zulfa tersenyum malu-malu, mukanya sedikit memerah.

“Sudah, tenang-tenang semuanya” kakak kelas mencoba meredakan suasana. “oke, terimakasih Dani sudah menunaikan hadiah dari kakak” berbicara sambil ketawa kuda.

Detik demi detik telah berlalu. Hembusan angin membawa warna baru bagi Dani. Pembagian kelas telah dilakukan oleh guru. Dani berada satu kelas bersama Sang Bunga. Kini hubungan mereka semakin dekat, seperti sepasang sandal mereka selalu jalan bersama. Namun, ada satu hal yang mereka lupa, apakah sandal itu sudah pas atau belum.

“Dan, ada sesuatu yang harus kita omongin.” Zulfa menatap serius kepada Dani yang sedang mengerjakan tugas di perpustakaan.

“Nanti dulu ya Zul, aku lagi pusing nih ngerjain soal Bahasa Indonesia” tatapan Dani hanya terfokus pada tugasnya.

“Ini penting Dani!” Zulfa berbicara dengan nada kesal.

“Iya bentar ya Zulfa!” Dani tetap acuh kepada Zulfa.

“Minggu depan aku pindah sekolah, Ayahku pindah dinas ke luar pulau di kota J, dan aku harus ikut bersama Ayah dan melanjutkan sekolah di sana” Zulfa berbicara dengan hati-hati.

“Apa zul?” Dani terkejut mendengar perkataan sang Bunga. “Kamu ngga lagi bercanda kan?”

“Ngga Dani, Ayahku sudah meminta izin kepada kepala sekolah” jawab Zulfa.

“Baiklah jika ini yang terbaik” Dani berbicara dengan suara berat hati ‘Kini hariku akan sepi, seperti halnya bunga yang tidak pernah terkena sinar matahari ia akan menguning dan perlahan mengering.” Dani tak tahan menahan air mata.

“Walau raga kita berjauhan, tapi ketahuilah jiwamu akan selalu dekat bersamaku. Mari kita membuat janji” ujar Zulfa. Suasana menjadi hening sejenak, kemudian Zulfa melanjutkan perkataanya “Percayalah aku selalu menunggumu, gelang ini akan menjadi saksi bahwa kita akan kembali bertemu”’. Dani tidak mampu berucap sepatah katapun hanya bisa menganggukkan kepalanya.

***

Tiga tahun telah berlalu. Dani masih ingat betul apa yang terjadi di perpustakaan sekolah tiga tahun lalu. Sekarang Dani sudah lulus dari sekolah. Tiga tahun berpisah dengan sang Bunga dan tidak pernah mendapatkan kabar darinya. Dani merasa bimbang, apakah sang Bunga masih menunggunya atau justru dia telah melupakannya dan sudah mendapatkan pujaan hati yang baru. Dani hanya bisa menebak-nebak prasangkanya. Tidak ada kepastian. “Apakah aku harus melupakannya?” Dani berbicara pada diri sendiri sambil memegang gelang pemberian darinya. “Ah ngga mungkin, aku yakin zulfa masih menungguku” Dani meyakinkan diri sendiri.

Saat sedang asyik bermain instagram Dani tidak sengaja melihat reels yang videonya mirip dengan Zulfa. Kemudian dia menstalking instagramnya. Benar saja instagram tersebut milik Zulfa. “Kok Zulfa ngga pernah ngasih tau bahwa dia punya IG, whatsappun sudah tiga tahun ngga aktif, jangan-jangan sengaja di blokir” Dani menggerutu sendiri. Tak pikir panjang Dani ngefollow nama instagram tersebut dan kemudian nge—dm “Hai Zulfa, ini aku Dani. Apa kabarmu zul? Apakah kamu masih ingat denganku? Dengan janji kita di perpustakaan dulu?”. Tak lama kemudian instagram Dani di follback dan ada DM balasan dari Zulfa. “Aku masih ingat, kamu Dani kan yang dulu pernah ngegombalin aku waktu perkenalan sekolah”. Dani tersenyum lebar bak bunga matahari “Kamu masih ingatkan dengan janji kita? Aku selalu menunggumu di sini, menunggu hari di mana kita dapat berjalan beriringan di taman penuh bunga”

“Perihal janji kita di perpustakaan dulu, maaf Dan. Aku selalu ingat dengan janji itu. Tapi aku tidak bisa melanjutkan janji kita. Aku adalah bunga layu, di sini aku mendapatkan sinar mentari yang membuat hatiku hidup kembali. Kau adalah sisa keikhlasan hatiku Dan. Sekali lagi aku minta maaf dan aku mohon lupakan janji kita”. Jawab Zulfa.

“Apa arti dari penantian ini Zul. Dalam malam-malamku, aku selalu berdoa akan perjumpaan kita. Kini aku merasa senang bisa mengobrol lagi denganmu. Tapi kau patahkan bunga ini. Aku tak pernah menyangka bahwa hatimu mudah di pengaruhi oleh arus. Sekarang aku menghadapi badai yang entah sampai kapan berakhir. Sungguh tega engkau Zul” Dani mengetik dengan jari jemari gemetar. Ia telah kuasai rasa kecewa.

“Aku tidak bisa kembali lagi. Sekali lagi maafkan aku Dani” Zulfa dengan tulus meminta maaf kepada Dani.

Harapan telah pergi. Sudah tak ada tujuan hidupku lagi. Bungaku telah di ambil oleh tangan raksasa dan ia telah mati. Bersama gelang ini aku persembahkan nyawaku pada pohon penuh duri.

Api dari Samsara


 

"DOR"

    Sebuah peluru keluar dari moncong pistol Glock 17. Sebuah peluru panas menenggelamkan mimpi-mimpi dan mengubur dalam-dalam sebuah harapan. Sebuah pistol yang menjadi akhir hidup seorang buronan paling berbahaya di kota Samsara. Peluru yang tidak hanya menembus dada tetapi mengoyak semua rasa. Rasa haus akan keadilan, kesetaraan, dan rasa kemanusiaan. Suara peluru yang diikuti keheningan alam dalam beberapa detik ke depan. Membawa pada suasana tenang dan nyaman.

    Dalam keheningan di ambang batas antara kehidupan dan kematian, sang buronan teringat ketika ia berada dalam pangkuan Ibunya. Betapa nyaman dan menenangkan suasana kala itu. Suara lembut nyanyian sang Ibu dan pelukan hangat yang mendekap seluruh badannya membuat si buronan tenggelam dalam ingatan. Mungkin ia merasakan hal yang sama di saat ini. Walaupun kenyamanan itu sedikit terganggu dengan rasa sakit karena peluru di dadanya. Rasa sakit yang mengingatkannya kembali ke Ibunya yang kala itu meninggal di depan kedua bola matanya. Ibu yang meninggal terkena tembakan salah sasaran dari aparat yang kala itu tengah berusaha memberhentikan seorang yang dianggap mereka melawan. Kala itu sang buronan hanya bisa terdiam, antara sedih, takut, dan marah akan kenyataan. Tatapan kosong dari sang buronan menyimpan banyak dendam pada aparat dan semua kejahatan. Rasa dendamnya kian membabi-buta tatkala sang buronan menemui fakta bahwa sang aparat dapat lepas dari hukuman.

    Selepas kehilangan sosok yang sangat berarti, sang buronan terlahir menjadi manusia baru. Manusia yang memimpikan kedamaian. Manusia yang memimpikan negeri tanpa penindasan. Manusia yang memimpikan dunia tanpa kejahatan. Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, dalam pikirannya menemukan bahwa puncak rantai kejahatan adalah mereka yang dikatakan sebagai pembasmi kejahatan. Dalam menemukan dirinya yang baru itulah sang buronan menyusun berbagai macam siasat penghakiman atas segala yang telah sang buronan rasakan. Siasat yang kemudian mengatarkan sebuah peluru menembus dadanya tanpa ampun.

    Semua dimulai kala siang itu. Matahari tampak sangat bersemangat. Peluh yang turun di dahi pembersih jalanan turun dengan tergesa-gesa. Suasana panas yang menyelimuti kota Samsara berubah menjadi mencekam tatkala sebuah pos polisi lalu lintas tiba-tiba meledak. Ledakan yang tak hanya membuat sang pembersih jalanan itu kaget sejadi-jadinya namun juga mengakhiri hidup 2 orang aparat. Bingung melanda orang-orang di sekitar TKP. Pertanyaan apa? Siapa? Dan bagaimana? Berputar-putar di pikiran orang-orang.

    Dari seberang jalan, di atas sebuah gedung 37 lantai, seseorang dengan pakaian serba hitam menatap puas akan ledakan itu. Senyumnya tertutupi buff hitam, namun matanya tak bisa mengingkari senyumannya. Ia adalah sang buronan. Aksi pertama sang buronan yang ia susun di buku catatannya berjalan dengan rapi. Mulai dari tempat, waktu, dan aparat yang menjadi korban sesuai dengan apa yang dia rencanakan. Campuran asam nitrat dan asam sulfat yang ia racik menjadi TNT telah membawanya pada kesuksesan misi penghakiman.

    Sang buronan memang telah mendeklarasikan dirinya sebagai seorang Anarkis. Berbagai macam bacaan yang dianggap berbahaya bagi sang pemegang kuasa telah dilahap habis. Berbagai macam diskusi yang selalu disusupi intel dari pihak aparat tak lepas dari tujuannya. Sebagai seorang yang terlahir kembali menjadi seorang Anarkis, sang buronan merubah semua stigma dan pandangannya terhadap aparat dan pemerintah. Dia menganggap bahwa segala bentuk kejahatan lahir dari pemerintah dan aparat yang rusak. "Pada akhirnya, semua bentuk kemiskinan dan penindasan adalah tanggungjawab pemerintah. Mereka yang membuat yang miskin semakin miskin, dan yang tertindas makin tertindas." Tulis sang buronan pada halaman kedua buku kecil yang berisi catatan kehidupannya sebagai anarkis.

    Seperti tindakannya di pos polisi siang itu, ketika dia sengaja membiarkan dua orang polisi lalu lintas menangkap dirinya dengan dalih menggunakan sepeda motor dengan knalpot bising. Namun si buronan bukanlah orang sembarangan. Ia paham betul bahwa permainan ini bukan sekadar soal bersembunyi dan menyerang secara membabi-buta. Ia tahu, keadilan yang ia impikang memerlukan pengorbanan. Maka, dengan sengaja, ia biarkan dirinya dibawa ke pos polisi lalu lintas siang itu. Senyum kecil menghiasi bibirnya yang tertutup buff hitam, seolah ia tengah memegang permainan atas kendalinya sendiri.

    Pos polisi itu memang sederhana. Hanya sebuah bangunan kecil di sudut perempatan jalan dengan tembok kusam dan kaca-kaca yang retak. Dua petugas aparat yang menahannya tak menunjukkan tanda-tanda kecurigaan, hanya rasa kesal pada pengendara berknalpot bising yang mengganggu ketenangan. Namun, dalam ketenangan semu itu, sang buronan tengah menulis sejarahnya sendiri.

    “Ini maksudmu apa membawa motor dengan knalpot bising? Kau tahu aturannya, bukan?” Suara salah seorang petugas dengan perut buncit dengan lantang memecah kesunyian di ruang sempit itu.

    Sang buronan hanya diam. Dalam ketenangannya, ia biarkan tangan sang aparat menggeledah isi tasnya, mencari sesuatu yang bisa dijadikan bukti pelanggaran tambahan yang agaknya akan menjadi cuan tambahan untuk mereka. Waktu berlalu seperti aliran air di sungai dangkal, deras dan menegang. Tangan mereka menemukan sesuatu—sebuah buku kecil berwarna hitam dengan sampul lusuh. Buku yang harusnya bukan sesuatu yang membuat mereka tertarik seperti biasanya, namun pada detik itu juga, fokus mereka tertuju pada buku hitam itu dan membukanya.

    “Apa ini?” tanya sang aparat, setelah membaca halaman pertama. Tulisan tangan yang rapi dengan gaya latin, dan penuh amarah, terpampang jelas: “Aku hidup antara kebaikan dan kejahatan. Namun, kejahatan terbesar adalah yang terletak di balik seragam.”

    “Jadi, kau ini musuh negara, ya?” Ejek sang aparat dengan suara yang sarat dengan rasa superioritas.

    Sang buronan tetap diam dan tenang. Matanya hanya memandang sinis ke arah mereka, seperti sedang masuk ke dalam jiwa mereka, menelusuri dosa yang mereka sembunyikan di balik seragam kebanggaannya.

    Dalam sepersekian menit, segalanya menjadi berubah. Sebuah ledakan yang mendengungkan telinga mengguncang pos polisi kusam itu. Cahaya ledakan menyilaukan mata, berbagai barang dan serpihan beterbangan, api dengan cepat membakar isi bangunan itu, seolah-olah Tuhan tengan menurunkan neraka di tengah-tengah kota Samsara. Tubuh kedua aparat itu terpental ke dinding, tak lagi bergerak, meninggalkan jejak darah dan kepanikan.

    Namun, di tengah kekalutan itu, sang buronan masih berdiri tegak. Asap dari ledakan menyelimuti tubuhnya, membuatnya tampak seperti seorang yang keluar dari hutan berkabut. Langkahnya tenang, setenang permukaan air di sungau yang dalam. Senyumnya mengembang di balik buff hitamnya yang lusuh terkena debu ledakan.

    “Biarkan segala yang rusak dan sulit diperbaiki untuk dihancurkan.” Gumamnya dalam hati bak seorang pemenang.

    Ia berjalan keluar, meninggalkan pos polisi yang tengah membara itu. Kota Samsara diselimuti kegemparan. Jeritan, sirene, dan kebingungan bercampur dengan aroma ledakan, seperti alunan musik tragis dalam film-film Romawi.

    Namun, di dalam hatinya yang terdalam, tersembunyi rasa kehilangan yang tak terlupakan, tersembunyi di balik kemarahan yang menyala-nyala dan dendam yang tak kunjung padam. Ingatan tentang ibunya terus menghantuinya. Senyuman lembut dan dekapannya hangat—semuanya hanyalah oasis yang terpatri dalam kenangan belaka. Ia tak akan berhenti.

    Bagi si buronan, dunia telah menjelma menjadi medan pertempuran, dengan dia sebagai prajurit terakhir yang masih berdiri, memperjuangkan apa yang diyakininya sebagai keadilan sejati.Namun pada akhirnya, apakah yang sebenarnya dikejar olehnya? Apakah itu benar-benar keadilan, atau hanya pantulan-pantulan dari luka masa lalu yang terus membimbingnya menuju kehancuran?

    Di kejauhan, deru sirene polisi semakin mendekat. Namun si buronan tak menggubrisnya. Dengan langkah pasti, ia melangkah maju, menyatu dengan kegelapan malam. Satu langkah, satu misi, satu peluru lagi, membawanya menuju ujung yang hanya ia sendiri yang mengerti.

***

    Malam itu setelah ledakan di pos Polisi, kota Samsara berubah menjadi medan perburuan yang sengit. Sirene polisi mengaung, mengejutkan keheningan yang biasanya menyelimuti lorong-lorong sempitnya. Langit, bagai kanvas hitam, dipenuhi kilatan lampu merah dan biru. Seluruh aparat keamanan dikerahkan dengan sigap. Wajah sang buronan terpampang besar di layar-layar di sepanjang sudut kota, disertai tulisan tegas: BURONAN BERBAHAYA – WASPADA!

    Sementara itu, sang buronan terus bergerak, melompat dari satu bayangan ke bayangan lain, menembus lorong-lorong gelap dan atap-atap gedung yang menjulang tinggi. Walaupun tak gentar menghadapi kematian, ia ingin memastikan setiap langkah yang diambilnya tidak meninggalkan jejak yang berarti. Di tengah pelariannya, ia mendapati informasi dari radio kecil yang selalu ia bawa: “Pos polisi pusat menjadi sasaran terbaru serangkaian serangan anarkis. Dua aparat luka parah dan tengah dirawat intensif. Buronan utama masih berusaha menghindari penangkapan.”

    Sang buronan tersenyum kecil. Luka-lukanya nampak sepele jika dibandingkan dengan luka-luka yang telah ia alami selama bertahun-tahun. Luka-luka kehilangan, ketidakadilan, dan pengorbanan yang mendorongnya memilih jalannya saat ini. Namun, di tengah rasa kemenangannya, perasaan lain mulai menyelinap perlahan: rasa lelah. Ia sadar bahwa niat balas dendamnya telah tumbuh menjadi bara yang terus membara, mencengkeram tubuh dan jiwanya dengan erat.

    Malam semakin larut. Sang buronan menyusup ke dalam sebuah bangunan tua, memperhatikan setiap gerak aparat keamanan yang menyusuri setiap sudut kota. Mata tajamnya dengan cermat mencatat setiap langkah, pola penjagaan, interaksi melalui komunikasi radio, dan strategi yang mereka terapkan. Ia sadar bahwa waktunya untuk kabur semakin menipis. Saat mentari mulai menyingsing, sang buronan memutuskan untuk menghadapi mereka. Dengan mantap, ia melangkah keluar dari bangunan tua tersebut, menembus kabut pagi yang menyelimuti. Berdiri di tengah lapangan terbuka, ia menantikan kedatangan mereka. Dalam benaknya, ia terhanyut dalam misi asalnya: menciptakan dunia tanpa penindasan, walaupun ia harus menjadi korban terakhir yang tersisa.

     Pada akhirnya, mereka datang dengan perasaan marah yang tak tertahankan. Puluhan aparat mengepungnya, senjata-senjata pembunuh itu diarahkan ke tubuhnya yang berdiri tanpa perlindungan. 

    "Angkat tangan! Jangan bergerak!" Teriak salah satu aparat, suaranya tegas namun bercampur dengan kemarahan. 

    Sang buronan hanya tersenyum. Dengan perlahan ia membuka tasnya, memperlihatkan buku kecil miliknya, seolah ingin menunjukkan bahwa semua yang ia lakukan adalah hasil dari pemikiran yang mendalam, bukan sekadar amarah tanpa dasar.  

    “Ini bukan soal aku atau kalian,” ujar sang buronan, suaranya tenang namun penuh keyakinan. “Ini soal dunia yang perlu diperbaiki. Dan aku hanya bagian kecil dari itu semua.”

    Detik berikutnya terasa seperti berabad-abad. Para aparat saling bertukar pandang, terjebak dalam kebingungan antara menangkap atau menembak.

    Kemudian, suara tembakan menusuk keheningan pagi.

“DOR!”

    Sebuah peluru keluar dari moncong Glock 17. Sang buronan terhuyung dan jatuh berlutut ke tanah, darah segar merembes dari dadanya, mengotori tanah yang dingin pagi itu. Dalam keheningan yang mencekam, ia kembali ke ingatannya. Pelukan hangat sang ibu, suara lembut yang menidurkannya. Perlahan, rasa sakit di dadanya sirna, digantikan rasa damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam sisa napasnya, ia berbisik lirih, "Ibu….. aku pulang. Tunggu aku sebentar." 

    Tubuh sang buronan akhirnya roboh ke tanah. Di sekitar tubuhnya, buku kecil itu terjatuh, terbuka pada halaman terakhir. Di sana tertulis: "Keadilan sejati lahir dari keberanian untuk melawan. Jika mati adalah jalan untuk itu, maka biarlah aku menjadi awal dari jalan keadilan itu sendiri.”

    Keheningan kembali menyelimuti kota Samsara. Seperti sebuah seremoni untuk salah satu perjuang keadilan yang dimiliki oleh kota itu. Keheningan itu perlahan sirna oleh suara burung yang menyambut hari baru dan juga menyambut jasad seorang buronan yang kini menjadi bagian dari sejarah.



Oleh: Syafni Nur Rakhman


Dewan Pendamping Rakjat

 



Di suatu Negeri antah berantah bernama Merdikonesia, hiduplah seorang yang sederhana dan bijaksana bernama Aaron. Ia adalah salah seorang pejabat legislatif tingkat regional yang berangkat dari sebuah Partai kecil dengan logo khas berwarna merah dan kuning. Partai Rakjat Digdaya namanya. Negara Merdikonesia merupakan negara kecil yang mempunyai 50 anggota parlemen, mereka disebut sebagai Dewan Pendamping Rakyat. Meski tergolong Negara Dunia Ketiga, rakyat Merdikonesia masih bisa tersenyum bahagia dengan penghasilan seadanya. Pemerintah Merdikonesia benar-benar memfokuskan anggaran negara untuk pendidikan, meski tak bisa mengkover semuanya, belum lagi perilaku korupsi sebagian pejabat yang menjadikan cita-cita mulia sulit terwujudkan.

Aaron sebagai satu-satunya perwakilan dari Partai Rakjat Digdaya yang berhasil merebut satu kursi di istana, sudah dipastikan tidak punya power lebih untuk memperjuangkan apa yang sudah sepantasnya ia perjuangkan. Apalagi usianya tergolong muda dan kariernya sebagai politisi baru seumur jagung.

“Bagaimana, Bung? Pemerintahan Merdikonesia cukup menarik bukan? Dulu kau teriak-teriak di depan gerbang gedung ini, sekarang kau merasakan sejuknya AC dan empuknya sofa yang ada di dalamnya.” Seorang laki-laki seumuran Aaron menghisap cerutu sembari menatap keluar jendela ruangan yang ditempati Aaron. Ia tampak fokus mengamati gerbang hijau megah yang dulu sering ia robohkan bersama Aaron.

“Belum genap setahun, John. Aku cukup geram dengan kelakuan para dewan maupun eksekutif di komplek ini. Bagaimana bisa, anggaran menguap dengan mudahnya tak terendus.” Aaron duduk di kursi empuknya sembari membuka beberapa dokumen di tabnya.

“Ayolah, Bung! Sudah saatnya kau nikmati semua hasil jerih payahmu selama ini. Fikirkan bagaimana kau membangun ulang rumah orang tuamu yang sudah reot itu atau menikahi Nona Elisha yang manis itu. Sampai kapan kau terus memikirkan mereka? Kau juga berhak bahagia,” ungkap John dengan wajah terheran-heran. Sudah 10 tahun lebih Aaron mengabdikan dirinya untuk membersamai masyarakat yang kesulitan, sejak mahsasiswa ia seringkali mempersulit diri sendiri untuk membantu orang lain.

Tiba-tiba pintu diketuk, Aaron mempersilakan tiga orang berpakaian rapih masuk. Setelah beberapa menit basa-basi, mereka menyodorkan sebuah proposal bantuan dana. John hanya memperhatikan bagaimana Aaron mengiyakan permintaan mereka, tak berselang lama mereka pun pamit untuk meninggalkan ruangan.

“Kau lihat sendiri bagaimana orang-orang kaya itu mengemis padamu! Kau punya peluang besar untuk menjadi kaya seperti mereka.” John menghabiskan cerutunya lalu pergi meninggalkan Aaron sendirian.

Waktu menunjukkan pukul lima sore, Aaron bergegas pulang mengendarai mobil sedan tahun 90an yang baginya masih layak untuk digunakan, meski rata-rata anggota Dewan lain sudah menggunakan mobil keluaran terbaru yang jauh lebih mahal.

Cuaca sangat mendung, langit senja berwarna gelap. Aaron sampai di salah satu perempatan dan berhenti saat lampu berwarna merah. Ia melihat dua orang anak kecil yang berjualan koran sedang berteduh di depan toko bangunan yang telah tutup. Aaron tak kuasa melihat pemandangan memilukan itu, mereka menggigil kedinginan. Ia mengarahkan mobilnya ke toko bangunan tersebut dan memanggil kedua anak kecil tersebut untuk masuk ke mobil.

“Baju kami agak basah dan kotor, Pak. Nanti mobil Bapak terkotori.” Sang Kakak menjawab panggilan Aaron dengan sopan.

“Tak apa, Nak. Masuk saja,” ucap Aaron dengan nada yang teduh.

Mereka akhirnya masuk dan tak menaruh curiga sedikit pun. Padahal Aaron adalah orang asing bagi mereka.

“Siapa nama kalian? Dan di mana rumah kalian?” Aaron bertanya sembari mengisyaratkan pada mereka untuk menggunakan selimut yang ia berikan.

“Aku Sofi dan ini adikku Romi. Kalau bapak?” kata Sang Kakak yang berumur kurang lebih 10 tahun.

“Terima kasih, Pak. Sudah memberikan kami tempat berteduh.” Tiba-tiba Sang Adik yang berusia 5 tahun mengucapkan terima kasih dengan suara cemprengnya.

“Sama-sama, Dek. Nama saya Aaron. Panggil saja Pak Ary. Apa kamu tidak sekolah, Sof?” Aaron balik bertanya pada Sofi.

“Bukankah sekolah hanya untuk orang-orang yang kaya saja, Pak? Kata Ibu, sekolah hanya menghasilkan orang-orang individualis yang hanya peduli pada perutnya sendiri, seperti orang-orang di gedung megah itu, mereka kan berpendidikan semua.” Sofi menunjuk gedung yang tak lain adalah tempat Aaron bekerja.

Aaron hanya tersenyum mendengarnya. Ia memberikan mereka snack rapat yang belum sempat ia makan. Mereka yang terlihat sangat lapar, langsung memakannya dengan raut wajah bahagia.

“Mau, saya antarkan pulang?” Aaron menawari mereka tumpangan.

“Kami biasa pulang malam, Pak. Lagi pula Ibu sedang sakit, kami harus membeli obat terlebih dahulu.” Sofi menjawab dengan wajah yang tampak gelisah.

“Alhamdulillah, tadi kami sudah menjual semua gorengan yang ibu buat tadi siang. Tinggal menghabiskan koran ini saja, Pak,” sahut Romi dengan suara lucunya.

“Ini buat beli obat ya…” Aaron memberi mereka amplop yang sedari tadi ia siapkan.

Sofi menolak halus amplop tersebut. “Kami berjualan koran, Pak. Ibu tidak mengajarkan kami untuk meminta-minta.”

“Ini  saya yang memberi, kalian tidak meminta atau mengemis.”

 “Sama saja, Pak Ary. Ibu tidak mengizinkan kami menerima pemberian dari siapa pun tanpa kami bekerja atau menjual sesuatu.” Romi menguatkan sikap kakaknya, ia berkata sedikit terbata, seakan sedang menghafal ucapan ibunya.

Tanpa sadar, Aaron meneteskan air matanya. Akhirnya ia membeli beberapa koran yang mereka tawarkan dan menanyakan letak rumah mereka berdua secara detail sebelum pamit meninggalkan kakak-beradik yang berhasil menyadarkannya.

Malam harinya Aaron bertemu dengan Elisha, kekasih yang sangat amat ia cintai.

“Apa yang mengganggu pikiranmu, Sayang? Ayo makan dulu, nanti dingin nasinya.” Elisha melihat jelas kegelisahan di mata kekasihnya.

“Hari ini, aku melihat pengemis berpakaian rapih dan orang kaya berpakaian compang-camping, Sayang.” Aaron menjawab sembari menatap lekat mata kekasihnya.

“Apa yang kamu pelajari dari mereka, Sayang”? Elisha menyandarkan dagunya pada kedua tangannya dan membalas tatapan Aaron dengan wajah syahdunya.

“Entahlah, tapi aku semakin bertanya-tanya, sampai kapan kita terus bercinta di tengah timbunan derita Si Miskin dan Keserakahan Si Kaya?”

 

 

 

*Sebuah khayalan yang dicerpenkan bersama segelas espresso di Foster Coffe Tembalang

Negeri Dongeng

 


Sepasang mata bersiap menyerbu angin malam. Berjalan dengan kaki telanjang. Menyusuri di setiap sudut gang. Mencari sumber kehidupan. Untuk tetap melihat matahari esok.

Sepasang mata tetap terjaga. Sinar rembulan menari di setiap rongga malam. Raungan serigala memekikkan telinga yang lapar. Bulan tetap menari di lautan kebisuan.

Sepasang mata berjalan mengikuti sinar rembulan. Berharap dapat memecahkan kekakuan. Angin malam setia menemani melodi kerinduan. Ada asa yang harus tersambungkan.

 

Aku hanyalah seorang pelancong. Mengadu nasib di setiap jejak kaki. Menyusuri duri telanjang yang dibiasakan dengan keadaan. Singgah dari rumah ke rumah. Bukankah di setiap sudut semesta adalah rumah. Rumah tempat berteduh. Rumah tempat mengadu. Rumah tempat merenung. Rumah tempat untuk pulang. Apa arti rumah bagi orang yang bergemuruh dengan keadaan. Suara petir setiap saat menyambar, merusak, menenggelamkan bagai badai.

Menemukan negeri yang indah, negeri yang kaya raya, negeri yang damai itulah impian setiap jejak kaki melangkah. Seperti halnya negeri dongeng. Aku bisa meramalkan detak jantungku di hari esok. Aku bisa meramalkan kapan aku bisa tidur nyenyak. Kapan aku bisa menikmati lembutnya daging yang memanjakan lidah. Khayalan tentang negeri dongeng hanya akan membangunkan serigala yang kelaparan. Dan sekarang sedang terjadi di setiap panggung negeri.

Rasa lapar siap menerkam setiap saat. Orang pintar semakin pintar setiap detiknya. Mengubur dirinya dengan angan yang menembus dinding langit. Menjelma seperti dewa. Membangun sebuah negeri penuh dengan buah-buahan. Buah yang manis siap mengikuti dirinya. Sedangkan buah yang busuk akan menentang dan dibuang ke negeri yang jauh. Bukannya aku gagal membangun negeri khayalan. Hanya saja perhitunganku kurang tepat dan aku tersandung batu jalanan.

Aku kembali melancong menyusuri sungai. Sungai yang memerah dan baunya menusuk hidungku. Sungai yang tercemar oleh tangan nakal. Aku tetap berjalan karena sudah tak ada pilihan. Berdiam diri hanya membuatku mati kelaparan. Tak ada tempat untuk mengumpat. Umpatan hanya akan membunuh diriku sendiri. Lebih baik diam dan menutup mata seperti tidak terjadi apa-apa. Negeri khayalan kini menjadi neraka. Membutakan sepasang mata. Teriakan serigala membunuh cahaya rembulan. Masihkah ada harapan.

Serigala malam bersiap di barisan depan. Menerkam segala kesengsaraan. Sedangkan aku duduk di pinggir bahu jalan. Menikmati musim gugur dan rasa takut. Perasaan penuh was-was. Aku tidak tahu kapan serigala akan datang. Malam ini aku harus menginap di mana. Di kota yang miskin ini, tidur di pinggir jalan hanya mengantarkan nyawa dengan sia-sia. Kota yang terlihat indah di pagi hari. Namun, di malam hari suasana seperti hantu.

Aku berteriak memecahkan kebisuan. Terpenjara oleh alam pikiran. Masih mampukah aku melihat matahari di hari esok. Goresan tinta hanya akan menjadi kenangan yang dilupakan. Tangisan menjadi saksi bisu bahwa aku tak berdaya keluar dari cerita di negeri dongeng. Negeri para penjajah. Negeri penuh kepalsuan.

Aku harus melancong ke mana lagi. Jika di dalam hatiku masih menyimpan rasa dendam. Tidak ada gunanya aku berjalan. Jika yang kutemukan hanyalah kehancuran. Aku hancur oleh pikiranku sendiri. Negeri dongeng yang aku dambakan tidak pernah aku temukan. Semua yang aku lihat hanyalah keindahan semu. Kesengsaraan, ketidakadilan, kerusakan alam merupakan hasil dari pikiran-pikiran manusia yang mendambakan keindahan. Keindahan yang ada dalam pikiran liar.

Semesta memiliki rasa. Semesta memiliki mata. Semesta akan menjadi saksi setiap jejak kaki. Kemanapun jejak kakiku melangkah semesta selalu memata-matai. Tak ada tempat untuk bersembunyi. 



Tentang Penulis

Nama

:

Iqbal Khoerul Muttaqin

No. Hp

:

085647726623

Media Sosial

:Ig: @_utaa.qn




 


Dilema di Persimpangan Jalan

 



Alesha Fadhilla, yang akrab dipanggil Sasha. Seorang gadis, cerdas dan penuh semangat.  Bertahun-tahun pamannya tidak punya anak. Sejak kecil, ia sudah diangkat, diasuh, dan dibiayai pamannya. Sasha memiliki mimpi besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Ia ingin sekali kuliah di Universitas Diponegoro (UNDIP), salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Ia bahkan meminta izin kepada pamannya untuk mondok di sebuah pesantren selama 3 tahun, agar ia bisa lebih fokus belajar dan mempersiapkan diri untuk masuk ke UNDIP.

Sasha bekerja keras selama masa SMA untuk mencapai mimpinya. Ia selalu menjadi siswa yang berprestasi dan aktif di berbagai kegiatan sekolah. Ia yakin dengan tekad dan kerja kerasnya, ia akan diterima di UNDIP. Setelah bertahun-tahun belajar dengan tekun dan giat, Sasha akhirnya mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Ia mengerjakan soal-soal dengan penuh keyakinan dan optimisme.

Namun, takdir berkata lain. Sasha tidak lolos seleksi di UNDIP, baik melalui jalur SNBP maupun SBUB. Kekecewaan melanda, namun Sasha tidak menyerah. Ia terus berusaha mencari peluang lain untuk melanjutkan pendidikannya.

Setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan, Sasha akhirnya mendapatkan hasil SNBT. Namun, mimpinya untuk kuliah di UNDIP pupus. Ia tidak lolos pada seleksi tersebut.

Rasa kecewa dan sedih menyelimuti Sasha. Ia merasa semua usahanya sia-sia. Ia tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya.

Sasha mencoba untuk tetap tegar dan tidak larut dalam kesedihan. Ia masih memiliki beberapa pilihan lain untuk melanjutkan pendidikannya.

Ayahnya menyarankan Sasha untuk mencoba mendaftar di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), sebuah sekolah kedinasan yang bergengsi. Sasha mengikuti tes dengan penuh harap, namun hasilnya belum maksimal.

Ia mencoba mendaftar di beberapa perguruan tinggi negeri lainnya. Namun, lagi-lagi Sasha tidak lolos pada seleksi tersebut.

Kekecewaan Sasha semakin bertambah. Ia mulai meragukan kemampuannya sendiri. Ia merasa bahwa ia tidak cukup pandai untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Di tengah rasa kecewanya, Sasha menemukan secercah harapan. Ia membaca informasi tentang program beasiswa untuk kuliah di luar negeri.

Meskipun awalnya ragu, Sasha akhirnya memutuskan untuk mencoba mendaftar beasiswa tersebut. Namun, Sasha didorong oleh semangatnya untuk terus belajar dan meraih mimpinya. Ia merasa bahwa ini adalah kesempatan baginya untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan meraih mimpinya.

Sasha mengikuti proses seleksi beasiswa dengan tekun dan penuh semangat. Ia mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dan berusaha untuk menunjukkan kemampuannya yang terbaik.

Ia mendaftar beasiswa untuk kuliah di Mesir dan Tunisia. Prosesnya tidak mudah, Sasha harus mengikuti berbagai tes dan wawancara. Ia bahkan harus mempelajari bahasa Arab untuk mempersiapkan dirinya di luar negeri.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, Sasha akhirnya mendapatkan kabar gembira. Ia lolos seleksi beasiswa untuk kuliah di Tunisia! Rasa bahagia dan haru bercampur aduk di hatinya. Ia tidak menyangka mimpinya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi akan terwujud dengan cara yang tak terduga.

Namun, kebahagiaan Sasha tidak berlangsung lama. Pamannya, yang selama ini mengasuh dan membiayainya, tidak mengizinkannya untuk pergi ke Tunisia karena khawatir dengan keselamatannya. Pamannya ingin Sasha melanjutkan pendidikan di dalam negeri, di mana ia bisa lebih mudah mengawasinya. Orang tuanya juga, terutama ayahnya, juga tidak mengizinkannya untuk pergi ke Tunisia karena khawatir dengan keselamatannya. Sasha mencoba meyakinkan ayahnya dan pamannya, namun mereka tetap teguh pada pendiriannya.

Sasha dilanda dilema. Di satu sisi, ia ingin sekali meraih mimpinya untuk kuliah di luar negeri. Di sisi lain, ia tidak ingin mengecewakan pamannya yang telah banyak berjasa dalam hidupnya. Ia harus memilih antara mengikuti mimpinya atau mematuhi pamannya.

Di tengah kebimbangannya, Sasha teringat pepatah "Carilah ilmu meskipun di negeri Cina, karena mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim." Pepatah itu memberinya kekuatan dan tekad untuk terus berusaha.

Sasha memutuskan untuk berbicara kembali dengan ayah dan pamannya. Ia menjelaskan alasannya ingin kuliah di luar negeri dan meyakinkan mereka bahwa ia akan aman dan terjaga di sana.

Sasha juga menceritakan tentang program beasiswa yang ia dapatkan, yang akan membantunya untuk meringankan beban biaya pendidikan.

Akhirnya, setelah melalui perdebatan yang panjang, ayah dan paman Sasha luluh dan mengizinkannya untuk pergi ke Tunisia. Mereka berpesan agar Sasha selalu menjaga diri dan fokus pada studinya.

Sasha sangat bersyukur atas restu ayah dan pamannya. Ia berjanji akan belajar dengan tekun dan tidak mengecewakan mereka. Ia juga ingin menjadi inspirasi bagi orang lain untuk pantang menyerah dalam meraih mimpi.

Dengan restu ayah dan pamannya, Sasha akhirnya bisa berangkat ke Tunisia untuk memulai perkuliahannya. Ia penuh semangat dan optimisme, meskipun masih ada rasa cemas dan keraguan di dalam hatinya.

Di Tunisia, Sasha harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru, budaya yang berbeda, dan bahasa yang tidak familiar. Ia merasa rindu dengan keluarga dan teman-temannya di Indonesia.

Namun, Sasha tidak mudah menyerah. Ia tekun belajar dan berusaha untuk berbaur dengan lingkungan barunya. Ia juga mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler untuk memperluas pergaulannya.

Meskipun demikian, Sasha masih merasakan dilema. Ia rindu dengan tanah airnya dan ingin berkontribusi untuk kemajuan bangsa. Ia merasa bahwa beasiswa yang ia dapatkan di luar negeri tidak sesuai dengan mimpinya untuk membangun Indonesia.

Pada suatu hari, saat Sasha mendapatkan informasi dari grup WhatsApp alumni pondoknya, ia menemukan informasi tentang Beasiswa Santri PBSB. Beasiswa ini memberikan kesempatan bagi santri berprestasi dan dibuktikan minimal mondok 3 tahun untuk belajar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga tanpa biaya.

Sasha langsung tertarik dengan Beasiswa Santri PBSB. Ia merasa bahwa beasiswa ini lebih sesuai dengan mimpinya untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Tanpa pikir panjang, Sasha mendaftarkan diri untuk Beasiswa Santri PBSB. Ia mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk mengikuti proses seleksi yang sangat ketat.

Proses seleksi Beasiswa Santri PBSB tidak mudah. Sasha harus bersaing dengan banyak mahasiswa berprestasi dari seluruh Indonesia. Namun, Sasha tidak gentar. Ia yakin dengan kemampuannya dan tekadnya yang kuat.

Setelah melewati beberapa tahap seleksi yang menegangkan, Sasha akhirnya mendapatkan kabar gembira. Ia lolos seleksi Beasiswa Santri PBSB!

Perasaan bahagia dan haru bercampur aduk di hati Sasha. Ia tidak menyangka bahwa mimpinya untuk belajar di dalam negeri akan terwujud dengan cara yang tak terduga.

Sasha segera memberitahukan kabar gembira ini kepada ayah dan pamannya. Ayah dan pamannya pun sangat bahagia dan bangga atas pencapaian Sasha. Mereka mendukung penuh keputusan Sasha untuk pindah ke Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Dengan berat hati, Sasha meninggalkan Tunisia dan kembali ke Indonesia. Ia merasa sedih karena harus berpisah dengan teman-temannya di sana. Namun, ia juga sangat excited untuk memulai lembaran baru di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Sasha disambut dengan hangat oleh para dosen dan staf. Ia juga bertemu dengan banyak teman baru yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Walaupun Sasha terlambat masuk di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, ia tetap bisa beradaptasi.

Sasha sangat menikmati masa perkuliahannya di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Ia belajar dengan tekun dan aktif mengikuti berbagai kegiatan UKM di kampus tersebut. Ia juga berkesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke luar negeri.

Setelah menyelesaikan studinya di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Sasha meraih gelar sarjana dengan predikat cum laude.

Beberapa tahun setelah Sasha lulus dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, ia memutuskan untuk kembali ke pondok asalnya untuk mengabdi. Ia ingin berbagi ilmu dan pengalamannya dengan orang lain, terutama dengan santri-santri di pondoknya.

Sasha mendirikan sebuah yayasan untuk membantu anak-anak kurang mampu agar bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Ia juga sering memberikan motivasi dan seminar kepada anak-anak muda tentang pentingnya pendidikan dan bagaimana cara meraih mimpi mereka.

Sasha sangat bersyukur atas semua pencapaiannya. Ia tidak pernah menyangka bahwa dirinya yang berasal dari keluarga sederhana bisa mencapai kesuksesan seperti sekarang.

 

Tentang Diriku





Syaqila Puri Dila seorang gadis cantik yang hanya tinggal Bersama Ibu dan adik perempuannya. Ayahnya telah pulang ke sang pencipta sejak tiga tahun yang lalu saat dirinya masih kelas 6 SD. Ibunya seorang pekerja keras, membanting tulang tanpa mengenal kata lelah untuk mencukupi kebutuhan mereka, serta membiayai uang sekolah anak - anaknya dengan harapan anaknya bisa menjadi anak yang sukses nantinya. Syaqila sangat menyayangi Ibunya dan adiknya. Rasa takut terbesar Syaqila muncul ketika kehilangan mereka, bagi Syaqila mereka adalah dunianya.

Saat ini Syaqila duduk di bangku kelas 9 dan sebentar lagi dia akan melanjutkan ke jenjang Madrasah Aliyah (MA), namun, dia dilanda rasa bimbang karena terus terusan teringat perkataan Ibunya beberapa hari yang lalu.

Flashback On

"Nak Ibu mau ngomong sama kamu," ucap Erni, Ibu Sysqila. Syaqila yang sedang mengajari adiknya belajar pun menghentikan aktivitasnya.

"Iya, Bu, mau ngomong apa?," tanya Syaqila.

"Sebentar lagi kamu kan mau meneruskan ke jenjang Aliyah, Ibu teringat dengan wasiat Ayah kamu sebelum meninggal," kata bu Erni yang membuat Syaqila penasaran dengan wasiat ayahnya.

"Wasiat apa, Bu?," tanya Syaqila.

"Dulu ayahmu berpesan pada Ibu bahwa beliau menginginkan kamu menjadi penghafal Al-Qur'an," ucap ibu Syaqila

"Penghafal Al-Qur'an? Mm..maksud ibu, Syaqila harus mondok?,"tebak Syaqila.

Ibu hanya tersenyum, kemudian, mengelus tangan putri yang disayanginya.

Kamu tidak keberatan kan, Nak? Ibu juga pengen lihat putri Ibu menjadi hafidzah, agar bisa menolong ayah dan ibu diakhirat nanti," tutur Ibu Syaqila terenyuh. "Nanti ibu sama Jasmin gimana?" tanyanya dengan nada khawatir.

"Jangan pikirin Ibu dan Jasmin, Syaqila. Kita akan baik-baik saja. Cukup melihat putri Ibu ini bisa menempuh ilmu dengan baik sudah membuat ibu bahagia," jelas ibu Syaqıla dengan nada yang menenangkan.

"Tenang aja, Kak, aku bakal jagain Ibu kok," sahut Jasmin, adik Syaqila yang kini tengah duduk di bangku kelas tujuh. Syaqila menghela napasnya, kemudian, dia tersenyum tipis.

"InsyaAllah akan Syaqila lakukan," ujar Syaqila.

Ibu Erni memeluk ke dua putrinya dan mengelus kepala mereka dengan lembut.

Setelah memikirkan dengan matang, akhirnya Syaqıla memutuskan untuk melanjutkan pendidikan sesuai dengan yang diucapkan Ibunya, yaitu sekolah sekaligus mondok. Dia bertekad untuk membuat orang tuanya bangga atas apa yang dilakukan oleh Syaqila walaupun Ayahnya sudah tenang di sana.

Enam bulan kemudian.

Sudah berbulan-bulan Syaqila berada di pondoknya, di sana dia mempelajari berbagai macam ilmu dan dari sana tahu apa arti kemandirian. Di pondok Syaqıla menemukan teman yang beragam-ragam, dia kira anak pondok pegangannya Al-Qur'an, dia kira anak pondokan selalu mencerminkan seorang santri Namun, nyatanya tidak. Banyak yang tidak sungguh-sungguh dalam menuntur ilmu, sering Syaqila jumpai ketika sedang menghafal Al-Qur'an dia melihat teman-temannya malah asyik bermain, ghibah dan membicarakan hal-hal yang tidak penting Syaqila hanya bisa membatin melihat kelakuan teman-temannya,

apa tujuan mereka mondok jika yang dilakukan hanya bermain Syaqila berjanji akan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu dan hafalan Al- Qur'annya, dia tidak akan mengecewakan Ibunya yang sudah membiayai dirinya hingga ia bisa mondok di sini.

Tiga tahun kemudian.

Tak terasa waktu berjalan cepat. Hari demi hari Bu Erni jalani dengan baik bersama putri bungsunya. Jika mengingat Syaqila, beliau rindu dengan kehadiran Syaqila di rumah. Bu Erni hanya bisa mendoakan yang terbaik buat putri sulungnya.

Hari ini bu Erni tiba-tiba mendapatkan surat undangan dan pondoknya Syaqila, hatinya resah karena takut jika terjadi apa-apa dengan anaknya itu. Namun, ketika membuka surat itu, rasa takut Bu Erni sirna dalam hitungan detik dan digantikan dengan rasa bahagia yang tak terbendung. Syaqila Putri Dila yang dirindukannya telah mengkhatamkan Al-Qur'an dalam waktu tiga tahun bertepatan dengan kelulusan sekolahnya. Dua hari yang lalu Bu Erni datang di acara kelulusan Syaqila, putrinya itu mendapatkan penghargaan menjadi siswi dengan lulusan terbaik diantara teman - temannya seangkatan. Dan hari ini bu Erni mendapat undangan dari pondok untuk acara khataman Bil-Ghoib. Beliau pun segera bersiap-siap bergegas menuju pondok putrinya. Sesampainya di sana bu Erni melihat putrinya sudah duduk di tempat yang sudah disediakan untuk santri yang ikut simakan Bil-Ghoib.

            “Ibu!" Syaqila berlari, berhambur kepelukan ibunya. Bu Erni dengan senang hati menerima pelukan Syaqila.

"Selamat nak," Syaqila mengangguk dan tersenyum.

“Ayo kita kesana," Syaqila mengajak ibunya ke tempat yang sudah disediakan panitia.

Acara pun dimulai, selama menyimak bacaan ayat suci Al Qur'an yang dilantunkan oleh putrinya, bu Erni tidak bisa menahan air matanya, beliau terharu dengan pencapaian putri sulungnya.

“Ibu, Syaqila berhasil," ucap Syaqila.

"Iya anak ibu berhasil," kata ibu Syaqila dengan senyum yang meneduhkan.

"Syaqila punya sesuatu buat ibu," Syaqila memberikan sebuah mahkota, kemudian, dia memasangkan mahkota itu di kepala ibunya.

"Makasih sayang, ibu sangat bangga padamu nak," Ibu Syaqila meneteskan air matanya, beliau mengelus surai anaknya yang tertutup oleh jilbab.

Tanpa Syaqila dan ibunya sadari, ada seorang pemuda yang melihat adegan mengharukan itu. Dia tersenyum dari kejahuan. Setelah tiga tahun ia lewati dengan niat yang sungguh-sungguh, akhirnya Syaqila berhasil mencapai semua ini. Dan siang ini Syaqila akan boyongan dari pondoknya setelah sowan ke ndalem kyainya. Tidak disangka Syaqila mendapat kabar yang mengejutkan baginya, bahkan, ibunya juga.

Flashback on.

"Nak, kamu tahu anak saya?," tanya Pak Kyai.

"Tahu Kyai, Gus Azzam," jawab Syaqila sambil menunduk. Kyai tersenyum, kemudian, beliau menoleh kepada Ibu Syaqila.

"Bu, jika putri Ibu saya jodohkan dengan anak saya, apakah ibu bersedia?," Bu Erni yang mendengar perkataan pengasuh pondok anaknya itu pun terkejut.

"Kenapa harus putri saya, Yai?," tanya Ibu.

"Setelah saya lihat kepribadian putri Ibu, saya merasa putri Ibu bisa menjadi pasangan yang baik buat anak saya. Dan...selain itu anak saya sudah menyimpan rasa untuk Syaqila," ucap Kyai pengasuh pondok Syaqila itu.

"Anak saya, Azzam sudah menyukaimu sejak satu tahun yang lalu," ujar Pak Kyai dan membuat dahi Syaqila berkerut, secara bersamaan Gus Azzam anaknya Kyai riba - tiba datang di tengah perbincangan.

“Maaf kalau saya lancang sudah menyimpan rasa kepada kamu, saya menunggu waktu yang tepat karena saya tidak mau mengganggu pikiran kamu. Saya mau kamu mengkhatamkan Al Qur'an terlebih dahulu," tutur Gus Azzam yang membuat orang di sekelilingnya terkesima.

"Jadi, jika saya ambil anak Ibu sebagai calon istri saya apakah Ibu memperbolehkannya?," gus Azzam melanjutkan obrolan "Emm, saya terserah bagaimana jawaban putri saya," Bu Ermi menatap anaknya.

"Syaqila bagaimana Nak?," tanya Bu Erni. "Saya..." Syaqila menjeda omongannya.

Dia tidak tahu harus memberi jawaban seperti apa Syaqila akui Gus Azzam memanglah idaman para wanita, gagah, tampan, paham agama dan perawakannya yang berwibawa tentu membuat orang yang melihatnya akan terpesona. Syaqila akan merasa tidak pantas jika disandingkan dengan Gus Azzam.

Bolehkah saya meminta waktu 2 hari saja untuk menjawabnya?,"Gus Azzam tersenyum tipis kemudian, dia mengangguk.

"Saya tidak memaksa kamu untuk menjawab hari ini, dua hari lagi saya akan datang ke rumah kamu," jawab Gus Azzam tegas. "Baiklah," Syaqila bernapas lega, kemudian, ia dan Ibunya berpamitan pulang.

Selama di rumah Syaqila selalu terbayang bayang kejadian kemarin. dia bahkan, tidak bisa tidur memikirkan jawaban yang harus ia berikan besok. Bu Erni yang melihat putrinya terlihat tidak semangat pun langsung menghampirinya.

"Syaqila,"panggil Bu Erni.

Syaqila bangun dari lamunannya "Iya bu, ada apa?," tanya Syaqila. Bu Erni mengelus pundak Syaqila berniat menenangkannya

“Jangan memaksa dirimu, Nak, jika kamu mau, terima, Jika kamu ingin menolaknya, maka lakukanlah," ucap Bu Erni

"Syaqila tidak pantas untuk Gus Azzam, pasti banyak yang merendahkannya," jawabnya.

"Jangan dengarkan apa kata orang, semua itu tergantung bagaimana kamu menyikapinya, mungkin Gus Azzam sudah Allah berikan kepadamu," tutur Bu Eni.

"InsyaAllah Syaqila akan memberikan jawaban yang tepat," hati Syaqila sedikit lega setelah mendengar perkataan ibunya.

Penantian Jawaban

Hari ini keluarga Azzam akan datang kerumah Syaqila untuk pertama kalinya. Hati Syaqila tidak bisa tenang, dari tadi dia berjalan mondar mandir di depan kaca.

Ceklek

"Sayang, ayo keluar mereka sudah datang," jantung Syaqila berdetak lebih kencang setelah mendengar perkataan ibunya.

"Bu, bagaimana ini? penampilanku bagaimana bu?," Syaqila mengecek penampilannya dari ujung kaki sampai atas kepalanya takut ada yang salah.

Bu Erni terkekeh melihatnya.

"Anak Ibu selalu cantik, sudah ayo keluar" Syaqila berjalan di belakang ibunya.

Keluarga Azzam dibuat kagum dengan penampilan Syaqila. walaupun dirinya tanpa polesan make up Syaqila sudah terlihat cantik, ditambah dengan memakai gamis berwarna biru pastel yang membuatnya semakin terlihat menawan. Bahkan, Azzam sempat tidak berkedip sebelum ia menyadari kesalahannya dan mengalihkan pandangannya dari wanita yang tidak mahrom baginya.

"Maaf menunggu lama," ucap Bu Erni. "Tidak apa - apa bu," balas Ibu Azzam, beliau tersenyum medihat Syaqila.

"MasyaAllah cantik sekali kamu, tambah cantik nanti kalau jadi menantu Umi," puji ibu Azzam yang membuat lainnya tertawa. "Kita langsung keintinya ya, jadi kedatangan kami adalah untuk mendengar jawaban apa yang akan diberikan oleh Syaqila" ucap Kyai Syaqila.

Syaqila menatap ibunya isyarat bertanya, Bu Erni mengangguk seolah memberi tahu semua akan baik baik saja.

"Saya..." Syaqila menjeda ucapannya, dia menetralkan detak jantungnya sedangkan Azzam berdo'a di dalam hati, dia akan menerima apa pun jawaban dari Syaqila dengan ikhlas.

"Saya bersedia menjadi calon istri Gus Azzam," lanjut Syaqila Semua orang yang disitu tersenyum dan menghela napas legs, bahkan, Azzam mengucapkan Alhamdulillah beberapa kali

"Terima kasih telah menerima saya Syaqila," ucap Azzam yang dibalas dengan senyuman oleh Syaqila kemudian, mereka menentukan waktu pertunangan dan pernikahan yang tepat.

Saat ini Syaqila berada di depan batu nisan laki-laki pertama yang ia cintai. Syaqila meneteskan air matanya dia sangat rindu dengan orang yang berada di dalam tanah tersebut.

"Ayah, maaf Syaqila baru mengunjungi ayah, Syakila mengusap nisan ayahnya.

"Syaqila berhasil menjadi apa yang ayah harapkan Alhamdulillah Syaqila sudah menghatamkan hafalan Al- Qur'o yah, kermarin Syaqila juga habis wisuda sekolah dan Ayah tau? Syagila jadi lulusan terbaik terbaik, Yah," Syaqila berbicara sendi seolah dia sedang bercerita dengan ayahnya.

Kemudian, dia teringat dengan kejadian kemarin ketika didatangi keluarga Kyainya. Syaqila pun bercerita semuanya di depan makam Ayahnya. Dia tidak menyangka, takdir Allah memang tidak ada yang mengetahui.