The Most/Recent Articles

Kedudukan Pemimpin Perempuan dalam Perspektif Islam (Kepemimpinan Banazir Bhutto)

 


Wanita Muslim Pertama yang Memimpin Negara (Perdana Menteri Pakistan Tahun 1988-1993)

Benazir Bhutto, lahir di Karachi pada tanggal 21 Juni 1953, merupakan anak pertama dari mantan Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto. Benazir Bhutto perempuan yang telah dua kali terpilih menjadi Perdana Menteri merupakan seorang perempuan yang melalui strategi dan prestise mampu mengalahkan lawan politiknya yang otoriter. Hal ini yang menjadikan ia sebagai pelopor kepemimpinan perempuan pertama dalam Negara Islam.

Benazir Bhutto telah mengukir sejarah besar dalam kontribusi politik perempuan di dunia Islam. Semakin terbukanya kesempatan bagi Wanita Muslim dalam mengenyam Pendidikan lebih tinggu telah mendorong kaum Muslimah di seluruh dunia untuk semakin terlibat di bidang politik.

Bhutto dikenal antusias menghidupkan berbagai proyek ilmiah termasuk masalah penggunaan tenaga nuklir untuk energi. Masa kepemimpinannya telah berhasil meluncurkan, setidaknya, 5 program ruang angkasa nasional yang dimotori putra-putri terbaik Pakistan sendiri. Bahkan di era kedua masa pemerintahan Bhutto, Ketua Partai Rakyat Pakistan selama 25 tahun ini berhasil mempelopori era informasi dengan mewajibkan rakyatnya cakap mengoperasikan Komputer.


Karakteristik Kepemimpinan Benazir Bhutto

Beberapa hal yang dilakukan Benazir Bhutto saat menjadi Perdana Menteri, di antaranya:

1.      Menolak adanya literatur klasik yang dianggap sebagai kitab suci setelah Al-Qur’an dan hadis yang berisi adosentris dimana laki-laki menjadi ukuran segalanya (man is the measure of all things).

2.      Lebih menekankan pentingnya manifestasi dari substansi atau makna ketimbang aspek formalistik oleh kekuasaan otoriter yang membelenggu hak warga negara, terutama perempuan yang dianggap sebagai warga negara kelas dua. Sehingga melahirkan pemikiran kesetaraan gender pagi rakyat Pakistan yang telah lama tertindas oleh kesewenang-wenangan penguasa.

3.      Membentuk National Plan for Action (NPA) merupakan kebijakan Nasional untuk pengembangan dan pemberdayaan perempuan.

Kepemimpinan Benazir Bhutto membuahkan hasil yaitu demokrasi sebagai Pilar dalam menjalankan roda pemerintahan. Benazir Bhutto berhasil melunturkan budaya patriarki di tengah-tengah masyarakatnya. Melalui pendekatan women empowerment akan melihat bagaimana proses Benazir dalam meningkatkan kesadaran perempuan-perempuan di Pakistan agar bisa menyuarakan hak-haknya yang selama ini tidak terdengar di pemerintahan sebelumnya.

Berdasarkan latar belakang pendidikan dan masa lalunya membentuk Benazir dalam pembuatan kebijakannya. Sehingga di dalam kepemimpinannya, Benazir ingin mencapai nilai demokrasi di Pakistan dengan berusaha meningkatkan angka partisipasi perempuan di dalam perpolitikan Pakistan. Namun sebelum mencapai nilai demokrasi tersebut, Benazir berusaha menghapuskan angka diskriminasi terhadap perempuan dan juga memperbaiki sistem pendidikan di Pakistan.


Kepemimpinan Perempuan dalam Perspektif Islam

Islam adalah agama yang bersifat universal, mampu mengatur berbagai dimensi kehidupan anak manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, termasuk mengatur masalah kepemimpinan dalam mengkhalifahi bumi ini.

Ilmu kepemimpinan secara ilmiah kian berkembang, bersamaan dengan pertumbuhan Scientific Management (manajemen ilmiah). Kepemimpinan tidak lagi didasarkan pada bakat, pengalaman dan laki-laki saja, tetapi juga pada kemampuan dan kesiapan perencanaan, analisis, pengembangan secara sistematis untuk membangkitkan sifat-sifat pemimpin yang sesuai dengan tuntutan syari’at, agar mereka berhasil dalam tugas-tugasnya.

Kedudukan pimpinan perempuan dalam Islam merupakan sesuatu yang unik dan urgen dibicarakan, bahkan selalu menjadi perdebatan yang tak kunjung usai. Hal ini disebabkan karena kepemimpinan merupakan akad timbal balik antara pimpinan dan rakyat yang tugasnya cukup komplek, sebagai pelayan ummat yang harus mampu mewujudkan rasa keadilan, menciptakan rasa aman, menjaga disintegrasi sampai pada kemampuan mendaptakan Negara Baldatun Thaiyibatun Warabbun Ghafur “Negeri yang baik dengan Rabb (Tuhan) yang Maha Pengampun”.

Sebagai manusia ciptaan Allah SWT, perempuan juga berhak untuk memimpin, dalam lembaran sejarah Islam, Istri Rasulullah SAW, Aisyah R.A. juga pernah berperan dalam kancah kepemimpinan bahkan dalam peperangan. Perempuan juga diciptakan untuk menjadi Khalifah di muka bumi sebagaimana diberikan kepada laki-laki, namun dengan satu konsekuensi yaitu mampu mempertanggungjawabkan segala bentuk kegiatan yang dipimpinnya kepada Alah SWT.

Karakteristik Kepemimpinan Kasman Singodimedjo dalam Islam


Salah satu Tokoh Pemimpin Islam yang dapat kita lihat dari karakteristik kepemimpinan dalam Islam yaitu Kasman Singodimedjo lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada tanggal 25 Februari 1904, telah aktif dalam organisasi Muhammadiyah sejak masa mudanya, merupakan pemersatu bangsa, yang mempunyai sifat Patriotisme, dan rasa Nasionalisme, beliau hadir sebagai pemersatu antara golongan Islam dan Nasionalis, Kasman Singodimedjo dipercaya oleh Soekarno dan Hatta untuk meluluhkan hati Ki Bagus Hadikusumo supaya menerima usulan penghapusan tujuh kata terkait syariat Islam, telah berani mengambil resiko saat itu menjelang proklamasi kemerdekaan. 

Seusai pertemuan, Daidancho Jakarta mengadakan rapat gelap bersama 20 Daidancho lainnya di sebelah utara hotel KOOA, tempat mereka menginap. Sebagai Daidancho paling senior, beliau meminta mereka untuk mengabaikan perintah pelucutan senjata tersebut. Namun, tidak semua setuju usulan Kasman Singodimedjo. Mendengar itu, lalu beliau mengeluarkan sikap tegas, Kasman Singodimedjo adalah tokoh Muhammadiyah yang menjadi pionir banyak lembaga baru republik ini saat baru berdiri. Beliau adalah ketua KNIP, jaksa agung kedua yang mempelopori pembenahan organisasi kejaksaan agung, pemimpin badan keamanan rakyat, dan selanjutnya mempelopori pembentukan Tentara Keamanan Rakyat sebagai cikal-bakal TNI. Kasman Singodimedjo merupakan orang yang kritis, tidak hanya pada masa Soekarno tapi juga masa Soeharto, sebagai salah satu founding father bangsa ini, ia sangat terpanggil untuk meluruskannya, siapa pun pemimpinnya.

Karakteristik Kepemimpin Kasman Singodimedjo

Kasman merupakan tokoh Muhammadiyah yang mampu memposisikan politik dan agama dengan proporsi yang ideal. Pada kepemimpinan Kasman bangsa Indonesia bisa bersatu dengan membuktikan bahwa umat Islam itulah yang justru berjasa besar dalam mempersatukan bangsa. Kepemimpinan Kasman menumbuhkan rasa simpati terhadap agama Islam dan toleransi pada pemeluk agama lain. Latar belakang pendidikan dan kepribadian Kasman telah menjadikan beliau seorang yang selalu membela kepentingan rakyat kecil dan telah memberikan manfaat besar bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Kepimpinan kasman banyak memberikan manfaat dan contoh nyata untuk Indonesia di era modern seperti sekarang yang bisa diteladani, banyak memberi hikmah dan manfaat kepada bangsa Indonesia pada Era Modern. Kepimpinan kasman, mengajarkan kita sebagai muslim untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang ada dengan menggunkan taktik dan strategi dalam menjalankan kepimpinan di era modern sekarang. Pemikiran Kasman Singodimedjo, sumber kedaulatan tertinggi dalam ajaran Islam adalah Allah SWT (teokrasi), gaya kepemimpinan kasman yaitu spiritual, pemimpin memegang sikap untuk mengutamakan kepentingan maupun kebaikan orang lain atau masyarakat terhadap suatu organisasi.

Karakteristik Kepemimpin Dalam Islam

Pada prinsipnya menurut Islam setiap orang adalah pemimpin. Ini sejalan dengan fungsi dan peran manusia di muka bumi sebagai khalifahtullah, yang diberi tugas untuk senantiasa mengabdi dan beribadah kepada-Nya seperti yang tercantum dalam Q.S Al-Baqarah : 30.

Kepemimpinan dalam Islam adalah suatu hal yang inheren, serta merupakan salah satu sub sistem dalam sistem Islam yang mencakup pengaturan seluruh aspek kehidupan secara prinsip. Islam mengatur niat amal-tujuan sekaligus sumber kehidupan, otak manusia, kemudian mengatur proses hidup, perilaku, dan tujuan hidup. Dalam Islam seorang pemimpin dan yang dipimpin harus mempunyai keberanian untuk menegakkan kebenaran yang dilaksanakan melalui prinsip kepemimpinan, yaiutu melaksanakan kewajiban kepemimpinan dengan penuh tanggung jawab seorang pemimpin dan melaksanakan hak berpartisipasi bagi yang dipimpin (Feisal, 1995).

Konsep kepemimpinan dalam islam merupakan Sunnatullah / ketetapan Allah SWT, yang telah menjadikan manusia sebagai pemimpin. Kepemimpinan telah terlebih dahulu diperkenalkan dalam islam jauh sebelum para ahli mengemukakannya. Kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan yang didasarkan atas metode kenabian dalam rangka menciptakan kultur masyarakat madani memperoleh Ridha Illahi. Kepemimpinan itu wajib ada, baik secara syar‟i ataupun secara aqli. Adapun secara syar‟i misalnya tersirat dari firman Allah tentang doa orang-orang yang selamat pada surah Al-Furqan : 74.

Dari kepemimpian Kasma Singodimedjo gaya kepemimpinan yang bisa kita contoh dan bisa diaplikasikan sebagai seorang pemimpin adalah gaya kepemimpinan spiritual, yaitu kepemimpinan yang mampu memberikan dukungan dan pengaruh dan mengerakan melalui teladan dalam keagamaan yang taat dan menjunjung tinggi ajaran agama yang dianut, dan diterapkan. Salah satu teori kepemimpinan spiritual yang telah berkembang saat ini adalah spitual leadership theory di mana model kepemimpinan menggunkan motivasi dengan visi, harapan, nilai altruism dan kesejahteraan spiritual.

Sebuah Hantu Bernama 'Narsisme'

 

Manusia...

Tinggikanlah ia, maka ia akan makin rendah, rendahkanlah ia, maka ia akan makin tinggi bagaikan menara.

Manusia...

Ia ingin tinggi, tapi justru ia malah meninggikan dirinya... Sebuah paradoksal... Makin manusia meninggikan dirinya, justru makin rendah ia....

Bernarsis-narsislah engkau...

Hai manusia modern, apakah kau sadar, telah seberapa jauh kau terserap abbys kenistaan?

Manusia Modern, terjebak dalam chamber kesepian dan kepalsuan...

Manusia Modern, terpisah dari satu hal, yakni dirinya...

Begitulah, masyarakat lucu yang kita beri label "masyarakat berkemajuan".

Hai! Apa yang modern dan berkemajuan dari jiwa dan jati diri yang palsu?

Hai! Apa yang modern dan berkemajuan dari kepalsuan sosial dan fashionita.

Hai Manusia Modern, hai Konsumen Sampah! Tak sadarkah engkau, betapa lucunya engkau?

Kau tenggelam dalam lembah kehinaan, meninggalkan apa yang baik bagi dirimu, mengambil jalan mundur dari apa yang semestinya kau majukan.

Manusia Modern, terjebak dalam maskulinitas palsu, terjebak dalam cinta-cinta pseudonistik.

Duh, duh, duh. Betapa sudah membosankannya mengejar kebaikan itu!?

Memang, yang membosankan seringkali yang terbaik, yang menyenangkan seringkali yang menghancurkan.

Kalau Miskin itu Privilige, Takkan Ada Lagi Orang Miskin di Dunia

 


Kemarin ada influencer yang membuat branding tentang kemiskinan sebagai sebuah Privilege. Ada banyak pro kontra dari pernyataan influencer tersebut, tapi memang lebih banyak kontranya dari pada yang pro. Hal yang jadi masalah juga adalah, alasan netizen ingin kontra dengan argumen influencer tersebut hanya karena yang berbicara itu telah menipu banyak orang terkait trading ilegalnya. Seharusnya kita bisa menahan diri dan memisahkan sebuah argumen dengan seseorang yang berbicara di belakangnya, karena itu adalah dua hal yang berbeda, kita harus menyerang argumennya, bukan orangnya ketika dalam konteks pengajuan opini dari seorang Individu.

Tentang miskin itu Privilege, sebenarnya ada masalah di sana tentang apa saja yang bisa kita sebut hak-hak istimewa (Privilege). Kita masuk ke dalam pembahasan yang relatif di sini, karena ada banyaknya sekat-sekat di antara kita sebagai kelompok yang berbeda, dan tentunya masing-masing kelompok memiliki hak istimewa yang berbeda-berbeda juga. Contohnya sebagai seorang artis, orang-orang tersebut pastinya memiliki privilege-nya tersendiri, misalnya jadi kaya raya dan hidup mapan, seorang artis juga dapat dikenal banyak orang, tapi ada juga harga yang harus dibayar dari seorang artis, misalnya seperti kehilangan privasi. Begitu juga dengan sebaliknya, untuk orang-orang yang tidak terkenal atau orang biasa, bisa saja dia punya privilege karena privasinya terjaga, tapi ia tidak punya privilege seperti banyak artis yang kaya raya dan terkenal. Jelasnya, perihal mendefinisikan apa yang bisa disebut privilege dan tidak ialah hal yang relatif, ada hal-hal yang bagi kita keuntungan, dan bagi orang lain merupakan kerugian.

Dari sinilah argumen influencer tersebut mengambil celah sebagai pernyataan yang seolah-olah sudah pasti benar dan absolut, karena dia mengklaim terlahir miskin itu privilege. Lalu pertanyaannya adalah, di mana memang letak privilege-nya dari kehidupan yang miskin? Padahal miskin itu kan susah dan menyedihkan. Memang jika merujuk dari penjelasan sebelumnya, dalam setiap hal pasti ada privilege-nya, begitu juga dengan kemiskinan. Kemiskinan bisa menjadi sebuah privilege bagi seseorang sebagai pelecut untuk terus berjuang, karena orang yang terlahir kaya itu tidak punya kondisi yang sama seperti orang yang terlahir miskin. Orang yang sudah kaya, kebanyakan tidak paham apa itu berjuang sekuat tenaga, sedangkan orang miskin paham tentang rasa berjuang itu. Nah, keinginan untuk terus berjuang tersebut sebagai seorang manusia tentunya menjadi hal positif dan hal tersebut banyak didapati dalam kondisi kemiskinan daripada kondisi kekayaan. Maka tentang rasa berjuang yang tak habis-habis, kondisi kemiskinan memang menang terhadap kondisi yang mapan.

Lagi-lagi hal yang jadi masalah adalah, keinginan untuk terus kerja keras itu tidak selalu memberikan kita kekayaan. Lihatlah para petani di sawah, pekerja bangunan di gedung-gedung mewah, mereka adalah orang-orang yang paling gigih kerjanya, paling semangat kerjanya, paling ingin cepat selesai kerjanya. Lantas, apakah itu cukup untuk membuat mereka kaya? Kan tidak juga, karena untuk kaya bukan tentang siapa yang paling keras kerjanya, tapi siapa yang paling cerdik kerjanya, dan tentunya, apakah cerdik juga menjadi sebuah hak istimewa dari menjadi miskin? Tidak juga kan, mereka saja pendidikan formal sebagai akses pekerjaan layak juga banyak yang tidak tamat.

Kecerdikan itu ada banyak indikatornya, seperti relasi bisnis, pengetahuan umum tentang dunia, kecerdasan emosional, dan banyak lainnya. Semua itu tidak bisa didapatkan hanya dengan menjadi miskin. Hal-hal tersebut didapatkan oleh orang-orang yang sudah terlahir kaya.

Privilege itu memang ada pada semua tempat, tapi bukan berarti kualitas privilege-nya sama semua. Buat apa kita hanya dapat privilege semangat bekerja, tapi tidak dapat privilege cerdik bekerja. Sedangkan untuk orang-orang kaya, buat apa perlu semangat bekerja, kalau cerdik bekerja saja sudah dapat menyelesaikan semua urusan.

Itulah kenapa masih banyak orang miskin di dunia ini, padahal ada privilege di dalam kemiskinan. Influencer tersebut tidak salah dalam menjelaskan bahwa terlahir miskin itu ada privilege-nya, tapi yang salah dari dia adalah, dia tidak menjelaskan bahwa privilege orang-orang yang terlahir kaya atau berkecukupan itu akan lebih menang jika diadu dengan privilege-nya orang miskin. Maka dari situ, masalah tentang kaya dan miskin adalah hal yang rumit, ia tidak mudah untuk dijelaskan, karena ada banyak hal-hal yang kita tidak sadari ketika menganalisis sesuatu, karena kita tidak cukup tanggap dalam melihat masalah yang sebenarnya.

Untuk influencer tersebut, kita janganlah terlalu menghina pribadinya, atau mengungkit-ungkit masalahnya ketika kita sedang membahas argumennya, karena kita harus adil dalam menanggapi opini, dan kita juga harus tetap dalam batasan-batasan yang seharusnya, untuk masalah moral. Biarlah pihak berwajib yang mengurusinya, kita tidak punya kewenangan di sana.

Yakin Sudah Bermoral?

 


 “Halo, Dek. Sudah siap berangkat?”

“Udah siap dong, ayo keburu telat masuknya,” ucap Sophia

“Oke, aku kesana sekarang,” ucap Iwan sambil menaiki motornya.

Mentari menampakkan dirinya, menggantikan posisi bulan yang sinarnya sama-sama menerangi dunia. Burung-burung sudah memulai pekerjaan. Ayam pun sudah mengeluarkan nyanyian merdunya. Hari ini, Sophia berangkat ke kampus ditemani pacarnya.

Seperti biasa, ketika pembelajaran sudah dimulai 30 menit, semua mahasiswa merasa bosan karena penjelasan dosen yang sangat garing. Penggunaan metode ceramah yang sangat tidak menarik cukup sukses menghipnotis mahasiswa agar mudah tidur nyenyak di kelas. Demi menghindari kontra dengan dosen, Sophia hanya diam karena takut nilai yang diberikan dosen menjadi jelek.

“Baik saya rasa cukup penjelasan pada kali ini, silakan kalian membuat kelompok dan buatlah suatu proker yang menurut anda bermoral bagi orang sekitar,” ucap dosen tua dengan rasa jengkelnya.

“Baik pak,” ucap mahasiswa serentak.

Begitu dosennya keluar dari ruangan, hipnotis yang ada di dalam kelas langsung hilang. Semua mahasiswa seketika kehilangan rasa mengantuknya. Tanpa basa-basi komting pun membagi kelompok untuk pembuatan proker. Namun, Iwan, salah satu mahasiswa yang menolak mentah-mentah pembagian kelompok yang dibagikan oleh komting.

“Loh kok gini pembagiannya, pokoknya aku nggak mau kalo tidak sekelompok sama Sophia,” ucap Iwan dengan nada marah.

Haduhhh bucin akut, nggak mau dipisahin sama pacarnya tuh. Udahlah, tuker aja, Ab, biar urusannya tidak panjang,” ucap Sarah dengan tatapan sinisnya.

Abni pun mengubah tatanan kelompok, dimana Iwan dan Sophia menjadi sekelompok. Setelah pemilihan kelompok, Iwan mengajak Zaka, Lia, Sophia ke taman supra untuk mendiskusikan proker yang akan dijalaninya. Keempat mahasiswa tersebut dapat dikatakan pintar di dalam kelasnya. Hanya menghabiskan waktu 30 menit, Iwan dan temannya sudah memiliki ide untuk prokernya.

“Yaudah, fix ya kita buat program ini?” ucap Sophia dengan senyum manis di wajahnya.

“Kalo aku setuju sih, soalnya di daerah kampus kita belum ada program seperti ini,” ucap Zaka sambil asyik bermesraan dengan Lia.

“Oke lah berarti besok kita kumpul jam 8 pagi di pombensin dekat kampus ya,” kata Iwan sambil tergesa-gesa memakai jaket meninggalkan Zaka dan Lia berdua di taman Supra.

Keesokan harinya, awan hitam menyelimuti langit. Matahari tidak diperkenankan tampil untuk mengunjukkan diri. Seketika awan mengisyaratkan peperangan dengan bumi melalui petir dan air yang dijatuhkan dari atas langit. Proker pun masih tetap berjalan di tengah hujan yang lebat. Mereka rela menutupi kardus yang bertuliskan “Galang Dana untuk Korban Gempa Bumi di X” dengan payung yang kecil.

Namun tidak disangka bahwa ada seorang anak kecil berdiri di sudut jalan sambil melihat aksi galang dana yang dilakukan oleh Iwan dan temannya. Hanya Iwan dan Sophia yang menyadari hal tersebut. Dia berlari meninggalkan tempatnya setelah melakukan kontak mata dengan Iwan dan Sophia.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Iwan dan Sophia meneduh duluan dan meninggalkan Zaka dan Lia. Iwan kemudian melepaskan jaketnya dan memasukkannya ke dalam jok motor.

“Kenapa tidak dipakai jaketnya? Padahal kamu kan lagi sakit,” ucap Sophia dengan perhatiannya.

Seketika Iwan diam dan menatap mata Sophia dengan dalam-dalam.

“Heh malah ngelamun!!” sontak Sophia dengan menepuk pundak Iwan.

“Tahu gak, padahal aku jago renang, tapi saat melihat kedua matamu aku terasa tenggelam,” ucap Iwan dengan seyum yang lebar.

“Gombal terussss, eh tapi kamu tahu gak Wan, tadi malam aku tiba-tiba memikirkan arti moralitas tentang tugas dosen yang diberikan ke kita,” ucap Sophia.

“Cakep... kita sepemikiran. Aku punya opini yang mungkin masih relatif tidak difikirkan oleh banyak orang tentang arti memaknai kata moralitas,” ucap Iwan dengan serius.

“Apa tuh apa?” Sophia tertarik dan menghadapkan badannya ke Iwan.

“Ternyata moralitas itu hanya soal egoisme manusia demi kepentingan atau kelompoknya sendiri. tapi yasudahlah nanti kamu bakal paham sendiri apa maksudku,” kata Iwan dengan sedikit gugup ketika Sophia, orang yang dicintainya menghadap ke dirinya.

Iwan pun meninggalkan Sophia untuk melakukan shalat di masjid yang berada di seberang jalan. Sophia terlihat masih berfikir keras dan ingin memahami arti kata yang dilontarkan Iwan.

Hingga malam tiba, Sophia mandi dan masih memikirkan arti kata yang dilontarkan Iwan siang tadi. Tiba-tiba Sophia teringat satu kejadian saat aksi galang dana siang tadi.

“Mungkin apa ada hubungannya dengan anak kecil yang menatap kita saat galang dana ya. Anak kecil tersebut sepertinya seorang anak yatim piatu yang ditinggalkan saudaranya. Kita mungkin merasa salah tempat karena telah merebut rezeki orang lain. Ah tapi kan ini juga buat kepentingan masyarakat yang terkena bencana,” gumam Sophia sambil mengeramasi rambut hitam panjangnya dan mengakhiri mandinya.

Sebelum tidur, Shopia terlelap dalam pikirannya sendiri dan berfikir bahwa dengan mengambil sumber penghasilan pengamen anak tadi, dia merasa bahwa kelompok dia tidak mencerminkan sikap moral yang baik. Namun hal ini tidak terfikirkan ketika sedang melakukan galang dana. Mereka hanya berfikir bahwa menolong orang dengan kuantitas yang banyak menjadikan orang lain berfikir bahwa itu adalah kegiatan yang bermoral. Di sisi lain, mereka tidak sadar bahwa mereka telah mencuri penghasilan pengamen kecil yang menggantungkan hidupnya di jalanan.

 

 

Salahkah Kita Saling Mencinta?

 


           

Di pagi yang cerah aku bergegas menuju sekolah yang terletak tidak jauh dari rumah. Baru saja sampai di pertigaan yang tak jauh dari rumah, aku melihat seorang siswi yang anggun berjalan sendirian di belakang beberapa siswi lainnya yang berjalan secara berkelompok.

Aku melangkahkan kakiku lebih cepat untuk menghampiri gadis anggun itu. Setelah berada tidak jauh darinya, aku memberanikan diri untuk menyapa.

"Hai… sapaku.

“Halo...” Ia menjawab seraya melempar senyum ramah padaku.

Senyumnya membuatku sedikit kikuk. “Sepertinya aku baru pertama kali melihatmu? Kamu sekolah dimana?”

“SMK Merdeka Mandiri”

“Loh kita satu sekolah! Apa kamu siswa baru?" Kini aku berjalan sejajar dengannya.

"Ya, aku siswa baru di sekolah ini, aku pindahan dari luar kota."

“Aku Fino, kelas XII, jurusan Otomotif. Boleh tau namamu?" Dengan polosnya aku  bertanya.

"Boleh, aku Putu Ayu Sekartini, jurusan Administrasi Perkantoran."

"Wah, sungguh cantik namamu, seperti bunga Dahlia…"

Ia tak menjawab, hanya tersipu malu, terbukti dengan pipinya yang memerah.

Tidak berselang lama, kami pun sampai di depan gerbang sekolah. Bel masuk berbunyi dan kami bergegas untuk mengikuti apel pagi. Setelah melaksankan apel pagi kami, masuk ke kelas masing-masing. Kelas kami berbeda, dia berada di lantai satu sedangkan aku berada di lantai dua. Waktu berjalan dengan cepat mulai dari awal jam pelajaran hingga sampai akhir, aku mengikutinya dengan bersemangat. Akhirnya bel pertanda pulang pun berbunyi, waktu pulang sekolah aku menghampirinya dan bertanya.

 "Pulang sama siapa?

“Sendiri”

Sama aku aja, kebetulan rumah kita tidak cukup dekat."

“Baiklah, terima kasih mau menemaniku,” jawab Ayu sembari berjalan mengimbangi langkahku yang cukup cepat. Di perjalanan kami berdua mengobrol dengan asyiknya, hingga bertukar nomor HP.

Setalah tiga bulan kami saling mengenal satu sama lain hingga begitu akrab. Suatu ketika, aku mengajaknya untuk singgah di sebuah kafe. Hari itu kami libur sekolah, karena tanggal merah. Kulihat ia memakai kemeja dan jilbab coklat, bercelana jeans dengan sepatu berwarna putih. Aku pun tidak kalah dalam hal penampilan, kukenakan kemeja abu-abu dengan celana yang warnanya hampir mirip, rambutku cukup panjang namun rapi, ditambah sepatu hitam mengkilap yang baru saja kucuci kemarin. Pembicaraan terjadi dengan begitu santai dan mengalir, sampai akhirnya aku bertanya.

“Apa kamu sudah punya pacar, Yu?”

Dia hanya terdiam, melihat wajahku sekilas, lalu membuang muka.

Maaf bila pertanyaanku lancing.”

“Pertanyaan dengan maksud apa nih?Kini ia melempar senyum ke arahku.

Aku hanya bertanya kok." Senyumnya membuatku canggung.

“Sebenarnya, aku belum punya pacar. Apalagi pasangan yang mau nerima aku," ujarnya  dengan senyum yang kini tersipu malu.

Mmm…. Sejujurnya aku suka kamu, apakah kamu mau jadi pacarku?” tanyaku dengan sedikit ragu.

Dia hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaanku.

“Kenapa diam saja, Yu?” Aku bertanya kembali dengan keadaan hati yang panik.

“Aku nggak bisa, Fin!” Tiba-tiba ia menjawab dengan nada yang cukup tinggi.

“Maksdunya nggak bisa gimana, Yu?” Aku bingung dengan jawabannya.

Maaf, aku nggak bisa... Pacaran itu haram, kita beda prinsip soal ini” jawabnya kembali.

Suasana sore itu pun terasa begitu canggung hingga sampai di pengujung  waktu makan, kami tidak saling bicara satu sama lain. Seusai makan Ayu langsung pamit untuk pulang mendahuluiku. Aku tidak sempat mengiyakan atau melarang, karena ia pergi begitu saja.

“Apakah aku salah?” batinku.

Beberapa hari telah berlalu, kejadian hari itu benar-benar telah memberikan pengaruh yang begitu besar bagi kami berdua. Aku sudah tidak saling berkomunkasi dengannya baik lewat chat  atau pun berbicara langsung, bahkan saat betemu pun kami tidak saling bertegur sapa. Hal ini terus berlanjut hingga akhir semester ganjil selesai. Lalu di suatu hari aku memberanikan diri untuk menghubunginya lewat Whats App.

Yu, gimana kabarmu?

Baik kok.

Jawabannya terasa sangat ketus.

Syukur kalo baik.

Aku tidak berani bicara lebih banyak, biarlah semua berjalan sesuai apa yang telah digariskan, kalaupun ia harus menjauh, menjauhlah. Setidaknya aku sudah mengungkapkan perasaanku, meski jawabannya tidak seperti yang aku harapkan. Apakah cita harus selalu memiliki?

            Sebenarnya ada kalimat yang masih mengganjal. Perihal pacaran, ia berpendapat bahwa itu sebuah hal yang haram, mungkin itu alasan mengapa ia langsung pamit untuk undur diri saat itu. Aku sendiri tidak terlalu mengerti terkait hukum pacaran, tapi lagi-lagi aku mencoba untuk tidak peduli dengan apa yang telah terjadi.

            Suatu ketika, saat istirahat sekolah, aku memberanikan diri untuk menemuinya untuk mengkapkan sesuatu. Ia sedang sendirian di sudut kelasnya, kebetulan hanya ada beberapa siswa di kelas itu.

            “Yu, kenapa kamu akhir-akhir ini menjauh dariku?”

            Ayu kaget saat aku tiba-tiba bicara tanpa menyapa terlebih dahulu. Ia memilih untuk membuang muka.

            “Ikut aku sebentar, ke belakang sekolah.”

            Aku berjalan ke arah belakang sekolah, sembari berharap ia mengikutiku. Sekitar lima menit aku menunggu, hidungnya belum juga tampak. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kelas, akan tetapi sebelum aku melangkah, ternyata ia dating menghampiriku.

“Ada apa, Fin? Mau ngomongin apa?”  

Kini aku yang terdiam, pasalnya aku tidak mempersiapkan apa pun untuk dibicarakan.

“Sebelumnya aku minta maaf, Fin. Kalau memang sikapku berubah, itu karena aku tidak ingin kita pacaran. Perihal perasaan, sejujurnya aku juga merasakan hal yang sama denganmu.”

Bagai tersambar petir di siang bolong, aku mendengar kalimat itu. Kukira ia membenciku setelah dengan lancangnya aku mengajaknya pacaran. “Lantas, mengapa kamu menghindar?”

“Kamu tahu sendiri, perihal prinsipku soal pacaran. Pacaran itu haram, apa pun kegiatannya,” Ia menjawab dengan nada putus asa.

“Apakah pacaran menurutmu selalu dipenuhi dengan nafsu? Apa bedanya kita yang saling mencintai, lalu sering bertemu namun tidak pacaran, dengan apabila kita pacaran? Kan sama-sama sering bertemu, toh kalau kita bertemu juga tidak melakukan hal yang aneh-aneh?”

Ia memilih bungkam, mungkin sibuk mencari tahu kebenaran jawaban dari pertanyaaku.

“Baiklah, tak apa kalau kita tidak pacaran, tapi apakah salah bila kita saling mencintai?”

Suasana semakin hening, sunyi. bungkam.