The Most/Recent Articles

Yang Rapuh Bisa Tumbuh

 


Siang ini langit terlihat begitu cantik dengan sinar matahari yang terik, seperti membangkitkan semangat pada tubuh-tubuh yang sudah lelah. Memberikan senyum kepada jiwa-jiwa yang rapuh. Seperti jiwa pada remaja ini yang terlihat lemah, remaja ini menangis dengan penuh rasa sakit.

Namanya Adhi Ardhana, dia hidup di desa kecil yang jauh dari perkotaan dan jauh dari saudara-saudaranya. Adhi hidup hanya bersama kakek dan neneknya di desa. Ibunya sudah meninggal dan ayahnya pindah ke kota meninggalkan Adhi dengan-kakek neneknya.

Saat masuk sekolah menengah atas, Adhi Merasa takut,  tidak akan ada yang mau berteman  dengannya, karena melihat kondisi keluarganya yang memperihatinkan. Semua orang yang tinggal di sekitarnya sudah paham tentang Adhi yang tidak mempunyai orang tua dan kondisinya sangat miskin. Adhipun dijauhi teman-temannya

Setahun telah berlalu, kini dia menduduki bangku kelas 2 SMA, Adhi bukan hanya dijauhi, tapi menjadi korban bully yang dilakukan oleh teman sebayanya di sekolah.

Setiap pulang sekolah, Adhi selalu mengadu di pangkuan neneknya sambil menangis meluapkan semua rasa sedihnya karena selalu di-bully di sekolahnya. Kakeknya pernah beberapa kali melaporkan kasus ini ke pihak sekolah, namun respon pihak sekolah jauh dari harapan.

Nenek Adhi selalu berusaha menguatkan Adhi dengan mengatakan, "Sudahlah cucuku, jangan terlalu berlarut dalam kesedihan. Jadikan saja hinaan dari teman-temanmu sebagai motivasi agar kamu bisa membuktikan bahwa kamu bisa tumbuh dan berkembang lebih baik dari mereka yang sudah menghinamu," kata nenek Adhi.

Keeseokan harinya Adhi kembali bersekolah seperti biasanya.

Tidak ada yang memberitahu Adhi bahwa hari ini ada ulangan karena ia akhir-akhir ini jarang masuk ke kelas, Adhi tidak ada persiapan alhasil nilai ulangan Adhi pun jelek. Adhi semakin diejek teman-temannya bahkan kali ini lebih parah, ada yang sampai mendorongnya hingga terjatuh.

“Dasar bocah bodoh! udah nggak punya orang tua lagi!”

Adhi kembali di dorong oleh teman-temannya bahkan kakak kelasnya yang berbadan lebih besar darinya. Adhi hanya terdiam di lantai sambil menahan sakit. Kini Adhi dikelilingi oleh teman-teman yang berbuat jahat padanya sedari tadi.

“Kasian banget sih lo! Udah tau nggak akan ada yang mau nerima to di sini, tetep aja sekolah di sini. Bego!” kata salah satu pelaku, disertai tawaan dari pelaku Lainnya. Adhi tidak pernah melawan mereka, karena Adhi tidak mau membuat keributan di sekolahnya.

Adhi ingin melawan, namun tetap saja kalah jumlah. Pernah sesekali ia melawan dan hasilnya tidak baik untuknya. Ketika teman- temannya lengah, ia langsung mencari kesempatan untuk lari. Adhi langsung menuju ke arah gerbang sekolah dan memutuskan untuk pulang ke rumah. Sepulang dari sekolah Adhi memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah karena sudah tidak tahan dengan hinaan teman-temannya.

Pada suatu malam Adhi meminta izin kepada neneknya untuk keluar sebentar menenangkan fikirannya, beberapa menit ia berjalan, tiba-tiba dari kejauhan ia melihat ada beberapa orang yang sedang berkelahi. Adhi bersembunyi di balik pepohonan sembari mengamati dari kejauhan, tak lama kemudian Adhi merasa mengenal salah satu remaja yang ternyata sedang dikeroyok.

Dan benar, ternyata ia adalah Daru, teman sekolahnya. Daru tampak kelelahan karena ia dikeroyok oleh tiga orang. Tak pikir panjang Adhi berlari mendekat ke arah Daru, Adhi berusaha membantu Daru yang sudah babak belur.

“Kenapa lo kesini?!” tanya Daru.

“Udah, jangan banyak nanya, ayo lawan dulu!”

Adhi dan Daru melawan tiga orang tersebut bersama - sama. Tak berselang lama datang polisi yang sedang patroli, kemudian mendatangi mereka, akhirnya tiga orang tadi kabur meninggalkan Adhi dan Daru.

Melihat lawannya lari, Daru langsung mengajak Adhi untuk lari ke arah yang berbeda.

“Cepet lari, nanti ketangkep!” seru Daru.

Adhi mengikuti langkah kaki Daru yang terbilang sangat cepat. Sampai akhirnya mereka tiba di salah satu gang yang dinilai aman.

“Lo nggak papa?” tanya Adhi pada Daru.

"Iya, nggak papa. Lecet dikit,” jawab Daru.

“Oke, gua pulang duluan ya”

“Tunggu, Dhi, gua mau ngomong sama lo”

Daru duduk di pinggiran jalan, disusul dengan Adhi di sampingnya.

“Sebelumnya gua terima kasih sama lo, Dhi, udah nolongin gua."

“Iya, santai aja, Ru.”

“Eem, gua minta maaf ya Dhi... Di sekolah gua sering ngehina lo, karena emang gua benci sama lo Dhi haha," dengan senyum kecut Daru menahan rasa sakitnya.

“Gua tau, Ru, gua emang layak buat dibenci”

Daru melirik ke arah Adhi.

“Gua benci lo karena lo masih punya keluarga Dhi, walaupun gak utuh, tapi lo masih punya kakek-nenek lo yang sayang sama lo. Gak kaya gua, gua bener - bener udah gak punya siapa - siapa di sini. Ayah-Ibu gua ninggalin gua sendirian di rumah, gua gak tau mereka ke mana" ucap Daru.

“Gua iri sama lo, Dhi, seengganya masih ada orang yang mau mendorong lo buat kuat ngadepin dunia kejam ini,” lanjut Daru.

Adhi melihat Daru dengan tersenyum, sekarang dia tahu alasan kenapa Daru sering menghinanya.

“Udah, Ru, pulang, udah malem. Sembuhin luka lo, terus istirahat,” kata Adhi sambil menepuk pundak Daru.

“Iya, Dhi. Thank's ya”

“Iya, Ru”

Keesokan harinya Adhi kembali berangkat ke sekolah. Bu Nisa, wali kelasnya langsung memanggilnya karena tidak hadir beberapa hari sebelumnya.

“Kenapa kemarin-kemarin Adhi tidak berangkat ke sekolah, Nak?” tanya Bu Nisa kepada Adhi.

Adhi pun hanya terdiam.

"Kalau ada masalah ceritakan saja ke ibu, barangkali ibu bisa membantu,” kata Bu Nisa sembari tersenyum.

Adhipun bercerita kalau di sekolahnya dia selalu menjadi bahan ejekan teman-temannya, lalu dengan kata yang halus dan bijaksana, Bu Nisa Berhasil meluluhkan dan menenangkan hati Adhi yang sempat berniat untuk keluar dari sekolah.

“Dari kejadian ini, kamu sudah hebat, Nak, sudah mau bertahan selama ini. Ibu yakin kamu bisa melewati ini semua sampai lulus nanti. Nanti Ibu berikan peringatan kepada teman- temanmu yang sudah menghinamu.”

“Jangan terlalu memperdulikan ejekan orang lain, tetap semangat belajar. Buktikan kepada orang yang menghinamu bahwa kamu bisa mengalahkan mereka dengan prestasi yang kamu puny,a” kata Bu Nisa sembari tersenyum.

Adhi pun luluh, dan dia akan selalu belajar dengan rajin, la memilih untuk tidak memperdulikan ejekan dari teman-temannya lagi. Usahanya ternyata tidak sia-sia, dia menjadi rangking satu di kelas dan menjadi siswa terbaik di sekolahnya. Adhi merasa bangga dengan prestasi yang sudah diraihnya. Walaupun tetap saja ada yang mengejeknya, tapi Adhi tidak perduli. Adhi tetap berfokus pada masa depannya untuk tetap rajin belajar dan membanggakan Kakek-Neneknya.



*Nabila Zaskia Azzahra, adalah santri di Pondok Pesantren Al-Hikmah 1 Benda Sirampog Brebes sekaligus mahasiswa Semester 2 di STIT Al-Hikmah Benda.

Garis Luka Pesantren

 


Semilir angin malam ini menemani kesunyian, yang sejuk di Desa dengan nuansa pesantren yang kental ini. Bangunan pondok pesantren yang dihuni oleh para santri tampak begitu indah. Di tempat tersebutlah mereka belajar, berdiskusi, dan bersama-sama Menuju generasi yang baik lahir dan batin.

Berbeda dengan Haifa, seorang remaja perempuan yang sedari tadi menyendiri di seberang desa, Menikmati tenangnya malam, namun dengan rasa kesepian. Haifa hidup di Desa Santri tapi tidak tahu sedikit pun tentang dunia pesantren. Haifa ingin sekali belajar di Pesantren sejak dia masih SD dan sampai sekarang belum Haifa rasakan.

Keesokan Paginya....

“Ma… Haifa mau belajar di pesantren,” ujar Haifa.

“Bicara saja ke bapakmu.” Ibunya menjawab sembari mencuci piring bekas suaminya sarapan "tapi, tetap dengarkan kata Bapakmu!"

Haifa memilih untuk tidak berbicara kepada Bapaknya karena ia tahu pasti jawabannya akan sama 'tidak boleh!". Pikir bapaknya tidak usah berlagak suci dengan Mondok di pesantren segala, Tak berguna. selalu saja seperti itu.

Haifa Memilih hidup bersama anak- anak yang bebas pergaulannya, karena ia merasa hidupnya tidak seperti hidup anak-anak lainnya yang bahagia. Haifa melampiaskan rasa kecewanya dengan minum minuman keras, keluyuran malam tidak jelas, hingga tidak pulang ke rumah.

Hingga pada suatu malam ia terlalu banyak minum sampai merasakan mabok berat, dia ditinggal oleh teman-temannya. Haifa sendirian dijalan, tidak ada yang menolongnya. Tak lama kemudian Haifa merasakan pusing yang sangat hebat sampai ia teregeletak ditengah jalan.

Haifa membuka matanya, ia masih merasakan pusing di kepalanya.

"Kamu sudah sadar, sebentar saya ambilkan minum," ucap remaja putri yang sedari tadi di sampingnya.

"Silahkan diminum, mari saya bantu duduk." Sembari tersenyum ia menyodorkan air.

"Saya dan Abah-Umi saya tadi menemukan kamu di jalan sendirian dalam kondisi pinsan, makannya  kami membawamu ke sini. Kamu orang mana? Oh ya nama saya Zahra. kenapa kamu sendirian tadi? nama kamu siapa?”

Haifa hanya terdiam “kamu masih pusing yah? maaf yah dari tadi saya nanya terus, ya sudah istirahat dulu yaa, saya tinggal dulu sebentar..”

 “Nama gua Haifa. Ini gua di pesantren ya?!” tanya Haifa pada Zahra.

“Oh iya, kamu di pesantren Abah saya”

“Anterin gua pulang sekarang!”

"Loh, kamu kenapa Haifa?"

"Kalau lu gak mau nganterin. Biar gua pulang sendiri!”

"Kamu belum sembuh, di sini dulu saja sampai keadaanmu membaik"

"Gua nggak boleh di pesantren, gua gak pantes ada di sini, gua udah terlalu buruk, gua udah rusak!” Haifa berdiri sambil mendorong kursi di sebelahnya.

Umi yang dari tadi di luar pun masuk ke kamar zahra setelah mendengar ada keributan.

“Nak, tenang! tidak ada orang yang benar-benar sempurna di dunia ini, semua orang pasti punya cerita kelamnya masing-masing. Yakinlah, Nak, bahwa kamu kamu bisa mengubah diri menjadi lebih baik”

Umi pun mendekati Haifa dan kemudian memeluknya, sungguh rasa sayang ini belum pernah ia rasakan. Kemudian umi mengajak Haiifa untuk menemui Sang Kiyai, kini mereka sudah berada di ruang tamu.

"Haifa, Sebenarnya apa yang terjadi? Kami tadi menemukanmu di jalan dalam keadaan pingsan,” tanya Umi.

“Iya, sebenarnya apa yang terjadi, Nak? Bicarakan saja, barangkali kami bisa membantu,” ujar Abah.

Haifa terdiam, lalu dengan ragu-ragu ia mulai Menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada mereka.

“Jika seperti itu keadaanya, untuk sementara waktu, kamu menetap di pesantren ini saja sampai keadaanmu benar-benar membaik,” saran Abah pada Haifa.

“Benar, Nak, untuk sementara waktu tinggalah saja di pesantren ini,” sambung Umi.

“Tapi bagaimana dengan orang tua saya yang melarang saya untuk berada di pesantren?”

“Saat kamu pulih, nanti kami antarkan kamu ke rumah.”

Haifa hanya mengangguk pelan.

4 tahun kemudian......

Haifa berhasil mengubah dirinya menjadi wanita muslimah yang memiliki banyak prestasi baik akademik maupun hafalan Al-Qur’an, sehingga membuat dirinya dikenal oleh masyarakat luas. Empat tahun lalu, Abah dan Umi bertemu dengan keluarga Haifa. Setelah perbincangan dan negoisasi yang cukup alot, akhirnya orang tua Haifa menyetujui agar Haifa tinggal di pesantren. Peristiwa tersebut tak hanya mengetuk hati Haifa, namun juga keluarga Haifa untuk kembali ke jalan Allah.



Nabila Zaskia Azzahra, adalah santri di Pondok Pesantren Al-Hikmah 1 Benda Sirampog Brebes sekaligus mahasiswa Semester 2 di STIT Al-Hikmah Benda.

MFH Institute Sosialisasikan Pentingnya Perlindungan Konsumen dan Data Pribadi dalam Dialog Interaktif


Kediri, 25 Januari 2024 - Dalam upaya terus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlindungan konsumen dan data pribadi di era digital, MFH Institute  menggelar acara diskusi dan bedah buku yang penuh inspirasi dengan tema "Korelasi Hukum Perlindungan Konsumen dan Perlindungan Data Pribadi."


Forum yang berlangsung di Domination Coffee, Kediri, berhasil mengumpulkan lebih dari 20 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Pembukaan acara yang penuh semangat oleh Davin sebagai pembawa acara memberikan sentuhan yang menyegarkan sebelum memasuki inti diskusi yang dipandu oleh Fajar Sodik.


Muhammad Fachrul Hudallah, penulis buku yang fokus terhadap masalah Perlindungan konsumen, menjadi pemateri utama. Sambutan Lukman Aulia Rahman dari Indramayu menggarisbawahi urgensi langkah-langkah preventif di era digital yang dinamis, sedangkan Kurnia Faizatul Muna, selaku Direktur MFH Institute, menyampaikan harapan agar institusi ini terus menjadi agen perubahan dan pengetahuan.


Diskusi yang terjadi menyoroti permasalahan aktual, terutama mengenai bahaya kebocoran data pribadi dan perlindungan konsumen. Fachrul Hudallah memberikan pemahaman mendalam mengenai perlunya langkah pencegahan yang lebih aktif dari pemerintah.


Peserta aktif mengajukan pertanyaan tajam, membuka diskusi mengenai deteksi kebocoran data pribadi melalui berbagai platform, relevansi regulasi terkait perlindungan data dan konsumen, serta keterkaitan antara dua aspek tersebut di tengah era distrupsi.


Fachrul Hudallah juga menekankan pada pentingnya pengawasan yang lebih ketat, sejalan dengan UU No. 27 tahun 2022. "Kita perlu mencegah kejenuhan dan ketidakpedulian terhadap kebocoran data di pasar ilegal, khususnya di dark web," ungkapnya.


Sebagai penutup yang bijak, Fachrul Hudallah membagikan dua buku secara gratis kepada peserta, mengajak mereka untuk mendalami lebih lanjut isu-isu yang dibahas dalam acara ini. Dengan keberhasilan acara ini, MFH Institute  memberikan kontribusi positif dalam membangun kesadaran dan pengetahuan masyarakat seputar perlindungan konsumen dan data pribadi. Acara ini diharapkan tidak hanya sebagai satu kali peristiwa, melainkan sebagai langkah awal menuju kesadaran dan aksi yang lebih luas di masyarakat. 


Reporter: FZ

Pre Order Buku THE ART OF FAMILY BUSINESS: Meniti Jejak Bisnis Abadi



Judul Buku    : THE ART OF FAMILY BUSINESS: Meniti Jejak Bisnis Abadi

Penulis            : Ir. Irmawati, S.E., M.Si.  & Edwin Indarto, S.Pt., M.P.

Halaman         : 108 halaman

Harga              : 50.000

Stok                  : 100 Buku (Cetakan Pertama)

Free Pembatas Buku

Sinopsis

Buku ini membawa pembaca dalam perjalanan yang mendalam ke dunia family business, mengeksplorasi berbagai aspek yang membentuk, memperkuat, dan mendukung keberhasilan family business. 

Bagian I: Seluk Beluk Family Business

Memahami esensi family business, termasuk pengertian, kelebihan dibanding bisnis lainnya, serta tantangan khusus yang mungkin dihadapi. Penekanan juga diberikan pada strategi komunikasi efektif dan cara menyeimbangkan tanggung jawab dalam konteks family business. 

Bagian II: Apa yang Perlu Dibangun dalam Family Business

Menggali fondasi kuat yang harus dibangun dalam family business. Mulai dari nilai-nilai perusahaan, keteladanan, hingga cara menghargai perspektif ide. Reputasi, prestasi, dan pengembangan SDM juga menjadi fokus, semuanya diarahkan menuju visi jangka panjang. 

Bagian III: Suksesnya Suksesi dalam Family Business

Cara mengatasi sumber konflik yang mungkin muncul dalam Family Business. Bab ini juga menjawab pertanyaan krusial seputar kapan waktu yang tepat untuk melakukan suksesi. Diskusi mengenai mentorship dan peran kandidat eksternal menjadi sorotan utama.

Bagian IV: Memilih dan Mengevaluasi

Bagian ini memberikan panduan langkah-demi-langkah tentang cara memilih calon suksesor dan melakukan evaluasi serta perencanaan suksesi yang efektif. Poin-poin penting untuk menjalankan family business juga diuraikan dengan jelas.

Bagian V: Studi Kasus Family Business

Pada bagian terakhir, ditutup dengan studi kasus nyata dari family business di Indonesia. Kasus sukses, kegagalan, dan contoh bisnis dengan budaya perusahaan kuat memberikan wawasan yang berharga. Melalui analisis kasus, pembaca diajak untuk memahami realitas yang dihadapi bisnis keluarga.

“The Art of Family Business - Meniti Jejak Bisnis Abadi” adalah panduan menyeluruh yang tidak hanya memberikan pemahaman mendalam tentang dinamika family business, tetapi juga memberikan alat praktis dan pertanyaan inspiratif untuk membantu pembaca merancang dan menjalankan bisnis keluarga yang sukses.


Info dan Pemesanan: 087834433309 (Digdaya Book)

Anisya

 




Kami akhirnya memesan tiket untuk dua orang, pulang-pergi. Kereta berangkat pukul 13:50 dari stasiun. Selepas sembahyang Zuhur, kami segera bergegas.

"Naik motorku apa motormu?" tanyaku pada Falih, temanku sekamar di pesantren. Dia sudah tampak gagah dan siap.

"Motorku saja," katanya sambil menunjukkan kontak motornya.

Dari pondok menuju stasiun butuh sekitar 45 menit. Kemudian kami pergi. Falih mengendara begitu cepat. Cepat sekali. Aku yang membonceng di belakang cukup merasa cemas.

"Pelan-pelan, Fal, santai saja. Tak perlu buru-buru," ucapku.

Dia cuma diam dan fokus. Kebetulan hampir seluruh lampu lalu lintas tiba-tiba berwarna hijau ketika kami lewat. Tak tahu kenapa bisa begitu. Barangkali dia sudah membaca doa tertentu, entah apa. Falih memang memiliki cukup banyak hafalan do’a yang dia minta dari Mbah Kyai.

Setelah sampai di stasiun, kami memarkirkan kendaraan lalu menuju lorong keberangkatan. Sembari berjalan, aku menyulut sebatang rokok. Ternyata saat kami tiba hanya tersisa waktu sekitar 10 menit sebelum kereta berangkat. Kebetulan ini pertama kali kami berdua naik kereta. Sesudah menunjukkan tiket, kami segera menuju gerbong.

Melewati peron satu hingga ujung, kami berjalan sembari sepintas melihat para penumpang lain yang masih duduk di ruang tunggu dekat lintasan kereta. Kebanyakan terlihat asyik bermain ponsel. Ada beberapa yang tertidur dengan wajah tertutup masker, mungkin saking letihnya entah sebab apa. Namun mataku tertuju pada satu perempuan yang cukup menarik. Dia duduk sendirian di paling ujung bangku ruang tunggu penumpang. Meski dari kejauhan, kedua alisnya terlihat tebal dan pipinya begitu merona seperti apel. Tetapi kuabaikan saja; aku harus segera masuk gerbong.

Ketika pertama memasuki ruang penumpang, suasana tiba-tiba berubah. Nuansa menjadi begitu puitis. Ingatanku tiba-tiba tertuju pada film "Arini 1989: Masih Ada Kereta Yang Akan Lewat" dan film pendek berjudul "Kisah dalam Kereta". Keduanya termasuk menjadi penyulut bagiku untuk berkeinginan naik transportasi yang berjalan di atas rel ini.

Kami lantas mencari kursi yang tertera sesuai tiket. Aku memilih tempat duduk dekat jendela untuk keberangkatan. Sesudah meletakkan tas punggung di bagasi atas, aku segera duduk dan memutar lagu menggunakan penyuara telinga.

"Aku ke toilet dulu, Zul" ucap Falih setelah melepaskan jaket yang kemudian dia taruh di kursinya.

Aku hanya mengangguk.

Belum selesai satu lagu kudengar, seorang perempuan tiba-tiba duduk di sebelahku; di kursi yang seharusnya untuk Falih. Aku menengok ke arahnya.

"Maaf, Kak, ini kursi teman saya," tegurku pelan. "Orangnya tadi sedang ke belakang," sambungku menerangkan.

"Oh, maaf, Mas. Ini cuma sebentar, kok. Saya mau ikat tali sepatu," jawabnya dengan wajah tertutup masker sembari menunduk membenahi tali sepatunya yang memang lepas.

Aku hanya diam sambil mengernyitkan dahi. Tentu ini cukup membuat kenyamananku berkurang. Apalagi dia langsung duduk begitu saja tanpa meminta izin meski kemudian dia beritahu alasannya. Sudahlah, aku biarkan saja perempuan itu. Kualihkan pandangan keluar jendela.

"Masnya dari mana?" Dia lalu bertanya masih dengan menghadap ke bawah sebelum menyelesaikan ikatan tali sepatunya.

"Dari Semarang, Kak." Tandasku singkat. Kita berada di kereta yang berangkat dari kota yang sama; buat apa dia bertanya yang sudah jelas jawabannya, Gumamku dalam hati.

"Saya Ansiya." Perempuan ini tiba-tiba memberitahukan namanya sambil mengulurkan tangan. "Salam kenal, Mas."

"Iya, salam kenal. Saya Zulfa, Kak." Ketika kusambut uluran tangannya itu, terasa kulitnya sangat halus dan lembut. Barangkali perempuan bernama Ansiya ini terbiasa melakukan perawatan.

“Panggil Ansiya saja, Mas.” Katanya dengan mata yang menyipit. Sepertinya bibirnya yang tertutup masker itu sedang tersenyum.

“Baik, Ansiya.” Kuturuti saja permintaannya itu. Ketika kupandang baik-baik wajahnya bagian atas, karena memang hanya itu yang terlihat, aku seperti merasa familier. Kedua alisnya tampak seperti perempuan yang aku lihat tadi di stasiun, tebal dan indah. Apa mungkin dia? Tetapi agaknya mustahil. Bagaimana bisa perempuan yang duduk di bangku paling pojok kemudian sempat memasuki gerbong yang berada di ujung peron lain? Apalagi kereta juga langsung berangkat setelah kami menemukan kursi jatah kami duduk. Rasanya tidak begitu masuk akal.

"Lagi dengar lagu apa, Mas?" Belum selesai aku berpikir, dia melempar pertanyaan baru.

"Nala, lagunya Tulus, Kak," ucapku singkat sambil memalingkan sorot mataku ke ponsel.

"Masnya suka Tulus juga?" Ia terlihat mulai menggebu. Kedua matanya tampak berbinar. "saya kebetulan mengikuti lagu-lagu Tulus sejak 2011, Mas."

"Oh, keren, Kak." Aku jawab seadanya. Bingung juga mau merespons bagaimana.

“Tapi saya baru nonton konsernya sekali, Mas.” Dia melanjutkan. “memang beda nuansanya kalau datang langsung. Seru sekali.”

Kami lalu saling diam sebentar. Kukira perempuan ini akan langsung pergi. Dia malah mulai mengeluarkan ponselnya. Sesekali memperbaiki jilbabnya yang sebenarnya sudah rapi itu. Aku sendiri masih kepikiran tentang siapa sebenarnya perempuan bernama Ansiya ini.

"Masnya sudah makan?" Dia menyambung obrolan lagi. "saya bawa roti. Mau? Atau minum? Ini juga ada air mineral."

"Iya, duluan saja, Kak." Aku mempersilakan, dengan keramahannya itu, aku jadi makin penasaran apakah dia benar-benar perempuan yang kulihat tadi di stasiun. Mumpung mau makan, tentu maskernya akan dibuka. Tetapi sedari tadi Falih belum kembali juga. Tumben sekali dia berlama-lama di toilet. Biasanya kalau di kamar mandi pondok tidak sampai lima menit dia sudah kelar. Sudah, biar sajalah.

Sejenak selepas membuka bungkus roti yang dibawanya, Ansiya ini kemudian benar-benar melepaskan masker yang menutupi wajahnya itu. Aku berusaha tidak melewatkan momen ini. Kupandangi benar tiap gerak kedua tangannya yang melepas kait tali perlahan-lahan dan akhirnya lepaslah masker itu dari wajahnya. Tidak salah lagi, memang benar dia orangnya. Kedua pipinya tampak merona kemerah-merahan. Beralis tebal dengan pupil mata besar dan sejuk. Cantik sekali.

"Sudah sampai, Zul." Terdengar seperti suara Falih, "kita langsung ke Kanzus," lanjutnya sambil menepuk pundakku kemudian beranjak dari bangku.

Aku masih diam.

“Zul,” ujar rekanku itu dengan sedikit menaikkan nada bicaranya, “kamu bengong, ya?”

Desember, 2023.


Biodata Penulis

        A. Zulfa Muntafa lahir pada 29 April tahun 2000 di Kemadu—Sulang, Rembang, Jawa Tengah. Penulis berstatus sebagai mahasiswa di program studi S2 Pendidikan Bahasa Arab UIN Walisongo Semarang. Beberapa tulisannya sempat dimuat di Kompas, Tatkala, dan media-media lainnya. Karya tulisnya antara lain buku kumpulan cerpen “Mbah Yai” (2022).

Instagram: @abdullah_zulfa_muntafa

No. HP/WA: 085600136794

Pre Order Buku Unexpectable Diary

 






Judul Buku    : Unexpectable Diary

Penulis            : Faza Amadea

Halaman         : 126 halaman

Harga              : 45.000

Stok                  : 75 Buku (Cetakan Pertama)

Free Pembatas Buku

Sinopsis

Apakah ada sebuah mimpi yang bisa terasa sangat nyata? Tiba tiba saja sebuah bracelet cantik menggantung di pergelangan tangannya. Hansley menyeka air matanya dan mempersiapkan diri untuk rapat sore hari, ia berusaha untuk tegar la tetap tersenyum meski hatinya sedang menahan tangis merindukan mendiang ibunda tercinta. Baru juga beberapa hari sekolah setelah liburan, Hansley dijemput pulang untuk mengungkap misteri keluarga Robert. Hansley dan Mark bertemu wanita misterius yang selalu hadir untuk membantu memecahkan misteri, meski ia datang dari dunia yang berbeda namun niatnya amat baik. Apakah misteri itu berhasil ia ungkap?

Info dan Pemesanan: 087834433309 (Digdaya Book)