Clairvoyance



Oleh: Chrisella

“Kita terlahir dari pilihan-pilihan, selalu dihadapkan pada pilihan. Apakah akan maju atau mundur, atau bahkan diam di tempat. Pilihan untuk tetap sama atau membuat perubahan”


Semesta entah bagaimana telah berhasil membingungkan manusianya. Sama seperti pada jaman eksisnya dewa-dewi Yunani dan Romawi, semesta telah menciptakan Juno, Dewa berkepala dua yang melambangkan pilihan. Kemudian, terlahirlah kita di sini, selalu dihadapkan pada pilihan, apakah akan maju atau mundur, atau bahkan diam di tempat. Pilihan untuk tetap sama atau membuat perubahan.

Perubahan. Semesta ini unik, dia memang terlihat besar, tetapi juga kecil. Terlihat sangat beragam tetapi juga sangat tunggal. Seperti pergerakan penari yang mengikuti harmoni atau seperti pergerakan arloji. Setiap pergerakanmu akan menggerakkanku, begitupun sebaliknya. Hanya saja, kembali pada Juno, pilihanlah yang menentukan pergerakan itu. Bagiku, pilihan untuk diam ditempat sebenarnya selalu kudahulukan. Bukan karena aku takut dan bukan karena aku berhati dingin. Hanya saja selama ini, aku tak sanggup untuk melakukan pergerakan itu. Terlalu kompleks dan terlalu rumit bagiku, bagi kefanaan jiwaku. 

Dengan inilah aku memulai hariku, dengan segala macam pikiran yang mengangkat semesta menjadi topik merenungku. Dengan inilah aku memulai langkahku untuk kembali mengunjungi café kecil sederhana yang tak banyak pengunjungnya itu. Untuk kembali menyesap kopi hitam dan meredam segala kebisingan yang membuatku semakin pening. Seperti biasa, pagi ini sebelum keluar rumah aku mengenakan jaket bomber hitamku, berhenti sejenak untuk memeriksa bayanganku pada cermin kecil di samping pintu. Kukencangkan tali sepatu dan mulai memasukkan tanganku ke saku, berharap tidak akan ada yang terjadi.  

Pagi ini cukup indah, kututup mata sejenak dan mengirup udara untuk mengisi paru-paruku. Perjalananku pun sama sekali tidak bermasalah, hanya saja, aku tidak pernah tahu, bahwa biasanya udara kering dan hening adalah pertanda datangnya badai.

“Aduh!” Mataku sontak terbuka untuk melihat apa yang terjadi. Seorang gadis berambut panjang dan berbadan kurus sudah membungkuk untuk memungut sebaran-sebaran kertas yang jatuh dari tangannya saat kami tidak sengaja bertabrakan.

“Maaf, maaf,” aku ikut membungkuk dan membantunya mengumpulkan berkas-berkasnya dan terpaku pada satu kertas yang langsung direbutnya. Kuambil lagi beberapa barangnya dan menyadari bahwa paket sarapan gadis itu ikut terjatuh, bodohnya aku hari ini.

“Maafkan aku, aku tidak melihatmu tadi. Kau sepertinya dari café di depan, akan ku belikan lagi satu paket sarapanmu,” kataku sambil berusaha bertanggung jawab, dan saat itulah mata kami bertemu. Irisnya hitam legam, matanya cekung dan sendu, seperti memikul beban lebih berat dari pada beban atlas. Suaranya hanya kecil namun ku dengar, “tidak apa-apa, aku baik-baik saja,” Dan aku masih tenggelam dalam tatapan matanya.


~~~

Satu malam datang lagi, dan aku kembali merangkak lagi. Hariku begitu melelahkan sampai aku tidak berdaya untuk kembali pulang ke rumah. Aku muak dengan kemunafikan, tetapi apa daya, aku harus mengikuti permainan dunia ini agar bisa hidup. Aku harus. Aku harus.

Malam ini, aku kembali membuka laptop hitamku. Untuk kembali menulis seperti apa yang selalu mereka katakan, tulis saja. Tulis untuk mengantarmu tidur, tulis untuk menjaga eksistensimu, tulis, tulis saja. Ya ini lah aku, gadis yang hari ini telah tepat melewati tiga ratus chandra yang sebagian besarnya gerhana. Suara malam menjadi temanku setiap hari, terkadang menenangkan dan terkadang melelahkan. Aku mulai menulis.

Gelapnya malam sudah merambah masuk ke dalam ruangan, ruangan yang sama dengan mereka. Meninggalkan secerah cahaya yang tersisa, mereka beringsut ke sudut ― dua sudut yang berbeda. Dua mata yang terbuka saling memandang, menyaratkan kepedihan, keteguhan dan kekecewaan. Tak berkedip sekalipun, tak bicara sedikitpun. Hanya ada deru nafas yang memang tak bisa berhenti, dan detak jantung yang sudah seharusnya ada.

Tangan putih pucat yang halus terangkat, menggapai ke seberang, sudah merindukan apa yang belum pergi. Matanya yang takut―takut kehilangan―bersinarkan harapan saat lawannya mulai berdiri, berjalan maju satu langkah, seakan menyambut apa yang merindukannya. Namun akhirnya dia menurunkan tangannya dan menyadari setetes air mata jatuh, membuka semua sungai kepedihan, membawanya jauh dalam lautan kehampaan, ketika dia melihat, apa yang dia rindukan, berhenti dan memutuskan untuk berbalik, masuk ke dalam kegelapan pekat.

Sinar terakhir senja sudah padam. Cahaya terakhir dalam ruangan sudah tinggal bara, hanya satu bara merah yang masih setia menemani. Namun akhirnya dia padam juga, tak menyadari bahwa di sana masih ada kehidupan. Kehidupan yang tak sanggup lagi meraba-raba untuk keluar, keluar dari jurang kekelaman. Mengangkat tubuhnya dari kehilangan yang dalam.

Kehidupan yang sudah terengah kehabisan nafasnya.

Kehidupan yang sudah di ambang pintu kehancuran.

Kehidupan yang sudah ditinggalkan.

Jariku berhenti ketika mengulang semua yang sudah terjadi. 15 April 2015, aku melihat gerhana pertamaku. Ingatanku kembali terbang ke masa itu, kembali mengingat teriknya matahari pada pagi yang membangunkanku dan kembali mengingat semua waktu yang berlalu cepat setelahnya.

“Luce, bisakah aku bercerita sekali lagi padamu?” Aku melirik sekilas dan melihat seorang gadis kecil yang jauh lebih kurus dari padaku, tetapi memiliki warna rambut yang sama dan garis muka yang sama persis denganku.

“Apa lagi?” jawabku singkat dan kembali membalas pesan teman-temanku yang sedang merencanakan untuk liburan bersama.

“Tadi, umm, di sekolah, temanku bahagia, temanku tertawa bahagia,” kata adik perempuanku itu pelan sambil memutar gelang putih di tangannya perlahan.

“Baguslah, kurasa sekolahmu hari ini menyenangkan. Sudah, aku mau ke kamar,” aku membalasnya sambil lalu karena baterai ponselku sudah memerah. Sebelumnya aku berhenti sebentar dan berbalik, “El, tidurlah, aku akan membangungkanmu nanti, katanya kau mau melihat gerhana?”

“Ah, ya, baiklah, jam berapa gerhananya?” balas adikku yang langsung beranjak untuk menggosok gigi.

“Sepertinya jam tiga pagi.” Aku kembali membalas singkat dan tersenyum sambil berlari ke kamar karena ponselku lagi. Kami memang tidak banyak bicara, tetapi kami pernah dekat di masa balita kami. 

Pukul 2.30 pagi hari itu, aku terbangun dengan teramat malas, tetapi tetap ku paksakan. Karena aku bukan orang yang suka ingkar janji. Aku berjalan gontai ke kamar adikku untuk membangunkannya. 

“El! Bangun, gerhananya sudah dimulai sepertinya, El,” aku masih berusaha membangunkan gadis yang suka tidur itu. Saat itulah aku menyadari ada yang tidak beres, gelang putihnya sudah mulai berubah warna – merah dan akhirnya menghitam.

~~~

Café itu terletak di ujung jalan dekat rumahku, letaknya sangat strategis, menurutku. Jika kau memilih untuk duduk di dekat jendela, kau akan melihat semesta dengan lebih jelas. Berbagai emosi bisa kau lihat, kau akan menemukan banyak orang yang lewat. Tetapi bukan itu yang kucari. Aku lebih menyukai sofa setengah lingkaran dengan meja kecil di ujung sana. Memang letaknya dekat dengan toilet, tetapi sudut itu sangat nyaman bagiku. Bagaikan ceruk kecil yang memang diciptakan untukku, dan yang lebih ku nikmati adalah keheningannya. Jarang yang akan duduk di sana.

Lonceng yang dipasang di pintu café itu bergemerincing seiring langkahku menyambut keheninganku. Meski ada yang aneh hari ini, aku memutuskan untuk mengabaikannya karena merasa hari ini begitu sempurna.

“Tolong, yang biasanya,” kataku singkat dengan senyum simpul dan masih memasukkan tanganku di saku. Aku sedang malas berada dekat-dekat dengan bar, di sana cukup ramai. Lagi pula, saking seringnya aku mengunjungi tempat ini, beberapa orang sudah mengenalku walaupun mereka tidak mengetahui namaku, setidaknya aku tahu semua tentang mereka.

Aku berjalan pelan menuju ceruk keheninganku dan mengernyit. Ada yang sudah duduk di situ sebelum aku dan mencurahkan banyak kisah. Aku mengenalnya di satu tempat, tapi di mana. Ah, benar, gadis yang tadi kutabrak, secara tak sengaja. Tetapi kali ini, aku hanya menghela nafas dan kembali duduk menunggu kopiku, memejamkan mata, dan membiarkan semesta melakukan kehendaknya.


~~~

Malamku sudah berakhir dan sekarang sudah pagi. Aku bahkan belum sempat memejamkan mata dengan benar pagi ini, tetapi sudahlah. Aku harus tetap hidup, aku harus tetap menjalani hidup. Aku harus tetap bermain dengan dunia ini, kalau aku ingin hidup. Aku tidak tahu kenapa aku harus hidup, tetapi ini sudah menjadi kebiasaan. Aku harus, aku harus hidup dan aku harus tetap bermain. Aku harus bertahan meski aku tidak memiliki siapapun yang peduli padaku. Aku harus tetap hidup. 

Aku mendesah pelan dan melirik laptop hitamku yang semalaman tadi masih menampilkan laman yang sama; kursor di atas tombol post. Kemudian, aku menuju pada tombol analytics untuk melihat berapa banyak yang sudah membaca tulisanku. Apakah eksistensiku masih terjaga? 

Yah, baiklah, masih. Sekitar dua ratus orang sudah membaca tulisanku dalam sepuluh jam ini. Tetapi, kenapa hanya dua ratus? Apakah tulisanku kurang bagus? Apakah tulisanku terlalu menyedihkan? Bukankah ini yang dirasakan orang-orang? Sepertinya aku harus menghapus tulisanku hari ini. 

“Di mana tombol hapusnya?” Tanganku mulai bergetar dan air mataku mulai mengaburkan pandanganku.

“Ah, programmer sialan. Dia benar-benar menuruti kata dokter itu untuk menghilangkan tombol hapus. Lalu bagaimana sekarang? Bagaimana?” Aku bergumam cepat sambil terus memutar-mutar kursorku mencari cara lain selain hapus. Belum sempat aku menyelesaikan pekerjaanku, aku mendengar ketukan pintu, aku berusaha mengabaikannya. Tetapi ketukan itu membuatku pusing.

“Apa? Apa? Apa?” Aku berteriak kepada pintu rumahku sendiri, karena terlalu takut menghadapi siapa yang datang.

“Lucy! Aku mau kau datang ke kantor sekarang juga dan membawa semua laporan itu. Bos sudah mencarimu dari kemarin. Aku tahu kau di dalam, jadi cepat saja! Aku pergi sekarang!” Itulah yang kudapat pagi itu. Tanpa tahu siapa yang datang, aku harus kembali ke pekerjaanku sekarang. Untuk bertahan hidup. Aku tidak mau bergantung pada uang, tetapi semua kebutuhanku yang bergantung pada uang. Sekali lagi, aku harus mengikuti permainan jika tidak ingin dikeluarkan.

Aku menghela nafas lagi, setelah beranjak menjauh dari depan laptopku, aku merasa lebih tenang. Kubuang jauh-jauh pemikiran tentang tulisanku semalam. Aku harus bersiap sekarang. Persiapanku tidak terlalu lama, aku hanya membasuh mukaku sebentar dan memakai bedak, di sekitaran mata terutama. Ku pilih jaket paling tebal yang ku punya. Sepuluh menit, hanya itu waktu yang kubutuhkan. 

Aku melihat kesekeliling dan mencari di mana kutaruh laporan itu. Aku melihatnya di sebelah laptopku. Desahan panjang sekali lagi, dan aku berangkat. 

“This is gonna be my day, this is gonna be my day,” Kuulang rumus itu berkali-kali. Sepertinya aku pernah membaca di suatu tempat bahwa pikiran positif akan membantuku. “This is gonna be my day”. Seperti kebiasaanku aku mampir ke sebuah café yang ada di ujung jalan untuk meminum coklat panas kesukaanku dan membeli sarapan, croissant isi daging. 

Aku berjalan pelan ke arah sudut ruangan, karena aku merasa perlu menenangkan diri sebelum bertemu atasanku. Aku duduk sambil menunggu pesananku siap. Sambil menatap ke seberang café, aku mengeluarkan secarik kertas dan mulai menulis pesan. Elisa, haruskah aku menyusulmu?

“Pesanan nomor 2!”Aku mendengar nomor antrianku dipanggil. Aku berdiri dan mengambilnya.

“Berapa?” kataku sambil mengeluarkan dompet. Namun bersamaan dengan itu, ponselku berbunyi. Atasanku sudah menunggu. “Maaf, apakah kau bisa membungkusnya, sepertinya aku tidak jadi makan di sini,” gumamku pelan pada pria kasir.

Kemudian aku berjalan lunglai untuk menyambut satu hari baru lagi. “This is gonna be my day, this is gonna be my day, this is gonna be my day,” aku memejamkan mataku untuk menenangkan diri. Aku harus menenangkan diri. 

“Aduh!” tiba-tiba bahuku menabrak sesuatu yang solid tetapi tidak terlalu keras. Aku menyadari dengan cepat aku dengan konyolnya menabrak sesama pejalan kaki. Tetapi kenapa dia tidak menghindar? Aku memang menutup mata, tetapi bukankah seharusnya dia menghindar? Apa dia memang sengaja mau membuatku jatuh hanya karena aku menutup mata sebentar? Apakah aku mengenalnya? Aku melirik dari sela-sela rambutku sambil berusaha mengumpulkan kertas-kertas laporan yang seharusnya aku bawa ke kantor dengan cepat.

“Maaf, maaf,” Pria itu juga membantuku mengumpulkan kertas-kertasku dan ah, coklat panasku tidak terselamatkan.  This is not gonna be my day. Aku menyadari bahwa dia memegang pesanku untuk Elisa, dan itu menggangguku. Tidak dia tidak boleh membacanya.

“Maafkan aku, aku tidak melihatmu tadi. Kau sepertinya dari café di depan, akan ku belikan lagi satu paket sarapanmu,” dia mulai bergumam lagi. Sepertinya dia berubah setelah membaca tulisanku untuk Elisa. Kenapa? Apa dia mengenal Elisa? Apa dia tahu maksudku? Kenapa dia jadi berubah?

“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja,” hanya itu gumamanku. Aku masih menatap matanya untuk mencari tahu. Aku takut. Aku harus, aku harus menenangkan diri. This is gonna be my day. Aku segera berdiri dan melirik ke coklat panasku yang sekarang sudah semakin menyatu dengan tanah. Mengambil croissant ku yang masih bisa ku selamatkan. Kemudian aku berjalan cepat berusaha untuk menenangkan diri.

Kemudian hari kuberjalan lagi, sama seperti biasanya. Sesampainya di kantor, begitu aku membuka pintu, semua orang memandangku seperti melihat musuh. Tetapi kenapa? Apakah aku semenyebalkan itu? Kurasa aku sudah bersikap sangat baik selama ini, aku hanya diam dan seadanya. Tetapi kenapa mereka melihatku seperti itu?

“Pagi, Bu, maaf ini laporan yang, Ibu, minta,” gumamku pelan saat sampai di meja kerja atasanku.

“Oke, terima kasih,” Hanya itu. Aku melirik jam tanganku, sial aku terlambat dua menit. Pasti setelah ini dia akan memarahi ku dan aku akan dipecat. Aku harus bertahan, aku harus tetap bekerja, aku harus ikuti permainan. 

“Hahaha, Luce, dari mana saja kau?” Aku mendengar suara keras yang membuatku terlonjak. Suara Juna teman kantorku membuat telingaku berdenging dan kepalaku pusing. Aku merasa sangat tidak enak, mereka menertawakanku. Sekali lagi. Sama seperti biasanya. Sekali lagi, air mata mulai mengaburkan penglihatanku. 

“Maaf, sepertinya aku akan pulang, maaf sekali lagi karena aku terlambat mengantarkan laporannya. Akan kukerjakan sisanya dari rumah seperti biasanya.” Aku bergumam cepat dan tidak mempedulikan lagi sekitarku. Tetapi aku memaksakan seulas senyum.

“Ah, baiklah baiklah, freelance sekarang pasti sangat sibuk, hahaha.” Aku sekilas mendengar suara laki-laki lain yang seperti biasa menertawakanku.

“This is gonna be my day, this is gonna be my day, this is…” kata-kataku terhenti. Aku harus menghentikan ini semua, aku hanya ingin pulang. Aku ingin kembali dan aku akan ke tempat adikku, Elisa. Aku memutar langkah untuk menuju ke stasiun, harus hari ini, aku tidak akan mengikuti permainan lagi karena dunia sudah mempermainkanku. Aku harus ke stasiun. 

Kenapa semua orang memperhatikanku? Aku berjalan semakin cepat. 

Kenapa semua orang terawa saat melihatku? Aku mulai berlari.

Kenapa semua orang melihatku seperti itu? Aku berlari semakin kencang.

Kenapa semua orang berteriak padaku? Aku melihat cahaya itu, lebih baik aku menyambutnya. Aku mendengar gema suara itu, aku harus segera datang. Aku menyambut kereta itu, tersenyum, sambil menangis. 

“This is gonna be my day, akhirnya aku bisa menyusulmu, Elisa.” Hal terakhir yang aku dengar adalah teriakan orang-orang yang terkejut. Aku cukup peka, dan aku sudah mencium bau darah di dekatku, senyumku terkembang. This is gonna be my day.


~~~

Aku membuka mata, aku masih ada di café, mungkin aku sedikit terengah-engah. Bukan karena kafein kurasa. Aku memandang ke sekeliling, kemudian melihat ke arlojiku. Aku masih belum terlambat, aku tarik kata-kataku. Hari ini aku tidak akan membuat hal yang serupa, aku tidak akan lagi diam di tempat. Mungkin inilah saatnya aku mencoba lagi, untuk melakukan pergerakan. Pergerakan kecil, dan melakukan perubahan.

“Hei, bungkuskan satu coklat panas dan satu croissant isi daging,” kataku pada Evan kasir yang selalu memperhatikanku tetapi dia bahkan tidak pernah tahu namaku. Dua menit kemudian aku sudah berlari mengejar gadis itu.

“Hai, ini coklat panasmu, aku merasa sangat tidak enak, jadi aku membelikan ini.” Aku tersenyum riang walaupun sambil terengah-engah.  “Maafkan aku, tapi kurasa kau tidak akan terlambat, kau bekerja di gedung itu kan? Ku dengar orang-orang di sana tidak masalah dengan keterlambatan dan sangat ramah. Selalu tertawa untuk membangkitkan semangat. Jadi, tetaplah semangat oke, kau tidak melakukan kesalahan. Hari ini, aku yang melakukannya.” Aku masih tersenyum dan melihat dia bingung aku tetap tersenyum hangat, tidak tertawa terlalu keras.

“Ummm, untuk menebusnya, aku akan mengantarmu sampai ke kantor,” Kupelankan suaraku dan menatap matanya selembut mungkin.

“Baiklah,” katanya pelan dan tersenyum. Bingung, tetapi mendung di wajahnya perlahan terangkat. Kemudian kami berjalan bersama-sama, aku melihat sepertinya dia nyaman dengan perhatian-perhatian kecil. “Jadi, siapa namamu? Aku Michael,” masih dengan pelan dan senyum.

“Hai, aku Lucy,” jawabnya singkat. Dan, dengan keputusanku, semua yang kulihat tadi akhirnya tidak terjadi, tidak seperti biasanya, tapi aku senang karenanya. 




1 komentar :

  1. Kadang pilihan kecil yang kita buat punya dampak yang besar untuk orang lain.
    It's such a good story, anyway. Thumbs up for you, writer-nim 😊👏👍

    BalasHapus