The Most/Recent Articles

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Pre Order Buku Etika, Logika, dan Aplikasi Filsafat Ilmu dalam Manajemen Pendidikan

 


Judul          Etika, Logika, dan Aplikasi Filsafat Ilmu dalam Manajemen Pendidikan

Karya          Ira Shafira Kaban & Muhammad Muslim

Halaman    : 234
 
Harga         : 55.000

Stok            : 100 Buku (Cetakan Pertama)

Free Pembatas Buku

Sinopsis

Manajemen pendidikan tidak hanya berbicara tentang perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi, tetapi juga menuntut landasan berpikir yang kokoh agar setiap kebijakan dan keputusan memiliki arah yang tepat. Etika, Logika, dan Aplikasi Filsafat Ilmu dalam Manajemen Pendidikan mengajak pembaca memahami bahwa keberhasilan pengelolaan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tiga pilar utama, yaitu etika sebagai pedoman moral, logika sebagai dasar berpikir rasional, dan filsafat ilmu sebagai fondasi dalam membangun serta mengembangkan pengetahuan. Ketiga aspek tersebut dipaparkan secara sistematis untuk memperlihatkan hubungan yang erat antara kajian filosofis dan praktik manajemen pendidikan di tengah dinamika perkembangan zaman.

Melalui pembahasan yang komprehensif dan disertai contoh-contoh penerapan dalam dunia pendidikan, buku ini menghadirkan perspektif yang menghubungkan pemikiran filosofis dengan realitas pengelolaan lembaga pendidikan. Uraian di dalamnya mendorong pembaca untuk mengembangkan cara berpikir yang kritis, logis, dan reflektif, sehingga setiap keputusan yang diambil tidak hanya didasarkan pada pertimbangan teknis, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai etis dan tanggung jawab ilmiah.

Contact Person: 0878-3443-3309 (Mimin Aya)

Pre Order Buku Langit Menyimpan Namamu


 

Judul          Langit Menyimpan Namamu

Karya         Siti Nurkhaibah

Halaman    : 158 Halaman

Harga         : 50.000

Stok            : 100 Buku (Cetakan Pertama)

Free Pembatas Buku

Sinopsis

Syafa dan Habibi dua jiwa yang bertemu di pondok pesantren, saling mengenal tanpa pernah benar-benar dekat, saling mencintai tanpa pernah berani berucap.

Di antara dinding asrama, doa-doa, dan larangan tatap, tumbuhlah rasa yang sunyi tapi suci. Tahun ke tahun berlalu. Syafa melanjutkan kuliah, dan Habibi menetap di pondok. Rasa mereka tidak pernah terucap, tapi tak juga padam. Hanya berubah menjadi doa yang makin matang.

Lantas, apakah takdir akan mempertemukan mereka kembali dalam keadaan cinta yang tersembunyi akhirnya menemukan jalannya?Atau justru…tetap dalam pendiriannya masing-masing menyimpan rasa dalam luka yang lara.


Contact Person: 0878-3443-3309 (Mimin Aya)

Tradisi Weh-wehan Sebagai Sarana Dakwah di Kabupaten Kendal

 


Tradisi Weh-wehan Sebagai Sarana Dakwah di Kabupaten Kendal

Oleh: M. Athok Fardi Hasan

Di Kabupaten Kendal, masih banyak sekali tradisi dari leluhur yang masih dijalankan sampai sekarang. Seperti Suronan (Muharam), slametan rajaban, slametan ruwahan, selain itu juga ada tradisi Slametan bayi mulai dari dalam kandungan hingga kelahiran, yaitu ngapati (slametan ketika hamil empat bulan), mitoni (ketika hamil tujuh bulan), brokohan (ketika bayi baru lahir). Ketika anak sudah berusia tujuh bulan, ada tradisi Tedhak Siten/mudun lemah. Tradisi lainnya yaitu Weh-wehan atau Ketuwinan. Tradisi Weh-wehan ini merupakan tradisi yang ada di kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal. Setiap bulan Maulid tiba, umat muslim menyambutnya dengan suka cita dan bahagia. Kaliwungu yang banyak dikenal masyarakat sebagai kota santri, sentralnya ilmu agama dan tradisi religi tak menyia-nyiakan datangnya bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini. Bulan mulia ini selalu warnai tradisi unik yang bermakna mendalam.

Weh-wehan berasal dari bahasa Jawa “Aweh-awehan”, yang berarti saling memberi. Hal ini dimaksudkan supaya saudara atau tetangga yang kekurangan, atau belum pernah merasakan nikmatnya rasa dari makanan tertentu, akan mendapatkan kesan tersendiri bahkan pengalaman baru dengan tradisi saling memberi dan bertukar makanan semampu kita. Dengan begitu, tradisi ini juga dapat meringankan beban sesama.

Tradisi Weh-wehan ini juga bisa dibilang tradisi saling tukar menukar makanan yang dilakukan pada bulan maulud oleh masyarakat Kendal.Ketuwinan merupakan upacara atau perayaan yang dilakukan oleh masyarakat Kaliwungu sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas lahirnya Rosulullah.Tradisi Ketuwinan merupakan tradisi lama yang masi dijaga dan dilestarikan pelaksanaannya bahwa tujuan dari diadakannya tradisi Ketuwinan, selain untuk melestarikan tradisi masyarakat setempat.

Tujuan selanjutnya adalah untuk mensyiarkan agama Islam kepada masyarakat melalui tradisi lokal. Tradisi Weh-wehan juga miliki hikmah yaitu mampu menanamkan rasa untuk saling memberi kepada yang kurang mampu dan mengajarkan untuk bersedekah kepada orang lain.Waktu pelaksanaan tradisi Ketuwinan yaitu dilaksanakan satu tahun sekali yaitu pada bulan maulud. Waktu pelaksanaan tradisi berbeda-beda tiap desa, mulai dari dhuhur hingga ba’da maghrib Pelaku penghantar dalam tradisi Ketuwinan adalah semua warga masyarakat Kaliwungu, laki-laki maupun wanita.pelaku utama pada tradisi Ketuwinan adalah anak-anak atau yang usianya lebih muda. Hal ini bertujuan untuk melatih dan mengajarkan anak agar memiliki sifat dan sikap seperti Nabi Muhammad yang gemar bersedekah dan memiliki akhlak yang baik sejak usia dini.Proses tradisi Ketuwinan yang kedua yaitu tahap pelaksanaan. Pelaksanaan tradisi ini adalah kegiatan saling tukar menukar makanan dan saling berkunjung ke tetangga sekitar tempat tinggal atau ke rumah saudara pada waktu yang ditentukan secara serempak bergantian. Mereka membawa piring kecil atau nampan untuk menaruh makanan yang ia bawa dan makanan yg ia dapatkan saat berkunjung kerumah

Tradisi Weh-wehan juga mengandung nilai dakwah di dalamnya. Nilai-nilai dakwah yang terkandung dalam tradisi Ketuwinan antara lain yang pertama mempererat nilai silaturrahim, yang kedua menanamkan nilai suka memberi/dermawan, yang ketiga mengajarkan nilai pendidikan Islam, yang keempat nilai syukur dan terakhir nilai keikhlasan

a)      Nilai Silaturahim

Islam menuntun umatnya untuk menjunjung tinggi silaturrahim dan menghukum siapa saja yang memutuskannya. Silaturrahim adalah salah satu nilai yang dapat dilihat secara langsung melalui prosesnya.Hal ini karena dalam tradisi Ketuwinan masyarakat kendal saling berkunjung kerumah-rumah tetangga yang bertujuan untuk menjalin keakraban, kerukunan antar sesama dan mempererat ukhuwah/ persaudaraan dengan tetangga dan masyarakat dari berbagai agamadan golongan

b)      Nilai Kedermawanan

Dermawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pemurah hati, suka memberi, suka membantu, orang yang suka berderma (beramal, bersedekah). Kedermawanan merupakan karakteristik terbaik dalam Islam dan juga terbaik bagi seorang muslim.pelaksanaan tradisi Ketuwinan yang dilakukan oleh masyarakat Kendal memperlihatkan sifat kedermawanan yang diajarkan melalui acara tersebut.Masyarakat diajarkan untuk memiliki sifat yang dermawan dan suka memberi kepada saudara, tetangga maupun orang lain, sehingga hampir tidak ada masyarakat yang tidak mengikutinya.

c)      Nilai Pendidikan Islam

Pendidikan agama adalah penanaman moral beragama pada anak dengan memberikan pengetahuan-pengetahuan agama dan mengajarkan untuk mengamalkan ajaran tersebut.

d)      Nilai Syukur

Syukur menurut Kamus Besar Bahasa

Indonesia adalah rasa terima kasih kepada Allah,untunglah (pernyataan lega, senang, bahagia).Syukur adalah suatu sifat yang penuh kebaikan dan rasa menghormati serta mengagungkan atas segala nikmatNya. Syukur berhubungan dengan hati, lisan dan anggota tubuh.

e)      Nilai Keikhlasan

Ikhlas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti ketulusan hati, kerelaan.Sifat keikhlasan selalu diajarkan di dalam Islam agar saat mengerjakan atau melakukan sesuatu selalu disertai dengan keikhlasan. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mencari ridho Allah.

Meski Jaman telah berubah, tradisi ini tetap dilestarikan terutama oleh masyarakat Kaliwungu Kendal, dan sekitarya. Tak aneh tradisi ini tetap dipertahankan, mengingat makna yang terkandung didalamnya begitu mendalam. Seakan mengingatkan kepada kita, bahwa dengan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW tak cukup hanya dengan bergembira dan membaca sirohnya, namun saling mengingat untuk membantu terhadap sesama, bersuka cita menyambut kelahiran Baginda tercinta, mengisinya dengan segala perbuatan kebaikan.

Pertalite: Makna Sebuah Antrian Panjang

 


“Apa salahnya untuk menghindar agar tidak terus-terusan mengantri hanya karena ke mini market melesat dengan kendaraan”

Lantaran gonjang-ganjing harga minyak dunia, hiruk-pikuk aktifitas kaum urban bukan lagi didasari seberapa manfaatnya internet untuk menunjukan identitasnya. Dari fenomena dunia yang terglobalkan saat ini justru kaum urban mati-matian untuk menemukan yang murah meriah namun sulit ditemukan. Beberapa SPBU jelas-jelas memajang palang bahwa pertalite yang dicari-cari sedang kosong atau dalam perjalanan yang entah kapan barang yang kian langka itu kembali tersedia. Sejak si biru pertamax harganya menjulang, sebagian besar alamiahnya kaum urban akan mengambil sikap untuk mencoba bersahabat dengan nominal gaji yang cenderung flat: “mengisi pertalite”, tetapi situasi antrian panjang di setiap SPBU sekarang menjadi tekanan batin. Itu artinya, dunia hendak bertanya: cara apa yang akan kau pilih wahai anak Adam?

Apa mungkin mode ke-kota-an kita sekarang ini akan bertahan --yang tiap kali buka jok motor kemudian memiuh tutup tangki bensin sekadar melirik-lirik “baiknya diisi apa?”. Pertanyaan ini menggiring saya untuk sekadar menebak; akankah Anda berkepribadian “murah tapi mahal” yang ditunjang dengan sepoles pengetahuan atau tetap menjadi parasit bagi pegawai SPBU yang tiap kali pusing melihat antrian pertalite memanjang seperti acara job fair di kota-kota besar.

Setidaknya hanya ada empat unsur kehidupan kita saat ini. Hanya saja, semenjak penemuan-penemuan yang dianggap superior itu malah membawa kita mengorbankan untuk cucu kita sampai ke cucu kita lagi. Jika kita alamati minyak bumi sebagai salah satu energi yang memang akan habis pada waktunya, malah akan lebih cepat habis apabila industri otomotif terus-terusan memproduksi yang maknanya itu-itu saja dengan standar lama, maka kita akan bisa bayangkan bagaimana ledakan populasi yang kian melejit, eksodus ke satu kota sebagai birahi mode, jelas-jelas delman hanya cerita kuyu, becak akhirnya di pajang sebagai kendaraan antik di museum Fatahila, dan pedagang sayur meninggali gerobaknya yang dianggap satu kelelahan untuk mengitari perumahan komplek yang bersih. Metode mencocok-kan seperti ini hanya dapat kita temukan dengan merenungi dalam antrian pertalite di SPBU kesayangan kita.

Terlalu jauh kita mempersoalkan dua kutub di belahan Eropa yang menjadi sebab carut-marutnya ketersediaan pertalite atau mungkin terlalu idealis juga mahasiswa yang berbusa-busa mulutnya mengkritik kebijakan pemerintah yang—sedang akan—menaikan beberapa jenis bahan bakar. Bagi saya, persoalannya sederhana; kebutuhan disadari (bukan didasari) dari keinginan mengikuti trend. Sadar. Iya, sadar. Sekali lagi, yang saya maksudkan adalah untuk menggapai kenikmatan seyogyanya kita menyadari dulu kenikmatan itu apa? Missl, untuk menikmati jajanan mini market sekarang ini adalah sebuah kebutuhan yang mudah, kita tidak ragu menggunakan kendaraan lincah kita dan tanpa pertimbangan bagaimana sulitnya mendapatkan pertalite, dari sini, kita tidak sadar bahwa trend membawa kita ke sebuah kecelakaan murni yaitu ikut mengantri di SPBU. Sebagai contoh lain, untuk menghadiri beberapa acara dari satu tempat ke tempat lain atau pergi-pulang dari atau ke tempat kerja, sebenarnya transportasi masal yang ada adalah pilihan alternatif (selagi masih mau berkorban untuk berpikir mahalnya bayar cicilan kendaraan).

Memilih adalah media manusia untuk menentukan langkahnya, jiwanya tergerak bisa dari pengalaman atau pengetahuan yang memang pantas. Antara naik motor atau jalan kaki. Namun, pengetahuan ini juga yang akhirnya membawa para pedagang menyublimasikan dirinya dari menggenjot dagangannya sebagai cara ia berdagang berubah menjadi memijit-mijit gas motor yang dimodif bagian belakangnya berbentuk kotak panjang sebagai alat peraga dagangannya. Hal yang diangap sebagai kemudahan ini tidak disadari akan melumatkan bagian hidup mereka.

Betapa ketidak-ketergantungannya bagi manusia minimal manfaatnya adalah mengurangi tekanan batin dalam antrian di bawah terik matahari di SPBU. Mengikuti trend artinya, mengikuti cara-cara umum bagaimana manusia mulai dari membentuk pola hingga mengambil sikap dalam hidupnya. Mereka yang terpesona akan gaya hidup sejatinya hendak didasari (bukan disadari) oleh keluaran-keluaran baru yang menantang hidupnya, alih-alih ingin memiliki, karena menurutnya tanpa itu mereka kerja tanpa hasil. Lihatlah brosur-brosur perkreditan, kemudian sambunglah brosur itu dengan volume kendaraan yang lulus produksi ribuan jumlahnya keluar dari pabrik. Betapa terperangahnya orang. Maka, akan sampai pada tahap bahwa mode kekinian yang semakin mengikuti jaman akan diikuti dengan barang-barang lama yang langka hingga terciptanya banyak komunitas barang antik, yang antik tetap menggunakan yang akan habis, apalagi baru, yang mengompromikan gajinya yang cenderung flat sementara cicilannya mencekik kerongkongan, siasat memasukan selang selain pertalite ke dalam tenggorokan kuda besinya adalah suatu keharaman. Akhirnya, yang akan habis, akan terus tergerus keberadaannya.

Fenomena antrian yang kerap saya amati dari satu SPBU ke SPBU lainnya adalah kecenderungan kita akan kemudahan melakoni hidup hanya sesaat. Sampai di sini saya mau bilang, “jika mode kita sudah pada level modern, apa salahnya untuk menghindar agar tidak terus-terusan mengantri hanya karena ke minimarket melesat dengan kendaraan”. Memang susah menyadarkan orang jika kedua kaki-nya adalah ciptaan Tuhan yang memiliki kuasa atas segala kesusahannya.


 

Ade Novianto

Alumni Hubungan Internasional Universitas Satya Negara Indonesia

Beberapa tulisannya terbit di media (beberapa karena tidak ada apa-apanya. Coba kalau ada apa-apanya, kemungkinan banyak. Hmmpp…)

 

Belajar dari Presiden Park Chung Hee: Tokoh yang Membawa Korea Selatan Lepas dari Ketergantungan Negara Maju

 


Pembukaan

Sekarang ini, Korea Selatan sering disebut sebagai salah satu negara maju di dunia, karena ekonomi mereka sangat tumbuh setiap waktunya. Hal itu dikarenakan, Korea Selatan berhasil menjadi salah satu negara industri modern yang kekuatan ekonominya diperhitungkan oleh dunia, dan itu semua terjadi dalam waktu yang singkat. Padahal sebelum 1948, Korea masih menjadi salah satu negara jajahan Jepang. Belum selesai disitu, karena setelah merdeka, Korea Selatan juga masih harus berkecamuk dengan berbagai perang dan konflik internal, dimana mereka ada perang saudara dengan Korea Utara. Bahkan pada tahun 1950-an Korea Selatan menjadi salah satu negara termiskin di Asia. Hal ini kita dapat lihat pada data tahun 1955 milik World Bank, dimana GDP perkapita Korea Selatan hanya berada di angka US$ 64 dengan nilai eksport US$ 42 juta. Majalah Time juga menggambarkan keadaan Korea Selatan di masa itu lebih buruk dari Irak, Liberia, dan Zimbabwe. Oleh karena itu, Korea Selatan bisa dibilang sangat terbelakang pada masa itu.

Keadaan di tahun 1950 itu berbanding jauh dengan tahun 2005. Dalam selang waktu kurang dari 50 tahun itu, Korea Selatan telah berubah menjadi negara yang memiliki ekonomi raksasa. Korea Selatan juga menjadi negara di peringkat pertama dalam industri pembuatan kapal, peringkat ketiga dalam industri ban, dan peringkat keenam dalam industri baja dan besi. Negara ini juga menjadi negara dengan peringkat ke-12 pada aspek normalnya PDB, tingkat pengangguran yang cukup rendah, dan pendistribusian pendapatan yang merata.

 

Pembahasan

Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan tidak terlepas dari peran Park Chung Hee. Park Chung Hee memulai karirnya dibidang militer ketika masa kependudukan Jepang di Korea Selatan. Lalu ketika Korea Selatan merdeka, Ia bersama rekannya melakukan kudeta militer untuk menjatuhkan pemerintahan dadi Presiden Syngman Rhee yang terkenal korup dan otoriter. Presiden Park yang sebagai seorang mantan militer, tertarik untuk menciptakan keadaan yang stabil untuk Korea Selatan, membangun perekonomian dan juga memperkuat pertahanan nasional. Park Chung Hee melakukan modernisasi ekonomi melalui ideologi "ishin" atau dikenal dengan nama revitalisasi. Ia membuat pemerintahan bertumpu pada kekuatan tentara, birokrasi, dan teknokrasi. Untuk membalikkan keadaan ekonomi Korea Selatan. Saat itu Park Chung Hee mengambil beberapa langkah. Langkah yang pertama yaitu membuka hubungan diplomasi dengan negara Jepang agar mengundang arus penanaman modal asing (PMA) dan mendapat bantuan ekonomi serta teknisi dari negara tersebut. Kedua, mengambil sikap mengalah terhadap ikut campur Amerika Serikat di semenanjung Korea, yaitu agar mendapat pengakuan dan dukungan politik Blok Barat. Park Chung Hee juga menerima saran untuk meningkatkan usaha-usaha ekspor terutama industri manufaktur ke negara-negara berkembang.

Pemerintah membentuk Economic Planning Board (EPB) yang nantinya bertanggung jawab atas Repelita (Rancangan Pembangunan Lima Tahun). Program Repelita disusun dalam empat tahap yang baru dimulai pada tahun 1962. Tahap pertama dan kedua difokuskan untuk pembangunan industri. Tahap ketiga (1972-1976) difokuskan untuk menciptakan keseimbangan antara pembangunan industri dan pertanian. Kemudian tahap keempat (1977-1981) adalah pembangunan ekonomi secara mandiri dan pemerataan hasil pembangunan ke seluruh Korea Selatan. EPB membuat rancangan target dari semua variable terpenting yang ada di dalam ekonomi, termasuk investasi, konsumsi, tabungan, ekspor-impor, serta distribusi dari sektor industri.

Presiden Park Chung Hee juga berperan aktif dalam mengarahkan sektor swasta khususnya chaebol agar mewujudkan agenda pembangunan yang telah disusun. chaebol adalah tenokrat atau oligarki asal Korea Selatan saat itu yang menguasai banyak industri. Pemerintah saat itu memberikan kemudahan dalam perkreditan bagi para eksportir. Selain itu, Korea Selatan berhasil untuk mendapatkan pinjaman luar negeri dari Jepang dan Amerika Serikat. Di tahun 1970-an pemerintah juga memberi prioritas pada perkembangan industri berat dan kimia, misalnya industri pembuatan kapal. Rencana ini merupakan usaha agar kekuatan industri Korea Selatan lebih mandiri kedepan. Para chaebol dalam usaha melaksanakan kegiatan ekspor, juga mendapatkan pinjaman dana tanpa bunga dari pemerintah untuk mendirikan pabrik lebih mudah.

Keberhasilan pembangunan ekonomi kemudian menimbulkan masalah sosial di Korea Selatan, di mana tingkat pertumbuhan ekonomi daerah sektor pertanian di desa tertinggal jauh dengan daerah sektor industri di Kota. Sehingga, untuk mengurangi kesenjangan sosial serta mengembangkan dan memodernisasikan desa di Korea Selatan, maka terciptalah kebijakan Saemul Undong. Kebijakan ini bertujuan untuk membangkitkan semangat kemerdekaan dan kemandirian untuk mewujudkan desa yang lebih maju, serta kerja sama dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat pedesaan. Kebijakan ini dilaksanakan dalam tiga tahapan. Tahap pertama yaitu perbaikan lingkungan hidup pedesaan. Lalu tahap kedua memperbaiki infrastruktur desa, dan tahap yang ketiga yaitu memperluas kesempatan kerja pertanian dan non-pertanian. Sejak adanya kebijakan ini, ditahun 1978 terdapat sekitar 706 pabrik di kawasan pedesaan yang hampir seluruhnya mendapatkan bantuan subsidi dari negara.

 

Penutup

Kemajuan ekonomi Korea Selatan yang berjalan dengan mengesankan hingga saat ini dimulai dari kebijakan yang disusun oleh Presiden Park Chung Hee. Korea Selatan berhasil membangun ekonominya karena didukung dari SDA yang memadai. Hal tersebut membuktikan bahwa kesuksesan pada pembangunan Korea Selatan terletak pada kemampuan manusianya atau bisa dikatakan jika keberhasilan pembangunan tergantung dengan kebijakan yang diambil pemimpinnya.  Semua berawal dari kerja sama satu negara dengan negara lainnya, yaitu suatu negara yang pintar dalam memanfaatkan peluang, sehingga dapat mengambil keuntungan dari negara maju.

 

Teori Dependensi (Ketergantungan)

Yaitu suatu Teori yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana hubungan antara negara maju dan negara yang berkembang. Itu semua dijelaskan oleh teori ini, karena adanya eksploitasi negara maju atas sumber daya yang dimiliki oleh negara berkembang. Negara-Negara maju tentunya telah memiliki industri yang sangat hebat dan besar, oleh karena itu mereka lebih efisien dalam masalah ekonomi, mereka bisa menyulap suatu komoditas murah menjadi komoditas yang mahal, itu semua karena bantuan teknologi yang canggih.

 

Sedangkan negara berkembang hanya memiliki teknologi yang sangat sederhana, sehingga produk-produk yang dihasilkan oleh mereka tergolong barang murah, dan itu semua berujung pada pendapatan negara yang murah.

Negara-negara maju uniknya memiliki SDA yang miskin, dan sebaliknya, negara negara miskin memiliki SDA yang kaya. Oleh karena itu, bukan masalah siapa yang SDA-nya paling kaya, tapi siapa yang bisa mengelola SDA lebih baik, dialah yang akan lebih kaya. Dalam Kasus Presiden Park Chung Hee, dia tau bahwa Korea Selatan adalah negara yang miskin, oleh karena itu dia memutar otak untuk membangun bangsa ini. Yaitu dengan memanfaatkan negara maju, dan membangun negara dari uang mereka. Tidak hanya sampai disitu, Presiden Park juga paham bahwa SDM Korea Selatan sangat rendah, sehingga dia sadar bahwa kemampuan negara maju perlu diserap oleh rakyatnya, dan itu semua terbukti ketika teknisi jepang datang ke Korea, menjadi salah satu bentuk perjanjian dari hubungan bilateral antara Korea dan Jepang. Sehingga sekarang kita bisa mengenal industri elektronik dan mobil dari Korea Selatan.

Nyatanya tidak semua negara miskin harus miskin selalu, itu semua telah dibuktikan oleh Presiden Park, bahwa negara miskin harus pintar dalam memanfaatkan peluang, dan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari negara penghisap. Dan Korea Selatan menjadi sejarah itu sendiri, lepas dari kemiskinan, menatap masa depan yang penuh kemajuan.

 


Referensi

Kuntjoro-Jakti, Heru Utomo. 1995. Ekonomi Politik Internasional di Asia Pasifik. Jakarta :Erlangga

Darini, Ririn. 2010. Park Chung-Hee dan Keajaiban Ekonomi Korea Selatan. MOZAIK. Vol 5 (1) : 21 – 30

AsiaInfo.org, Korea’s Economy. 2010. http://www.asiainfo.org/asiainfo/korea/economy.htm

Rohman, Taufiq. Sejarah Korea Selatan, Negara Termiskin yang Menjadi Macan Asia. https://phinemo.com/sejarah-korea-selatan-negara-termiskin-yang-hingga-menjadi-macan-asia/referrer=https://www.google.com&csi=0

Oase Keimanan dari Pulau Dewata

 


Bulan Ramadhan adalah bulan suci yang disambut suka cita oleh banyak orang karena beragam alasan. Ada yang menyambutnya karena mengetahui akan segera membeli baju baru “baju lebaran”, ada yang  menyambutnya karena banyaknya diskon bertajuk lebaran, dan banyak juga yang menyambut dengan suka cita sebab banyaknya keutamaan dalam bulan ini.

Di Ramadhan kali ini ada yang berbeda bagi saya, sebab ini merupakan kali pertama saya berpuasa di daerah yang keberadaan muslimnya sebagai minoritas. Dari sana saya sadar bahwa menjadi seorang muslim di Pulau Jawa sungguh menjadi privilase yang tidak terbantahkan. Pasalnya, banyak kegiatan keagamaan (read: agama Islam) yang difasilitasi oleh Negara dan dianggap maklum oleh sebagian kalangan. Pendirian masjid misalnya yang bisa dilaksanakan dengan sebebas-bebasnya. Hal ini sangat bertolak belakang dengan sulitnya pendirian rumah ibadah lainnya.

Sulit sekali menemukan tradisi yang biasa dilakukan masyarakat Pulau Jawa di sini. Mulai dari membangunkan sahur keliling, perang sarung seusai tarawih, sampai perang petasan yang akan usai ketika sudah disantronin alias dijemput oleh orang tuanya yang tak jarang harus memakai persenjataan agar si anak pulang. Hal hal tersebut hanya dapat dijumpai di beberapa kampung Islam sebagai basis Islam yang tersebar di berbagai tempat di pulau ini.

Belum lagi, terkadang kita tidak dapat mendengar suara azan yang disebabkan oleh jauhnya jarak masjid dan sedikitnya masjid yang ada. Bukannya mendengar suara azan yang lantang seperti di Jawa, kita justru disuguhkan dengan pembacaan Trisandya di 3 waktunya. Trisandya merupakan Matram dalam agama Hindu yang dilaksanakan untuk persembahyangan 3 kali sehari yang biasanya dapat kita dengar di pukul 6 pagi, 12 siang, dan 6 petang. Singkatnya, Trisandya adalah sejenis azan versi Hindu.

Jangan anda bayangkan bahwa dapat menemukan tempat solat dengan mudah di Bali. Yang biasanya ketika di Jawa kita dapat menemukan masjid atau tempat shalat di sepanjang mata melihat. Di sini tidak semudah itu kawan. Di pom bensin? gak ada. Di tempat wisata? Jangan harap. Paling-paling anda bisa shalat di bale bale tempat wisata. Shalat di bale masih amanlah. Tapi bayangkan, shalat di bale yang terbuka dengan keberadaan anjing liar yang berlalu lalang. Cukup mengkhawatirkan memang.  

Tinggal di Bali pada Ramadhan kali ini membuat saya sadar bahwa banyak hal yang harus saya syukuri karena menjadi seorang muslim di Jawa banyak kemudahan yang saya dapatkan. Boleh dibilang penyebaran Islam di pulau Jawa sungguhlah massif. Namun demikian, banyak sekali yang sulit menerapkan nilai keislaman dan senantiasa menjadikan Islam sebagai agama yang ekslusif.

Perintah menutup warung sampai waktu yang ditentukan ketika bulan puasa dengan dalih untuk menghargai orang yang berpuasa bagi saya cukup ganjil, dan keganjilan tersebut makin mantap ketika saya tinggal di Bali. Dengan suhu yang lebih panas dari Jawa, terkhusus jawa bagian barat serta bagian yang jauh dari pesisir, masyarakat Bali bisa dengan tenang menjalankan ibadah puasanya. Terbukanya warung makan saat siang hari tidak sedikitpun mengusik mereka, justru saya yang sempat tergoda.

Mbok ya, itu yang senang sekali melarang ini itu kepada selain muslim diajak studi banding kepada muslim di Bali. Mintalah tips and trick bagaimana mempertahankan keimanan di tengah gejolak babi guling yang sangat menggoda serta bertubitubi godaan yang mereka anggap biasa tersebut.  Bisa dilihat nantinya, selama ini alasan mereka melarang ini itu apakah benar karena umat atau memang sekadar kekhawatiran mereka terhadap goyahnya mereka akibat lemahnya keimanan mereka. 

Belajar dari kejadian tersebut, seharusnya kita lebih mempertebal keimanan kita alih alih menyuruh orang untuk ikut kita berpuasa. Ternyata kita selama ini kita terlalu terlena dan egois seakan akan Negara kita adalah milik Islam. Apa itu moderasi beragama jika hanya teori semata?  

Mari kita acungkan jempol dan beri tepuk tangan kepada para muslim di Bali yang tidak mengemis untuk disediakan mushola di setiap tempat umum tetapi tetap menjalankan ibadah sebagaimana mestinya. Kita ucapkan juga selamat atas keteguhan muslim di Bali yang tetap lancar menjalankan ibadah puasa tanpa meminta untuk menutup warung yang ada. Selamat, kalian hebat.    

Kalau Miskin itu Privilige, Takkan Ada Lagi Orang Miskin di Dunia

 


Kemarin ada influencer yang membuat branding tentang kemiskinan sebagai sebuah Privilege. Ada banyak pro kontra dari pernyataan influencer tersebut, tapi memang lebih banyak kontranya dari pada yang pro. Hal yang jadi masalah juga adalah, alasan netizen ingin kontra dengan argumen influencer tersebut hanya karena yang berbicara itu telah menipu banyak orang terkait trading ilegalnya. Seharusnya kita bisa menahan diri dan memisahkan sebuah argumen dengan seseorang yang berbicara di belakangnya, karena itu adalah dua hal yang berbeda, kita harus menyerang argumennya, bukan orangnya ketika dalam konteks pengajuan opini dari seorang Individu.

Tentang miskin itu Privilege, sebenarnya ada masalah di sana tentang apa saja yang bisa kita sebut hak-hak istimewa (Privilege). Kita masuk ke dalam pembahasan yang relatif di sini, karena ada banyaknya sekat-sekat di antara kita sebagai kelompok yang berbeda, dan tentunya masing-masing kelompok memiliki hak istimewa yang berbeda-berbeda juga. Contohnya sebagai seorang artis, orang-orang tersebut pastinya memiliki privilege-nya tersendiri, misalnya jadi kaya raya dan hidup mapan, seorang artis juga dapat dikenal banyak orang, tapi ada juga harga yang harus dibayar dari seorang artis, misalnya seperti kehilangan privasi. Begitu juga dengan sebaliknya, untuk orang-orang yang tidak terkenal atau orang biasa, bisa saja dia punya privilege karena privasinya terjaga, tapi ia tidak punya privilege seperti banyak artis yang kaya raya dan terkenal. Jelasnya, perihal mendefinisikan apa yang bisa disebut privilege dan tidak ialah hal yang relatif, ada hal-hal yang bagi kita keuntungan, dan bagi orang lain merupakan kerugian.

Dari sinilah argumen influencer tersebut mengambil celah sebagai pernyataan yang seolah-olah sudah pasti benar dan absolut, karena dia mengklaim terlahir miskin itu privilege. Lalu pertanyaannya adalah, di mana memang letak privilege-nya dari kehidupan yang miskin? Padahal miskin itu kan susah dan menyedihkan. Memang jika merujuk dari penjelasan sebelumnya, dalam setiap hal pasti ada privilege-nya, begitu juga dengan kemiskinan. Kemiskinan bisa menjadi sebuah privilege bagi seseorang sebagai pelecut untuk terus berjuang, karena orang yang terlahir kaya itu tidak punya kondisi yang sama seperti orang yang terlahir miskin. Orang yang sudah kaya, kebanyakan tidak paham apa itu berjuang sekuat tenaga, sedangkan orang miskin paham tentang rasa berjuang itu. Nah, keinginan untuk terus berjuang tersebut sebagai seorang manusia tentunya menjadi hal positif dan hal tersebut banyak didapati dalam kondisi kemiskinan daripada kondisi kekayaan. Maka tentang rasa berjuang yang tak habis-habis, kondisi kemiskinan memang menang terhadap kondisi yang mapan.

Lagi-lagi hal yang jadi masalah adalah, keinginan untuk terus kerja keras itu tidak selalu memberikan kita kekayaan. Lihatlah para petani di sawah, pekerja bangunan di gedung-gedung mewah, mereka adalah orang-orang yang paling gigih kerjanya, paling semangat kerjanya, paling ingin cepat selesai kerjanya. Lantas, apakah itu cukup untuk membuat mereka kaya? Kan tidak juga, karena untuk kaya bukan tentang siapa yang paling keras kerjanya, tapi siapa yang paling cerdik kerjanya, dan tentunya, apakah cerdik juga menjadi sebuah hak istimewa dari menjadi miskin? Tidak juga kan, mereka saja pendidikan formal sebagai akses pekerjaan layak juga banyak yang tidak tamat.

Kecerdikan itu ada banyak indikatornya, seperti relasi bisnis, pengetahuan umum tentang dunia, kecerdasan emosional, dan banyak lainnya. Semua itu tidak bisa didapatkan hanya dengan menjadi miskin. Hal-hal tersebut didapatkan oleh orang-orang yang sudah terlahir kaya.

Privilege itu memang ada pada semua tempat, tapi bukan berarti kualitas privilege-nya sama semua. Buat apa kita hanya dapat privilege semangat bekerja, tapi tidak dapat privilege cerdik bekerja. Sedangkan untuk orang-orang kaya, buat apa perlu semangat bekerja, kalau cerdik bekerja saja sudah dapat menyelesaikan semua urusan.

Itulah kenapa masih banyak orang miskin di dunia ini, padahal ada privilege di dalam kemiskinan. Influencer tersebut tidak salah dalam menjelaskan bahwa terlahir miskin itu ada privilege-nya, tapi yang salah dari dia adalah, dia tidak menjelaskan bahwa privilege orang-orang yang terlahir kaya atau berkecukupan itu akan lebih menang jika diadu dengan privilege-nya orang miskin. Maka dari situ, masalah tentang kaya dan miskin adalah hal yang rumit, ia tidak mudah untuk dijelaskan, karena ada banyak hal-hal yang kita tidak sadari ketika menganalisis sesuatu, karena kita tidak cukup tanggap dalam melihat masalah yang sebenarnya.

Untuk influencer tersebut, kita janganlah terlalu menghina pribadinya, atau mengungkit-ungkit masalahnya ketika kita sedang membahas argumennya, karena kita harus adil dalam menanggapi opini, dan kita juga harus tetap dalam batasan-batasan yang seharusnya, untuk masalah moral. Biarlah pihak berwajib yang mengurusinya, kita tidak punya kewenangan di sana.