The Most/Recent Articles

Dasar-dasar Politik dan Kepemimpinan Masa KH. Mas Mansur dalam Muhammadiyah

 



Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912, oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta. KH. Mas Mansur lahir pada tanggal 25 Juni 1896 M di Surabaya. KH. Mas Mansur, sebagai salah satu tokoh penting Muhammadiyah yang telah berhasil meletakkan dasar-dasar politik Muhammadiyah di kancah nasional yang kemudian menjadi tradisi yang berlaku di masa-masa selanjutnya. KH. Mas Mansur terpilih sebagai Pimpinan Besar Muhammadiyah pada kongres Muhammadiyah ke-26 di Yogyakarta pada bulan Oktober 1937. Pada masa kepemimpinan KH. Mas Mansur, Indonesia masih dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda dengan sistem pemerintahan yang menekankan pada kekuasaan yang otoriter, di mana pemerintah kolonial Belanda melakukan berbagai penindasan terhadap rakyat Indonesia.

Hal ini terlihat dalam keterlibatan K.H Mas Mansur dalam melahirkan organisasi yang bersifat federasi antar berbagai Organisasi Islam, yang dikenal dengan nama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), yang lahir pada tahun 1937, dan masih juga mengemban amanat umat dalam wujud kesediaan beliau ikut serta memegang kendali pimpinan Partai Islam Indonesia (PII). KH. Mas Mansur mencetuskan 12 langkah yang kemudian terkenal dengan 12 langkah Muhammadiyah, serta Masalah Lima, di dalam bidang keagamaan.

Masa kepemimpinan KH Mas Mansyur merupakan tokoh yang kreatif dan terkenal sikapnya yang istiqomah dan pemberani, sehingga ikut dalam pengisian jiwa gerakan Muhammadiyah, dan penegasan kembali faham agama yang menjadi garis besar Muhammadiyah. Pada periode ini memaksimalkan Majelis Tarjih, sehingga menghasilkan “Masalah Lima” (Dunia, Agama, Qiyas, Sabilillah, dan ibadah). 

 

Kemajuan Muhammadiyah Di Era KH. Mas Mansur yaitu:

Dalam Bidang Sosial, beliau berhasil menginsiasi, Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) dan Balai Kesehatan dan Tuntutan Pemakmuran Masjid.

Dalam bidang ekonomi, pokok pandangan Muhammadiyah pada masa KH. Mas Mansur ialah:

·         Untuk memperbaiki ekonomi rakyat

·         Kapital tersebut diharapkan dapat membentuk kapital vorming

·         Untuk mendirikan bank Muhammadiyah yang mempunyai prinsip anti riba

Sedangkan dalam bidang Pendidikan Muhammadiyah sudah banyak didirikan baik sekolah maupun madrasah mulai dari SD, SMP, SMA.

 

Pelajaran yang Dapat Diambil dari Kepemimpinan Islam KH. Mas Mansur

Pertama, pribadi yang disiplin. Sebagai seorang Ketua Pengurus Besar, KH. Mas Mansur termasuk pemimpin yang ketat disiplinnya, terutama dalam menetapi waktu bersidang, sesuai dengan waktu yang tersebut dalam undangan.

Kedua, dapat membedakan urusan pribadi dan organisasi. Maka sudah seharusnya setiap Pimpinan Persyarikatan dari pusat sampai ke ranting mampu memiliki dan menggunakan kantornya masing-masing. Urusan Muhammadiyah bukanlah urusan pribadi tetapi urusan bersama dan formal. KH Ma Mansur selalu mentingkan urusan Bersama baru urusan pribadinya.

Ketiga, tabah menghadapi cobaan. Ketika Kongres Muhammadiyah ke-28 di Medan baru saja berlangsung, datang telegram kepadanya yang isinya mengabarkan bahwa istri mudanya yang tinggal di Surabaya meninggal dunia. Beliau tetap tenang, menarik nafas, dan terdiam. KH. Mas Mansur tetap menghadiri semua sidang dan rapat dalam kongres, pidatonya tetap tertib dan bermutu dan buah fikirannya tetap cemerlang. KH.Mas Mansur adalah sosok pemimpin yang bertanggung jawab walau dalam kondisi apapun beliau harus menyelesaikan tanggung jawabnya.

Keempat, sifat mulia. Sifat mulai yang dimiliki K,H Mas Mansur yaitu: kesabaran, kemajuan, ketaqwaan dan tawakal.

Kelima, adil dan amanah. Sifat Adil yang dimilik K.H Mas Mansur dapat menjalankan tugasnya dengan adil, mengambil keputusan yang tepat untuk kemaslahatan umat Islam. Amanah atau dapat dipercaya oleh masyarakat bahwa kepemimpinan beliau sangat berdampak baik terhadap masyarakat sekitar mendorong kemajuan bersama.

Keenam, hidupnya tidak selfis. Beliau tidak Memprioritaskan kesenangan dan kemanjaan diri dan orang-orang terdekatnya. Sejak muda Mansur telah terbiasa terpanggil untuk mendedikasikan diri dan siap berkorban demi kepentingan banyak orang dan bangsa.

Ketujuh, pengetahuannya yang sangat mendalam tentang Islam. Beliau sangat mementingkan pengetahuan. setelah belajar dari sejumlah ulama sejak dari Surabaya, Madura, Tanah Suci bermadzhab Syafi’i, dan persentuhan intelektualnya selama di Mesir serta dengan para tokoh/pemimpin bangsa lintas corak pemahaman keislaman dan ideologi politik.

Kedelapan, kepedulian yang tinggi. Harus dibangun kepedulian yang kuat untuk menolong orang-orang yang sengsara, tertindas, dhaif melalui gerakan dan amal kongkrit serta membangun sebuah sistem yang baik. Kedaulatan sosial, ekonomi dan politik harus diperjuangkan; kemerdekaan harus diperjuangkan.

 

 

 

Penulis : Risa Riyanti,S.Kep.,Ns.

Advisor : Fitri Arofiati, S.Kep.,Ns.,MAN.,Ph.D

 

 


Kepemimpinan Islam Buya Hamka

 




Biografi Buya Hamka

Prof. Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo, populer dengan nama penanya Hamka (bahasa Arab: عبد الملك كريم أمر الله‎; 17 Februari 1908 – 24 Juli 1981) adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia berkarier sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia sempat berkecimpung di politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah hingga akhir hayatnya. Univeristas Al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo, mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.

 

Selama revolusi fisik Indonesia, Hamka bergerilya di Sumatra Barat bersama Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) untuk menggalang persatuan menentang kembalinya Belanda. Pada 1950, Hamka membawa keluarga kecilnya ke Jakarta. Semula ia mendapat pekerjaan di Departemen Agama, tapi ia mengundurkan diri karena terjun di jalur politik. Dalam pemilihan umum 1955, Hamka terpilih duduk di Konstituane mewakili Masyumi. Ia terlibat dalam perumusan kembali dasar negara. Sikap politik Masyumi menentang komunisme dan anti-Demokrasi Terpimpin memengaruhi hubungan Hamka dengan Presiden Soekarno usai Masyumi dibubarkan sesuai Dekret Presiden 5 Juni 1959, Hamka menerbitkan majalah Panji Masyarakat yang berumur pendek, karena dibredel oleh Soekarno setelah menurunkan tulisan Hatta—yang telah mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden—berjudul "Demokrasi Kita". Seiring meluasnya komunisme di Indonesia, Hamka diserang oleh organisasi kebudayaan Lekra. Tuduhan melakukan gerakan subversif membuat Hamka diciduk dari rumahnya ke tahanan Sukabumi pada 1964. Dalam keadaan sakit sebagai tahanan, ia merampungkan Tafsir Al-Azhar.

Menjelang berakhirnya kekuasaan Soekarno, Hamka dibebaskan pada Mei 1966. Pada masa Orde Baru Soeharto, ia mencurahkan waktunya membangun kegiatan dakwah di Masjid Agung Al-Azhar serta berceramah di RRI dan TVRI. Ketika pemerintah menjajaki pembentukan MUI pada 1975, peserta musyawarah memilih dirinya secara aklamasi sebagai ketua, namun Hamka memilih meletakkan jabatannya pada 19 Mei 1981, menanggapi tekanan Menteri Agama Alamsjah Ratoe Perwiranegoro untuk menarik fatwa haram MUI atas perayaan Natal bersama bagi umat Muslim. Ia meninggal pada 24 Juli 1981 dan jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta.

 

Peran Buya Hamka dalam Muhammadiyah

Pada kongres Muhammadiyah ke-31 tahun 1950 di Yogyakarta, Hamka ikut menyusun Anggaran Dasar dan rumusan Kepribadian Muhammadiyah. Sejak kongres Muhammadiyah ke-32 tahun 1953 di Purwokerto, dia selalu terpilih sebagai pimpinan pusat Muhammadiyah sampai akhirnya mengundurkan diri pada 1971.

 

Karakter Buya Hamka

Almarhum Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal Buya Hamka adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dikenal pula sebagai tokoh Masyumi dan ulama Muhammadiyah. Semasa hidupnya ia menjadi tokoh yang toleran terhadap perbedaan, namun tegas dalam hal-hal prinsip keagamaan.

 

Kepemimpinan Islam Buya Hamka

Beliau memiliki sifat kepemimpinan profetik yang sangat patut untuk dijadikan contoh dan teladan. Salah satu contohnya yaitu pada saat beliau bersitegang dengan sastrawan besar yang menulis Tetralogi Buru, Pramoedya Ananta Toer. Perseturuan tersebut terjadi pada masa orde lama, Buya Hamka dituduh melakukan kudeta terhadap pemerintahan saat itu, karena berbeda pandangan politik terkait dengan Islam dan Komunis, sehingga Presiden Ir. Soekarno memenjarakan Buya Hamka selama 2,5 tahun tanpa ada proses hukum di pengadilan. Namun, hal tersebut tidak membuat Buya Hamka merasa dendam, waktu dipenjara selama 2,5 tahun dibalik jeruji dimanfaatkan oleh Buya Hamka untuk menulis Tafsir Al-Azhar, tafsir Al-Qur’an 30 Juz yang bahasanya mudah dipahami dan ringan untuk dibaca. Lebih dari itu, saat Ir. Soekarno berpulang, bahkan Buya Hamka yang menjadi imam shalat jenazahnya, tak memikirkan sedikit pun rasa dendam.

Sifat kepemimpinan profetik Islam yang dimiliki oleh Buya Hamka yang dapat menjadi teladan anak muda bangsa, salah satunya adalah kecerdasan (fathanah). Dapat kita lihat dari Tafsir Al-Azhar yang menjadi karya besar Buya Hamka, membuktikan kecerdasan beliau. Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk salah satu bukti lainnya, tidak hanya mempuni dalam bidang keagamaaan, namun juga mempuni dalam bidang sastra. Sifat kepemimpinan profetik kecerdasan (fathanah) yang dimiliki oleh Buya Hamka sesuai dengan Surat Al-Baqarah: 269, yang artinya “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”

Buya Hamka memberikan contoh yang baik sebagai suri tauladan bagi bangsa dan negara, khususnya anak muda yang menjadi corong perubahan, agen perubahan (agent of changes) dan penentu perubahan, bagaimana nasib bangsa dan negara kedepannya, menjadi hal yang sangat patut dan layak untuk dijadikan sebagai seorang suri tauladan, kiblat, dan role model, mengingat juga Buya Hamka adalah salah satu tokoh Muhammadiyah, sebagaimana arti dari Muhammadiyah sendiri yaitu Pengikut dan Umatnya Nabi Muhammad, dan Buya Hamka adalah salah satu ulama yang sangat dekat dengan sifat-sifat kepemimpinan yang dimiliki oleh Nabi Muhammad.

 

 

Aizid, R. (2017). Para Pelopor Kebangkitan Islam. Yogyakarta: DIVA Press.

El-Jaquene, F.T. (2018). Buya Hamka. Yogyakarta: Araska.

Faidi, A. (2014). Jejak-Jejak Pengasingan Para Tokoh Bangsa. Yogyakarta: Saufa.

 

 

Penulis : Nova Maulana, S.Kep.,Ns.

Advisor : Fitri Arofiati.,S.Kep.,Ns.,MAN.,P.Hd.

Keteladanan K.H Sudja' dalam Kepemimpinan Muhammadiyah

 


Muhammadiyah merupakan gerakan Islam dakwah amar ma'ruf nahi munkar dan tajdid (pembaruan tentang pokok ajaran Islam) yang bersumber pada Al-Qur'an dan As-Sunnah As-Sohihah. Banyak tokoh Muhammadiyah sebagai tokoh nasional yang berperan dalam memajukan bangsa dan negara. Salah satunya adalah KH. Sudja’, beliau adalah putra dari Raden Lurah Hasyim (KH. Hasyim) yang lahir di Kauman Yogyakarta pada tahun 1885. KH. Sudja’ merupakan pencetus pertama berdirinya RS PKU Muhammadiyah. Berdirinya RS PKU Muhammadiyah bermula dari rapat pimpinan Muhammadiyah yang digelar oleh KH. Ahmad Dahlan. Beliau saat itu menanyakan apakah ada bangunan yang perlu untuk didirikan. Kemudian, KH. Sudja’ mengusulkan membangun sebuah Rumah Sakit untuk warga Muhammadiyah. Namun, hal tersebut justru malah ditertawakan oleh para hadirin yang hadir karena dianggap tidak masuk akal.


KH. Sudja’ memang bukan sosok orator yang tampil di muka umum, namun KH. Sudja’ lebih suka berada di belakang layar menjadi seorang pemikir dan konseptor. Beliau memiliki mimpi yang tinggi. Impian tentang mendirikan Rumah Sakit tersebut berawal dari ajaran KH. Ahmad Dahlan dan teologi Al-Ma’un. Lebih jauh ia berprinsip bahwa jika Allah SWT telah menetapkan ketentuannya di dalam Al-Quran, pasti ketentuan itu dapat dilakukan umat-Nya, karena mustahil Allah SWT membuat ketentuan yang tidak dapat dilakukan kaum-Nya. Pembelajaran mengenai surat Al-Ma'un inilah yang mendorong KH. Sudja’ memiliki impian besar mendirikan hospital (rumah sakit), armenhuis (rumah miskin) dan wesshuis (rumah yatim). 


Kiprah yang menggembirakan dengan gagasan melampaui zamannya, kendati tak sedikit dari mereka yang diremehkan hingga disemati tuduhan tak berdasar. Walaupun mimpinya tersebut ditertawakan oleh banyak orang karena dianggap tidak masuk akal, namun pada 1938 beliau berhasil menginisiasi pendirian Rumah Sakit PKU (Pembina Kesejahteraan Umat) yang pada awal didirikan berupa klinik sederhana dengan nama PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) dengan maksud menyediakan pelayanan kesehatan bagi kaum dhu’afa,  hingga sekarang Muhammadiyah memiliki 105 Rumah Sakit. Dalam perannya di luar PKO, KH. Sudja’ menjadi sosok penting dalam meriwayatkan berbagai kisah yang dia saksikan bersama KH. Ahmad Dahlan. Menjelang akhir hayatnya KH. Sudja’ merasa bersedih karena saat sakit dirinya tidak dirawat di Rumah Sakit PKO Muhammadiyah, mengingat saat itu peralatannya belum memadai.


KH. Sudja’ selain berperan dalam pencetus pendirian Rumah Sakit PKU Muhammadiyah juga aktif dalam memperjuangkan perbaikan kualitas perjalanan haji bagi jamaah asal Indonesia  dalam pembentukan Bagian Penolong Haji setelah ia ditunjuk oleh KH. Ahmad Dahlan untuk memimpin perjalanan haji yang dikoordinir oleh Bagian Penolong Haji, survei kondisi perjalanan haji, dan mengenalkan Muhammadiyah kepada pemimpin Makkah. Lembaga ini merupakan perintis dan mengilhami adanya Direktorat Urusan haji. Dikutip buku Haji dari Masa ke Masa terbitan Kementerian Agama, pada tahun 1921 yang merupakan gerakan perbaikan penyelenggaraan haji dengan menekan pemerintah Belanda. Dalam perjalanannya beliau melaksanakan tugas ini bersama Wirjopertomo. Berkat usaha dan ketekunannya, ia kemudian dikenal sebagai pelopor perbaikan perjalanan haji Indonesia. Pada masa kemerdekaan KH. Sudja’ kemudian mendirikan PDHI (Persatuan Jamaah Haji Indonesia). Apa yang diupayakan organisasi Islam terbesar di Nusantara ini memiliki dampak besar terhadap pelaksanaan haji. Sejak itu jumlah jamaah haji naik drastis. Pada tahun 1930-an jumlah jamaah haji Indonesia mencapai 33.000 orang. Bandingkan dengan jamaah haji di luar Arab yang mencapai 80.000 orang. Ini artinya negara Indonesia menyumbang 30 persen total jamaah haji dunia.


Di kalangan tokoh Muhammadiyah KH. Sudja’ dikenal sebagai salah seorang yang banyak mewarisi sikap gurunya KH. Ahmad Dahlan, dalam rangka mengembangkan organisasi. Jika KH. Ahmad Dahlan adalah peletak dasar berbagai aktivitas amal usaha sosial Muhammadiyah, maka KH. Sudja’ adalah perumus dan sekaligus penafsirnya dalam realitas gerakan. Itulah sumbangan besar KH. Sudja’ dalam mengembangkan gerakan Muhammadiyah, khususnya di bidang amal usaha sosial. Bapak Penolong Kesejahteraan Umum sebagai kepanjangan tangan KH. Ahmad Dahlan tersebut wafat di Kauman pada tanggal 5 Agustus 1962. Pada perkembangannya, berbagai khidmah semangat kerja kemanusiaan yang beliau rintis di dalam Muhammadiyah terus berkembang dan meluas dari pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, kebencanaan nasional, hingga respon krisis kemanusiaan internasional di berbagai negara melalui Muhammadiyah Aid.


Dengan demikian nilai-nilai kepemimpinan dari KH. Sudja’ yang bisa kita teladani sesuai dengan cita-cita dan tujuan Muhammadiyah terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yaitu.

1.      Warganya beriman dan beribadah kepada Allah SWT dalam arti yang seluas-luasnya (melaksanakan ibadah mahdhah dan amah).

2.      Hidup sejahtera, perekonomiannya cukup bisa memenuhi kebutuhan pokok untuk makan, papan, pendidikan dan kesehatan secara layak manusiawi. Hidup dalam suasana kedamaian, kerukunan, gotong royong saling membantu, dan sehat lahir batin

3.      Hidup bermartabat dan berperadaban yang tinggi dalam konteks keumatan dan kebangsaan maka kepemimpinan Muhammadiyah adalah pemimpin yang memiliki semangat kemanusiaan pemimpin yang membebaskan umat dari berbagai penderitaannya.

 

Penulis : Puspitowarno, S. Kep., Ns.

Dosen Pengampu : Fitri Arofiati, S.Kep., Ns., MAN., Ph.D.

 

 

Konsep dan Aplikasi Kepemimpinan dalam Islam

 



Patriotisme dan Nasionalisme dalam Muhammadiyyah

Salah satu Tokoh Pemimpin Islam yang dapat Kita lihat dari karakteristik Kepemimpian dalam Islam yaitu Kasman Singodimedjo lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada tanggal 25 Februari 1904, aktif dalam organisasi Muhammadiyah sejak masa mudahnya, merupakan pemersatu bangsa. Beliau hadir sebagai pemersatu antara golongan Islam dan nasionalis, Kasman Singodimedjo yang juga berasal dari Muhammadiyah dipercaya oleh Soekarno dan Hatta untuk meluluhkan hati Ki Bagus Hadikusumo supaya menerima usulan penghapusan tujuh kata terkait syariat Islam, telah berani mengambil resiko saat itu menjelang proklamasi kemerdekaan. Kasman Singodimedjo merupakan orang yang kritis, tidak hanya pada masa Soekarno tapi juga masa Soeharto, di mana dia akan kritis, sebagai salah satu founding father bangsa ini, ia sangat terpanggil untuk meluruskannya, siapapun pemimpinnya.

Kasman sebagai aktivis Muhammadiyah, yang beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan. Sosok Kasman juga gemar memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah. Baliau merupakan tokoh pemimpin yang unik, Kasman adalah seorang nasionalis yang memperjuangkan tegaknya Islam, sekaligus pemimpin Islam yang berjuang untuk kepentingan nasional. "Beliau seorang intelek sekaligus seorang kiai. Lebih dari itu semua, Kasman adalah seorang pejuang tanpa pamrih yang nyaris dilupakan oleh bangsanya.


Karakteristik Kepemimpin Dalam Islam

Pada prinsipnya menurut Islam setiap orang adalah pemimpin. Ini sejalan dengan fungsi dan peran manusia di muka bumi sebagai khalifahtullah, yang diberi tugas untuk senantiasa mengabdi dan beribadah kepada-Nya seperti yang tercantum dalam Q.S Al-Baqarah : 30.

Kepemimpinan di dalam Islam adalah suatu hal yang inheren, serta merupakan salah satu sub sistem dalam sistem Islam yang mencakup pengaturan seluruh aspek kehidupan secara prinsip. Islam mengatur niat amal-tujuan sekaligus sumber kehidupan, otak manusia, kemudian mengatur proses hidup, perilaku, dan tujuan hidup. Dalam Islam seorang pemimpin dan yang dipimpin harus mempunyai keberanian untuk menegakkan kebenaran yang dilaksanakan melalui prinsip kepemimpinan, yaiutu melaksanakan kewajiban kepemimpinan dengan penuh tanggung jawab seorang pemimpin dan melaksanakan hak berpartisipasi bagi yang dipimpin.

Konsep kepemimpinan dalam Islam merupakan Sunnatullah/ketetapan Allah SWT, yang telah menjadikan manusia sebagai pemimpin. Kepemimpinan telah terlebih dahulu diperkenalkan dalam Islam jauh sebelum para ahli mengemukakannya. Kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan yang didasarkan atas metode kenabian dalam rangka menciptakan kultur masyarakat madani memperoleh Ridha Illahi. Kepemimpinan itu wajib ada, baik secara syar‟i ataupun secara aqli. Adapun secara syar‟i misalnya tersirat dari firman Allah tentang doa orang-orang yang selamat pada surah Al-Furqan : 74.


Karakteristik Kepemimpin Kasman Singodimedjo

1.      Kepemimpinan adalah suatu yang melekat pada diri seorang pemimpin yang berupa sifat-sifat tertentu seperti: kepribadian (personality), kemampuan (ability), dan kesanggupan (capability).

2.      Kepemimpinan dalam Islam merupakan Sunnatullah / ketetapan Allah SWT, yang telah menjadikan manusia sebagai pemimpin.

3.      Pada prinsipnya menurut Islam setiap orang adalah pemimpin. Ini sejalan dengan fungsi dan peran manusia di muka bumi sebagai khalifahtullah, yang diberi tugas untuk senantiasa mengabdi dan beribadah kepada-Nya sebagaimana tercantum dalam surah Al-baqarah: 30

4.      Seorang pemimpin yang memiliki sifat Sidiq (jujur), Tabligh (menyampaikan), amanah (dapat dipercaya), fatonah (cerdas).

5.      pemikiran Kasman Singodimedjo, sumber kedaulatan tertinggi dalam ajaran Islam adalah Allah SWT (teokrasi).

 

Penulis: Ade Komariah, S.Kep., Ns.

Dosen pembimbing : Fitri Arofiati, Skep.,Ns,MAN,ph.D

Penerapan Gaya Kepemimpinan Islam di Pelayanan Rumah Sakit



 

Pemimpin adalah seseorang yang menggunakan wewenang untuk mengarahkan orang lain serta bertanggung jawab atas pekerjaan orang tersebut untuk menjadi tujuan. Di dalam sebuah pelayanan khsususnya di rumah sakit biasanya ada seseorang yang ditunjuk sebagai pemimpin untuk mengatur dan mengorganisasi stafnya agar tercapainya pelayanan yang paripurna.

Kepemimpinan biasanya diikuti dengan gaya kepimpinan, gaya kepimpinan seseorang bukanlah tergantung semata-mata pada watak seseorang tapi ada kecenderungan dari seorang pemimpin untuk menggunakan gaya kepemimpinan yang berbeda dalam menghadapi bawahan yang beraneka ragam tingkat kedewasaannya.

Di dalam kepimpinan Islam di mana pemimpim tidak hanya sekedar, mengarahkan, membawahi, memerintah tapi lebih kepada teladan dan tanggung jawab. Islam menganjurkan kita untuk banyak meneladani gaya kepimpinan Rasulullah Muhammad SAW (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bagi beliau pemimpin tidak hanya memberikan arahan tetapi lebih memegang amanah besar,baik kepada manusia maupun kepada Alloh SWT. Kekuatan kepemimpinan beliau leadership yang di bimbing oleh wahyu dan bersinergi dengan kepekaan dan kecerdasaan telah menciptakan keputusan-keputusan yang terarah, terukur dan tepat sasaran.

Nabi Muhammad SAW menerapkan tiga gaya kepimpinan dalam islam yaitu Syura (permusyawaratan), Adl bil qisth (keadilan disertai kesetaraan), Hurriyah al-kalam (kebebesan berekspresi). Karakteristik yang ada pada pribadi Nabi Muhammad SAW, melambangkan jenis kepemimpinan yang harus dimiliki setiap pemimpin. Keagungan kepimpinan Nabi Muhammad SAW merupakan sumber inspirasi sebagai seseorang yang ditunjuk sebagai pemimpin di tempat kerjanya. Sesuai firman Allah SWT dalam Surat Al-Ahzab ayat 21:


 لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah”

Penerapan gaya kepimpinan islam yang di lakukan oleh Nabi Muhammad SAW dapat digunakan dalam pelayanan di rumah sakit seperti pelayanan yang dilakukan oleh profesi perawat di mana seorang perawat dipimpin oleh seseorang kepala perawat di ruangan. Seorang kepala perawat ruangan dapat menerapkan gaya kepimpinan Syura (permusyawaratan) dimana saat terjadi masalah dalam pelayanan dianjurkan kepala ruangan perawat untuk bermusyarah untuk saling terbuka dan berdiskusi dengan para staffnya dalam menyelesaikan masalah yang ada untuk mencapai mufakat dalam mengambil keputusan, sesuai firman Alloh SWT surat As-Syura ayat 38 yang artinya:

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka”

Gaya kepimpinan  Adl bil qisth (keadilan disertai kesetaraan), dapat diterapkan oleh kepala perawat misal saat pembagian jadwal dinas agar pembagian jadwal kerja staf  perawat bisa merata karena pembagian jadwal staff merupakan keputusan multak dari kepala perawat sebagai pemimpinan. Sesuai firman Alloh SWT surat Al-Hujurat ayat 9 yang artinya:

“Dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil

Gaya kepimpinan Hurriyah al-kalam (kebebasan berekspresi). Kebebasan berekspresi  merupakan hak yang diberikan kepada siapa saja untuk menyuarakan kepedulian, persetujuan, atau saran atas suatu persoalan agar mencapai kesejahteraan. Dalam penerapan nya pelayanan dimana ketika terjadi masalah dalam pelayanan kepala ruangan perawat mengajak staf untuk mengungkapkan masalah atau pendapatnya secara bebas dan pendapat postif agar masalah yang terjadi cepat selesai dan para stff tidak merasa terbebani dengan masalah yang ada demi kemajuan bersama dan kepala ruangan perawat siap untuk menerima saran dan kritik dari para stafnya.

Selain itu kita bisa menerapkan nilai-nilai islam dalam gaya kepemimpinan di dalam pelayanan antara lain  Al- Akmal asy-syakhshi (dimana pemimpin mempunyai kemampuan untuk membimbing dan mengajarkan prinsip dan moral etis), Makarim al-akhlaq (dimana pemimpin  mencontohkan memiliki akhlak yan baik dan berlandaskan etika) dan Fa’iliyah al-qiyadiyyah (dimana pemimpin mencontohkan stafnya, berupaya mendisplinkan diri dengan datang tepat waktu, dan peningkataan kerja).

 

 

 

Penulis : Rantiningsih Sumarni, S.Kep.,Ns.

Advisor : Ibu Shanti Wardhaningsih, S.Kep.,Ns., M.Kep. Sp. Jiwa., PhD






Prinsip Kepemimpinan Islam dalam Peningkatan Kemampuan Manajemen Pemimpin


Konsep Dasar Kepemimpinan Islam

Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan seseorang mempengaruhi orang lain sehingga mereka bisa dengan penuh semangat  berusaha mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Kepemimpinan dalam Islam merupakan sebuah proses dalam mempengaruhi orang lain dengan memberikan contoh dan keteladanan seorang pemimpin yang dapat dilihat dari sikap dan perilaku seorang pemimpin. Konsep pemimpin dalam Islam atau selanjutnya disebut kepemimpinan Islam merupakan model kepemimpinan yang memiliki nilai-nilai yang berlandaskan pada sumber Al- Quran dan As-Sunnah atas praktik Rasullullah.

Kepemimpinan sebenarnya bukan sesuatu hal yang mesti menyenangkan, tetapi lebih merupakan sebuah tanggungjawab sekaligus amanah yang amat berat yang harus diemban dengan sebaik-baiknya.

Allah berfirman dalam QS al-Mu’minun Ayat 8-9 :

Dan orang-orang yang memelihara amanah (yang diembankannya) dan janji mereka, dan orang-orang yang memelihara sholatnya, mereka itulah yang akan mewarisi surga firdaus, mereka akan kekal didalamnya.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berpegang pada nilai-nilai moral, etika yang bersumber pada ajaran agama yang dianutnya. Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan sempurna maka ia harus memiliki pedoman atau konsep-konsep yang jelas dalam menjalankan kepemimpinannya.

 

Prinsip- Prinsip Kepemimpinan Dalam Islam

Al-Qur'an dan As-sunnah dalam permasalahan ini telah mengisyaratkan beberapa prinsip pokok dan tata nilai yang berkaitan dengan kepemimpinan. Prinsip-prinsip atau nilai-nilai tersebut antara lain:

a. Prinsip Tauhid

Tauhid merupakan dasar utama pemimpin Islam dalam menjalankan kepemimpinan Islam. Tauhid merupakan hal yang sangat penting dijadikan landasan bagi seorang pemimpin sebagai sebuah prinsip yang kokoh dalam melaksanakan kepemimpinannya. Dalam Al-Qur'an sendiri yang berkaitan dengan prinsip tauhid dapat ditemukan dalam surat An-Nisa ayat 48, Ali imron ayat 64 dan surat Al-Ikhlas.

b. Prinsip Musyawarah

Musyawarah merupakan suatu bentuk usaha yang dilakukan oleh seorang pemimpin untuk mencapai keputusan bersama atas suatu permasalahan. Hal ini sebagaimana terdapat pada terjemahan surat Ali-Imran ayat 158:

"Bermusyawarahlah kamu (Muhammad) dengan mereka dalam urusan tertentu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakkalah kepada Allah Swt. Sesungguhnya Allah Swt mencintai orang- orang yang bertawakkal kepada-Nya".

c. Prinsip Kebebasan Berpikir

Pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu memberikan ruang dan mengundang anggota kelompok untuk mampu mengemukakan kritiknya secara konstruktif. Mereka diberikan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat atau keberatan mereka dengan bebas, serta harus dapat memberikan jawaban atas setiap usulan yang mereka ajukan.

d. Prinsip Adil

Pemimpin sepatutnya mampu memperlakukan semua orang secara adil, tidak berat sebelah dan tidak memihak.

Disebutkan dalam Al-Quran Surat An-Nisa ayat 135 yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu para penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (untuk kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan untuk menjadi saksi, maka ketahuilah bahwa Allah Maha teliti terhadap segala sesuatu yang kamu kerjakan.”


Kepemimpinan Islam Dalam Manajemen Perencanaan

Dalam Al-Qur’an telah disebutkan mengenai perencanaan, yaitu Al-Qur’an Surat al-Anfâl ayat 60: 

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).

Kata “siapkanlah” mempunyai makna bahwa hendaknya seorang pemimpin menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan organisasinya, dalam hal ini yang dimaksud adalah membuat perencanaan. Perencanaan mempunyai arti bahwa memikirkan serta menyusun apa saja yang akan dikerjakan berdasarkan apa yang dimiliki. Perencanaan merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk menentukan tujuan dari sebuah organisasi serta menentukan cara terbaik untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk itu prinsip kepemimpinan musyawarah diperlukan dalam hal ini. Dimana pimpinan melibatkan setiap anggotanya untuk dapat menyampaikan gagasan atau ide ataupun pendapat, sehingga perencanaan yang disusun akan lebih mudah diimplementasikan karena setiap anggota mempunyai tanggung jawab atas hasil musyawarah.

 

Pengorganisasian

Pengorganisasian dilakukan untuk membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Struktur organisasi yang merupakan Sunnatullah dan struktur yang berbeda-beda itu merupakan ujian dari Allah. Adanya struktur dan stratifikasi dalam islam dijelaskan seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an QS. Al-An’am; 165:

Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman dan sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Seorang muslim yang bertauhid ketika berorganisasi, ia selalu mendasarkan pada perintah Allah bahwa sesungguhnya kaum muslimin harus tetap bekerja sama sebagaimana dikemukakan dalam firman Allah. QS. Ali-Imran ayat 103:

Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.

 

Pengarahan

Pengarahan adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat mengarahkan bawahannya pada kebaikan. Sesuai dengan firman Allah QS. An-Nahl: 125 yang memerintahkan agar manusia senantiasa saling mengingatkan agar berbuat kebaikan dan bekerja dengan benar.

 

Evaluasi

Pengevaluasian adalah proses pengawasan dan pengendalian performa perusahaan untuk memastikan bahwa jalannya perusahaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Sebagaimana diriwayatkan dalam QS. Alam-Nasyrah: 6-8 yang memerintahkan agar senantiasa bersungguh-sungguh dalam bekerja dan berdo’a kepada Allah. Salah satu bentuk kesungguhan dalam bekerja pada seorang pemimpin adalah melakukan evaluasi terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan organisasinya, dengan tujuan mengetahui bagaimana hasil kerja yang kita peroleh.

Dari penjelasan-penjelasan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sudah ada ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas mengenai bagaimana proses kepemimpinan yang semestinya dan juga membahas kemampuan manajerial yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Untuk itu kita sebagai seorang ummat muslim hendaknya selalu menjadikan Al-Qur’an dan As-sunnah sebagai landasan dalam menjalankan proses kepemimpinan.

 

Penulis: Dyah Sriwigati, S.Kp., Ns.

Advisor : Erna Rochmawati, S.Kp., Ns., MNSc., M. Med. Ed., Ph. D.