The Most/Recent Articles

Peringati Hari Santri, KKN Kelompok 40 UIN Walisongo Luncurkan Buku bunga Rampai

 



Kelompok 40 Kuliah Kerja Nyata Reguler Dari Rumah 77 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang menggelar diskusi dan peluncuran buku Bunga Rampai "Merekonstruksi Makna Perjuangan Santri" dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2021. Acara ini dilaksanakan pada hari Jum'at tanggal 22 Oktober 2021 di Desa Tempel, Kelurahan Jatisari, Mijen Kota Semarang.


“Buku ini ditulis oleh lima belas Mahasiswa KKN RDR 77 Kelompok 40 UIN Walisongo sebagai Refleksi, kritik, dan beberapa alternatif berfikir bagi santri di tengah hiruk-pikuk modernitas,” ucap Naila saat membuka diskusi selaku moderator.


Diskusi offline terbatas ini dimulai pada pukul empat hingga pukul enam sore. diisi oleh Muhammad Khabib selaku Ketua Komunitas Alumni Perguruan Tinggi Jawa Tengah dan Pegiat Tempel Guyub, Muhamad Syafiq Yunensa selaku kontributor terpilih, dan Andi Evan Nisastra selaku penanggap dan GUSDURian UIN Walisongo.


Khabib menyampaikan bahwa persoalan utama adalah pemahaman santri yang hanya sebatas pada pembicaraan agama yang bersifat ritual saja. Padahal kemunculan resolusi jihad tak bisa lepas dari perjuangan melawan kolonialisme.

“Bila perjuangan dulu melawan kolonialisme, maka kini neo-kolonialisme juga harus dilawan. Apa wujud dari neo-kolonialisme? Yaitu struktur sosial, ekonomi hingga ekologi yang timpang. Santri harus mengambil peran di situ,” tutur Khabib yang sudah lama berkecimpung di dunia gerakan.


Syafiq Yunensa menjelaskan tulisannya yang membahas bahwa santri belajar belajar dari Power Rangers untuk mendefinisikan kembali perjuangannya. Kita bisa menggunakan hal-hal yang bersifat imajinatif  untuk refleksi bersama. 

“Santri harus mau belajar dari berbagai sisi kehidupan, tidak sebatas kitab kuning, tapi kitab merah, biru, hijau dan warna-warni lain juga harus dipelajari. Belajarlah dari Power Rangers dengan segala warna-warninya, saya membayangkan ada santri yang menjadi pemuka agama Islam sebagaai ranger merah, menjadi pengusaha sebagai ranger biru, menjadi politikus sebagai ranger hijau, menjadi petani sebagai ranger kuning, dan akademisi sebagai ranger pink, dan berbagai warna lainnya,” ungkap novelis muda kelahiran Brebes tersebut.

 

Selain itu, Evan memaparkan tanggapannya tentang bagaimana santri berkembang dan membaca berbagai kondisi kemasyarakatan yang ada. Pesantren sebagai tempat santri belajar mendalami ilmu agama juga adalah wadah untuk memulai perubahan dan pergerakan di masyarakat.

“Pembelajaran terkait sosial masyarakat tidak hanya sebatas apa yang ada di atas kertas tapi juga melihat dan merasakan langsung apa yang terjadi di tengah masyarakat,” ungkap pegiat Gusdurian Walisongo yang juga Desainer Digdaya Book tersebut.

 

Reporter: Keredaksian DB

Ku Tak Tahu Kalau Ku Tak Tahu (Virus Pengilahian Diri dan Pentingnya Scientific Attitude)

 


Setiap Manusia pasti pernah sampai fase dimana dia menjadi over confident dengan daya intelektual, emosional, bahkan spiritualnya sendiri, ia yang menemukan mutiara sintetis di kolam ikan seringkali merasa tahu bagaimana caranya menemukan mutiara tersembunyi di Samudera Hindia, ia yang bermain-main di hutan wisata seringkali merasa tahu bagaimana caranya survive di Hutan Amazon, dan ia yang mencicipi sedikit bumbu cinta seringkali merasa tahu rahasia akbar cinta sejati yang tak terkiaskan. Mengapa Manusia seringkali merasa tahu segala-galanya padahal ia hanya tahu sedikit? Mengapa Manusia seringkali merasa seperti Tuhan kuasa padahal ia hanya butiran kecil kosmos?

Sebetulnya, fenomena “Pengilahian diri” ini merupakan suatu fase kehidupan yang kemungkinan akan dilalui oleh Manusia, mungkin teman-teman pernah mendengar istilah “Puber intelektual” atau “Mabuk agama”, terminologi tersebut memang pas dipakai untuk menggambarkan mereka yang mengilahikan dirinya sendiri, dan biasanya, fenomena pengilahian diri ini lebih besar peluangnya bagi mereka yang memiliki ilmu pengetahuan, inilah paradoksnya, bahkan ilmu yang sangat luhur pun bisa dijadikan Weapon of mass Destruction (WMD) bagi mereka yang mengilahikan dirinya sendiri. Manusia memiliki daya kebinatangan yang sangat luar biasa, nafsu hayawaniyah ini luar biasa dampaknya apabila tidak dikontrol dengan akal sehat yang rasional dan wasath. Nelangsanya, nafsu haywaniyah inilah yang seringkali mengontrol tindakan kita sehari-hari, segala macam ilmu pengetahuan yang murni dan baik akan menjadi buruk outcome-nya apabila ilmu tersebut masuk kedalam jiwa yang kebinatangannya tinggi. Inilah akar penyebab mengapa ada orang berilmu tapi kok lisannya bagaikan pisau, ia merendahkan orang lain atas nama ilmu pengetahuan, baginya semua lingkup kehidupannya adalah forum diskusi, mudah sekali lisannya mengeluarkan kalimat bodoh, terbelakang, kolot, dungu, udik, tidak kritis, dan lain sebagainya, masih syukur alhamdulillah kalau dengan kalimatnya itu ia mau mendidik orang tersebut sehingga ia mengeluarkan orang dari lembah kebodohan, lha kalau tidak? Melihat fenomena pengilahian diri sendiri dengan ilmu pengetahuan ini, saya jadi ingat kalimat seorang ulama yang berbunyi “Orang mengaji sepintar apapun, jika tidak ada riyadhoh-nya, percuma ilmunya. Karena nanti ilmunya akan ditunggangi hawa nafsu.”

 

Nalarnya seperti ini (saya akan menggambarkannya secara figuratif), ilmu pengetahuan itu bagaikan air, air tersebut sifatnya suci dan bersih, untuk memiliki air tersebut harus dijemput terlebih dahulu, mustahil secara logika air tersebut menghampiri kita tanpa dijemput terlebih dahulu. Manusia si penjemput ilmu ini bagaikan mangkuk yang akan menampung air yang ia jemput, kalau mangkuknya bersih dari noda maka airnya akan tetap segar dan bisa dinikmati oleh si pemilik air tersebut bahkan orang lain pun bisa menikmatinya. Sebaliknya, kalau mangkuknya  kusam dan kotor, air tersebut akan terkahontaminasi dan akan menjadi racun untuk diminum oleh orang lain. Begitupun relasi ilmu dengan Manusia, kalau Manusianya berhati bersih bisa mengontrol nafsu haywaniyahnya, taqwanya mengalahkan fujurnya, maka insya Allah ilmu tersebut akan menjadi bermanfaat untuk masyarakat karena si pemilik ilmu tersebut paham cara memanfaatkannya dengan baik. Sebaliknya, kalau Manusianya hatinya kotor, maka ilmu yang ia terima bukannya menjadi barokah buat dirinya sendiri dan orang lain malah akan menjadi musibah buat dirinya sendiri dan orang lain karena ia keliru dalam memanfaatkan ilmunya. Singkatnya, Orang yang hatinya bersih ketika dia menerima ilmu akan berpikir bagaimana ilmunya bisa bermanfaat dan barokah buat diri sendiri dan orang lain, orang yang hatinya kotor ketika dia menerima ilmu akan berpikir bagaimana caranya ilmunya itu bisa membuat orang lain kagum dan terpesona dengannya. Maka terbuktilah, meskipun kalam dan nasihat kyai dan ulama kita tidak begitu ndakik dan scientific, tapi itu justru berperan sebagai fundamen kesuksesan seorang untuk menjadi intelektual yang sempurna berbasis pedoman iman-ilmu-amal.

Disinilah pentingnya peran pendidikan scientific attitude dan akhlak intelektual, seorang penuntut ilmu pertama kali wajib mengetahui tentang berbagai macam symptom-symptom virus pengilahian diri yang mungkin akan ia alami didalam perjalanan menuntut ilmu, symptom-symptom tersebut diantaranya ialah perasaan luar biasa untuk mendebat orang lain padahal ilmunya cetek dan argumennya lemah, perasaan paling benar sendiri, perasaan aku wis ngapling suwargo! Dan berbagai macam symptom lainnya. Kalau ini tidak disadari dan diberi pencegahan, lama kelamaan gejala-gejala tersebut akan menjadi penyakit akut yang mendasari kepribadian orang tersebut (amit-amit jabang bayi!). Pendidikan scientific attitude ini mesti diajarkan dengan cara yang lengkap, ajarkan penuntut ilmu metode berdebat yang baik, bentuk forum diskusi yang mengedepankan peran rasio dibanding emosi, bangun kemampuan berargumentasi yang baik didalam diri penuntut ilmu, bedah dan ajarkan (bila mampu) kitab-kitab ulama dan intelektual yang bisa dijadikan acuan scientific attitude mulai dari imam Az-Zarnujy sampai Tom Nichols, dan yang paling penting dan dasar dari segalanya adalah ajarkan penuntut  ilmu untuk mengalahkan nafsu-nafsi buruk didalam dirinya, karena itulah musuh terbesar didalam diri penuntut ilmu.

Akhir kalam, fenomena pengilahian diri dengan ilmu pengetahuan ini sesungguhnya adalah bagian dari perjalanan intelektual seseorang, perjalanan menuju intelektual sejati itu tidak semudah itu dan banyak proses yang mesti dilalui, akan banyak fenomena pergulatan intelektual bahkan spiritualitas, fenomena pengilahian diri ini merupakan bagian dari gelombang perjalanan intelektual seseorang, kita yang lebih senior dalam hal ini harus mengayomi mereka yang sedang berada didalam fase ini karena sebetulnya dia sangat sangat perlu untuk dibimbing, orang-orangg semacam ini begitu ia sadar bahwa ia bodoh, ia akan berpeluang besar menjadi intelektual kaffah di masa depan karena ia pernah menjadi penyintas virus pengilahian diri tersebut. Pada akhirnya, salah satu momen ternikmat dalam hidup kita adalah ketika kita sadar bahwa kita dulu pernah sendablek dan sengeyel itu, dan ketika kita sadar bahwa kita  akan berkembang pesat ketika kita tahu kalau kita tak tahu, wallahua’lam bisshowab.

Memutar Roda Ekonomi dan Kehidupan Dusun Tempel Lewat Perbaikan Tempel Guyub

 



Setelah kurang lebih selama 2 tahun Tempel Guyub berdiri, tak diragukan lagi bahwa kini Tempel Guyub telah menjadi salah satu poros ekonomi masyarakat sekitar. Maka dari itu, dengan kedatangan tim KKN kelompok 40 dari UIN Walisongo terhitung sejak tanggal 8 Oktober lalu, para anggota kelompok KKN dan dengan bantuan warga sekitar bergotong royong dan saling bahu membahu untuk memperbaiki aset warga yang sangat berharga ini.

Setelah kurang lebih 1 minggu lamanya tim KKN kelompok 40 ini tinggal di dusun Tempel, Jatisari, Mijen, kabupaten Semarang, tim KKN ini langsung gerak cepat membaca situasi dan kondisi lingkungan sekitar. Salah satunya adalah Tempel Guyub ini, yang terletak strategis di pinggir jalan dan di antara sawah desa. Di sini, dapat dikatakan sebagai pusat berkumpul warga di setiap harinya. Karena setiap ba’da ashar, kalangan ibu-ibu sekitar berdagang jajanan mulai dari jajanan ringan ciki hingga sosis bakar, gorengan, dan bubur.

Tepatnya pada 14/10/2021 tim KKN kelompok 40 mulai melakukan pengecatan bambu-bambu yang terbentang di area Tempel Guyub, juga kayu-kayu untuk menopang kedai sederhana milik masyarakat yang terletak di sepanjang lokasi Tempel Guyub. Dan dengan kekayaan alam milik dusun setempat, tim ini memanfaatkan bambu untuk memperbaiki apa yang sekiranya sudah mulai rapuh.

Selain menjadi pusat berdagang kalangan ibu-ibu, Tempel Guyub sebenarnya juga menjadi pusat pemancingan kalangan bapak-bapak. Setiap sore, setidaknya ada satu dua bapak yang sedang memancing. Dengan persetujuan mas Habib selaku ketua paguyuban Tempel, atap Tempel Guyub yang semula hanya menggunakan daun, sekarang sudah diganti dengan bahan yang lebih tahan lama dan lebih aman dari hujan yaitu dengan menggunakan asbes.

Maka dari itu, Tempel Guyub ini selain layak disebut pusat berkumpulnya masyarakat sekitar, layak juga untuk dirawat dan dijaga. Agar roda ekonomi dan roda kehidupan di dusun setempat tetap berputar dengan baik.

Rep: Meihana Fatin Lutfiyah

KKN RDR 77 UIN WALISONGO SEMARANG kelompok 40 membagikan masker kepada masyarakat sekitar lokasi tempat KKN




Kelompok 40 Kuliah Kerja Nyata Reguler Dari Rumah 77 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang membagikan masker kepada masyarakat sekitar lokasi KKN. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk upaya mencegah penyebaran Covid-19. Kegiatan ini dilaksanakan hari jumat tepatnya tanggal 8 Oktober 2021.

Kegiatan membagikan masker kepada masyarakat dianggap sebagai kepedulian dalam upaya mencegah penyebaran virus covid, meskipun sudah banyak masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin, tetapi protocol kesehatan haruslah tetap wajib dilaksanakan. Karena vaksin sebagai bentuk pencegahan penularan, perlu diingat bahwa vaksinasi tidak membuat seseorang kebal terhadap virus 100%, untuk itu protocol kesehatan harus lah tetap dilaksanakan.

“Kegiatan membagikan masker sangat saya apresiasi karena kegiatan ini bertujuan baik dan mengingatkan masyarakat untuk terus ingat tentang protocol kesehatan dan tetap menggunakan masker diluar rumah” tutur kata Likah selaku salah satu masyarakat setempat.

Likah mengatakan kegiatan membagikan masker membuat masyarakat ingat akan pentingnya protocol kesehatan dan tetap menggunakan masker saat menjalankan aktivitas diluar rumah.

Menjalankan protocol kesehatan sangatlah penting. Protocol kesehatan yang dapat dilaksanakan oleh masyarakat dinegara Indonesia dikenal dengan nama protocol kesehatan 5M yaitu: pertama mencuci tangan, kedua memakai masker, ketiga menjaga jarak, keempat menjauhi kerumunan, kelima mengurangi mobilitas. Diharapkan warga Indonesia tetap melaksanakan protocol kesehatan 5M agar virus covid-19 dapat segera pergi dari Negara kita.

Perihal Corona dan Rindu yang Sirna

 


Terima kasih

Pernah bersedia bersama

Meski akhirnya aku menyadari

Kamu datang tidak untuk selamanya

 

Terima kasih, Kekasih

Terima kasih untuk semua hal yang pernah kita jaga

Terima kasih untuk luka yang berakhir perih

 

Tak ada lagi senja yang indah

Tak ada lagi hujan cinta tanpa kita

Semua terasa biasa saja

Tanpamu, aku akan tetap berjuang seperti semula.

 

Pandemi

Banyak hal yang hilang karenanya

Seragam kebesaranku hanya terpajang rapi di museum lemari

Buku-buku berjejer di rak dengan rapi

Sepatu baru tak mengkilap lagi.

Lebih parahnya….

Kita dipaksa sehat di negeri yang sakit

Tak sedikit yang menganggap itu hanyalah konspirasi semata

Jeritan orang-orang yang lapar

Tangisan anak-anak kecil

Keluhan bapak-ibu mereka

Sebagian orang mulai berfikir untuk turun meminta-minta di persimpangan jalan.

Sebagian yang lain dengan asyik memakan hak sesamanya.

Peraturan hanya berganti nama, enggan menanggung laparnya.

Pemerintah seolah tak mendengar

Menganggap itu hanyalah angin lalu

Dan kita hanya bisa terdiam,

Dan tak punya daya melawan.

 

Senyum yang Hilang

Kau dan aku tak bisa bertemu

Dipisahkan oleh jarak dan waktu

Dipisahkan oleh wabah penyakit yang tak menentu

 

Aku berharap semua penghalang ini segera sirna

Awan hitam berganti putih seperti sedia kala

Pelangi dengan senang hati menampakkan dirinya

Di Negeri tempat kita meng-ada.

 

Dan aku? ingin kembali melihat senyummu

Dalam kesunyian yang nyata.

Ilmu, Manusia Terpelajar, dan Sekolah

 


Ilmu adalah rahmat terbesar yang pernah Tuhan ciptakan di dunia yang fana ini. Ilmu menerangi gua kebodohan yang gelap, ilmu memadamkan api kebodohan yang membara dan menjalar sebagaimana pohon terbakar yang membakar pohon-pohon lainnya. Ilmu melunakkan dan membasahkan tanah yang gersang dan tandus bagai Gurun Gobi. Ilmu mengisi sumur kering dengan air yang maha sejuk. Dan yang terutama, ilmu memanusiakan monyet-monyet yang berpikir ini hingga menjadi Manusia. Tanpa ilmu, pastilah peradaban kita masih dalam tahap peradaban kudet dan kuper, perkembangan teknologi akan mandek, pertumbuhan kesenian akan macet, dan pastinya, manusia sebagai “hayawanun nathiq” akan kehilangan unsur “nathiq”nya dan hanya menjadi “hayawan” yang buas,dungu,dan tengil.

Ilmu adalah hadiah maha indah yang Tuhan hadiahkan ke kita. Bila setiap manusia sadar dan merasakan keindahan ilmu ini,  akan terlihat banyak hal yang bisa dirapikan pada dunia yang ternyata tak seideal yang dikira. Ilmu membuat Manusia merasa lapar dan kurang. Bagaimana maksudnya? Dengan ilmu, kita akan menyadari betapa dangkalnya standar keberhasilan dan kesuksesan di kehidupan masyarakat, betapa haus akan reputasi plastisnya masyarakat kita.

Hah! ia pikir baju mahalnya,aksesoris branded-nya,rumah megahnya, pengaruh besarnya, dan jumlah pengikutnya. Apakah itu yang membuat kita bernilai? Sepertinya teman-teman sudah tau bagaimana jawabnya. Oleh karena itulah, seorang terpelajar wajib merasa lapar dan kurang, Banyak masyarakat kita hari ini mengalami “kebutaan intelektual serta moralitas” dan hanya orang terpelajar yang tahu itu, tidak selayaknya orang terpelajar hanya berdiam diri melihat pemerintahan “The Kingdom of Ignorancy” ini, Tidak selayaknya para terpelajar menjadi bisu dan tuli terhadap “Republic of Stupidity” ini.

Apabila orang bodoh berkata, maka orang terpelajar harus berteriak! Apabila kebodohan tersiar, maka orang terpelajar wajib mengklarifikasinya! Hai terpelajar, jadilah engkau seperti Ibrahim, yang kritis dan analitis terhadap kedunguan dan kesesatan! Karena apabila tidak, para Nimrod-Nimrod itu makin bersuara dan menjadi “tipping point” kedunguan.

Tidak bisa dimungkiri bahwa sistem pendidikan kita turut memainkan peran dalam mengaburkan definisi ilmu yang bersih nan suci tidak berhadas ini. Ilmu adalah ketika anda mendapat nilai 95 dalam mata pelajaran A, ilmu adalah ketika kamu naik kelas, ilmu adalah ketika saya tidak berani mengkritisi guru karena takut kualat dan masuk neraka jahanam. Manusia yang sungguh tersekolahkan bukanlah hamba nilai dan IPK. Manusia yang sungguh terpelajar bukanlah yang “nggeh-nggeh wae”.

Kata Soe hoek Gie, guru bukanlah dewa dan murid bukanlah kerbau, selayaknya ketepatan ilmiah mengalahkan stratifikasi guru-murid itu sendiri, rasionalitas di atas judgmentasi serta kecerdasan narasi di atas caci maki. Maka, sangat amat disarankan untuk para pelajar yang sungguh-sungguh berniat menjadi “intelektual organik” untuk bersungguh-sungguh pula mengenali dirinya sendiri. Kenalilah bakat, potensi,kelemahan dirimu! Buat kurikulum mandirimu sendiri! Catatlah hal-hal apa saja yang ingin kamu kuasai serta pengetahuan dan keterampilan fundamental apa saja yang diperlukan untuk survive dalam kehidupan dan menyongsong kemajuan bangsa,negara,dan IPTEK di abad 21 karena ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah seringkali tidak menyentuh solusi praktis dan terlalu abstrak untuk dipraktikkan oleh para pelajar muda untuk dikembangkan menjadi bahan inovatif.

Mengetahui bakat dan minat saja tidak cukup! Carilah kesempatan-kesempatan untuk mengembangkan bakatmu! Gunakanlah waktumu untuk latihan dan belajar, karena syarat untuk menguasai sesuatu adalah “deliberate practice” atau latihan berkelanjutan. Ikutilah berbagai seminar/webinar/pelatihan dan bacalah banyak buku! Jangan tertipu dengan alasan palsu yang menyatakan “Ah ngapain baca buku,ntar salah menyimpulkan!” Kalimat tersebut adalah akibat dari kurangnya membaca dan belajar, padahal peradaban kita bisa berkembang merupakan jasa dari empat hal linier dan berkelanjutan yakni baca-tulis-karya tulis-inovasi-baca-tulis-karya tulis-inovasi-baca-tulis-karya tulis-inovasi dan semoga akan terus berlanjut tiada hentinya. Rantai tersebut akan berhenti ketika minat membaca semakin menurun karena terlalu  “produktif” berleha-leha dan ditakut-takuti bayang-bayang bahwa belajar dengan membaca bisa tidak barokah.

Senantiasa ingatlah, bahwa agama apapun tidak akan pernah ada yang mengharamkan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan salah satunya didapatkan dengan cara membaca, maka mustahil agama mengharamkan kegiatan membaca, maka bacalah! Iqro’! Bacalah ilmu-ilmu bermanfaat dan jauhi yang tidak bermanfaat. Namun, yang mesti diingat adalah bukan berarti sekolah atau pendidikan formal itu tidak penting! Carilah berbagai wahana dan sarana untuk membangun bakatmu di sekolah dengan mengikuti ekstrakurikuler,UKM,dan berbagai kegiatan yang lain yang bermanfaat, bangunlah relasi yang suportif di sekolah, kehidupan ini keras dan teman yang baik membantu melunakkannya, sekolah bisa jadi sarana kita mengembangkan bakat kita, dan kita bisa fokus di sarana tersebut serta jangan sepelekan nilai akademik! Dapatkan nilai bagus untuk membanggakan orang tua dan kamu tentu senang mendapatkan nilai yang baik, dan penuhi potensimu sejak dini untuk membahagiakan kehidupan di masa depan. Dan yang tidak kalah penting adalah, orang terpelajar selalu tau apa yang ia butuhkan dan tak butuhkan, orang bijaksana tau kapan harus berkata “GAS!” dan kapan berkata “SKIP DULU NGAB!”.

Jangan pula terlupa, bahwa orang terpelajar yang sungguh terpelajar pasti memahami dan bersikap sesuai nilai-nilai keluhuran. Di dalam setiap tindakan orang terpelajar pastilah tercurah aura keberadaban dan keanggunan, karena esensi ilmu adalah untuk memangkas kebodohan, dan kebiadaban adalah bagian dari kebodohan. Maka sebetulnya, implikasi manusia terpelajar adalah keluhuran tingkah laku dan keberadaban.

Kebiadaban dan ilmu bagaikan minyak dan air yang sampai kiamat qubro tidak akan bersatu, kalau ada orang berilmu tapi tindakannya merusak dan membawa mudhorot, bisa dipastikan ilmunya tidak berbekas di hatinya dan tidak termanifestasikan dalam perbuatannya, ilmunya hanya sekedar koleksi dan senjata pamungkas yang ditancapkan ke hati dan pikiran lawan debatnya,ilmunya hanya untuk membangkitkan “pathos” negatif  di kalangan masyarakat. Orang semacam ini adalah orang yang mengeksploitasi ilmu,dan mengeksploitasi ilmu adalah bagian dari kebodohan, mari kita bersama-sama deklarasikan perang terhadap kebodohan semacam ini!