The Most/Recent Articles

My Heart Remembers You

   


Pukul satu selepas perkuliahan, panas matahari menyengat menusuk ke pori-pori tubuh. Kususuri trotoar yang terselimuti debu kendaraan, kumpulan debu tersebut beterbangan ke sana-sini. Hari yang sangat melelahkan bagiku yang tengah bingung dengan pikiran sendiri. Pikiran tanpa adanya jalan keluar, merasa akhir dari sebuah rasa, mamatikan hati untuk percaya dengan cinta. Di sisi lain tubuhku juga menginginkan rasanya dicintai dan diberikan perhatian oleh seorang pujaan hati. Akan tetapi ahhh sudahlah itu hanya sebuah nafsu belaka bukan? Pasti berujung sakit hati yang kesekian kalinya. Tak terasa dengan lamunan, kakiku telah menginjak lantai kamar kosku. Kubuka pintu kos yang mengeluarkan bunyi ngik, mungkin karena termakan usia atau sudah berkarat engselnya, tapi aku tidak pedulikan itu. Aku lempar semua barang yang memberatkanku sejak pagi, aku hempaskan tubuhku di atas kasur yang biasa menemaniku dalam lamunan. Aku yang selalu memikirkan semua kerumitan ini seakan menjadi masalah terberat bagiku, bodoh bukan?

Merasa bosan dengan suasana kos dan cacing diperut seakan demo membuat perutku sakit lantaran belum makan siang, aku memutuskan untuk pergi ke warung makan terdekat.

"Hai! "

Seorang memanggilku dari arah belakang, sontak aku terkejut melihat keberadaannya. Sedikit ragu aku untuk menjawab sapaannya.

"Hai..."

"Lo Angel kelas 11 IPA 2 kan? "

"Iya, Kak. Kok Kakak tahu? "

"Ya tau lah, siapa sih yang nggak kenal Angelia Gercia sosok cewek yang dikejar-kejar  banyak cowok yang mengharapkan cinta dari lo! Bodoh mereka!"

Spontan aku terkejut akan perkataan dari mulut seseorang entah siapa namanya. Iya, aku Angelia Gercia salah satu cewek yang diidam-idamkan para cowok di sekolahku ini. Tetapi semua ungkapan perasaan dari mereka aku tolak.

"Hah! Aku juga nggak mengharapkan itu, asal Kakak tahu! "

Aku mengumpat dalam hati, dan merapalkan semua cacian buat seorang yang sok di depanku, tanpa mempedulikan dia, aku melenggang meninggalkan sosok yang tak tau diri itu. Tetapi tanganku tertarik oleh sosok tak tahu diri itu.

"Ehhhh maen pergi aja, habis sekolah gua tunggu di parkiran, pulang sama gua tanpa ada penolakan."

Aku hanya termenung, seakan waktu berhenti sekejap. Ketika sadar inginku menolak akan tetapi sosok tak tahu diri itu sudah hilang dari pelupuk mata. Hahhh

* * * * * * *

Cerita itu tak bisa kuhilangkan, memori pertama kali bertemu dengan dia selalu terlintas dalam lamunanku, seakan memori lama tidak mau melupakan kenangan itu. Dia sangat menyebalkan, entah mengapa aku bisa ada rasa dengan salah satu mahluk menyebalkan di muka bumi ini. Sebenarnya dia baik, hanya saja sikap sok dinginnya dan bossy menutupi kebaikannya, dia juga mempunyai pribadi yang berubah-ubah selayaknya wanita pms moody, aneh memang tetapi ini nyata. Ahhh sudahlah, itu hanya kenangan indah sekaligus perih di masa lalu, tak perlu aku terus bayangkan, toh tidak ada gunanya juga kan. Aku angkat tubuhku yang telah lama termenung dalam lamunan ketidakgunaan, menyusuri lorong kamar-kamar kos yang berjejeran untuk menuju kamar mandi tempat inspirasi sejuta umat, ha ha. Aku basuh muka yang teramat kusut, terasa kesedihan yang masih berlarut-larut. Dingin, air disini memang dingin, rasa sejuk menyegarkan otakku sejenak.

Terpaksa sepulang sekolah aku berjalan melenggak menuju parkiran sekolah, di sana sudah mahkluk tak tahu diri itu telah menengger di motonya bak seekor burung. Huhhh kesal rasanya tapi aku tak tahu harus berbuat apa.

"Woyyy ayok! Malah bengong"

Teriak orang itu tanpa dosa dari kejauhan, dengan spontan aku berlari kecil menuju orang tak tahu diri itu.

"Ini helmnya, pake! "

Bisa halus dikit ga sih ini orang, gerutukku dalam hati.

"Iya hm"

"Buruan naik"

"Hm"

"Kos lo dimana? "

"Jalan pasturi 1, kebon raya nomer 7."

Tak ada lagi obrolan selepas itu, hanya tatapan kosong melihat pemandangan alam sembari menikmati udara segar kota ini, matahari yang tersipu malu tertutupi oleh awan putih bagaikan sutra halus. Cuaca hari ini sangat bersahabat untuk beraktivitas di luar ruangan, tak terlalu panas untuk kita membeli seplastik es teh untuk melepas rasa kering ditenggorokan.

Ciiiiitttt!

"Udah sampe"

Terkejut aku karena ulah bodohnya yang memberhentikan motor seenak jidatnya, tanpa sadar aku telah berada di depan rumah kos terwemah dan nyaman menurutku sendiri. Aku lepas helm yang ternyata tidak bau penguk oleh keringat rambut, sembari itu kuangkat kakiku untuk turun dari motor. Aku berbalik dan memang aku sengaja tidak mengucapkan terimakasih, toh dia yang memaksaku untuk ikut pulang bersama secara paksa, ingat itu dengan paksaan.

" Eh manusia yang tidak punya sopan santun, bilang makasih napa! "

Hihhh seribu rapalan dalam hati sudah kusiapkan untuk mengerutuki anak yang tak tahu diri ini.

"Iya, makasih"

"Nahh, besok hari minggu ikut gua ke danau di atas, gamau tahu pokok bisa dan lu kosongkan semua jadwal! "

Bagai ultimatum yang tidak bisa aku bantah, entah mengapa mulut seakan tidak bisa menolak, serasa di hipnotis oleh orang yang tak tahu diri ini. Tanpa menunggu persetujuan dariku orang itu sudah meninggalkan rumahku sembari berteriak dalam kepulangannya.

"Jam 7 gua jemput!"

Kulangkahkan kakiku menuju dalam kos dengan pikiran yang tidak karuan, masih dalam kebingungan dan keanehan dengan diriku. Aku bertanya kepada diriku, ada apa denganku? Kenapa aku mengiyakan perintahnya? Apa aku dihipnotis? Ahhh semakin bingung saja aku untuk memikirkannya, aku tidak mau gila di usia muda cuma gara-gara sosok tidak tahu diri itu.

Akhir pekan yang aku nanti-nantikan telah tiba, selepas pusing dengan tugas sekolah yang begitu banyak dan ditambah sosok yang tidak tahu diri itu muncul entah dari mana mengusik kehidupanku yang sudah tenang bagai di surga. Ohhh shit, aku lupa besok aku sudah punya janji yang dibuat dengan cara sepihak oleh sosok tidak tahu diri itu, ah akhir pekan yang sangat tidak sesuai ekspresiku. Tapi sudahlah itung-itung sekalian pergi di akhir pekan tanpa mengeluarkan biaya, ha ha. Suara notifikasi handphone berbunyi, menandakan ada chat masuk, tetapi siapa yang chat di hari libur pagi seperti ini. Nomor tanpa nama tertera di kolom chat teratas, ahhh ternyata sosok tidak tahu diri itu beserta segala ultimatum yang dia berikan seenak jidat.

Jangan lupa besok, jangan ngebo!

Sudah cukup semua atas tindakan yang dibilang tak senonoh, bagaimana tidak? Dia merampas semua hak berbicaraku dan hak menolak ajakan orang lain.

hm

ga peduli, pokoknya harus ikhlas

iya ikhlas bnget

nahh sip

Sekarang kalian tahu kan, betapa kejamnya dia yang memaksakan semua atas kehendaknya. Tapi anehnya kenapa diriku bisa menurut dengan begitu saja, ada apa dengan diriku ini? Jurus apa yang dia berikan kepadaku, sehingga aku bisa takluk seperti ini

Keesokannya tergesa-gesa karena bangunku yang kesiangan, aku rampas handuk di gantungan baju belakang pintu dan meluncur menujuk kamar mandi dengan Terburu-buru, syukurnya aku tidak terpeleset oleh lantai kamar mandi yang licin ini. Aku kerahkan jurus kilatku untuk segera menyelesaikan ritual mandi yang tidak lebih dari 15 menit, waktu yang terbilang cepat untuk ukuran mandi perempuan, karena perempuan bisa menghabiskan waktu yang sangat lama untuk sekedar mandi. Hanya memerlukan waktu 30 menit aku sudah siap dengan segala hal, suatu rekor yang bombastis untuk aku yang selalu bingung ketika bepergian. Handphone-ku berbunyi, pasti sosok itu telah tiba, benar dugaan yang ada di hatiku.

gua udah di depan.

Buru-buru aku melangkah menuju pintu depan, mendapati sosok itu telah bertengger di atas motornya, seperti yang telah aku katakan bagai burung bertengger di atas ranting pepohonan. Melihat sosok itu seakan malas untuk menemuinya, inginku kembali ke sangkar tempat tidurku dan tenggelam di dalam selimut hangat.

"Wah, rapi sekali, emang mau kemana sih, Neng? Wkwk"

Sangat-sangat menyebalkan bukan.

"Ke laut, mau nenggelamin Iblis!"

Jawabku sarkas

"Hehe canda kali, Neng, udah ayo naik"

"Hm"

Aku naik dengan hati yang tidak karuan, tidak bisa kadeskripsikan, cukup aku yang tahu akan hal ini. Sikap dia yang berbeda sebelumnya membuat diriku tidak percaya, senyuman manis ketika menyapaku dan pembawaan yang lebih hangat dibanding sebelumnya. Aku tidak tahu kenapa bisa demikian, mungkin sekarang ini dia dalam keadaan perasaan yang baik tidak seperti kemarin.

Perjalanan yang cukup ditempuh dengan waktu 30 menit dan ditemani pemandangan alam yang sejuk, dikarenakan di sini dataran tinggi wajar jika udaranya segar dibanding perkotaan, sepanjang jalan disuguhkan oleh pepohonan yang rindang dengan sautan suara burung berkicau. Danau Priya yang terletak di atas perbukitan ini memiliki cerita yang dipercaya sejak dahulu oleh warga setempat, bagi mereka yang tidak berani mengungkapkan perasaan mereka, ketika berada di danau itu akan ada suatu keberanian untuk mengatakan perasaannya. Karena itulah danau tersebut dinamakan danau Priya yang berarti cinta atau dicintai.

"Ayok turun, Angelia Gercia"

Suara itu menyadarkanku dari lamunan panjang dalam perjalanan menuju danau, entah mengapa aku sangat suka sekali menglamun.

"Ehh iya, Kak."

"Nglamunin apa sih? Dari tadi nglamun terus, diajak ngobrol di motor juga nggak jawab hmm…"

"Hah, Kakak ngomong sama aku dari tadi? "

Terkejut aku, ternyata sejak perjalanan sosok tidak tahu diri ini membuka topik untuk ngobrol denganku.

"Iyaa, kamu diam aja, malah bengong"

"He he"

Cengirku tanpa dosa. Tanganku tiba-tiba digandeng olehnya, terkejut dan gugup dengan keadaan ini, kelembutan ketika dia memegang tanganku membuatku nyaman, sehingga aku menurut saja untuk dibawa kemana olehnya. Danau yang masih diselimuti embun pagi menambah suasana yang lebih sejuk dipandang, dikelilingi pepohonan yang rindang menjadikan pesona di danau ini sempurna. Dia membawaku di dermaga yang terbuat oleh kayu di pinggir danau, menuntunku untuk duduk sembari menikmati suasana di danau ini. Dia menatapku seakan ada sesuatu yang ingin dibicarakan, tetapi aku tidak tahu apa yang dia ingin bicarakan.

"Kamu tahu nama danau ini? "

Dia memulai mengajakku berbicara, dengan pembawaan yang lebih tenang dan halus, beda sekali seperti hari-hari kemaren, berbeda 360° dibanding sikap dia di sekolah.

"Danau Priya"

"Iya, kenapa danau ini dinamakan danau Priya? "

"Karena orang yang tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada orang yang dicintai, ketika berada di danau ini akan ada keberanian untuk mengungkapkan, tapi entahlah itu sebuah mitos"

"Iya, semoga itu tidak mitos dan aku bisa melakukannya"

"Maksudnya?"

Hening, tidak ada jawaban dari dia. Sudahlah aku juga tidak ingin tahu masalah pribadinya, itu hak dia ketika tidak ingin mengatakan apa yang dia rasakan, tidak ada hak untuk aku yang bukan siapa-siapa untuk dirinya. Aku sibuk menikmati suasana di sini, tenggelam dalam suasana sembari memejamkan mata, susana tenang seakan hilang semua beban pikiran. Dalam kesibukanku tenggelam dalam suasana danau ini, ada suara lirih yang mengusik ketenanganku ketika menikmati suasana danau Priya. Ya, suara itu keluar dari mulut sosok tidak tahu diri itu.

"Aku, suka sama kamu, Angelia Gercia"

Suara lirih tetapi masih bisa aku dengar dengan jelas itu membuat aku terkejut dan kaget, kenapa bisa seseorang yang tiba-tiba muncul beberapa hari bisa menuai rasa begitu saja, apakah ini yang dimaksud cinta pada pandangan pertama? memang perasaan tidak bisa diukur dengan patokan waktu, tidak salah ketika ada seseorang jatuh cinta saat pandangan pertama, tetapi hal tersebut tidak bisa meyakinkan seseorang bahwasanya cinta dia bukan hanya sekedar omong kosong.

"Aku telah jatuh cinta, sejak aku tahu kamu di hari pertama orientasi sekolah. Rasa ini sudah aku simpan sejak lama, Angel, hampir 2 tahun aku menyembunyikan perasaan ini dan aku muncul secara tiba-tiba dalam kehidupanmu. Memang aneh, tetapi ini tulus dan aku tidak mengharapkan balasan dari kamu yang terpenting aku sudah berani mengatakan itu sudah cukup."

Aku termenung tidak bisa berkata apa-apa, pikiran yang tidak karuan, bingung, kaget dan semua hal yang membuatku berpikir keras untuk merangkai sebuah kata-kata. Tetapi tetap saja nihil, aku hanya diam seperti patung. Sampai dia memanggil namaku, lamunanku pecah.

"Angel"

"Pulang!"

"Hah? "

"Pulang, pulang sekarang! "

"Iya-iya kita pulang sekarang"

Bentakku dengan nada yang keras, memecahkan semua ketenangan yang diciptakan suasana danau ini. Entah mengapa aku merasa jengkel, seakan ada yang salah menurutku, tetapi aku tidak bisa menyalahkan perasaan dari seseorang. Karena perasaan  itu muncul secara alamiah, aku tidak bisa untuk mengontrol perasaan seseorang, siapa aku? Beraninya ingin mengatur hal tersebut. Bodoh. Perjalanan pulang hanya menyisakan lamunan dan hening di antara kita, sibuk dengan pikiran masing-masing, saling menyalahkan apa yang telah terjadi. Hahhh bodohnya aku kenapa aku seperti itu tadi, penyesalan yang datang diakhir menghantui diriku, rasa bersalah yang amat aku sesali dan semestinya tidak aku lakukan. Komplek rumahku sudah terlihat, menandakan tempat tujuan akan tiba. Ketika telah berada di depan rumah aku segera turun tanpa mengucapkan apakah apapun, tetapi dari belakang ada suara teriakan yang dilemparkan kepadaku.

"Angel! Aku minta maaf kalau perasaanku membuatmu nggak nyaman"

Aku tetap diam dan terus berjalan kedalam rumah, tanpa memperdulikan suara tersebut.

* * * * * * * * * * * * * * * *

Lama sekali aku termenung di depan kaca kamar mandi ini, menyusun dan mengingat memori-memori beberapa bulan lalu yang telah lama ingin aku hilangkan. Bongkahan memori itu yang selalu muncul di permukaan pikiranku seakan menuntut diriku atas kesalahanku di masa lalu, menciptakan penyesalan terhadap kesalahan tingkahku. Keberadaannya yang entah tidak aku ketahui semenjak kejadian itu, seakan dia menghilang tanpa jejak atau memang menghindari diriku untuk selamanya. Aku telah mencarinya kemana-mana tidak ada yang mengetahui keberadaannya, kebingungan dan penyesalan yang masih melekat pada diriku. Aku menginginkan dirinya dan aku ingin memutar kembali waktu ini, tindakan yang tanpa aku pikirkan membuatku selalu menyalahkan diri sendiri. Entah salahku di mana, tetapi aku merasa salah dan aku baru menyadari hal tersebut. Untuk kalian yang tahu keberadaan Brian Dirga, katakan kepadanya Angelia Gercia dulu nyaman ketika berada bersamanya walaupun itu hanya sebentar, tetapi hal tersebut tidak memungkiri bahwa menjadikan adanya cinta yang akan bersemi.


Garis Waktu, Teman Para Penikmat Masa Lalu

 


Identitas buku

 Judul buku     : Garis waktu

 Penulis            : Fiersa Besari

 Penerbit          : Mediakita

 Tahun terbit    : 2016

 ISBN              : 9789797945251

 Halaman         : 211

 

Sinopsis buku

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju,

akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju,

akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju,

akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertantu.

Maka, ikhlaskan saja kalau begitu.

Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.

 

Resensi Buku

Kalian tentunya kenal dengan Fiersa Besari, ia bukan hanya seorang penyanyi saja, tapi juga  pencipta lagu yang sangat digemari remaja jaman sekarang, ditambah ia senang menulis dan menghasilkan karya-karya hebat. Sudah ada beberapa buku yang diterbitkan, salah satunya adalah buku berjudul “Garis waktu”. Buku ini sangat cocok untuk para pembaca yang sedang merasakan jatuh hati, gelisah karena dia, atau bahkan kalian yang sedang berpatah hati.

Bung Fiersa sangat dikenal dengan tulisan-tulisannya yang diunggah dalam akun sosial medianya yang sangat mewakili perasaan para pembaca di zaman sekarang yang cenderung mem-bucin.

Dalam buku Garis waktu ini menceritakan peristiwa tentang Bung Fiersa dengan ‘dia’ dari mulai masa perkenalan,,kasmaran,,patah hati, hingga pengikhlasan. Buku ini juga dimuat dari tulisan-tulisan Bung Fiersa yang diunggah di sosmed yang akhirnya dijadikan kedalam naskah buku Garis waktu ini.

“Jatuh hati tidak bisa memilih. Tuhan yang memilihkan. Kita hanyalah korban. Kecewa adalah konsekuensinya, bahagia adalah bonusnya”

Makhluk pecicilan itu bernama hati. Sering sekali kita mempunyai hati yang banyak tingkah bukan? Dan seringkali juga hati dan pikiran kita sangat kontra. Hati menginginkan bergerak untuk mengejarnya namun pikiran lebih sering berpikir untuk apa mengejar yang tidak pasti jika nanti berujung hanya patah hati lagi dan lagi.

Bukan hanya tentang perasaan cinta saja, namun ada juga bagian yang di dalamnya tersirat pesan untuk menjadi diri sendiri

Tidak perlu takut. Tunjukan saja warna-warnimu yang sesungguhnya. Bahkan lukisan terbaik sedunia pun mempunyai pembenci dan pengkritik”

Kadang dari kita teralalu takut untuk dihina, takut untuk menjadi beda. Pada akhirnya kita hanya bisa mengikuti mereka yang ada tanpa menjadi diri kita sendiri.

Padahal menjadi beda itu tidak ada salahnya, kamu bisa menemukan sesuatu yang lebih dari orang-orang yang hanya pandai ikut-ikutan saja.

Katika orang lain melakukan sesuatu yang mereka sukai dan kamu melakukan sesuatu yang kamu sukai, mereka terikat dengan rutinitas dan kamu memilih kebebasan, orang lain tak perlu mengerti. Tak perlu menyeragamkan diri dengan mereka, jadi diri sendiri saja.

Hanya karena pendapatmu berbeda, bukan berarti pendapatmu salah.

Bung Fiersa amat lihai mengaduk-aduk perasaan pembaca lewat kalimat-kalimat yang diuntainya. Seolah ia begitu mengerti dan memahami pembaca. Kalimat-kalimat yang ditulisnya terasa hidup dan sangat mewakili seseorang yang, baik sedang jatuh cinta, galau, patah hati, tersakiti karena dikhianati, maupun mampu bangkit dari hal-hal pahit yang menimpanya.

Nah, untuk kita yang sedang ingin berwisata dengan masa lalu Garis waktu ini sangat cocok buat kalian, maka bagi yang masih terjebak dalam masa lalu kalian harus baca ini, karena kita akan menemukan kutipan-kutipan yang mungkin saja sama dengan apa yang sedang dirasakan dan itu akan membuat kita menjadi semangat dan bisa bangkit dari masa lalu kalian.

Kelebihan buku

Cover buku ini cukup menarik, covernya sangat elegan. Kumpulan cerita ini tidak terlalu banyak basa-sasi. Bagi anak zaman sekarang yang suka  mem-bucin atau bahkan sering merasakan patah hati, buku ini sangat rekomended untuk dibaca. Di setiap halamannya terdapat kata-kata manis yang bisa membuat kita bangkit dan menjadikan itu sebagai realita yang harus dinikmati.

Kelemahan buku

Tidak jarang terdapat beberapa bahasa yang sulit dipahami, karena menggunakan majas-majas tertentu, dan juga pembahasan yang tidak semua tentang kisah asmaranya. Buku ini berbeda dari yang lainnya, karena tidak ada dialog dalam buku ini semuanya berbentuk narasi, alurnya hanya maju, walaupun demikian tidak terlalu membuat kita merasa bosan ketika membacanya.

Kehilangan

 


“Aku pulang, Kang. Lihatlah adikmu ini. Aku pulang, tapi sayangnya kau tak di depan pintu seperti biasa. Tak menyapa kepulanganku seperti dulu.Kau terbaring kaku di atas dipan, berselimutkan jarik batik, di kerumuni banyak orang yang sedang berkomat-kamit membaca doa, dzikir dan ayat Al-Qur’an.

 

Pagi ini aku pergi ke taman kota, bukan untuk menikmati pagi yang cerah di taman ini, tapi aku sedang menunggu seseorang, yaitu sahabat kecilku dari Jakarta yang ingin berlibur ke Semarang. Ia datang bukan tanpa alasan, katanya ia ingin mendengar 1.000 kalimat keluar dari mulutku tentang sebuah cerita 1 bulan yang lalu.

“Riry... Lama nggak ketemu.. Huaaa. Kangennnn.Kamu apa kabar..?”

Sebuah teriakan yang mengagetkanku di tengah lamunanku.

“Hai... Tia… Akhirnya sampai juga. Kabarku baik. Gimana perjalanan mu? jawabku sambil mempersilahkannya untuk duduk di sampingku.

Suasana di stasiun terlihat sangat ramai karena banyak penumpang turun dari kereta.

Perjalananku menyenangkan. Jakarta-Semarang, lumayan lah...” Tia menjawab sembari mengikuti instruksiku untuk duduk. “Gimana? Aku pengen denger ceritamu kenapa akhir-akhir ini kamu tak terlihat semangat dulu seperti dulu,” imbuhnya.

“Sekarang? Nggak nanti pas di kos aja ?” Kagetku

“Sekarang aja, Ry, dari tadi di kereta aku dah pengen denger ocehanmu...” ocehnya,

“Oke… Aku akan mulai cerita. Dengarkan aku dan jangan potong ceritaku, karena aku juga tau kamu sudah se-kepo itu dengan cerita ku yang 1 ini “

“Oke-oke… Siap Boss, Riry. Tia terlihat sangat antusias.

☆☆☆

Kau pasti sudah tau, aku anak perempuan satu-satunya di keluargaku. Anak perempuan terakhir dengan 5 saudara laki-laki. Kau juga sudah tau bahwa aku hanya dekat dengan 1 kakak laki-lakiku, Kang Udin yang sudah biasa kusebut Kang Din. Dia adalah laki- laki terkuat yang pernah aku kenal di bumi ini. Dia tidak sempurna fisiknya. Dia lumpuh dengan tangan dan kakinya kaku tak bisa di gerakkan saat umurnya menginjak 16 tahun, saat ia kelas 1 SMA.

Bisa kau bayangkan sendiri bagaimana mentalnya terpuruk waktu itu. Laki,-laki cerdas yang begitu semangat menggapai mimpi menjadi pemain sepak bola, tiba-tiba harus selalu terbaring kaku di atas kasur. Tapi dia tidak lemah atau cengeng dengan hidup. Dia menyembunyikan kesedihannya, dan terus berusaha memberi manfaat pada orang-orang di sekitarnya. Dia dengan sangat sadar tau bahwa manusia terbaik adalah yang bermanfaat untuk sekitarnya. Bahkan sampai sekarang aku masih tidak menyangka, bagaimana bisa dia sekuat itu dalam menjalani hidup? Hidup di tengah keterbatasan, tapi selalu semangat menatap kehidupan. Bahkan aku yang diberi fisik sempurna pun masih sering mengeluh pada Tuhan tentang kehidupan.

Dia adalah icon kekuatan dalam keluargaku, tapi sayang, aku baru menyadarinya setelah ia tiada. Tak pernah kusangka dia akan pergi secepat ini. Laki-laki yang sejak aku bayi selalu serumah denganku, selalu membantuku belajar, bahkan tanpanya aku tak akan pernah bisa kuliah seperti sekarang ini, dan yang paling aku sesalkan dalam hidup, adalah aku tak pernah mensyukuri keberadaannya semasa dia masih ada. Aku manusia bodoh yang hanya fokus pada kekurangan dan keterbatasannya. Hingga tak pernah sadar bahwa dia lah support sistem terbaik yang selalu ada di setiap langkahku. Selalu tau hal sekecil apapun tentang diriku, yang memikirkan masa depanku melebihi bapak dan ibuku sendiri. Dia laki-laki misterius, yang aku sendiri sulit menebak isi kepalanya. Dia sudah pergi Ti.. Dia telah bersama Tuhan. Dia meninggalkanku sendirian meniti kehidupan yang ternyata tak pernah bersahabat ini. Dia… Sosok guru, sahabat, dan partner terbaik dalam hidupku.

Kau tau Ti sejauh apa aku dulu menyepelekannya.Aku menyayanginya, Karena aku dengan sadar tau bahwa dialah satu-satunya kakak terbaik yang pernah kumiliki. Tapi semenjak aku merantau di Semarang untuk kuliah, aku jarang membalas pesannya, menyepelekan pesan-pesan yang dia kirimkan untukku. Bukan kah aku jahat, Ti ?

Dia setulus itu padaku, tapi aku sejahat ini padanya...

Oke... Kau pasti bertanya,-tanya kenapa dia tiba-tiba pergi?

Dia di ambil Tuhannya. Bahkan Tuhan lebih menyayanginya.Tapi itu mendadak sekali.Ketika terakhir kali aku pulang, dia sehat. Tak pernah terbayangkan dalam benakku dia memiliki penyakit ginjal stadium 3. Ketika dia sakit, kukira dia hanya sakit biasa. Tak ada yang mengabariku bahwa penyakitnya seserius itu. Hingga ketika aku pulang kembali, dia sudah terbaring kaku tak bernyawa di atas dipan dikelilingi orang-orang yang mendoakannya. Bagaimana aku bisa menerima itu? Ketika pertama kali aku masuk rumah, disambut bapak yang memelukku sambil berkata “Sing sabar ya nduk. Ikhlaske kang”. Bahkan di titik itu aku masih berusaha tegar. Hingga aku duduk di hadapannya, membaca doa untuk kelancaran arwahnya, air mata itu menetes. Aku gagal untuk pura-pura baik-baik saja atas kepergiannya. Tak sanggup menerima bahwa yang selalu memberikan hal terbaik dalam hidupku akan secepat itu pergi, sebelum aku sendiri sempat mengucapkan maaf dan terima kasih untuk semuanya. Bahkan sampai sekarang pun, aku masih memiliki impian itu. Impian yang aku sendiri tau bahwa itu mustahil untuk terwujud.

Kau tau apa impian itu,Ti? Aku ingin kembali bertemu kang Din dalam keadaan dia masih bernafas dan bernyawa. Aku ingin memeluknya, mengucap ribuan kata terima kasih dan jutaan kata maaf padanya. Aku ingin bercerita banyak hal padanya. Cerita yang sejak kuliah aku tak punya waktu untuk menceritakan nya. Aku ingin menceritakan padanya tentang bagaimana aku kuliah, ada apa saja di kuliah, dan apapun itu. Aku ingin ada sosoknya kembali di hidup ku, tapi dia mungkin lebih tenang di alamnya.

“Sudah Ry… Biarkan kang Din tenang di sana... Doakan saja untuk segala kebaikan nya,” Tegas Tia seraya memelukku.

“Dan yang membuat semua terasa lebih menyakitkan adalah ketika kehilangannya adalah kehilangan orang terdekat pertama yang kualami. Dia cahaya untukku. Seberapa pun aku berusaha tegar, air mata ini tak pernah henti menetes untuk segala kebaikan akan sosok nya, lanjutku.

Oke-oke… Kita lanjut di kos mu ya… Tempat ini rame, malu dilihat banyak orang, yuk, ajaknya

“Kan udah ku bilang seharusnya ceritanya nanti aja di kos,” sungutku

Akhirnya kami pergi dari stasiun menuju tempat di mana aku tinggal di perantauan sembari terus menyesali kenyataan yang ternyata tak seindah yang kubayangkan.

Jeritan Sang Pendosa

 


Ya Allah...

Aku adalah hambamu yang hina...

Penuh nista, dosa, dan kemunafikan...

Berat rasanya ya Allah, kurindu bermesraan denganmu, berada dalam dekapan Rahmat dan hidayahmu...

 

Kau pernah memberiku pencerahan yang sangat luar biasa...

Pencerahan yang memanusiakan aku yang binatang ini...

Kau beriku kenikmatan tauhid serta ilmu barokah...

Yang mencerahkan akal serta hatiku...

 

Ya Allah.... Betapa nikmatnya hidayah itu...

Betapa nikmatnya buah tauhid dan ilmu pengetahuan...

Kau terangiku yang gelap dengan pengertian akan engkau dan dunia...

Hanya dengan engkau yang satu dan barokah ilmu...

Aku merasa hidup...

 

Ya Allah, kurindu...

Mekangkah di jalan ilmu, semata-mata untuk mencapai ridhomu...

Maka kuberdoa...

Tambahkanlah ilmuku... Berkahilah ilmuku...

Agar ia mampu menjadi pencerah...

Bagi daku yang hina, dan dunia yang gelap...

 

Ooo Allah the one...

Ku telah memerosokkan diriku ke lubang yang gelap...

Maaf ya Allah, maaf...

Maaf jikalau aku menyia-nyiakan barokah yang kau beri...

Maaf jikalau aku mengotori qolbu ku sendiri...

Maaf jikalau aku merusak amanah fisikku sendiri...

 

Janganlah kau cabut barokah itu, Ya Allah...

Hamba bersyukur kepadamu, telah menutup segala hina dan borokku...

Maka Ya Ilahi, ridhoilah aku... Bantulah aku... Berjalan menujumu...

Dengan segenap kesadaran akal dan qolbuku, semata untuk mengenalmu, dan membuat dunia mengenalmu....

 

Jika ada satu hal yang akan menghidupiku...

Niscaya pastilah ia ridhomu Ya Allah...

Jika hanya ada satu hal yang akan kau beri kepadaku di dunia ini...

Jadikanlah itu berupa ilmu yang bermanfaat Ya Allah...

 

Allah, Allah, Allah...

Lafdzun jalalah, sifat Yang mulia, Sang Maha Qodim...

Ridhomu dalam langkahku...

Ilmu yang bermanfaat darimu...

Itulah yang menghidupiku...

Maka ku rela meninggalkan kehinaan...

Guna mencapai kemuliaan...

Kutinggalkan prahara tidak bermanfaat...

Kubuang memori-memori dosaku...

Kuganti tidur malamku dengan uzlah kehadirotmu...

Kulepas jubah kesombonganku...

Semata-mata untuk ridhomu dan ilmu bermanfaat darimu...