The Most/Recent Articles

Pemenuhan Hak-Hak Orang dengan Gangguan Jiwa; Ungkapan Hati Perawat

 


ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) adalah seseorang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi sebagai manusia (Undang Undang No 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa., 2014). ODGJ berat akan berdampak bukan hanya pada pasien itu sendiri, namun juga pada keluarga, masyarakat bahkan pemerintah. Dampak yang ditimbulkan bisa dampak fisik, psikis, maupun sosial. Dampak pada diri sendiri antara lain bisa membahayakan diri, misalnya perilaku amuk dan melukai diri sendiri bahkan hingga mengakibatkan kematian, Dampak pada orang lain antara lain melukai orang lain hingga menyebabkan kematian pada orang lain dan merusak lingkungan, sehingga menyebabkan ketakutan dan keresahan pada masyarakat sekitar, Dampak yang terjadi bagi pemerintah adalah adanya beban yang lebih baik dari pasien maupun keluarga (Rinawati & Setyowati, 2020). Oleh karena itu gangguan jiwa ini masih menjadi perhatian yang sangat penting dari berbagai lintas sektor baik pemerintah maupun masyarakat, hal ini dikarenakan gangguan jiwa menghabiskan biaya pelayanan kesehatan yang besar (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).

Hak asasi manusia merupakan hak yang diperoleh oleh semua orang termasuk orang dengan gangguan jiwa. Salah satu bentuk dari pemenuhan hak asasi manusia adalah mendapatkan pelayanan hak kesehatan. Sedangkan untuk perawatnya sendiri merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan termasuk yang bekerja di rumah sakit jiwa sangat dituntut untuk memiliki komitmen yang tinggi sehingga dapat memberikan pelayanan yang optimal bagi pasien, mengingat kondisi pasien yang memerlukan penanganan khusus.

Tujuan tulisan ini untuk melakukan telaah literatur tentang persepsi perawat terhadap pemenuhan hak-hak orang dengan gangguan jiwa. Dalam tinjauan literature review ini menggunakan 3 data base. Hasil penelitian yang di lakukan oleh Koschorke et al pada tahun 2021 di dapatkan 4 faktor yang memenuhi yaitu Kesejahteraan dan kelelahan penyedia layanan, Faktor struktural dan praktik yang berkontribusi terhadap stigma dalam perawatan primer, Harapan untuk layanan kesehatan mental di fasilitas spesialis versus perawatan primer, Kompetensi klinis dan pengalaman serta kebutuhan pelatihan tidak mendukung. Faktor yang paling signifikan adalah kompetensi klinis dan pengalaman serta kebutuhan pelatihan yang tidak mendukung. Dari faktor ini melaporkan bahwa pelatihan terbatas, mereka menyatakan keinginan yang kuat untuk lebih banyak pelatihan, terutama pelatihan praktis, seperti tentang cara berkomunikasi dengan pengguna layanan atau tentang cara menghadapi situasi yang menantang. Mereka juga menginginkan lebih banyak pengawasan oleh layanan spesialis ketika memberikan perawatan bagi pengguna layanan. Secara keseluruhan, dari semua situs mengeluhkan kurangnya komunikasi dan kerjasama dengan layanan kesehatan mental khusus.

Berdasarkan tinjauan dari literatur review ini dapat disimpulkan bahwa masih banyak pasien yang belum mendapatkan haknya selama di rawat di rumah sakit maka dari itu perlu adanya pelatihan kepada perawat jiwa serta edukasi terkait hak-hak orang dengan gangguan jiwa.



Daftar Pustaka

Undang Undang No 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa. (2014).

Rinawati, F., & Setyowati, N. (2020). STIGMA DAN PERSEPSI TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT TENTANG MASALAH KESEHATAN JIWA DI MASYARAKAT. 3(4), 8.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Adityawarman. (2018). Perlindungan Hukum Terhadap Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) Dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Ditinjau Dari Kuhp Dan Undang-Undang No.18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa.



Mengapa Penderita Diabetes Perlu Disiplin dalam Mengelola Diri di Era Pandemi dan New Normal

 


Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menetapkan Covid-19 sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) pada tanggal 31 Januari 2020 dan pertepatan pada tanggal 11 Maret 2020, WHO sudah menetapkan Covid-19 sebagai pandemi (Kementerian Kesehatan, 2020).  

Pandemi Covid-19 berdampak pada self-management atau managemen diri  pasien Diabeter Melitus Type 2, seperti ruang gerak pasien selama Pandemi Covid-19 sangat terbatas. Mereka juga menyesuaikan dengan kondisi penyakitnya dan harus memikirkan takut tertularnya Covid-19. DM juga merupakan salah satu komorbid  yang paling banyak ditemukan pada pasien Covid-19. Oleh karena itu perlu diketahui lebih tentang pengaruh atau dampak Pandemi Covid-19 terhadap managemen diri pasien dengan penyakit DM Type 2. ( Hamid Farhane, et al. 2021)

Tujuan tulisan ini adalah untuk memberikan wawasan terhadap penderita diabetes dalam pengelolaan diri terhadap penyakitnya. Pentingnya seorang penderita diabetes mampu menjaga pola hidup sehat, dengan aktifitas cukup, pola makan teratur dengan menerapkan 3J(Jadwal,Jumlah, dan Jenis), kontrol rutin, konsumsi obat sesuai anjuran dokter, dan deit.


Gambar: Gendhismanis.id

Hasil kajian menunjukkan bahwa hasil pemeriksaan glycemic pada pasien DM Type 2 menunjukkan nilai yang tidak terkontrol.   Pada Pasien DM Type 2, ada perubahan gaya hidup, seperti pola makan, aktivitas fisik, dan  managemen diri selam Pandemi Covid-19 dan lockdown.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lockdown memiliki pengaruh yang negatif terhadap status kesehatan pasien DM Type 2, terutama pada perempuan. Pandemi Covid-19 dan dampaknya yang meluas terhadap memberikan efek tidak langsung terhadap kerapuhan sistem kesehatan dan manajemen perawatan pada pasien DM Type 2. Ada banyak pasien yang menghindari pengobatan karena takut tertular Covid-19.  Dapat disimpulakan bahwa  Pandemi Covid-19 berpengaruh Signifikan negatif terhadap self-management atau  managemen diri  pasien DM Typ2. Saran dari penulis untuk meningkatkan  kemampuan dalam melakukan  managemen diri dalam pengelolaan diabetes, yang dibutuhkan oleh pasien DM seperti  pengelolaan diet, pengukuran kadar gula darah, pengobatan, akvitas fisik dan olah raga serta mengelola stres.


Jaga Gula Darah Anda Tetap Stabil dan Hidup Lebih Sehat pada Pasien Diabetes Mellitus







Diabetes mellitus ialah suatu sindrom akibat terganggunya metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein akibat kekurangan atau hilangnya sekresi insulin (Hall, 2016). Diabetes melitus apabila tidak tertangani secara benar maka dapat mengakibatkan berbagai macam komplikasi, komplikasi pada diabetes mellitus dapat dicegah dengan memperhatikan perawatan diri untuk menjaga agar kadar glukosa berada pada level normal (Papatheodorou et al., 2018).


Perawatan diri yang dapat dilakukan pada pasien diabetes mellitus salah satunya yaitu pengecekan kadar glukosa darah. Cara pengambilan sampel darah yang akan dilakukan yaitu dengan diperiksa kadar gula darahnya menggunakan alat glucometer (Anonim, 2016). Diabetes mellitus perlu melakukan self-care atau perawatan diri untuk mengontrol gula darah secara optimal serta mencegah terjadinya komplikasi (Dye et al., 2018). Tujuan tulisan ini adalah agar masyarakat mengetahui pentingnya perawatan diri untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil dan hidup lebih sehat pada pasien diabetes mellitus.


Cara Menjaga Dan Melakukan Agar Glukosa Darah Tetap Stabil Atau Normal

> Pengaturan pola makan

Pengaturan pola makan didasarkan pada status gizi penderita DM. Manfaat dari pengaturan pola makan antara lain dapat menurunkan berat badan penderita DM, menurunkan tekanan darah, menurunkan kadar gula darah Pengaturan pola makan ini bertujuan mempertahankan kadar gula dalam batas normal (Glukosa puasa 90-130 mg/dL, Glukosa darah 2 jam setelah makan < 130 mmHg) (Corwin, 2018).


> Latihan jasmani (olahraga)

Olahraga menggerakkan ikatan insulin dan reseptor insulin di membran plasma sehingga dapat menurunkan kadar gula dalam darah. Latihan jasmani yang rutin dapat memelihara berat badan normal dengan indeks massa tubuh (BMI) ≤25. Manfaat latihan jasmani (olahraga) adalah menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin, memperbaiki sirkulasi darah dan tonus otot, mengubah kadar lemak darah yaitu meningkatkan kadar HDL-Kolesterol dan menurunkan kadar kolesterol total serta trigliserida (Damayanti, 2019).


> Monitoring kadar gula darah

Monitoring kadar gula darah secara mandiri atau yang dikenal juga self monitoring blood glucose (SMBG) sangat penting untuk dilakukan karena dapat berfungsi sebagai pendeteksi dini dan pencegah komplikasi pada DM. Monitoring ini dianjurkan untuk penderita DM yang tidak stabil dan berpotensi mengalami ketosis berat hiperglikemia dan hipoglikemia tanpa gejala ringan (Smeltzer & Bare, 2016).


> Terapi farmakologi / minum obat DM

Terapi farmakologi diberikan jika target kadar gula darah yang diinginkan belum tercapai dengan perencanaan DM sebelumnya (Damayanti, 2019).


> Perawatan kaki

Perawatan kaki merupakan aktivitas penting yang harus dilakukan penderita DM untuk merawat kaki yang bertujuan mengurangi risiko ulkus kaki. Perawatan kaki perlu diberikan edukasi secara rinci pada semua orang dengan ulkus maupun neuropati perifer atau peripheral arterial disease (PAD) (Damayanti, 2019). Edukasi perawatan kaki meliputi:

1. Tidak boleh berjalan tanpa alas kaki, termasuk di pasir dan di air.

2. Periksa kaki setiap hari, dan melaporkan pada dokter apabila kulit terkelupas, kemerahan, atau luka.

3. Periksa alas kaki dari benda asing sebelum memakainya.

4. Selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih, tidak basah, dan mengoleskan krim pelembab pada kulit kaki yang kering.

Hal ini sangat efektif apabila setelah melakukan perawatan kaki masyarakat bisa mengelola atau mengontrol kadar gula darah, menjaga pola hidup sehat dengan mengatur pola makan melakukan olahraga secara teratur.


“JIKA ANDA MENGALAMI KESULITAN, ANDA BISA MENGHUBUNGI MAGISTER KEPERAWATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA”

Website Mkep UMY

https://mkep.umy.ac.id/

Bagaimana Mengenali Nyeri pada Pasien di ICU?

 


Mayoritas individu, atau sekitar 52% - 78%, berkunjung ke rumah sakit karena keluhan nyeri (Iyer, 2011). Pengalaman nyeri ini seringkali diartikan sebagai perasaan tidak menyenangkan yang disebabkan adanya kerusakan jaringan tubuh (Sengkeh & Chayati, 2021). Dampak nyeri yang berkepanjangan dapat menyebabkan gangguan metabolisme glukosa, perubahan sistem kekebalan tubuh, serta gangguan jantung dan pernafasan. Selain itu, nyeri juga dapat menambah lama waktu perawatan pasien di rumah sakit (Sedighie et al., 2020).

Metode penilaian nyeri yang dianggap paling akurat adalah ketika pasien yang mengalami nyeri menyampaikan keluhan nyerinya (Shan et al., 2018). Namun, terdapat beberapa kondisi yang menghambat pasien dalam berkomunikasi verbal, salah satunya penurunan tingkat kesadaran. Pemberi layanan kesehatan dapat mempertimbangkan pengamatan perilaku pasien, misal ekspresi wajah, gerakan tubuh, atau vokalisasi sebagai cara untuk menilai nyeri pada pasien di ICU (Birkedal et al., 2021).

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk membandingkan cara menilai nyeri pada pasien tidak sadar, namun beberapa artikel memberikan rekomendasi yang berbeda mengenai metode penilaian nyeri tersebut. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai metode dalam menilai tanda-tanda nyeri pada pasien yang mengalami penurunan tingkat kesadaran.

Penulis melakukan penelusuran artikel melalui 6 sumber jurnal, yaitu PubMed, Scopus, Science Direct, SAGE, Taylor & Francis, dan ProQuest. Seluruh artikel yang diperoleh kemudian disaring hingga menghasilkan 7 artikel yang relevan. Berdasarkan proses telaah artikel, penulis memperoleh hasil bahwa metode yang dapat digunakan dalam menilai nyeri pada pasien dengan penurunan tingkat kesadaran yaitu melalui pengamatan terhadap indikator fisiologis nyeri (Lin et al., 2018) dan menggunakan alat ukur nyeri berdasar perilaku (Gelinas et al., 2013).

Metode penilaian nyeri berdasar perilaku lebih direkomendasikan penggunaannya pada pasien di ICU (Asadi-Noghabi et al., 2015). The American Society for Pain Management Nursing (ASPMN) memberikan rekomendasi serupa, terutama pemakaian alat ukur nyeri yang memiliki keakuratan dan kehandalan yang baik (Herr et al., 2019). Instrumen Critical Care Pain Observation Tool (CPOT) merupakan alat ukur yang paling direkomendasikan beberapa artikel penelitian, disebabkan memiliki kelebihan: 1) Menunjukkan nilai validitas dan reliabilitas tinggi; 2) Mudah diaplikasikan terhadap pasien sukar berkomunikasi verbal, keadaan sedasi, penurunan tingkat kesadaran, atau terpasang intubasi (Georgiou et al., 2015); dan 3) Rata-rata waktu untuk menyelesaikan penilaian relatif singkat, yaitu sekitar 4 menit (Khanna & Pandey et al., 2018).

Indikator fisiologis nyeri, misalnya tekanan darah dan frekuensi denyut jantung, mengalami perubahan ketika pasien mendapat rangsangan nyeri. Namun, perubahan tanda-tanda tersebut tidak dapat digunakan sebagai petunjuk tunggal terkait nyeri. Pasien dengan penyakit kritis sering mengalami perubahan tanda-tanda vital akibat ketidakstabilan fungsi fisiologis (Herr et al., 2019), serta pengaruh berbagai jenis obat dan kondisi penyakit yang mendasari (Khanna & Chandralekha et al., 2018).

Hasil telaah artikel menunjukkan bahwa instrumen nyeri berbasis perilaku: CPOT memiliki keakuratan lebih baik daripada indikator fisiologis nyeri, terutama parameter hemodinamik. Instrumen CPOT menunjukkan hasil pengujian yang baik ketika digunakan dalam menilai nyeri pada pasien dengan penyakit kritis dan tidak mampu berkomunikasi verbal; sedangkan respon perilaku yang menjadi indikator paling relevan dalam menilai perubahan nyeri adalah ekspresi wajah. Penulis merekomendasikan penggunaan instrumen CPOT sebagai metode penilaian nyeri sebagai upaya meningkatkan performa perawat dalam akurasi penilaian nyeri dan kualitas tatalaksana nyeri pasien di ICU.

 



Sumber  :  Asriyanto, L. F. & Chayati, N. 2022. The Validity and Reliability of Pain Instruments in Patients with Decreased Level of Consciousness: A Literature Review. Jurnal Aisyah: Jurnal Ilmu Kesehatan, 7, 93-104


Diabetes Melitus Berefek Impotensi pada Pria







Tahukah Anda kalau disfungsi ereksi alias impotensi akibat diabetes itu ternyata benar adanya?

Impotensi atau Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan mempertahankan ereksi untuk berhubungan seksual. Kondisi ini sering kali terjadi pada pria pengidap diabetes melitus, Pria yang menderita diabetes mellitus dengan kadar gula darah yang tidak terkontrol akan mengalami kerusakan sistem vaskuler dan syaraf. Kerusakan vaskuler akan mengurangi dan menghambat aliran darah sehingga terjadi disfungsi reflek endotel pada pembuluh darah, termasuk di dalamnya adalah kurangnya aliran darah ke penis yang mengakibatkan gangguan fungsi ereksi, sedangkan kerusakan syaraf dapat menyebabkan hilangnya sensasi karena neuropati otonomik yang berakibat pada ejakulasi dini (Jackson, 2004 dalam Muhalla, 2011).

Berdasarkan literature yang di review penulis dari Nisahan et al 2020 bahwa ditemukan dari total populasi pria sebanyak 365 orang yang mengidap Diabetes mellitus tipe 1 dan tipe II dan berusia antara 18 sampai 65 tahun dengan penyakit penyerta berupa kardiovaskuler dan berkomplikasi terjadinya Disfungsi Ereksi. Meski bisa dialami diabetes tipe 1 dan tipe 2, rata-rata impotensi terjadi pada pria dengan diabetes tipe 2. Namun, bukan berarti kondisi ini tidak bisa diperbaiki ataupun dicegah. Mari simak ulasan berikut ini untuk mengetahui seluk beluk soal Disfungsi ereksi pada diabetes.

Seks merupakan bagian penting dari kebutuhan dasar manusia. Tidak terpenuhinya kebutuhan seks dapat menimbulkan rasa bersalah dan penolakan sehingga menyebabkan permasalahan dalam keharmonisan hubungan pasangan (Diabetes UK, 2015).

Gejala Disfungsi Ereksi Akibat Diabetes

Tidak mampu melakukan penetrasi, Sensasi seksual menurun, merasa nyeri pada penis ketika berhubungan seksual. Jika merasa terganggu dengan disfungsi ereksi, Anda dapat meminta bantuan pada dokter yang menangani Anda.Dokter akan menentukan penyebab disfungsi ereksi dan menentukan pengobatan untuk mengatasi kondisi Anda.

Terganggu dengan disfungsi ereksi?, Anda dapat meminta bantuan pada dokter yang menangani Anda. Dokter akan menentukan penyebab disfungsi ereksi dan menentukan pengobatan untuk mengatasi kondisi Anda.


Tapi jangan khawatir… Impotensi Bisa diatasi dengan pengobatan dan therapy yang tepat…

Obat-obatan oral

Sildenafil (Viagra),tadalafil (Cialis, Adcirca),vardenafil (Levitra, Staxyn), dan avanafil (Stendra). Berdasarkan hasil telaah literature di pencarian journal Pubmed dan Proquest.


Disfungsi ereksi (DE) adalah salah satu komplikasi kronik yang sering terjadi pada pasien pria dengan diabetes melitus tipe 2 (DMT2) dan ditemukan dalam jumlah yang sedikit pada diabetes mellitus type 1 (DMT1).

Pengobatan Disfungsi Ereksi Akibat Diabetes


Kabar baiknya, memperbaiki kadar gula darah ternyata dapat membantu mencegah kerusakan saraf dan pembuluh darah yang menyebabkan disfungsi ereksi. Tapi, hati-hati dalam pemilihan obat yang tidak sesuai dengan rekomendasi dokter.. beberapa pengobatan yang dapat Anda pilih untuk mengatasi disfungsi ereksi akibat diabetes.

Senam Kegel Bisa Mengatasi Impotensi

Cara melakukannya yaitu perlu mengetahui otot panggul bawah untuk menhentikan atau memperlambat aliran urine. Untuk awal melakukan senam kegel ini biasanya dengan posisi berbaring.

Namun jika sudah tahu otot mana yang akan dilatih dan merasakan kontraksi, kalian bisa melakukan latihan ini dengan posisi apa pun.

Lakukan gerakan ini hingga beberapa kali dan tahan selama 3 detik saat kontraksi.

Therapy lain

Apabila pengobatan oral tidak mampu bekerja dengan baik maka dokter akan melakukan tindakan therapy lain seperti alat kecil yang dimasukkan ke ujung penis sebelum berhubungan seks, dan obat dalam bentuk injeksi yang disuntikkan ke pangkal atau samping penis.




Jangan lupa lakukan gaya hidup sehat, ya!



Andai Ada Anggaran Buat Dangdut

 

Oleh: Ade Novianto

ruang dan waktu selalu dicatat oleh sejarah

bukan karena kelelahan mengikuti trendnya

biar begitu orang-orang selalu antusias setiap updatenya

mang Otot setiap hari nemuin suara-suara itu di meja tamunya

           

            Setelah kena sabet dari ormas entah dari mana, warung Mang Otot tetep buka seperti biasa. Malem memang tak seramai seperti pagi, siang, dan sore, hanya ada kesempatan santai untuk menikmatinya mulai dari obrolan politik sampe obrolan mesin ledeng.

            Nyamuk kota memang tak seganas seperti nyamuk kebon yang melanda pemukiman dengan deretan pohon-pohon liar di sekelilingnya. Tinggal di kota seperti Jakarta memiliki nilai lebih untuk mengatasi itu semua. Dengan hanya jalan beberapa langkah maka banyak ditemukan warung-warung dalam kompetisi yang sehat di lingkungannya. Membeli penangkal nyamuk mulai dari yang oles, ber-asap, sampai yang dicolok ke listrik adalah suatu kemudahan yang tak dimiliki di beberapa desa.

            “kemane Mang?” tanya Bonte yang abis mandi di WC umum karena gerah seharian diguyur terik matahari jalan.

            “beli salep nyamuk, Te”

            Rutinitas nyamuk di warungnya pada malam hari memang selalu menjadi benalu bagi dirinya dan pelanggan di warungnya, apalagi duel maut jagoan dangdutnya bakal pentas malam ini di salah satu stasiun TV. Mang Otot yang tergabung dalam Asosiasi Warkop Seluruh Caekek (AWSC) memang dilarang menjual yang sifatnya di luar makanan dan minuman, hal ini disebabkan adanya upaya penyetaraan di lintas para pedagang. Sering bolak-balik juga Mang Otot dibekali lewat pelatihan seperti workshop yang diadakan per-smester dalam setahun, hasilnya adalah tumpukan inovasi di kepalanya dengan slogan mautnya “modal kecil” untuk menggaet pelanggan.

            Dengan modal kecil Mang Otot tahu apa yang harus dilakukan seperti memenuhi kebutuhan langganannya. Tv rongsokan yang dibeli Mang Otot 50 ribu dari tukang abu masih berfungsi dengan baik cuma butuh solderan sedikit pada speakernya meski bitnik-bintik jerawat di TV nya lebih banyak. Diletakkannya di atas etalase tempat menumpuknya mi instan untuk memanjakan pelanggannya terutama di malam hari. Tata letak yang ideal menurutnya dapat menarik suasana pelanggan. Tak sekadar melihat apa yang ditonton untuk pelanggannya, terkadang Mang Otot menonton pelanggannya sendiri -ketika melayani- seperti angsa yang menjulurkan lehernya ke arah penyanyi dangdut di televisi.

***

            “nah…ni dia!”

            Sambil mencet tombol + di volume televisi dengan tusuk gigi, Mang Otot ngedengerin obrolan buruh konveksi yang semakin nyaring sambil manggut-manggutin kepalanya.

            “ini lagu bocah yang kemaren di Istana Jokowi dinyanyiin kan?” serobot Nawi tukang buang benang

            “emang iye?” Mamat si tukang obras balik nanya

            “iye, beneran”

            “bukan lagunye, tapi emang iye Jokowi punye istane?”

            “ye...kaga lah. Istana kan kontrakan lime taonan”

            “bujug…dikate ape Presiden? Kontraktor?”

            “hahaha bener juge lu, kalok korupsi pelakunya dibilang koruptor, nah kalok orang yang ngontrak pasti dibilang kontraktor”

            “iye, ngontraktor-in jalannya negare, tiap-tiap Presiden kan bise laen-laen tuh ngejalaninnya, same kayak kontraktor bangunan, berapa sak semen dibutuhin buat bikin tembok”

            “nah ibarat kate ntu, mirip anggaran nye militer di sono noh, deket laut perbatesan ame Vietnam ame sapa lagi tuh nyang Menteri Susi nyuruh tembak kapal ikan nya”

            Sementara suara lengkingan penyanyi dandut yang keluar dari lubang-lubang kecil televisi itu terus mendendangkan nyanyian trend terkini. Gemuruh di dalam studio stasiun televisi ber-genre dangdut berbanding terbalik dengan pasien di warung Mang Otot sebagai penikmat musik tradisional yang selalu bermetamorfosis makna dan warnanya.

            “dangdut dulu ame sekarang beda ye?” Mang Otot nyambung omongan.

            “beda apenye, Mang?”

            “ya beda aje”

            “kalo beda emang nape, Mang?” tanya Nawi sambil narik kacang yang dibungkus plastik kecil di bawah kipas gantung.

            “cengkoknye itu”

            “cengkok? Mangkok kali? Hahahahahaha” Mamat sambil nepokin nyamuk di jidatnya

            “hah..payah luh, biase nonton dangdut di warung mulu si. Kali-kali liat langsung, gini-gini gua penikmat dangdut dari mulai Rita Sugiarto sampe Ayu ting-ting. Sekarang mah udeh pake segale mikser-mikseran buat bagusin suara, dulu mah boro-boro”

            “aaajigile…manipulasi suare tu, Mang. Dulu emang orisinil?”

            “jelas lahyauuwww” Bonte yang tadi ketemu Mang Otot ikut nimbrung sambil gibrik-gibrik rambutnya yang cepak

            “lu pada tau gak kalok dangdut kita karya orosinil Endonesa?” lanjut Bonte si kurir paket. “lu pade tau gak kalo kita pernah nginvasi negaranya Hitler?”

            Mang Otot, Nawi, dan Mamat ngelongok serius ke arah muka Bonte.

            “nah ntu Nasida Ria nginvasi Jerman kemaren”

            “nginvasi bukannye pakek senjata, Te? Hebat amat Endonesa nginvasi sampe Eropah?” tanya Mamat

            “lah itu mah konsepnya orang-orang barat, Mat. Kita nyang punye budaye dangdut yang dung-tak-dung-tak bise kiprah di tengah perang Putin ame sapa yang komedian ntu nyang jadi presiden Ukraina. Bukti kite bisa ke Jerman buat deklarasi perdamaian lewat lagu dangdut” Bonte ngejelasin sambil ngolesin obat nyamuk di lehernya

            “seharusnye pemerinteh ngubah konsep dangdut ke arah yang lebih berwarna ye, Te.” Saut Nawi sambil ngerogoh kantong celana kolornya

            “iye bener. Dari atas nye sebenernye harus peka same hiburan-hiburan kite ini. Berapa jumlah korban bacok gegara alkohol terus jadi rebutan biduan, kalok ade anggarannye buat dangdut jadi lebih ngetop di dunia kan bisa jadi alat diplomasi kite di internasyionel, bukan lantas berita-berita kriminal yang banyak pake nama dangdut. Dibikin aje Kementerian Dangdut terus dikelola bae-bae dah”

            “bukan cume dorong-dorong bok speker buat ngamen dong, ye,”

            “nah, ntu dah, dangdut terdegradasi di rumahnya sendiri, kaleh same musik tek-jing-tek-jing anak-anak muda blepotan moral” mpo Asnah dateng “krupuk gendar nya, Mang”

            “nih gua kasih tau ni ye, sebenernya gua gagal jadi biduan gegara laki gue sensitipan” mpo Asnah sambil bediri nyabet pesenannya

            “kok bisa?”

            Belum sempat dijawab Mpo Asnah ngeloyor pergi

            “maklum, kebahagiaannya udeh kebagi ame nyang laen” Mang Otot jawab sambil ngisi aer panas di termos “belon lame…”

            Bonte, Mamat, dan Nawi mendadak mulutnya mangap

            Malam ditemani rembulan. Kemudian tertutup awan. Lantas muncul lagi. Empat orang di dalam warung semakin menikmati malamnya.

            “begadang jangan begadang…….”

bersambung…

***

Penjaringan, 15 Oktober 2022

Ade Novianto

Alumnu Hubungan Internasional Universitas Satyta Negara Indonesia

0821243022