The Most/Recent Articles

Mahasiswa KKN UNDIP Rancang Lapangan Ikonik Desa Dawungan, Dukung Pembangunan Infrastruktur dan Ruang Publik Berkelanjutan

Dalam upaya mengoptimalkan fungsi ruang publik dan estetika kawasan desa secara berkesinambungan, Fairuz Thoriq Hananto, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari program studi Teknik Sipil Universitas Diponegoro (UNDIP), merancang tata ruang terintegrasi. Perancangan ini ditujukan untuk pembuatan Lapangan Ikon Desa Dawungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen yang diinisiasi pada Jumat, 14 Agustus 2026. Perancangan strategis ini secara khusus bertujuan untuk menciptakan ruang interaksi bagi masyarakat yang tidak hanya aman, tetapi juga tangguh, dan memiliki standar teknis yang tinggi.

Program kerja individu yang bertajuk "Perancangan Lapangan Ikon Desa Dawungan" ini diawali dengan tahap survei topografi lokasi. Langkah awal ini sangat krusial untuk menentukan tata letak zonasi kawasan yang paling efektif dan efisien. Berdasarkan perolehan data lapangan tersebut, selanjutnya dilakukan tahapan perencanaan teknis yang sangat matang. Perencanaan ini mencakup proses pemilihan bahan bangunan yang kuat, memiliki ketahanan terhadap cuaca, serta dipastikan memenuhi standar keamanan atau ergonomi bagi para penggunanya.

Sebagai luaran utama dari program KKN ini, dihasilkan dokumen Gambar Kerja Detail atau yang lebih dikenal dengan Detail Engineering Design (DED) beserta sketsa 3D untuk lapangan desa tersebut. Pembuatan desain infrastruktur ini secara langsung mendukung pencapaian target global, yakni Sustainable Development Goals (SDGs).

Pertama, program ini mengimplementasikan SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan, khususnya pada Target 11.7. Dalam hal ini, rancangan lapangan diproyeksikan agar dapat menjadi ruang publik yang senantiasa aman, inklusif, dan mudah diakses sebagai pusat interaksi sosial seluruh lapisan masyarakat. Kedua, perancangan tata ruang ini juga selaras dengan nilai-nilai pada SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Gambar kerja detail dan sketsa 3D yang dibuat dengan menggunakan standar perancangan sipil yang baik menjadi sebuah tahap fundamental dalam merencanakan wujud infrastruktur desa yang tangguh dan terencana dengan baik.

Melalui perancangan DED dan visualisasi sketsa 3D ini, diproyeksikan bahwa rancangan lapangan tidak hanya sekadar optimal secara estetika sebagai ikon desa. Lebih dari itu, lapangan ini ditargetkan memiliki landasan teknis yang sangat kuat, fungsional, dan dijamin aman untuk digunakan oleh warga dalam jangka waktu yang panjang.

Dengan diserahkannya dokumen DED dan sketsa 3D tersebut kepada pihak desa, diharapkan desain Lapangan Ikon Desa Dawungan ini dapat segera direalisasikan pada tahap pengerjaan konstruksi selanjutnya. Ke depannya, kehadiran infrastruktur lapangan ini sangat diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup warga sekitar, sekaligus menjadi motor penggerak utama untuk berbagai ragam kegiatan sosial, olahraga, serta pemberdayaan masyarakat desa yang berkelanjutan.




Editor: Keredaksian Digdaya

KKN Undip Kembangkan Lampu IoT Tenaga Surya untuk Revitalisasi Sendang Kemantren

 

Penyerahan Kunci Box Panel Surya kepada Ketua Kelompok Tani Mijen Permai

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 52 Universitas Diponegoro (Undip) menghadirkan lampu jalan otomatis berbasis Internet of Things (IoT) dengan memanfaatkan tenaga panel surya di Sendang Kemantren, Kelurahan Mijen, Kota Semarang pada 14 Agustus 2026.

Program tersebut merupakan bagian dari program kerja “Revitalisasi Sendang” yang bertujuan mendukung proses penataan Sendang Kemantren sebagai kawasan yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata di masa mendatang.

Sendang Kemantren berada di kawasan hutan jati Mijen dan selama ini dirawat oleh Kelompok Tani setempat. Kawasan tersebut memiliki potensi lingkungan yang dapat dikembangkan, namun masih terdapat sejumlah keterbatasan infrastruktur, salah satunya belum tersedianya penerangan di sekitar sendang.

Kondisi lokasi yang berada di kawasan hutan juga membuat akses terhadap jaringan listrik tidak semudah di kawasan permukiman. Hal tersebut menjadi pertimbangan mahasiswa dalam mencari alternatif penerangan yang dapat menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar.

Sebagai mahasiswa Program Studi Informatika, tim KKN-T IDBU 52 kemudian mengembangkan solusi berbasis teknologi sesuai arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Setelah melakukan koordinasi dengan pihak setempat, kebutuhan penerangan di kawasan sendang menjadi salah satu kebutuhan yang dinilai penting untuk mendukung proses penataan kawasan.

Agus Chris, selaku Ketua Kelompok Tani Mijen, menyampaikan bahwa keberadaan penerangan dapat membantu mendukung aktivitas dan proses penataan kawasan Sendang Kemantren.

“Selama ini memang belum ada penerangan di sekitar sendang. Dengan adanya lampu ini, kami berharap kawasan bisa lebih nyaman dan memudahkan warga ketika ada kegiatan atau perawatan di sekitar sendang,” ujar Agus.

Berdasarkan kebutuhan tersebut, mahasiswa merancang sistem lampu jalan otomatis berbasis IoT dengan panel surya sebagai sumber energi. Sistem ini dirancang agar lampu dapat bekerja secara otomatis sesuai kondisi yang telah ditentukan tanpa bergantung sepenuhnya pada jaringan listrik konvensional.

Proses pengembangan dilakukan mulai dari menentukan komponen yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan, merakit rangkaian, hingga melakukan pengujian sistem. Rangkaian tersebut mengintegrasikan panel surya, komponen pengatur dan penyimpan energi, perangkat pengendali, serta lampu sebagai sumber penerangan.

Panel surya digunakan untuk menangkap energi matahari yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber daya sistem. Sementara itu, perangkat pengendali berfungsi mengatur kerja lampu sehingga sistem dapat beroperasi secara otomatis.

Mahasiswa juga melakukan pengujian untuk memastikan rangkaian dapat menerima dan menyimpan energi serta lampu dapat bekerja sesuai mekanisme yang telah dirancang. Proses ini menjadi bentuk penerapan ilmu Informatika untuk menjawab permasalahan nyata yang ditemukan di lingkungan masyarakat.

Ketua RW 07, Siyamto, menyampaikan bahwa penerapan lampu tenaga surya tersebut diharapkan dapat menjadi contoh yang dapat dikembangkan di kawasan sendang lainnya.

“Kami berharap lampu ini bisa menjadi percontohan. Kalau sudah terlihat manfaatnya, ke depannya bisa diduplikasi dan diterapkan di daerah sendang lainnya, sehingga kawasan-kawasan tersebut juga bisa lebih tertata dan memiliki penerangan,” ujar Siyamto.

Penggunaan panel surya dinilai sesuai dengan kondisi kawasan yang memiliki keterbatasan akses terhadap jaringan listrik. Selain menyediakan sumber energi alternatif, penerapan teknologi tersebut juga menjadi upaya memperkenalkan pemanfaatan energi terbarukan untuk kebutuhan fasilitas sederhana di lingkungan masyarakat.

Kehadiran lampu diharapkan dapat mendukung kenyamanan dan aksesibilitas masyarakat ketika beraktivitas di sekitar kawasan sendang, sekaligus membantu kegiatan perawatan dan penataan yang dilakukan oleh Kelompok Tani setempat.



Editor: Keredaksian Digdaya

Mahasiswa KKN Undip Kenalkan Metode Pengadukan Homogenitas Menggunakan Pola Angka 8 pada Pengaplikasian Pupuk Mikroba Nitrobactery

 

SRAGENMahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Universitas Diponegoro (Undip) memperkenalkan inovasi sederhana dalam metode pengadukan homogenitas menggunakan pola angka 8 dalam pengaplikasian pupuk mikroba Nitrobactery kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), kelompok tani serta dihadiri ketua PPL Desa Dawungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen. Rabu, 12 Agustus 2026.

Program edukasi tentang pengenalan metode pengadukan menggunakan pola angka 8 dilaksanakan berdasarkan hasil pengamatan mahasiswa terhadap kebiasaan pengadukan pupuk yang dilakukan oleh masyarakat. Gapoktan dan kelompok tani masih menggunakan pola pengadukan seperti arah jarum jam dengan kecepatan yang tidak terkontrol. Kondisi tersebut dapat menyebabkan bahan tidak tercampur secara merata, sehingga berpotensi menimbulkan pengendapan maupun konsentrasi bahan pada bagian tertentu.

Mahasiswa memperkenalkan metode pengadukan dengan pola menyerupai angka 8. Didalamnya berisi tentang metode pengaduk secara teratur dari satu sisi menuju sisi lainnya hingga membentuk pola angka 8. Kemudian kecepatan yang telah dirancang dengan kecepatan yang stabil agar campuran dapat bergerak secara lebih merata pada berbagai bagian wadah.

Mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Universitas Diponegoro (Undip) kemudian memberikan demonstrasi secara langsung kepada Gapoktan, kelompok tani serta Ketua PPL Desa Dawungan. Setelah dilakukan demonstrasi metode pengadukan pola angka 8, Gapoktan, kelompok tani serta ketua PPL Desa Dawungan sudah mulai memahami bahwa teknik dan pola pengadukan dapat memengaruhi keseragaman campuran pupuk mikroba.

Program inovasi ini merupakan sebuah upaya dalam menerapkan SDGs 2 (penghapusan kelaparan), SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), SDGs 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dan SDGs 15 (Ekosistem Daratan)

Kegiatan ini mendapatkan respons positif dari Gapoktan, beberapa kelompok tani serta Ketua PPL Desa Dawungan. Mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Undip berupaya memperkenalkan inovasi sederhana berupa Metode pengadukan pola angka 8 diharapkan yang dapat menjadi keterampilan praktis bagi Gapoktan, kelompok tani dan Ketua PPL Desa Dawungan dalam mempersiapkan pupuk mikroba Nitrobactery.




Penulis
Nama: Muhammad Yulio Alan Nasik
Universitas: Universitas Diponegoro
Program Studi: S-1 Peternakan

Editor: Keredaksian Digdaya

Mahasiswa KKN Undip Edukasi Pemanfaatan Limbah Kotoran Sapi Menjadi Pupuk Kandang

 

SRAGEN Mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Universitas Diponegoro (Undip) menghadirkan inovasi pemanfaatan limbah peternakan padat dari kotoran sapi kepada ibu-ibu Dasa Wisma (Dawis) 1 RT 01 di Desa Dawungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen. Minggu, 9 Agustus 2026.

Program pembuatan pupuk kandang berdasarkan Ibu-Ibu Dasa Wisma (Dawis) 1 RT 01 Desa Dawungan dalam meciptakan ketahanan pangan dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sehingga bahan yang digunakan merupakan bahan yang mudah dijumpai yaitu limbah kotoran sapi yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik. Limbah Padat Kotoran Sapi dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kandang sebagai media tanam.

Mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Undip menjelaskan karakteristik pupuk kandang yang telah matang. Pupuk yang baik ditandai dengan warna yang lebih gelap, tekstur yang remah, tidak terlalu basah, serta memiliki aroma yang menyerupai tanah. Sehingga ibu-ibu Dawis 1 RT 01 dapat menerapkan pupuk kandang pada tanaman di lingkungan Dawis maupun didepan rumah. Penerapan secara langsung ini dilakukan agar masyarakat dapat memahami cara pemanfaatan pupuk kandang sekaligus melihat potensinya dalam mendukung pemeliharaan tanaman di lingkungan rumah.

Program inovasi ini merupakan sebuah upaya dalam menerapkan SDGs 2 (penghapusan kelaparan), SDGs 5 (Kesetaraan Gender), SDGs 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) dan SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Kegiatan ini pun disambut antusias oleh para Ibu-Ibu Dawis 1 RT 01.

"Kegiatan Pemanfaatan Pupuk kandang limbah padat dari kotoran Sapi sebagai media tanam pada tanaman sayuran dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sangat terbantu. Pupuk Tanaman yang sering digunakan dengan harga 8.000/Kg sehingga inovasi yang diberikan sangat bermanfaat bagi ibu-ibu daerah sini," ungkap dari salah satu anggota Dawis 1 RT 01 Desa Dawungan.

Mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Undip berupaya mendorong masyarakat Desa Dawungan dalam melihat potensi limbah padat dari kotoran sapi sebagai sumber media tanam yang ramah lingkungan.




Penulis
Nama               : Muhammad Yulio Alan Nasik
Universitas      : Universitas Diponegoro
Program Studi : S-1 Peternakan

Editor: Keredaksian Digdaya

Mahasiswa KKN Undip Kenalkan Pemanfaatan Limbah SCOBY Sebagai Campuran Media Pakan dalam Budidaya Maggot BSF

 

SRAGEN Inovasi pemanfaatan limbah kembali dilakukan oleh mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Universitas Diponegoro (Undip) di Desa Dawungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen. Mahasiswa Peternakan KKN memanfaatkan limbah Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast (SCOBY) hasil fermentasi sebagai bahan campuran media pakan dalam budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Senin, 3 Agustus 2026.

Program Inovasi ini dilaksanakan sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mengolah kembali limbah organik agar memiliki nilai guna. Limbah SCOBY setelah proses fermentasi diarahkan untuk pemanfaatan bahan organik dalam budidaya maggot BSF.

Kegiatan workshop yang dihadiri lebih dari 20 kader Posyandu se-Desa Dawungan melalui demonstrasi potensi limbah SCOBY dan dosis pemberian sebagai media pakan budidaya maggot kepada masyarakat. Mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Universitas Diponegoro (Undip) menjelaskan bahwa SCOBY bekas fermentasi masih dapat dimanfaatkan dalam media budidaya maggot serta penyesuaian dosis pemberian.

Mahasiswa kemudian memberikan pengarahan mengenai pemberian SCOBY secara bertahap dengan mencampurkannya bersama limbah organik lainnya, seperti sisa sayuran dan buah. Penggunaan secara bertahap dilakukan untuk menjaga kondisi media agar tidak terlalu basah maupun terlalu asam sehingga tetap mendukung pertumbuhan maggot.

Program inovasi ini merupakan sebuah upaya dalam menerapkan SDGs 2 (penghapusan kelaparan), SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), SDGs 8 (Pekerjaan Layak), SDGs 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur) dan SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Kegiatan ini pun disambut antusias oleh para peserta.

"Pemanfaatan limbah SCOBY dapat memiliki nilai guna dalam penerapan budidaya maggot. Maggot dapat dijual dengan harga yang tinggi setelah dilakukan penjemuran dibawah sinar matahari, apalagi maggot bisa dijadikan pakan burung dan pakan ikan," ungkap dari Istri Kabayan 1 Desa Dawungan.

Mahasiswa Peternakan Tim II KKN-R Universitas Diponegoro (Undip)  berupaya membangun pola pemanfaatan limbah yang lebih berkelanjutan di Desa Dawungan dengan membentuk Inovasi sederhana dan ramah lingkungan.



Penulis
Nama              : Muhammad Yulio Alan Nasik
Universitas      : Universitas Diponegoro
Prodi               : S-1 Peternakan

Editor: Keredaksian Digdaya

Belajar Konsep 5S Jepang Sambil Bermain, Mahasiswa KKNT IDBU-52 Tanamkan Peduli Lingkungan Sejak Dini

Murid TK Among Tresno mengerjakan worksheet konsep 5S dengan arahan mahasiswa KKNT IDBU-52 dalam kegiatan pembelajaran karakter peduli lingkungan di Kelurahan Mijen, Kota Semarang. (Foto: Dok KKNT) 

SEMARANG Membentuk kebiasaan hidup bersih dan teratur dapat dimulai sejak usia dini. Hal tersebut dilakukan mahasiswa KKNT IDBU-52 Universitas Diponegoro melalui program “Adaptasi Konsep 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke) sebagai Media Pembelajaran Karakter Peduli Lingkungan” di TK Among Tresno, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Kamis (30/7/2026).

Kegiatan tersebut diikuti siswa TK A dan TK B. Program ini dilaksanakan dengan melihat potensi anak usia dini sebagai agen perubahan dalam membentuk kebiasaan hidup bersih dan peduli lingkungan. Pembiasaan tersebut juga diharapkan dapat mendukung implementasi Program Kampung Iklim (ProKlim).

Di sisi lain, pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, dan membiasakan perilaku hidup bersih masih perlu ditingkatkan. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKNT IDBU-52 untuk mengenalkan konsep 5S melalui pendekatan yang lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan anak.

Konsep 5S yang berasal dari Jepang terdiri atas Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke. Dalam kegiatan ini, konsep tersebut diadaptasi menjadi 5R agar lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh anak-anak. Seiri diadaptasi menjadi Ringkas dengan kegiatan memilah barang, Seiton menjadi Rapi dengan menata barang, Seiso menjadi Resik dengan membersihkan, Seiketsu menjadi Rawat dengan menjaga kebersihan, serta Shitsuke menjadi Rajin dengan membiasakan perilaku tersebut.

Kegiatan diawali dengan doa bersama dan pengenalan topik pembelajaran. Mahasiswa kemudian memperkenalkan konsep 5S yang diadaptasi dengan pendekatan 5R sebelum mengajak siswa melakukan praktik secara langsung.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian siswa adalah pencarian flashcard yang telah disebar di halaman TK. Anak-anak diminta mencari kartu tersebut kemudian membawanya kembali ke kelas untuk mengenali dan mengelompokkan jenis sampah yang terdapat pada kartu.

Suasana menjadi semakin meriah ketika anak-anak saling menunjukkan hasil pencarian mereka. Beberapa siswa dengan antusias menyebutkan jumlah flashcard yang berhasil ditemukan, seperti “Aku dapat delapan!” dan “Aku dapat sembilan!”. Aktivitas tersebut membuat proses belajar mengenai pemilahan sampah terasa seperti permainan.

Setelah pencarian flashcard, siswa melanjutkan kegiatan melalui worksheet yang berisi aktivitas berdasarkan konsep 5R. Lembar kerja tersebut membantu anak mengenal kebiasaan memilah, menata, membersihkan, merawat kebersihan, dan membiasakan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.

Penggunaan istilah Jepang juga menjadi pengalaman baru bagi siswa. Saat diminta mengucapkan kembali Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke, beberapa anak tampak kesulitan karena istilah tersebut masih terdengar asing. Meski demikian, mereka tetap antusias mencoba mengucapkannya bersama-sama.

Sebagai bentuk apresiasi, mahasiswa memberikan stempel kepada siswa yang telah menyelesaikan worksheet. Pemberian apresiasi tersebut menjadi dorongan bagi anak-anak untuk menyelesaikan kegiatan sekaligus membuat proses pembelajaran terasa lebih menyenangkan.

Pembiasaan tersebut juga berkaitan dengan kondisi keseharian anak-anak di lingkungan sekolah. Beberapa anak masih membawa makanan atau jajanan sendiri dan terkadang lupa membuang sampah setelah makan. Kebiasaan makan sambil berjalan juga dapat membuat sisa makanan tercecer. Melalui pendekatan 5R, anak-anak diajak membangun kebiasaan sederhana untuk lebih memperhatikan kebersihan, kerapian, dan lingkungan sekitar.

Guru TK Among Tresno, Ibu Sulasih, memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, pembelajaran mengenai kebersihan dan kebiasaan baik perlu dikenalkan sejak usia dini agar anak terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Menurut saya, kegiatan ini sangat baik untuk anak-anak karena mereka bisa belajar menjaga kebersihan dan kerapian sejak dini. Dengan kegiatan yang dilakukan sambil bermain, anak-anak juga lebih mudah memahami dan mengikuti pembelajaran. Harapannya, kebiasaan baik ini tidak hanya dilakukan saat kegiatan berlangsung, tetapi juga dapat diterapkan dalam keseharian mereka,” ujar Ibu Sulasih saat evaluasi kegiatan.

Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya mengenal konsep 5S melalui pendekatan 5R, tetapi juga mampu menerapkannya melalui kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah, menempatkan barang pada tempatnya, menjaga kebersihan, serta membangun kedisiplinan.

Mahasiswa KKNT IDBU-52 berharap pembiasaan tersebut dapat membuat anak-anak lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Kesadaran yang ditanamkan sejak dini diharapkan dapat terus terbawa hingga dewasa, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang mampu menjaga kebersihan dan keberlanjutan lingkungan.



Reporter: Dinar Sekar Arum
Fotografer: Novia Putri Yustiana
Kontak Media/Humas Kelompok: @kknt52_mijen
Editor: Keredaksian Digdaya