Belajar Konsep 5S Jepang Sambil Bermain, Mahasiswa KKNT IDBU-52 Tanamkan Peduli Lingkungan Sejak Dini

Murid TK Among Tresno mengerjakan worksheet konsep 5S dengan arahan mahasiswa KKNT IDBU-52 dalam kegiatan pembelajaran karakter peduli lingkungan di Kelurahan Mijen, Kota Semarang. (Foto: Dok KKNT) 

SEMARANG Membentuk kebiasaan hidup bersih dan teratur dapat dimulai sejak usia dini. Hal tersebut dilakukan mahasiswa KKNT IDBU-52 Universitas Diponegoro melalui program “Adaptasi Konsep 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke) sebagai Media Pembelajaran Karakter Peduli Lingkungan” di TK Among Tresno, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Kamis (30/7/2026).

Kegiatan tersebut diikuti siswa TK A dan TK B. Program ini dilaksanakan dengan melihat potensi anak usia dini sebagai agen perubahan dalam membentuk kebiasaan hidup bersih dan peduli lingkungan. Pembiasaan tersebut juga diharapkan dapat mendukung implementasi Program Kampung Iklim (ProKlim).

Di sisi lain, pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, dan membiasakan perilaku hidup bersih masih perlu ditingkatkan. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKNT IDBU-52 untuk mengenalkan konsep 5S melalui pendekatan yang lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan anak.

Konsep 5S yang berasal dari Jepang terdiri atas Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke. Dalam kegiatan ini, konsep tersebut diadaptasi menjadi 5R agar lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh anak-anak. Seiri diadaptasi menjadi Ringkas dengan kegiatan memilah barang, Seiton menjadi Rapi dengan menata barang, Seiso menjadi Resik dengan membersihkan, Seiketsu menjadi Rawat dengan menjaga kebersihan, serta Shitsuke menjadi Rajin dengan membiasakan perilaku tersebut.

Kegiatan diawali dengan doa bersama dan pengenalan topik pembelajaran. Mahasiswa kemudian memperkenalkan konsep 5S yang diadaptasi dengan pendekatan 5R sebelum mengajak siswa melakukan praktik secara langsung.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian siswa adalah pencarian flashcard yang telah disebar di halaman TK. Anak-anak diminta mencari kartu tersebut kemudian membawanya kembali ke kelas untuk mengenali dan mengelompokkan jenis sampah yang terdapat pada kartu.

Suasana menjadi semakin meriah ketika anak-anak saling menunjukkan hasil pencarian mereka. Beberapa siswa dengan antusias menyebutkan jumlah flashcard yang berhasil ditemukan, seperti “Aku dapat delapan!” dan “Aku dapat sembilan!”. Aktivitas tersebut membuat proses belajar mengenai pemilahan sampah terasa seperti permainan.

Setelah pencarian flashcard, siswa melanjutkan kegiatan melalui worksheet yang berisi aktivitas berdasarkan konsep 5R. Lembar kerja tersebut membantu anak mengenal kebiasaan memilah, menata, membersihkan, merawat kebersihan, dan membiasakan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.

Penggunaan istilah Jepang juga menjadi pengalaman baru bagi siswa. Saat diminta mengucapkan kembali Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke, beberapa anak tampak kesulitan karena istilah tersebut masih terdengar asing. Meski demikian, mereka tetap antusias mencoba mengucapkannya bersama-sama.

Sebagai bentuk apresiasi, mahasiswa memberikan stempel kepada siswa yang telah menyelesaikan worksheet. Pemberian apresiasi tersebut menjadi dorongan bagi anak-anak untuk menyelesaikan kegiatan sekaligus membuat proses pembelajaran terasa lebih menyenangkan.

Pembiasaan tersebut juga berkaitan dengan kondisi keseharian anak-anak di lingkungan sekolah. Beberapa anak masih membawa makanan atau jajanan sendiri dan terkadang lupa membuang sampah setelah makan. Kebiasaan makan sambil berjalan juga dapat membuat sisa makanan tercecer. Melalui pendekatan 5R, anak-anak diajak membangun kebiasaan sederhana untuk lebih memperhatikan kebersihan, kerapian, dan lingkungan sekitar.

Guru TK Among Tresno, Ibu Sulasih, memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, pembelajaran mengenai kebersihan dan kebiasaan baik perlu dikenalkan sejak usia dini agar anak terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Menurut saya, kegiatan ini sangat baik untuk anak-anak karena mereka bisa belajar menjaga kebersihan dan kerapian sejak dini. Dengan kegiatan yang dilakukan sambil bermain, anak-anak juga lebih mudah memahami dan mengikuti pembelajaran. Harapannya, kebiasaan baik ini tidak hanya dilakukan saat kegiatan berlangsung, tetapi juga dapat diterapkan dalam keseharian mereka,” ujar Ibu Sulasih saat evaluasi kegiatan.

Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya mengenal konsep 5S melalui pendekatan 5R, tetapi juga mampu menerapkannya melalui kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah, menempatkan barang pada tempatnya, menjaga kebersihan, serta membangun kedisiplinan.

Mahasiswa KKNT IDBU-52 berharap pembiasaan tersebut dapat membuat anak-anak lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Kesadaran yang ditanamkan sejak dini diharapkan dapat terus terbawa hingga dewasa, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang mampu menjaga kebersihan dan keberlanjutan lingkungan.



Reporter: Dinar Sekar Arum
Fotografer: Novia Putri Yustiana
Kontak Media/Humas Kelompok: @kknt52_mijen
Editor: Keredaksian Digdaya

Posting Komentar