Dalam
upaya mendorong perekonomian mandiri melalui inovasi pangan, Tim Kuliah Kerja
Nyata (KKN) Universitas Diponegoro mengadakan Program Kerja Multidisiplin
bertajuk "Workshop Pembuatan Teh Kombucha: Inovasi Pangan Fermentasi untuk
Mewujudkan Masyarakat Sehat dan Ekonomi Desa yang Tangguh" di Desa
Dawungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen pada Senin, 3 Agustus 2026. Di
tengah antusiasme warga mempelajari cara pembuatan minuman fermentasi ini, ada
satu aspek krusial yang dibawa oleh mahasiswa KKN agar produksi tetap aman dan
berkelanjutan, yakni Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
Inovasi
ini diinisiasi oleh Fairuz Thoriq Hananto, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil
UNDIP. Jika keilmuan K3 biasanya identik dengan proyek konstruksi berskala
besar, Fairuz mengadaptasinya menjadi penyuluhan K3 sederhana yang dikhususkan
untuk skala produksi dapur rumahan atau UMKM. Edukasi ini ditekankan pada
pemahaman masyarakat mengenai risiko tersembunyi dalam proses fermentasi
kombucha.
Sebagai
bentuk uaran fisik yang berkelanjutan, program ini menghasilkan booklet panduan
kelompok. Fairuz secara khusus menyusun materi, yaitu “Pentingnya Kesehatan dab
Keselamatan Kerja Produksi Kombucha" serta "SOP Penyimpanan Toples
Fermentasi". Sosialisasi ini mengajarkan warga cara memitigasi risiko
kecelakaan kerja di dapur produksi, seperti bahaya pecahnya toples kaca akibat
tumpukan tekanan gas fermentasi, risiko kontaminasi bakteri patogen, hingga
potensi luka bakar saat merebus bahan baku.
Langkah
preventif ini merupakan bentuk implementasi nyata dari Sustainable Development
Goals (SDGs). Dari segi SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), edukasi K3 ini
menjadi perisai utama untuk mencegah cedera fisik dan menjaga kesehatan warga
secara menyeluruh. Banyak yang belum menyadari bahwa proses fermentasi
menghasilkan gas karbon dioksida yang jika terperangkap di ruang kedap bisa
menyebabkan ledakan pada toples kaca. Melalui SOP penyimpanan ini, kami ingin
warga Desa Dawungan tidak hanya sukses berwirausaha kombucha, tetapi juga
memiliki standar keselamatan yang terjamin sejak dari skala dapur.
Sementara
itu, program ini juga secara langsung menjawab tantangan SDG 8 (Pekerjaan Layak
dan Pertumbuhan Ekonomi), khususnya pada Target 8.8, karena berhasil
menciptakan lingkungan kerja UMKM yang aman dan terlindungi bagi warga desa
yang akan merintis usaha kombucha. Kegiatan ini pun disambut antusias oleh para
peserta. “Ini ilmu baru bagi kami. Kombucha memang terasa agak asing, apalagi
aromanya karena belum terbiasa. Namun karena khasiatnya, Teh Kombucha ini
sangat baik untuk disebarluaskan kepada masyarakat,” ungkap salah satu Ibu
kader Posyandu Desa Dawungan.
Melalui
sinergi lintas disiplin ilmu ini, diharapkan Desa Dawungan tidak sekadar
menjadi produsen teh kombucha yang unggul, tetapi juga menjadi percontohan desa
yang sadar akan pentingnya iklim usaha rumahan yang aman, sehat, dan berdaya
saing tinggi.
Editor: Keredaksian Digdaya

Posting Komentar